
Akhir akhir ini Jena sering melamun entah apa yang dia fikirkan yang jelas fikirannya saat ini sangatlah kacau.
Saat ini Jena sedang bersama Jaehwa dikantin kantor tiba- tiba terdengar ringisan dari Jaehwa.
" Gila hari pertama menyiksa banget". Ucap Jaehwa
"Emang elu kenapa sih". Tanya Jena
" Ya ampun Na elu lupa ini kan jatah bulanan gue. eh Na bukannya biasanya tu elu dulu baru gue?". Tanya Jaehwa dengan sepontannya karena kaget dengan pernyaan Jena.
" Bentar bukannya ini harusnya jatah bulananku kenapa belum juga datang jangan-jangan, tenang Jena mungkin elu hanya setres saja karena jadwal yang padat ingat jangan panik" . monolog batin Jena.
" Na Na JENA". Teriak Jaehwa sambil mengguncangkan tubuh Jena.
" Ha iya kenapa Wa". Jawab Jena setelah sadar dari lamunannya.
" Elu belum dapet Na". Tanya Jaehwa Dengan sepontan.
" Belum mungkin telat karena setres habis jadwal bos minggu-minggu ini padet banget". Jawab Jena dengan tidak yakinnya.
" Bener Na bukan faktor lainnya?". Tanya Jaehwa lagi.
"Serius Wa " .
" Ya kan siapa tahu udah rejeki elu Na". Ucap Jaehwa dengan tidak yakin mendengar jawaban Jena.
Setelah berhentinya perbincangan itu datanglah pesanan mereka pada.
"Ini mbk peseannya seblak satu , Nasgor satu, es teh dua". Ucap Ibu kantin saat mengantarkan makanan.
" Wah mantap seblak pedas I coming". Ucap Jaehwa dengan binarnya.
Belum sempat menaruh makanan diatas meja tiba-tiba Jena merasakan gejolak dan pusing hebat saat mencium aroma seblak dari pesenan Jaehwa.
" Na elu kenapa sakit elu". Tanya Jaehwa dengan sepontan karena melihat Jena yang tiba-tiba memegang mulutnya.
" Kagak tahu nih gue pusing banget ama mual". Jawab Jena
" Kita keruang keseh___" . Belum selesai bicaranya tiba-tiba Jena sudah berlari kekamar mandi dekat kantin.
" Woi Jena tunggun gue lu ya elah tu anak". Teriak Jena dengan Kencangnya sambil melihat kanan kiri setelah menemukan apa yang dicari ia pun berteriak.
" Woi Iren ,Sulgi sini lu . Mau pesen makankan, nah pas banget makan punya gue aja gratis tanpa bayar". Ucap Jaehwa sambil berdiri dan belum mendapat jawaban Jaehwa lebih dulu memotongnya.
"Tenang kagak ada racunnya gue harus cepet pergi". Lanjut Jaehwa.
" tanks Hwa sering sering gini ya" Ucap Sulgi.
Ucapan Sulgi hanya diacungi jempol oleh Jaehwa karena fikiran Jaehwa sekarang hanyalah menyusul larinya Jena dan saat sampainya dimana Jena berada Jaehwa dikagetkan oleh keadaan Jena yang pingsan disamping wastefel kamar mandi.
" Ya ampun Na elu kenapa sih ?". Ucap Jaehwa dengan paniknya
" gua harua apa ngangkat gak kuat cari bantuan sama dengan ninggalin Jena". Lanjutnya.
" Ya ampun Jaehwa elu kenapa gak hubungi lakinya Jena aja sih". Ucapnya sambil menepuk Jidatnya.
__ADS_1
Kemudian Jaehwa mencari nama seseorang kemudian menelfonnya.
" Kak Yut buruan datang kekamar mandi dekat kantin sekarang Jena pingsan". Ucap Jaehwa dan tanpa mendengar Jawaban dari yang ditelpon Jaehwa sudah menuntup telpon tersebut.
" Jena Jena kok bisa gini sih". molong Jaehwa dengan paniknya sambil memangku kepala Jena.
...🌱🌱🌱...
Sedangkan dirungan yang bertuliskan CEO terdapat seorang laki- laki yang sedang berusahan mengeluarkan isi perutnya.
" Elu kenapa Yut dari tadi mutah-mutah mulu. jangan -jangan elu diracuni bini elu". Tanya Jhony dengan herannya melihat bos selaku temannya dari tadi muntah-muntah.
" Sembarangan kalau ngomong, Ya kali Jena gitu". Jawab Yuta sambil mengelap bibirnya.
" Ya bisa aja Jena punya dendam terpendam". Sambung Jhony".
" Atau Jangan Jangan".
" Jagan- jangan apa?". Tanya Yuta dengan penasarannya karena sahabatnya itu bicara setengh-setengah.
" Jangan-jangan elu hamil". Jawab Jhony dengan konyolnya.
" Sembarangan lu Ya kali gue hamil gue cowok bego".Ucap Yuta dengen jengkelnya karena mendapatkan jawaban yang konyol dari sahabatnya.
" Ya siapa tahukan hayo". Timpal Jhony.
Sebelum Yuta membuka mulut untuk menjawab ucapan Jhony terdengar deringan ponsel tanda panggilan masih.
" Hal__". Belum sempat selesai menyapa sang penelfon Yuta sudah mendengarkan kabar yang mengagetkan.
Setelah panggilan diakhiri oleh yang penelpon Yuta berlari keluar dengan paniknya . (kalaupun menikah tanpa rasa cinta gini gini Yuta juga merasa cemas ama orang terdekatnya).
" Woi Yut lu mau kemana kagak jadi sakit lu". Tanya Jhony karena heran melihat sahabatnya lari kaya ketemu hantu.
" Ada yang lebih penting dari itu". Jawab Yuta sambil berlari menuju pintu keluar.
...🌱🌱🌱...
Untung keadaan kantin saat ini sepi jadi Yuta bisa langsung cemat kekamar mandi dekat kantin dengan cepat.
Sesampainya disana ia mendapati Jena yang pingsan dipangkuan Jaehwa
" Jena lu apain sampai gini". Tanya Yuta
" Ya kagak tahu gue ,tadi gue sampai sini udah pingsan anaknya". Jawab Jaehwa masa bodoh dikatai tidak sopan kebosnya salah siapa bosnya menanyai seperti itu kan emosi dia tuh.
Kemudian Yuta mengangkat Jena baru saja akan keluar dari kamar mandi datanglah Jhony yang dari tadi berlarian mengejar Yuta.
" Lho Jena kenapa itu". Tanya Jhony yang baru saja datang.
" Jhon tolong hubungi dokter Fany suruh keruangan gue". Ucap Yuta sambil mengendong Jena untuk dibawa keruangannya.
Seletah Yuta meninggalkan keduanya Jhony menanyakan kepada Jaehwa melalui tatapan mata dan dibalas angkatan bahu oleh Jaehwa dan kemudian Jaehwa pergi meninggalkan Jhony.
"Kak gue balek dulu ya Jena udah ama lakinya juga". Pamit Jaehwa.
__ADS_1
" Sip makasih ya". Balas Jhony.
" San aja Jena temen gue juga". Timpal Jaehwa.
Kemudian hanya dibalas daheman oleh Jhony setelah itu Jhony menghubungi Dokter Fany untuk memgecek keadaan Jena.
...🌱🌱🌱...
Cahaya lampu yang menyulapkan sesorang yang telah sadar dari pingsannya.
" Hallo Jena akhirnya kamu sadar juga". Ucap Dokter Fany.
"Saya kenapa ya". Ucap Jena karena dia penasaran kenapa ada disini.
Tak menjawab pertanyaan Jena Dokter Fany mengambil sesuatu didalam tasnya kemudian memberikannya kepada Jena.
" Cobalah saya tunggu disini dan semoga menjadi apa yang kau tunggu". Ucap Dokter Fany.
" Maksudnya?." Tanya Jena.
" Cobalah dulu ".
Kemudian Jena berjalan kekamar mandi untuk mencoba alat yang diberikan Dokter Fany. Setelah mencobanya dan menunggu hasilnya Jena terkagetkan apa yang terpampang dialat itu.
" Gak gak mungkin aku harus apa Yaa Tuhan".
" Apa alat ini rusak?, atau jagan jangan hasilnya salah?".
" Jika benar terjadi bagaimana nasibmu nak" Ucap lirih Jena dan diakhiri dengan mengelus perutnya.
" Sebaiknya aku keluar dahulu". Lanjut Jena.
* Ceklek* Terdengar suara pintu yang terbuka.
" Bagaimana Jena hasilnya". Tanya Dokter Fany setelah mendengar suara pintu terbuka.
" Positif dok". Jawab Jena.
" Syukurlah". Ucap Dokter Fany.
" Dokter saya boleh minta tolong ". Ucap Jena sambil memeggang tangan Dokter Fany.
" Tolong Jangan bilang kesuami saya dahulu saya ingin memriksakan kedokter kandungan dulu saya takut dia kecawa kalau hasilnya salah.Ucap Jena bohong apa yag dikatakan Jena dengan hatinya sebenarnya Jena takut kalau Yuta tahu dan meminta dia untuk mengugurkannya bagaimana pun Jena tidak akan mau melakukannya.
Dokter fany hanya tersenyum mendengar perkataan Jena
" Baiklah Jena saya pulang dulu semoga hasilnya sama dengan hasil tespek ya". Pamit Dokter Fany.
"Terimakasih Dokter".
" Sama - sama Jena ini sudah tugas saya".Ucap Dokter Fany sambil undur diri.
" Ya tuhan aku harus apa?, tenanglah nak mommy selalu bersamaamu walaupun tousanmu tak mengharapkanmu dan jangan bersedih mari kita berjuang bersama". Batin Jena.
-2806-
__ADS_1