
"Kamu benar-benar merasa layak menjadi murid pribadiku? Mencari Soul Beast saja sudah sulit bagimu, jangan harap bisa mengikuti jejakku!"
Wang Yin menangkap setiap kata tajam yang meluncur dari bibir Hen Bun Xuashi, menusuk ke dalam hatinya seperti belati emas. Tatapan matanya menjadi kaca yang memantulkan kekecewaan yang dalam, dan rasa tidak percaya yang memburamkan cahaya semangatnya. Namun, di balik keretakan hatinya, darahnya yang berapi-api terus mengalir dalam dirinya.
Meski hatinya terluka oleh penolakan tajam itu, dia tidak akan membiarkan keputusasaan menguasai dirinya. Dalam kebisuan yang melilit, ia mengangkat dagunya dengan mantap, dan kata-katanya meluncur dengan suara yang tenang namun berisi kekuatan yang menggertak.
“Aku tahu bahwa pencarian Soul Beastku belum berhasil, aku siap menerima arahan dan pelatihan Master untuk mengembangkan kemampuanku. Aku akan bekerja keras melebihi batasku sendiri,” tutur Wang Yin.
“Kemauan dan dedikasi bukanlah segalanya," ujarnya Hen Bun Xuashi dengan nada yang dingin.
"Kamu harus memiliki ketajaman batin dan naluri yang langka. Kamu harus mampu melihat apa yang tersembunyi di balik layar dan mengendalikan energi spiritual dengan presisi yang tak bisa diperdebatkan."
"Dengan latihan yang sekeras ini, apakah kamu siap menghadapi risiko berupa kehilangan sebagian tubuhmu? Apakah kamu sanggup menanggungnya? Aku tidak akan memberikan jaminan bahwa kamu akan baik-baik saja selama pelatihan denganku. Generasi sekarang hanya peduli pada hasil akhir tanpa memperhatikan konsekuensi dari prosesnya!" Hen Bun Xuashi menyarkas dengan sinis hingga membuat Wang Yin menyadari betapa seriusnya Hen Bun Xuashi dalam menentukan pilihannya.
Wang Yin memelihara ketegaran hatinya, menandaskan keberanian dan determinasinya.
"Dengan latihan yang begitu keras, aku siap menghadapinya. Aku mengerti risiko yang ada dan aku siap menghadapi konsekuensi apa pun yang mungkin terjadi. Saya tidak hanya menginginkan hasil akhir, tetapi juga siap melewati proses yang sulit untuk tumbuh dan berkembang."
Hen Bun Xuashi hanya menggelengkan kepala dengan sinis, menganggap kata-kata Wang Yin sebagai ketidaktahuan yang bodoh.
"Jangan buang-buang waktumu. Kamu tidak memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi bagian dari dunia spiritual ini. Tinggalkan ruang kerjaku sekarang!"
Dalam keheningan yang membelenggu, Hen Bun Xuashi mengusir Wang Yin dari tempat kerjanya. Tatapannya yang menusuk menghujam jiwa Wang Yin, memancarkan rasa terjepit dan kekecewaan yang dalam. Wang Yin merasakan riak dingin menyelinap di sepanjang tulang belakangnya saat ia melangkah di koridor yang sepi.
Dalam setiap langkahnya menuju asramanya, Wang Yin merenung tentang kata-kata Hen Bun Xuashi yang menusuk ke dalam hatinya. Rasa kegagalan dan penolakan itu seperti rantai yang mengikat keinginannya untuk maju.
Wang Yin berhenti sejenak dalam langkahnya, memandang langit malam yang gelap. Kilatan cahaya bintang-bintang mengingatkannya pada kenangan yang teramat berharga. Dia teringat dengan wajah ayahnya, yang selalu menemaninya di malam-malam seperti ini.
"Ayah," pikirnya dalam hati, "aku tahu engkau melihatku dari tempat yang jauh. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuktikan padamu dan pada diriku sendiri bahwa aku bisa menjadi lebih kuat dan berani."
Dalam kegelapan malam yang menantang, Wang Yin memompa adrenalinnya. Dia tidak akan biarkan penolakan dari Hen Bun Xuashi meruntuhkan semangatnya. Sebaliknya, itu hanya memperkuat tekadnya untuk membuktikan kemampuannya.
"Tidak peduli seberapa sulit pencarian Soul Beast ini, aku tidak akan mundur," katanya dalam hati, dengan suara penuh ketegasan. "Aku akan melampaui batas-batasku dan mencapai kekuatan sejati. Aku tidak butuh persetujuan dari siapapun."
Dengan tekad yang terpatri dalam hatinya, Wang Yin melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang mantap.
Wang Yin melangkah melewati papan pengumuman yang berisi daftar nama siswa dengan poin dan Soul Beast yang paling berpotensi. Dia sebenarnya sudah membaca papan tersebut sebelumnya, tetapi sesuatu menarik perhatiannya kali ini. Dengan cepat, matanya mencari nama-nama yang terpampang di atas, mencari kehadiran namanya di antara mereka.
__ADS_1
Namun, ketika matanya mencapai bagian bawah papan pengumuman, ada kejutan yang tak terduga. Nama Wang Yin tercantum di urutan paling akhir, dengan jumlah poin yang jauh di bawah siswa-siswa lainnya.
Dengan gerakan tiba-tiba, Wang Yin merobek papan pengumuman tersebut menjadi dua bagian dengan tangan yang kuat. Fragmen-fragmen kertas beterbangan di angin malam, melambangkan kemarahan dan ketidakpuasannya terhadap hasil yang diperlihatkan.
Keesokan paginya, sinar mentari perlahan menyinari lapangan besar dan luas tempat para siswa berkumpul untuk latihan. Semua siswa telah bersiap, siap untuk mengasah kemampuan mereka di bawah bimbingan Myrin, yang memegang peranan penting dalam pelatihan ini. Dalam keadaan ini, Myrin memimpin latihan dengan penuh semangat, menggunakan keahlian berpedangnya yang dapat dihubungkan dengan Soul Beast-nya.
Wang Yin duduk santai di sisi lapangan, memperhatikan dengan penuh minat bagaimana setiap gerakan dilakukan dengan keahlian oleh para siswa yang memiliki Soul Beast. Dia merasa sedikit cemburu, menyadari bahwa dirinya masih belum memiliki Soul Beast sendiri. Namun, Wang Yin tidak membiarkan kecemburuan itu meredam semangatnya.
Saat Wang Yin sedang memperhatikan. Dengan langkah ringan, Leena menghampiri Hen Bun Xuashi yang berdiri di dekatnya, memantau dengan tajam gerakan para siswa yang sedang berlatih.
"Diluar dugaan, Wang Yin masih belum memiliki Soul Beast, bukan?" tanya Leena dengan nada penasaran.
Hen Bun Xuashi melirik Leena sejenak, menyadari kehadirannya. Wajahnya masih terlihat serius dan dingin seperti biasa, namun ada sedikit kilau keingintahuan di matanya.
"Apakah Wang Yin sudah menerima pelatihan darimu, Master Xuashi?" tanya Leena dengan rasa penasaran.
Hen Bun Xuashi menatap Leena dengan mata yang tajam, tak ada kepuasan yang terpancar. Perlahan, dia menggelengkan kepala, mengungkapkan ketidaksetujuannya.
"Tidak," ucap Hen Bun Xuashi dengan suara rendah, tetapi cukup tegas untuk terdengar. "Aku menolak permintaannya. Wang Yin belum siap untuk menerima pelatihan itu."
“Dia layak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya."
"Tekad dan semangat bukanlah segalanya," ujarnya dengan nada yang dingin. "Poin Wang Yin berada jauh di bawah siswa-siswa lain yang memiliki Soul Beast. Dia belum siap untuk mengikuti jejakku." Leena mencoba membantah lagi.
“Master Xuashi, mengapa tidak melihat terlebih dahulu kemampuan Wang Yin tanpa Soul Beast? Aku yakin Master penasaran dengan apa yang akan dilakukan olehnya.”
Hen Bun Xuashi mengerutkan keningnya, ragu dengan saran yang diberikan oleh Leena. Tatapannya yang tajam menelusuri wajah Leena, mencoba memahami alasan di balik usul tersebut.
"Kenapa aku harus peduli dengan apa yang bisa dilakukan oleh Wang Yin tanpa Soul Beast?" ujar Hen Bun Xuashi dengan suara serak.
Leena menatap Hen Bun Xuashi dengan mata yang penuh keyakinan, sementara tangannya yang memegang kipas terbuka lebar. Ia mengayunkan kipasnya dengan gerakan lembut, menciptakan angin yang menambah suasana dramatis.
"Dengan izin, Master Xuashi," ucap Leena dengan suara yang mantap. "Karena itu bisa memberikan Master gambaran yang lebih lengkap tentang potensi dan bakat yang dimiliki oleh Wang Yin."
Dia menutup kipasnya dengan mantap, menahan napas sejenak. "Menghadapi tantangan tanpa bergantung pada Soul Beast akan menunjukkan ketahanan dan kemampuan sejatinya. Aku yakin Master penasaran dengan potensi yang belum terungkap dari Wang Yin."
__ADS_1
Hen Bun Xuashi menelusuri wajah Leena dengan tatapan skeptis, tetapi terlihat keinginan yang tersembunyi dalam mata dinginnya. Ia berpikir sejenak, mempertimbangkan apakah akan memberi kesempatan kepada Wang Yin.
Setelah beberapa detik yang terasa seolah waktu berhenti, Hen Bun Xuashi akhirnya menundukkan kepala dengan tegas.
"Baiklah, Leena," ucap Hen Bun Xuashi dengan suara yang rendah namun berwibawa.
"Aku akan memberikan satu kesempatan kepada Wang Yin. Dia akan bertarung dengan siswa yang memiliki poin tinggi dan Soul Beast yang paling berpotensi. Namun, jangan berharap aku akan menahan diri."
__ADS_1