
Tanpa kata lagi, kedua pedangwan itu bertabrakan dalam serangan ketiga. Ya, ini sudah babak terakhir dalam pertarungan. Babak ini adalah penentuan siapa yang paling unggul.
Pedang mereka bertemu dalam tabrakan yang menghasilkan suara nyaring. Wang menggunakan gerakan lihai dan terkendali, mencoba untuk menjebak Aimeer dalam jaringan serangan cepat.
Wang Yin melihat peluang yang sempurna. Dia meluncur maju dengan gerakan yang cepat dan lancar, menjalankan rencana yang telah terbentuk di dalam pikirannya. Pedangnya berayun dengan keahlian penuh mencoba menjebak Aimeer dalam perangkapnya.
“Inilah peluangnya!” seru Wang dalam hati.
Wang Yin memperhatikan celah yang sempit dalam pertahanan Aimeer. Dengan cepat, dia memutar pedangnya dan menghasilkan gerakan yang khas.
Wang Yin merasakan adrenalin yang memuncak di tubuhnya saat pertarungan mencapai puncaknya. Detak jantungnya berdegup kencang, mengisi telinganya dengan dentuman yang berirama. Ia merasakan energi membara melintasi setiap serat ototnya, memberinya kecepatan dan kekuatan yang menakjubkan. Sensasi ini memenuhi pikirannya dengan fokus yang tajam, membuatnya menangkap setiap gerakan dan peluang dengan presisi yang hampir insting.
Setiap serangan yang dilakukan Wang Yin bertepatan dengan getaran cahaya pembatas yang telah dibangunnya. Tubuh Aimeer terperangkap di dalam perisai cahaya, terikat dan tidak bisa bergerak. Waktu tampak melambat saat Wang Yin memanfaatkan keunggulannya.
Dalam waktu tiga detik yang terbatas, tubuh Aimeer melumpuh tanpa daya. Aimeer berusaha keras meronta dan membebaskan diri dari cahaya yang menyelimuti tubuhnya, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Ia merasakan kelemahan fisiknya yang membatasi, membuatnya merasa seolah tubuhnya menjadi beban yang tak bisa ia kendalikan.
“Wang Yin sialan! Brengsek!”
Serangan-serangan pedang Wang Yin dengan tepat mengenai titik-titik vitalnya, menghancurkan pertahanan Aimeer. Semua itu terjadi dengan ketepatan dan keahlian Wang Yin yang telah diajarkan oleh Ayahnya.
Suasana terhening saat kaki Aimeer keluar dari garis panggung arena.
“Mari bersorak untuk pemenang kita, Wang Yin!” seru MC dengan suara lantang.
“Pertarungan ini resmi dimenangkan oleh Wang Yin!”
Namun, suasana di antara para penonton menjadi canggung dan tegang. Beberapa dari mereka yang sebelumnya mendukung Aimeer malah mulai mengejek Wang Yin dengan nada sinis, tidak menerima kekalahan idolanya dengan mudah. Mereka melemparkan kata-kata pahit yang mencoba merendahkan Wang Yin. Sementara itu, beberapa penonton lain yang terkejut oleh keberhasilan Wang Yin merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus merespons. Mereka terbagi antara rasa kagum pada Wang Yin dan kekecewaan atas kekalahan Aimeer, yang mereka anggap sebagai idola mereka.
“Ah, itu hanya keberuntungan belaka!” teriak seorang penonton, mencoba untuk mempermalukan Wang Yin.
“Tidak mungkin dia lebih baik dari Aimeer! Pasti ada trik kotor di baliknya!” seru yang lain.
__ADS_1
Sikap sinis dan cacian terdengar di antara penonton yang merasa tidak terima dengan hasil pertarungan ini. Meskipun Wang Yin telah menunjukkan kemampuannya tanpa memilik Soul Beast juga strategi cerdik dalam bertarungyang cukup memuaskan, mereka sepertinya tidak bisa menerima kekalahan Aimeer.
Dalam keheningan yang tidak nyaman itu, Naevys dan Zac merasa sebal dengan sikap penonton yang merendahkan teman mereka. Naevys menatap tajam para penonton, dan di dalam tatapannya terpancar keberanian dan kemarahan. Dia merasa terpanggil untuk membela Wang Yin dari para penonton yang merendahkan.
Dengan suara yang tajam dan menyeramkan, Naevys berbicara, “Diamlah, kalian sekumpulan penonton picik! Jika kalian ingin menjadi penonton yang sejati, hargailah usaha dan keberhasilan pejuang di atas panggung ini. Hentikan hinaan kalian dan mulailah menghormati mereka yang telah berjuang dengan penuh dedikasi!”
Ucapan Naevys membangkitkan rasa malu di antara beberapa penonton, yang merenungkan kembali sikap mereka yang merendahkan Wang Yin. Beberapa bahkan memberikan tepuk tangan hormat sebagai pengakuan terhadap keberanian Naevys dan keadilan yang dibelanya."
Aimeer merasakan kekalahan yang memilukan di dalam dirinya. Rasanya seperti semua kekuatan dan upayanya selama ini telah sia-sia. Kegagalan ini menghancurkan kepercayaan dirinya dan menggoyahkan keyakinannya sebagai pejuang.
Dia merasa kesal, frustrasi, dan tidak tahu harus merespons situasi ini. Sebagai seorang yang biasanya selalu mendapat pujian dan kemenangan, kekalahan ini membuatnya terguncang secara emosional. Dia melihat ke arah Wang Yin, yang tetap tenang dan puas dengan keberhasilannya. Perasaan campur aduk antara iri dan rasa kagum pun melintas di pikiran Aimeer.
Sejak awal pertarungan antara Wang Yin dan Aimeer, sederet master yang mengawasi pertempuran dari kejauhan tampak tenang dan penuh perhatian. Di antara mereka, terlihat Myrin tersenyum puas saat melihat Wng Yin beraksi di atas panggung. Tatapannya yang dalam aura kekaguman terhadap bakat dan keterampilan Wang Yin.
Sementara itu, Leena dengan padangan tajam dan lembut itu berbicara, “Sulit dipercaya bahwa dia masih begitu muda, tapi kemapuannya telah terbukti melampaui ekspektasi.”
Hen Bun Xuashi yang tetap diam dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia memandang pertarungan dengan tatapan yang dalam, seakan merenungkan hal-hal yang lebih dalam dari sekadar hasil pertarungan itu sendiri.
Leena mendekatinya dengan ekspresi serius di wajahnya. “Master Xuashi, saat ini adalah saat yang tepat. Janjimu untuk menjadikan Wang Yin sebagai murid pribadimu sekarang harus dipenuhi,” ucap Leena dengan tegas, mengingatkan master misterius itu akan janji yang telah dia berikan.
Hen Bun Xuashi pun menoleh ke arah Leena dan setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangguk perlahan, “Saat ini tidak ada pilihan lain. Anak itu sudah berhasil membuktikannya.”
___
Wang Yin berdiri sendirian di tengah taman luas yang sunyi, langit malam yang gelap menyelimuti sekitarnya. Cahaya bulan yang redup menerangi wajahnya yang serius, sedangkan angin malam berbisik lembut di sekitarnya. Dalam keheningan yang menenangkan, dia memegang pedangnya dengan erat, merenungkan pertempuran yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Dalam pikirannya, Wang Yin merekam setiap detil gerakan dan strategi Aimeer. Dia menganalisis dengan cermat setiap serangan dan pertahanan yang dilakukan oleh lawannya. Kekalahan Aimeer tidak membuatnya merasa puas, melainkan menggugah keinginannya untuk memahami kelemahan sang lawan.
Wang Yin menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengingat setiap momen saat mereka saling berhadapan. Dia menyadari celah-celah kecil dalam pertahanan Aimeer, saat di mana lawannya terlalu terfokus pada serangan dan melupakan perlindungan dirinya sendiri.
Dia mengingat pesan berharga yang pernah diajarkan oleh Ayahnya seperti ‘Ketenangan adalah senjata terbesar. Jangan pernah terburu-buru dalam seranganmu. Amati dan tunggu momen yang tepat untuk menyerang.’
Ingatan tentang Ayahnya menghangatkan hatinya di tengah malam yang dingin. Dia merenungkan kata-kata itu dengan penuh perhatian. Mengingat pertarungan dengan Aimeer, dia menyadari bahwa peluang untuk melawan sebenarnya muncul ketika lawan meluapkan emosinya.
"Peluang itu ada saat lawan kehilangan keseimbangan emosionalnya," sambung Wang Yin, suaranya sedikit meninggi.
"Mereka melepaskan energi mereka dengan sia-sia, dan itulah saat yang tepat untuk menyerang. Karena saat itu, mereka tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dan pertahanan mereka melemah."
ang Yin menyadari bahwa meskipun kemampuannya telah terbukti, tingkat kultivasinya masih rendah tanpa kehadiran Soul Beast yang mendampinginya. Dia merasakan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kekuatannya sendiri dan mengejar tingkat yang lebih tinggi.
Wang Yin kembali ke ruang latihannya yang tersembunyi di balik taman. Dalam ketenangan malam, dia duduk dengan tenang di tengah ruangan, membawa pikirannya ke dalam meditasi yang mendalam. Dia memusatkan perhatiannya pada energi yang mengalir di dalam tubuhnya dan mengalir melalui setiap pori-porinya.
Dalam proses kultivasinya, Wang Yin mengikuti instruksi Ayahnya yang telah diajarkan sejak kecil. Dia mengatur nafasnya, mengatur aliran energi qi di dalam tubuhnya, dan membayangkan bagaimana energi tersebut mengalir melalui meridian-meridiannya. Dia memasuki keadaan khusus, mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
Saat Wang Yin sedang tenggelam dalam proses kultivasinya, tiba-tiba terdengar suara aneh memecah keheningan. Sebuah suara berkicau yang tidak biasa dan memikat perhatiannya. Wang Yin mengangkat kepalanya dan terkejut melihat sebuah burung yang tidak lazim terbang di udara.
Burung itu adalah Guinea Mynah Bird berbulu emas yang langka dan cantik. Dengan sayapnya yang memancarkan cahaya keemasan, burung itu terlihat begitu megah dan anggun saat melintasi langit malam. Wang Yin merasa terpana oleh kehadiran burung itu, seolah-olah ada kekuatan magis yang menyertainya.
Seketika itu juga, burung itu mendarat di depan Wang Yin dengan lemah lembut. Matanya yang tajam menatap Wang Yin seakan memiliki makna yang tersembunyi. Wang Yin merasakan ada sesuatu yang istimewa dalam momen itu, suatu pertanda yang tak bisa diabaikan.
Tiba-tiba, burung itu mengeluarkan suara nyaring yang terdengar seperti pesan misterius. Suaranya seolah-olah bicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh Wang Yin. Pesannya terdengar seperti isyarat yang menantang, memanggil Wang Yin untuk mengikuti jejaknya ke sebuah petualangan yang belum terungkap.
Seketika itu pula, Guinea Mynah Bird melompat ke udara, kembali terbang dan menghilang dalam kegelapan malam. Wang Yin terpaku, masih mencerna pesan yang tak terduga dari burung itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa arti dari kehadiran burung langka itu?
__ADS_1