
Dengan gagahnya, Wang Yin berdiri di tengah arena, menghadapi seorang lawan yang tangguh dan terkenal dengan prestasinya yang gemilang. Ia ditemani oleh Soul Beast berupa Beruang Kutub yang memiliki kekuatan dahsyat. Suasana begitu tegang saat pertandingan dimulai, dan Wang Yin telah siap menghadapi serangan-serangan tak henti yang akan datang.
“Hei, Wang Yin! Persiapkan dirimu untuk kekalahan yang memalukan. Aku yakin aku akan dengan mudah mengalahkanmu. Tanpa Soul Beast, kau hanyalah sasaran yang lemah!”
Dengan kecepatan kilat, Aimeer melepaskan serangan tak henti-hentinya, masing-masing serangan lebih mengejutkan dari yang sebelumnya. Kekuatan luar biasa di balik setiap pukulan mengirimkan gelombang kejut melalui arena, mengancam posisi Wang Yin. Ini adalah pertunjukan kekuatan yang mengundang rasa hormat dan perhatian.
“Serangan soul beastnya sangat kuat! Aku harus segera mencari titik lemahnya,” gumam Wang Yin dalam hati.
Dengan anggapan bahwa Wang Yin akan menjadi sasaran yang mudah, Aimeer melancarkan serangan awal dengan cepat dan terburu-buru. Tanpa mempertimbangkan taktik atau pergerakan lawan, ia berupaya melumpuhkan Wang Yin secepat mungkin dengan serangan yang kuat dan tidak terkoordinasi.
“Kesombonganmu tidak akan membantumu, Aimeer. Jangan terlalu percaya diri. Pertarungan ini belum berakhir,” tutur Wang Yin dengan tenang seraya mencengkeram gagang pedangya dega kuat-kuat. Tidak lupa juga dia memasang kuda-kuda yang kuat.
“Oh, sungguh? Apakah kau merasa bisa menghadapiku tanpa bantuan Soul Beast-mu? Bagaimana mungkin kau bisa melawan kekuatanku yang luar biasa? Aku berada di level yang jauh di atasmu, Wang Yin.” Aimer memasang wajah yang begitu sombong dan didominasi dengan keangkuhan.
Namun, kesombongan dan ketidaktelitian Aimeer berperan negatif dalam strategi ini. Serangan-serangannya yang tidak terarah memberikan kesempatan bagi Wang Yin untuk mengamati pola dan kelemahan serangan lawan. Dengan kecerdikan dan konsentrasi yang tinggi, Wang Yin dapat dengan mudah menghindari serangan-serangan kasar tersebut.
Aimeer mungkin merasa senang dengan serangannya yang begitu agresif, tetapi Wang Yin menjadikan kekuatan lawan sebagai celah yang dapat dieksploitasi. Dengan kecepatan dan ketepatan yang tajam, Wang Yin menghindari dan mengalihkan serangan-serangan Aimeer yang kurang terkoordinasi tersebut.
Dengan kecermatan yang mengagumkan, Wang Yin memperhatikan setiap gerakan dan serangan yang dilancarkan oleh Aimeer. Ia dengan lincah menghindari setiap upaya serangan Aimeer dengan kecepatan yang memukau.
Setiap serangan yang dilancarkan Aimeer tampak sia-sia. Wang Yin dengan tenang dan fokus, seperti seorang penari yang mengikuti alur musik, mengelak dengan anggun dan melesat dengan lincah. Dia menggunakan kecepatan dan ketepatan gerakan untuk memperoleh keuntungan. Melompat, berguling, dan meluncur di sekitar arena pertarungan, Wang Yin tampaknya mampu memprediksi setiap serangan dan menghindarinya dengan seiring waktu yang sempurna.
“Wang Yin, kenapa kamu terus menghindar? Apa kamu takut melawan ku? Ayo serang aku!” Aimer murka karena Wang terus menerus menghindar dibanding memberika serangan balik terhadapnya. Aimeer menginginkan pertarungan sengit yang akan memperlihatkan kemampuannya pada para penonton.
__ADS_1
“Kamu salah, Aimeer. Aku tidak takut. Aku memilih untuk menghindari seranganmu karena itu adalah kecerdasan yang sejati. Aku sedang mencari titik lemahmu,” gumam Wang Yin dalam hati.
Dengan gerakan yang cepat dan energi yang membara, Aimeer melontarkan serangan terkuat yang dimilikinya. Pedangnya meluncur dengan kecepatan yang mengagumkan, mengarah langsung ke arah Wang Yin yang berdiri tegak di hadapannya.
Namun, dengan refleks yang luar biasa, Wang Yin menghindar dengan lincah. Ia meloncat dan berputar di udara, menghindari serangan mematikan dari Aimeer dengan keahlian yang mempesona. Pedang Wang Yin bergerak dengan kecepatan kilat, melancarkan serangan balasan yang tak terduga.
Dalam sekejap, serangan pedang Wang Yin menyerbu ke arah Aimeer dengan ketepatan dan kekuatan yang luar biasa. Aimeer, yang masih terkejut oleh kecepatan dan ketangkasan lawannya, tidak mampu menghindar dengan sempurna. Pedang Wang Yin melukai lengannya, meninggalkan jejak luka yang dalam.
Aimeer menggertakkan giginya kuat-kuat, “Ini tidak mungkin! Bagaimana dia bisa menghindar begitu tepat?”
Wang Yin menyiapkan diri untuk serangan-serangan selanjutnya. Dia menyadari bahwa kesombongan dan angkuhnya Aimeer telah membuatnya lengah, dan dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengendalikan jalannya pertarungan.
Dalam keadaan yang tegang, pertempuran antara Wang Yin dan Aimeer terus berlanjut, dengan keduanya saling berhadapan dalam perjuangan sengit untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul.
Dalam sekejap, Aimeer yang penuh dengan kecerdikan melancarkan rencana liciknya. Tanpa diduga oleh Wang Yin, ia dengan cepat mengeluarkan serbuk dari tangannya, yang melesat ke udara dan menyebabkan serbuk itu menyelimuti sekitarnya.
Wang Yin, yang tiba-tiba menghadapi kabut serbuk, merasa penglihatannya terganggu. Ia berusaha keras untuk melihat melalui kabut yang menghalangi pandangannya, tetapi waktu yang berlalu hanya berupa detik-detik berharga.
“Kamu pikir akan memenangkan pertarungan ini, Wang Yin?”
Dalam kesempatan ini, Aimeer dengan cepat melancarkan serangannya. Ia bergerak dengan ketepatan dan kecepatan yang luar biasa, menggunakan setiap gerakan untuk memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya dari kelengahan Wang Yin.
Pedang Aimeer meluncur dengan cekatan dan tepat mengarah ke arah Wang Yin yang tak berdaya dalam kegelapan kabut serbuk. Serangan itu tiba dengan kejutan yang sempurna, menimbulkan luka yang dalam pada Wang Yin sebelum ia sempat bereaksi.
__ADS_1
Aimeer tersenyum sinis, “Kamu terlalu naif, Wang Yin. Kesombonganmu membuatmu mudah dikalahkan.”
serbuk yang dilontarkan oleh Aimeer menghantam mata Wang Yin, menyebabkan penglihatannya mendadak buta. Wang Yin merasakan rasa panik menyelubungi dirinya, sementara rasa pedih melanda tubuhnya akibat serangan tak henti-henti yang dilancarkan oleh Aimeer.
Dalam kegelapan yang menyelimuti, Wang Yin berusaha meraba-raba di sekelilingnya, mencari tahu di mana letak Aimeer yang licik. Namun, serangan-serangan tajam dari Aimeer terus menerjang tanpa henti, memanfaatkan keadaannya yang terganggu untuk menghasilkan luka-luka lebih dalam.
Meskipun dalam keadaan yang sulit, ia menahan rasa sakit dan berusaha memusatkan pikirannya. Dengan penglihatannya yang masih gelap dan tak menentu, ia mengandalkan insting dan kepekaan tubuhnya untuk melawan balik.
Wang Yin merasakan darah yang mengalir deras di tubuhnya, mengingatkannya akan harga yang harus dibayarnya. Namun, tekadnya tidak goyah. Ia bersumpah untuk tidak menyerah pada kegelapan dan rasa sakit, melainkan menggunakan kekuatannya yang sejati untuk menghadapi Aimeer.
Dalam momen ketegangan tersebut, Wang Yin merasakan kemarahan memuncak di dalam dirinya. Meskipun terhimpit dalam keadaan yang sulit, suaranya terdengar tegas dan penuh amarah saat ia mengeluarkan gumamannya.
"Aimeer ... kau berani menggunakan cara licik dalam pertarungan ini?" gumamnya dengan suara yang terengah-engah namun penuh dengan kekuatan. Suara itu dipenuhi dengan ketegasan dan ketidaksenangan yang jelas terdengar.
Dalam kegelapan yang melingkupi penglihatannya, Wang Yin merasakan amarah yang membara dalam dirinya. Ketidakpuasan atas tindakan Aimeer yang tak terhormat dalam pertarungan ini membangkitkan energi yang ganas di dalamnya.
Meskipun ia bisa merasakan setiap serangan Aimeer yang menghantam tubuhnya, Wang Yin tidak membiarkan rasa sakit itu meredam amarahnya.
“Baiklah. Kali ini aku tidak akan berbelas kasih. Sekarang giliranku untuk menyerang!”
__ADS_1