
Wang Yin menyipitkan matanya, mencoba melihat dengan jelas ke arah tubuh yang terapung di kolam air terjun. Dengan hati berdebar, dia turun dari burung Guinea Mynah-nya dan melangkah perlahan menuju tubuh tersebut.
Namun, sebelum Wang Yin sempat mencapai tubuh tersebut, serangan tak terduga datang menghampirinya. Sebuah cakram meluncur dengan kecepatan tinggi, mengancam nyawanya. Wang Yin langsung melompat menghindar, menahan napas dalam ketegangan. Dia merasakan hembusan angin dari cakram tersebut saat melewati tubuhnya.
Dia mengamati dengan seksama gerakan cakram yang melintas di dekatnya.
"Serangan yang begitu tiba-tiba. Apa dia menargetkanku?"
Hati Wang Yin berdebar kencang ketika serangan cakram tak henti-hentinya berdatangan. Setiap cakram meluncur melalui udara dengan kecepatan yang luar biasa, mengancam untuk menembus apapun yang ada di jalannya. Ia bisa merasakan ketegangan situasi semakin meningkat saat mata tajam cakram itu berkilauan.
Udara dipenuhi dengan ketegangan saat cakram-cakram itu mengiris udara, meninggalkan jejak yang berbahaya. Wang Yin dengan gesit melompat, berguling, dan meluncur menghindari serangan demi serangan yang datang. Setiap kali cakram mendekati, ia merasakan hembusan angin yang menusuk kulitnya, memperlihatkan betapa tajamnya dan luar biasa kecepatan cakram-cakram tersebut.
Dalam keadaan genting itu, Wang Yin terdesak. Satu cakram tajam melayang cepat menuju ke arahnya, tak memberinya cukup waktu untuk menghindar.
Dengan kecepatan yang menggemparkan, cakram itu mengiris kulit Wang Yin, meninggalkan luka dalam di tubuhnya. Rasa sakit menusuk menghantamnya, mengingatkannya akan bahaya yang nyata. Darah segar mengalir dari lukanya, memercik di tanah.
Wang Yin merasakan denyutan panas di kulitnya, dan ketegangan serta kekhawatiran memenuhi pikirannya. Ia memahami betapa hebatnya senjata ini, dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
__ADS_1
Wajahnya menegang, matanya memancarkan ketajaman, mencerminkan ketegasan dan kewaspadaan yang mendalam. Meski tubuhnya terluka, Wang Yin tidak membiarkan rasa sakit menguasainya.
Tangan Wang Yin menggenggam luka di tubuhnya dengan keras, mencoba mengendalikan darah yang mengalir. Dia menghela nafas dalam, mencoba menenangkan diri sejenak. Saat Wang Yin mencoba memahami situasi yang sedang terjadi, dia melihat tubuh yang sebelumnya mengambang di kolam air terjun telah menghilang seketika.
Wang Yin terkejut, “Tidak mungkin! Tubuh itu... Hanya jebakan belaka!”
Wang Yin memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya bekerja dengan cepat. Dia mencoba menghubungkan titik-titik informasi yang ada dalam pikirannya, mencari pola dan kelemahan dalam serangan cakram tersebut. Wang Yin mengingat betapa cepatnya cakram itu bergerak, bagaimana mereka dengan lihai menghindari setiap upaya perlindungannya.
Dia memikirkan kecepatan dan ketepatan serangan tersebut, dan mencoba memahami strategi di balik serangan itu. Saat Wang Yin menghubungkan titik-titik informasi tersebut, sebuah teori pemikiran mulai terbentuk dalam benaknya. Dia menyadari bahwa serangan cakram tersebut tidak mungkin bergerak secara acak. Ada kecerdikan tertentu di balik serangan tersebut.
"Dengan menciptakan jebakan dengan menampilkan tubuh yang tampak terluka. Itu hanyalah trik untuk membuatku lengah dan mengeksploitasi kesempatan itu."
Wang Yin merenung sejenak, memutar otaknya untuk mencari cara yang tepat untuk memancing orang yang berada di balik serangan cakram tersebut. Dia ingin mengungkap identitas dan tujuan sebenarnya dari serangan ini. Dengan cepat, sebuah rencana terbentuk dalam pikiran Wang Yin.
Dia menyadari bahwa dia harus menunjukkan dirinya sebagai sasaran yang lemah dan mudah ditaklukkan.
Dengan begitu, dia berharap orang tersebut akan muncul dan menghadapinya secara langsung. Wang Yin mengambil beberapa langkah mundur, membiarkan cakram berlalu dengan tipis di depannya.
__ADS_1
Dia memperlihatkan ekspresi yang terlihat terluka dan kebingungan. Wang Yin sengaja membuat gerakan yang mengesankan ketidakberdayaan. Dia merapatkan luka palsu di kulitnya, memperlihatkan tanda-tanda kelemahan yang seolah-olah tidak dapat dihindari.
Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk memancing orang itu agar muncul dan menunjukkan dirinya.
Tidak lama kemudian, ada suara langkah kaki yang mendekat. Wang Yin berpura-pura tidak menyadari kehadiran orang tersebut, tetapi dia tetap waspada dan siap untuk bertindak. Hatinya berdegup kencang, menunggu saat yang tepat untuk mengungkap kehadiran musuhnya.
Wang Yin berhasil memancing orang yang menyerangnya, yang ternyata selama ini bersembunyi di atas pohon dengan kekuatannya yang bisa menyatu dengan alam. Orang tersebut adalah seorang Assassin, sejenis pembunuh bayaran yang terkenal dengan keahliannya dalam membunuh dengan efisien dan tanpa meninggalkan jejak.
Assasins dikenal sebagai para pemusnah yang terampil dan mematikan, bekerja dalam bayang-bayang dan bergerak dengan lincah di tengah kegelapan.
“Kamu yang mengirim serangan cakram. Siapa kamu sebenarnya?”
Perempuan yang menyerang Wang Yin adalah seorang Assasins perempuan yang menakutkan. Matanya berwarna coklat yang tajam, mencerminkan ketajaman naluri pembunuhnya. Rambut hitamnya sebahu tampak teratur, tetapi tidak menarik perhatian, sesuai dengan karakteristik Assasins yang selalu berusaha menghilang dalam kerumunan.
Untuk menyamarkan identitasnya, dia menggunakan penutup wajah yang menutupi sebagian besar wajahnya, hanya meninggalkan sejauhinya mata dan dahi yang terlihat.
“Tidak ada yang perlu kamu tahu, Wang Yin. Cukup tahu bahwa hidupmu berakhir di tanganku.”
__ADS_1