
Wang Yin berdiri di atas tubuh Naga Berkepala Tiga yang raksasa, di tengah lautan yang mengamuk. Naga itu meliuk-liuk dengan lincah, sisiknya yang bersisik berkilauan di bawah sinar matahari.
Namun, setiap serangannya tampak sulit untuk merobohkan kekuatan Naga yang tangguh.
Setiap kali Wang Yin menerjang dengan pedangnya, Naga itu dengan mudah menghindar dan melawan dengan kecepatan yang luar biasa. Kekuatan dan kegigihan Naga membuat Wang Yin kewalahan, berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi serangannya.
Tiupan angin kencang membelai wajah Wang Yin, mengganggu konsentrasi dan merobek pakaiannya.
Ombak besar bergulung-gulung di sekeliling mereka, menciptakan suara gemuruh yang menakutkan. Namun, Wang Yin tidak memperdulikannya. Fokusnya terpusat pada pertarungan sengit dengan Naga, yang terus menyerang dengan cakar-cakarnya yang tajam.
“Naga ini begitu kuat... Seranganku tidak berdampak apa-apa. Aku perlu mencari celah di pertahanannya...” ucapnya dengan napas terengah-entah seraya mengamati Naga itu dengan seksama.
Wang Yin merasakan otot-ototnya bergetar dan kelelahan yang mulai melanda. Peluh bercucuran di wajahnya, setiap serangannya yang dilancarkan dengan penuh kekuatan dan keberanian tampaknya hanya menggores permukaan sisik Naga yang kokoh.
Naga itu mengeluarkan nafas panas yang memancarkan aroma belerang, mengisi udara di sekitarnya.
Wang Yin mencoba menghindari api yang membara dari mulut Naga, tetapi cakar-cakarnya yang kuat membuatnya kesulitan untuk menghindar sepenuhnya. Setiap serangan Naga membawa ancaman yang nyata, membuat Wang Yin terjepit dan terdesak.
“Apakah aku akan mampu mengalahkannya? Tetapi Kekalahan bukan pilihan bagiku. Aku akan terus berjuang sampai titik terakhir!”
__ADS_1
Hen Bun Xuashi berdiri tegak di atas perahu, matanya terfokus pada pertarungan yang berlangsung di hadapannya. Dia dengan tenang menelaah setiap gerakan Wang Yin yang tengah bertarung.
Namun, meski ekspresinya tetap tenang, khawatir tersirat di mata Hen Bun Xuashi.
Dia menyadari bahwa Wang Yin sedang menggunakan strategi penyerangan dalam jarak dekat, sesuatu yang sudah dia larang sebelumnya. Ini menimbulkan kekhawatiran dalam dirinya, karena taktik tersebut bisa sangat berbahaya dan memperbesar risiko cedera bagi Wang Yin.
Dalam keheningan yang tegang, Hen Bun Xuashi terus mengamati dengan seksama. Meski ragu, dia tidak dapat menyangkal keahlian dan ketangguhan Wang Yin. Dia tahu bahwa Wang Yin adalah seorang murid yang tekun dan memiliki tekad yang kuat meskipun belum ada kemenangan yang terlihat.
Hen Bun Xuashi menyipitkan kedua bola matanya saat memperhatikan pertarungan sengit yang terjadi di atas perahu.
Matanya terfokus pada gerakan Wang Yin yang lincah dan cepat. Saat melihat Wang Yin berhasil memenggal satu kepala Naga Berkepala Tiga, matanya melebar seketika. Ekspresi kaget dan kagum terpancar jelas dari wajahnya.
Wang Yin bergerak dengan lincah di udara, berputar dan terbang dengan kecepatan yang luar biasa.
Pedangnya menempel pada leher kepala naga yang mengamuk dengan presisi yang memukau. Dalam hitungan tiga detik, ia berhasil melakukannya sebanyak tujuh putaran yang mengunci naga itu dalam kuncian yang mematikan.
Gerakan Wang Yin terasa begitu lancar dan cepat, seolah ia menari di udara. Setiap putaran pedangnya memiliki tujuan yang jelas dan tertarget. Ketepatan dan kecepatan pergerakannya memukau siapa pun yang menyaksikannya.
Setiap putaran pedangnya membawa serangan mematikan, menyebabkan darah naga memancar dengan deras. Air laut yang sebelumnya tenang dan biru, berubah menjadi merah darah karena jumlah besar darah yang mengalir dari tubuh Naga Berkepala Tiga.
__ADS_1
Naga itu melenguh kesakitan dan berjuang untuk tetap berdiri, tetapi kekuatannya semakin melemah dengan setiap serangan Wang Yin. Luka-luka dalam yang dalam terbentuk di tubuh naga, memancarkan aura kehancuran dan kekuatan yang terperangkap di dalamnya.
“Kakek, aku telah menguasai teknikmu... Teknik pertarungan jarak dekat yang engkau ajarkan kepadaku. Aku menghormati dan menghargai warisanmu.”
Angin berhembus lembut, mengibaskan rambut Wang Yin. Seperti sebuah sentuhan lembut dari alam semesta, memberikan semangat dan keberanian pada perjuangannya.
“Setiap gerakan ini, setiap serangan ini... Aku merasakan kekuatan alam berpihak padaku. Seperti angin yang membawa pesanmu, kakek. Pesan tentang kekuatan, ketekunan, dan ketenangan dalam pertarungan.”
Wang Yin menatap pedangnya yang masih menempel pada leher kepala naga yang telah dilumpuhkannya. Wang mengangkat wajahnya ke langit yang cerah, membiarkan sinar matahari menerangi wajahnya.
Wang Yin melangkah kembali ke perahu dengan langkah tegap, menghadapi kehadiran guru yang menghampirinya. Hen Bun Xuashi, dengan postur yang tegak dan tatapan yang tajam, menatap Wang Yin dengan penuh serius.
Dengan sikap yang tenang, Hen Bun Xuashi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya menatap Wang Yin dengan tatapan yang memancarkan ketegasan dan kekhawatiran.
Dalam diam, mereka berdua saling bertatap, penuh dengan makna dan pemahaman yang dalam. Tidak ada kata yang terucap, tetapi pesan-pesan yang tersirat dalam tatapan mereka saling terhubung.
Hen Bun Xuashi memandang Wang Yin dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Di dalam keheningan yang mengisi perahu, Hen Bun Xuashi menghampiri Wang Yin dengan langkah perlahan.
“Sebenarnya kau ini siapa, Wang Yin?”
__ADS_1