
Saat Jhony dibuat bingung oleh tingkah sahabatnya setelah mendengar kabar bahwa Jena pingsan dan saat ini fikiran Yuta sedang berkelana
" Jangan- jangan Jena hamil ah tidak mukin gue ama Jena cuma satu kali melakukkannya ya kalik langsung jadi tapi kalau iya hebat juga gue". Batin Yuta.
" Yut Yuta ". Panggil Jhony akan tetapi tidak mendapat respon dari sang empunya malah asik bolak-balik kaya setrikaan.
" Namikaze Yuta elu dipanggil kagak nyaut apa?". Teriak Jhony dengan kesalnya
" Ya ampun Jhon elu tau kagak sih gue itu baru panik". Jawab Yuta dan jangan lupakan dengan mondar-mandirnya.
" Lah malah diulang lagi". Ucap Jhony dengan bersamaanya terbukalah pintu dari ruangan khusus tersebut.
* ceklek* Terdengar pintu yang terbuka dan munculak seorang dari dalam belum menyampaikan bagaimana keadaan pasien yang ditangani tadi ia terlebih dahulu sudah mendapat perbondong pertanyaan.
" Tante bagaimana keadaan Jena?, apa dia membunyai penyakit serus?, perlu dibawa kerumah sakit tidak? , umurnya masih panjangkan?". Tanya yuta sambil berlari kearah dokter Fany.
*cetak* bunyi jitakan yang keras siapa lagi pelakunya kalau bukan Jhony yang sedang geram mendengar pertanyaan terakhir dari Yuta.
" Elu pikir Jena sekarat apa". Ucap Jhony
" Lha kan gue panik Jhon mana gue tahu". Balas Yuta.
Sedangkan Dokter Fany tersenyum melihat kelakuan absrud dari anak temannya itu.
" Jena tidak apa-apa mungkin dia tadi tidak sarapan dan mempunyai banyak fikiran". Ucap Dokter Fany.
"Syukurlah". Pungkas Yuta dan dihadiahi tatapan malas dari Jhony.
" Lebih baik Jena istirahat dulu . tante pamit ya Yuta". Pungkas Dokter Fany kemudian berpamitan dengan Yuta.
" Makasih tante, Jhony anterin Dokter Fany kebawah". Ucap Yuta.
" Mari tante saya antarkan kebawah". Ajak Jhony
" Makasih Jhony". Balas Dokter Fany.
Kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan Yuta berada.
...🌱🌱🌱...
Setelah kepergian Jhony dan Dokter Fany. Yuta berjalan kearah ruangan Jena berada.
*ceklek*
Terdengar suara pintu yang terbuka yang berhasil membuat orang yang didalam bertujuh kepadanya dan berhasil menggagalkan niatan orang tersebut yang ingin bangun dari berdirinya.
" Lebih baik kau istirahat saja". Ucap orang yang baru masuk
__ADS_1
" Tapi pekerjaan saya?". Jawab orang tersebut yang tak lain adalah Jena.
" Biar nanti Jhony yang menghendel ". Ucap Yuta.
" Kau belum makan tadi saya sudah pesankan makan dan makanlah kemudian istirahat". Lanjut Yuta.
" Saya rasa kau sudah baikkan dam saya harus membali keruangan saya " Pamit Yuta.
"Terimakasih sudah menolong saya". Ucap Jena.
" Pak boleh saya pulang dahulu tidak hari ini, sepertinya saya lebih baik istirahat dirumah". Lanjut ucapan Jena.
Bohong apabila Jena hanya ingin pulang cepat nyatanya dia ingin memastikan sesuatu betul atau tidaknya.
Ucapan Jena pun hanya dijawab daheman oleh Yuta dan kemudian ia meninggalkan Jena menuju meja kerjanya.
"Aku tak tahu nanti apa bila dia akan tahu yang sebenarnya". Batin Jena
...🌱🌱🌱...
Saat ini Jena sedang berada dirumah sakit dan tepatnya ia berada didokter kandungan sesuai dengan apa yang ia ucapkan kepada Dokter Fany yaitu untuk memastikan kebenaran dari tespek tersebut.
" Atas Nama Bu Lee Jena". Panggil seorang suster.
" Ya saya sus". Jawab Jena.
Kemudian Jena mengukuti langkah suster tersebut sampai kedalam ruangan sesampainya disana Jena ditanyai tentang keluhaannya.
" Dengan Ibu Jena ada yang bisa saya bantu bu?". Tanya dokter tersebut dengan ramahnya.
" Begini dok saya sudah telat datang bulan 2 bulan dan saya sudah mencoba dengan tespek hasilnya positif dan saya ingin mengecek lebih lanjut apakah benar saya hamil atau hanya karena faktor setres saja". Jawab Jena
" Kalau begitu mari ikut saya". Ajak sang dokter dengan tersenyum mendengar jawaban Jena.
" Mohon maaf Bu Jena bisa dibuka bajunya ". Perintah dokter tersebut
Kemudian dokter tersebut mengoleskan sebuah jel kemudian mengarahkan suatu alat keperut Jena.
" Lihat Bu itu Bayi anda baru sebesar kacang". Ucap Dokter tersebut.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan ?". Batin Jena.
Setelah dokter tersebut membersihkan sisa Jel dan membereskan alatnya Jena turun dari bangker dan menuju meja dokter tersebut.
" Bayinya sehat jangan lupa ya bu untuk minum susu hamil dan makanan yang sehat dan untuk priksa selanjutnya sebaiknya ayah sang bayi diajak ya bu untuk mengetahui perkembangan sang Bayi dan ini resepnya tolong ditebus diapotik ya bu . Saya ucapkan selamat atas kehamilanya". Ucap dokter tersebut.
Kemudian Jena mengundurkan diri untuk menebus obat tersebut dan kembali keapetermen sebelum Yuta pulang.
__ADS_1
...🌱🌱🌱...
Malam hari pun tiba kini Yuta dan Jena sedang makan malam bersama saat sedang membereskan meja terdengar teriakan dari arah depan.
" Ya ampun Jena katanya sakit kenapa masih beresin meja makan". Ucap Hinata sambil berjalan kearah Yuta.
" Aduh kacaan lepaskan kacaan sakit". Ucap Yuta karena yang ibunda menjewer telinganya.
" Biarkan saja siapa suruh kau tak melarang Jena untuk menbereskan meja makan dia baru sakit kenapa kamu biarkan haa". Pungkas Hinata sambil menambah kerasnya jeweran ditelinga sang anak.
" bwahahahah, onisaan kau sangat lucu ahhahhahaha". Terdengar gelak tawa dari seorang gadis siapa lagi kalau bukan Alentha yang sedang bahagia karena penderitaan sang kakak. Sedangkan Jena hanya meringis membayangkan betapa sakitnya jeweran maut sang mertua.
" Sudah sayang kasian Yuta ". Ucap sang suami yang melihat betapa menderita sang anak karena jeweran maut sang istri.
" Biarkan saja agar dia peka terhadap sekitarnya". Pungkas Hinata dan jangan lupakan teriakan Yuta karena sang bunda bukan mengurangi frekuensi jewerannya malah menambahnya.
" Sudah kacaan kasihan Mas Yuta tadi sudah melarangku akan tetapi aku saja yang kekeh untuk membereskanya lagian aku sudah sehat kok jadi lepaskan ya kacaan". Ucap Jena dengan meyakinkan sang mertua untuk melepas jeweranya. Karena Jena sudah melihat betapa menderita sang suami melewati tatapan matanya untuk meminta bantuan.
" Oke karena Jena yang meminta kacaan lepaskan". Ucap Hinata sambil melepaskan jeweranya.
" Lho kacaan kok dilepas sih kan gak seru". Ucap Alentha karena sang ibu telah melepaskan jewerannya.
Sementara itu Yuta sedang mengelus telinganya dia jamin sekarang telinganya sudah merah merona.
" Alen jangan mulai kau". Ucap Namikaze kris sekalu ayah Yuta dan Jena.
" Heheh tidak tousan ". Balas Alentha.
" Sudah lebih baik kita bicara diruang tengah saja, owh iya tidak usah membuat minuman Jena kamu hanya sebentar". Pungkas Kris karena sudah membaca gerak gerik yang menantu yang akan menuju kearah dapur.
" Baik tousan". ucap Jena dan mereka semua berjalan menuju urang kelurga sesampainya disana Jena ditanya oleh mertuanya dan jangan lupakan berbagai mana Alentha menanyai Jena dan Semua pertanyaan itu dijawab Jena karena dia tidak sarapan dan terlalu banyak fikiran tentang pekerjaan.
" Makanya Yuta kamu itu harus menyelesaikan pekerjaanmu sendiri jangan kalau limpahkan pada Jena". Ucap Hinata.
" Bentar kok jadi gue yang disalahain bener-bener ni, kalau gue jawab nanti malah ngamuk dan lah gue iyain aja". Batin Yuta.
"Iya kacaan". Balas Yuta.
" Ya sudah kacaan dan yang lain pulang dulu kamu istirahat saja ya Jena ". Pamit Hinata dan diikuti yang lain. Saat semua sudah balik Jena membuka pembicaraan.
" Maaf karena aku sakit kau mendapat marah kacaan". Ucap Jena dengan lirihnya tapi masih bisa didengar Yuta.
Kemudian Yuta menghadap kejena sambil berkata" Tidak apa-apa salahku juga yang telah memberimu tugas banyak, istirahatlah aku akan kembali kekamarku". Ucap yuta kemudian berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Jena memilih duduk diruang tengah.
" Apakah anakku akan merasakan sepertiku yang tak diinginkan?". tenanglah nak mommy akan bersamamu walaupun yang lain tak mengharapkanmu". Lirik Jena sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
-2806-