
Dengan semangat yang menggelora dalam dirinya, Wang Yin memainkan pedangnya dengan keberanian yang membakar jiwanya, berhadapan dengan ular batu raksasa yang dianggap sebagai penghuni paling mematikan dalam hutan magis ini. Dentingan besi dan sengatan magis terdengar saat kedua kekuatan saling bertabrakan, menciptakan pertarungan yang membara di tengah kegelapan hutan yang misterius.
Dalam keheningan dirinya, dia mengucapkan, "Kekuatan ini tidak akan melampaui ular batu berbulu ini!" Sambil tetap bertahan dari serangan yang mematikan.
Dalam pertarungan yang tegang, kehebatan ular batu berbulu terpancar dengan gemilang. Setiap serangannya mengandung kekuatan mematikan, menghantam tanah dengan kekuatan yang meluluhlantakkan, dan menyisakan bekas-bekas kehancuran di sekitarnya. Sementara itu, Wang Yin berjuang untuk menahan serangan-serangan ganas tersebut, tubuhnya teraniaya dan penuh luka.
Setiap serangan Wang Yin, meski mungkin tidak memiliki kekuatan yang sebanding dengan ular batu berbulu, tetap penuh keberanian dan ketekunan. Ia melontarkan serangan-serangan yang penuh perhitungan, mencoba mencapai titik lemah ular batu berbulu. Walaupun teraniaya, Wang Yin terus berdiri tegak, menantang segala kekuatan yang tak sebanding yang dilemparkan padanya.
Tubuhnya kokoh berdiri, mengungkapkan kekuatan dan keteguhan yang tidak tergoyahkan. Tangannya mencengkram erat senjata atau perlindungannya, menunjukkan kesiapannya untuk bertarung dengan segala tenaga. Bahkan dalam kondisi teraniaya, ia memancarkan aura yang mengesankan, seakan menantang musuh-musuhnya untuk mencoba menghancurkannya.
Wang Yin mengusap darah yang mengalir di bibirnya, “Sejauh ini aku belum menemukan kelemahannya. Harus menggunakan cara lain.”
Di tengah perjuangan hidup dan mati itu, Wang Yin terperangkap dalam sebuah jebakan yang mencekam jiwa.
Ular batu berbulu yang ganas mengayunkan ekornya dengan kekuatan yang melampaui imajinasi, menghantam tubuh Wang Yin dengan kejam. Serangan itu mendarat dengan kekuatan yang tak terbendung, merobek daging dan menciptakan luka-luka yang parah.
Wang Yin terhuyung mundur, tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya. Darah mengalir deras dari lukanya, menciptakan jejak merah di atas tanah yang terinjakinya. Sementara itu, pedang yang ia pegang erat di tangan terhempas jauh ke dalam semak-semak, meninggalkan Wang Yin tanpa senjata yang dapat melawan.
Dalam keadaan yang penuh penderitaan, Wang Yin berjuang untuk tetap berdiri. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya. Matanya berbinar-binar dengan tekad yang terpancar dari balik luka-lukanya. Meski selemah-lemahnya, ia menolak untuk menyerah.
“Aku tidak akan mati secepat ini! Bagaimanapun ada banyak hal yang harus kuselesaikan!”
Dengan napas yang tersengal-sengal, memandang ular batu berbulu dengan mata yang penuh keberanian. Walaupun terluka dan tanpa senjata, tekadnya tetap kuat. Ia tahu bahwa kemenangan mungkin tampak jauh, tetapi ia takkan menyerah pada ketakutan.
Myrin memandang Leena dengan ketegangan yang terpancar dari matanya.
“Leena, apakah kau merasakan itu? Sinyal bahaya yang tiba-tiba muncul di antara kita?”
“Aku merasakannya juga. Sesuatu tidak beres. Dan... tunggu, di antara kita, hanya Wang Yin yang belum bergabung. Apakah itu berarti dia berada dalam bahaya?” tutur Leena seraya memastikan bahwa semua siswa sudah berkumpul semua namun, hanya Wang Yin yang tidak hadir.
__ADS_1
Pikiran Myrin langsung tertuju pada Wang Yin yang belum bergabung dengan mereka. Hatinya berdebar cepat, menyadari bahwa Wang Yin mungkin berada dalam bahaya.
Sementara ular batu berbulu mempertontonkan rahangnya yang menakutkan, mengincar dengan kehausan untuk melahap tubuh lemah Wang Yin yang terbujur kaku di hadapannya. Sebuah kilatan cahaya biru terang menusuk kegelapan hutan. Sebuah busur panah yang terisi dengan aura magis direngkuh dengan fokus oleh seseorang yang tersembunyi dari pandangan.
Dalam sekejap, panah itu menembus kulit tebal ular, menimbulkan suara mendesis yang menggetarkan udara. Cahaya biru terang yang menyertai panah itu menyebar di sepanjang tubuh ular, merembes dengan cepat melalui daging dan mencapai jantungnya. Racun yang mematikan terlepas dari panah dan terlarut dalam tubuh ular dalam hitungan detik.
Senyum lega muncul di bibir Wang Yin saat ia melihat ular batu berbulu menggeliat kesakitan.
Ular batu berbulu mengerang kesakitan, tubuhnya bergetar dalam kebingungan dan kelemahan. Kekuatan mematikannya mulai meredup, dan mulutnya yang lapar terhenti dalam posisi terbuka yang mengerikan. Wang Yin yang tergulung di tanah melihat keajaiban itu dengan kagum dan terima kasih.
Setelah kejadian yang mengguncang di dalam hutan magis, di dalam ruangan yang hangat dan teduh, Wang Yin duduk di samping tempat tidurnya, tubuhnya masih lelah dan penuh luka dari pertarungan mematikan dengan ular batu berbulu.
Leena dan Myrin memasuki ruangan dengan penuh kekhawatiran di wajah mereka. Mereka telah menjalankan tugasnya sebagai Master. Dengan hati yang penuh kepedulian, mereka berdiri di sisi Wang Yin, memastikan bahwa luka-lukanya tidak terluka lebih parah.
Leena meraih kain perban dan obat-obatan yang diletakkan di atas meja di dekat tempat tidur Wang Yin. Dengan lembut, ia membersihkan luka-luka yang masih terbuka, sementara Myrin dengan teliti merawat bekas gigitan dan memastikan tidak ada kerusakan yang lebih serius.
"Wang Yin, setelah ini, aku ingin kamu mengunjungi Master Hen Bun Xuashi," kata Leena sambil menatap Wang Yin dengan serius.
"Setiap siswa di akademi memiliki seorang master pribadi untuk melatih kekuatan dan potensi mereka," jelas Myrin. "Master Hen Bun Xuashi adalah salah satu master yang sangat terkenal dalam mengasah kemampuan yang unik."
"Kekuatamu belum teruji sepenuhnya, dan aku yakin Master Hen Bun Xuashi bisa membantumu mengembangkannya."
"Tapi... Mengapa dia sangat cocok untukku?" Wang Yin masih merasa ragu.
"Beliau memiliki pemahaman yang mendalam tentang energi magis dan keterhubungannya dengan alam," ucap Myrin menjelaskan. “Dia dapat membantu menggali kekuatanmu yang tersembunyi."
"Selain itu, dia juga ahli dalam teknik pertempuran yang menggunakan kecepatan dan keluwesan," tambah Leena dengan antusias.
“Baik kalau begitu. Aku akan mencoba mendatanginya.”
__ADS_1
Saat matahari terbenam dan suasana malam menyelimuti Akademi Transcendent Elite, siswa-siswa berkumpul di ruang makan yang megah untuk menikmati makan malam mereka. Suara ceria dan riuh rendah terdengar di sepanjang ruangan, mencerminkan kegembiraan dan kebersamaan di antara mereka.
Di antara keramaian tersebut, Naevys dan Zac duduk bersama di meja yang dikelilingi oleh suasana hangat. Mereka saling menatap dan dengan penuh kepedulian, bertanya tentang keadaan Wang Yin.
"Naevys, apakah kamu tadi melihat Wang Yin? Aku ingin tahu bagaimana kondisinya setelah pertarungan tadi. Aku belum sempat melihatnya," tanya Zac dengan wajah prihatin.
Naevys mengangguk, menunjukkan kepeduliannya. "Ah, Wang Yin? Ya, aku bertemu dengannya sebelum kita datang ke ruang makan. Dia bilang dia baik-baik saja. Tampaknya dia tak terlalu terpengaruh oleh pertarungan itu.”
Saat mereka sedang membicarakan Wang Yin, tiba-tiba suara lembut Wang Yin terdengar dari sebelah mereka. "Terima kasih atas kepedulianmu. Aku baik-baik saja, hanya sedikit pegal setelah pertarungan tadi. Aku akan segera pulih.”
Saat Naevys dan Zac sedang dalam perbincangan, sekelompok siswa lain datang menghampiri mereka. Siswa-siswa itu mulai mencemooh dan mengejek Wang Yin yang pulang dalam keadaan terluka tanpa berhasil mendapatkan binatang magis untuk soul beast pertamanya.
"Dengar-dengar, Wang Yin pulang dengan tangan hampa! Dia tidak berhasil mendapatkan soul beast sama sekali!" salah satu siswa dengan nada mengolok-olok. Siswa lain bergabung dalam ejekan tersebut, menciptakan suasana yang kurang menyenangkan di sekitar meja Wang Yin.
Wang Yin, dengan sikap yang tenang dan tidak terpengaruh.
"Kalian mengolok-olokku? Dengarkan baik-baik, kesuksesan bukanlah ukuran seberapa banyak soul beast yang aku miliki, melainkan seberapa kuat tekad dan keberanian yang aku miliki untuk mengejarnya. Aku lebih baik tanpa soul beast daripada menjadi seperti kalian yang begitu cepat merendahkan orang lain hanya karena kesuksesan materi."
Kata-katanya seperti pedang yang tajam menusuk hati siswa-siswa yang mencemoohnya. Wang Yin melanjutkan dengan kewibawaan yang memancar dari setiap gerakannya, "Aku tidak butuh pengakuan kalian. Aku tahu nilai diriku sendiri dan apa yang aku mampu capai. Jangan hanya memandang dari luar, lihatlah lebih dalam dan kalian akan menemukan kekuatan yang tak terduga yang ada dalam diri setiap individu di sini."
__ADS_1