
Dengan langkah mantap, Wang Yin memegang erat pedangnya yang terhunus di sarungnya. Pedang itu adalah perpanjangan dari dirinya, sejati dan setia. Sorot mata tajamnya mencerminkan keberanian dan ketegasan saat dia menatap Assasins yang berdiri di hadapannya.
Wang Yin meluncur maju, secepat kilat, dengan gerakan yang terkoordinasi dan presisi yang luar biasa. Pedangnya bergerak dengan lincah dan cepat, melukai angin saat dia memotong udara dengan pukulan yang mematikan.
Tubuhnya meliuk dan bergerak seperti air yang deras, pertarungan semakin memanas, diiringi oleh suara teriakan dan hiruk-pikuk penonton yang terpaku menyaksikan pertempuran yang mendebarkan.
Saat perempuan itu melihat serangan pedangnya yang kuat dan tajam, mereka merasakan ketidakmampuan mereka untuk merespons dengan cepat. Kecepatan dan kekuatan serangannya membuatnya terkejut dan tertegun.
“Sialan, serangannya begitu cepat!” ucap Assasins itu seraya memegang cakram dengan tangan gemetar, raut wajahnya penuh ketegangan.
Raut wajah assassin tersebut awalnya penuh dengan kepercayaan diri yang berlebihan. Matanya menatap dengan kebingungan dan keheranan, mencoba memproses informasi yang baru mereka saksikan. Raut wajahnya mencerminkan perasaan campuran antara kekecewaan dan kejutan. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan, dan menyadari bahwa mereka berada di depan lawan yang lebih kuat dari yang diperkirakan.
“Rumor itu benar, dia memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkinkah kita salah menganggapnya sebagai target yang mudah?”
Pertarungan itu semakin memanas, seperti nyala api yang semakin membara di antara kedua belah pihak. Assassins menunjukkan kepiawaiannya dalam mengendalikan cakram-cakram maut. Cakram-cakram itu berputar dengan marah, seolah-olah memiliki kehidupan sendiri. Setiap putaran mereka menciptakan hawa yang mencekam.
Serangan demi serangan dilancarkan, dan blokade demi blokade diterima.
Pertarungan itu menjadi tarian mematikan, seperti dua kekuatan tak terkalahkan yang saling berhadapan dalam pertempuran abadi.
__ADS_1
Pada saat yang menegangkan, cakram maut meluncur dengan cepat menuju leher Wang Yin. Kilatan logam yang memancar dari cakram tersebut memperlihatkan betapa berbahayanya serangan itu.
Tiba-tiba, cakram itu menghantam sasaran dengan akurat. Dalam sekejap, raut wajah Wang Yin berubah menjadi kejutan dan rasa sakit yang mendalam. Darah mengalir deras dari luka yang terbuka di lehernya.
Wang Yin dengan napas tersengal-sengal menyorot tajam ke arah Assasins itu, “Dia benar-benar ingin membunuhku.”
Assassin menatap Wang Yin dengan senyuman sinis yang menghiasi wajahnya yang dingin. Sorot matanya penuh dengan kepuasan yang merendahkan.
“Kau hanya berusaha memperpanjang penderitaanmu sendiri, Wang Yin. Kau tak akan bisa melawan lagi dengan luka sebesar itu.”
Wang Yin menegakkan tubuhnya, memandang langsung ke dalam mata Assassin. Wajahnya yang tertekan oleh rasa sakit tidak mampu menyembunyikan kebingungannya. Wang Yin merasakan rasa sakit yang menusuk-nusuk tubuhnya, Ia menggenggam erat pedangnya, mencerminkan keteguhan dan keberanian yang bersemayam di dalam hatinya.
Namun, tubuhnya sudah tidak mampu lagi menopang beban perjuangannya. Dengan langkah yang goyah, ia mencoba mengangkat pedangnya, tetapi tangannya terhenti di tengah jalan, terjatuh ke samping dalam kelemahan.
Sementara itu, Assassin yang tak terpengaruh dengan keadaan Wang Yin, melanjutkan serangannya dengan melemparkan cakram tajamnya. Cakram tersebut meluncur dengan kecepatan yang mengerikan, menuju sasarannya yang tak berdaya.
“Rasakan cakramku ini. Kali ini kamu akan benar-benar mati, Wang Yin.”
Tiba-tiba, Guinea Mynah Bird, yang selama ini setia menemani Wang Yin, melihat bahaya yang mengancam pemiliknya. Dengan sigap, burung tersebut bergerak dengan lincah, membentangkan sayapnya yang indah. Namun, kali ini, kekuatan ekor emasnya bersinar terang.
__ADS_1
Saat cakram tajam itu mendekati Wang Yin, Guinea Mynah Bird mengayunkan ekor emasnya dengan kekuatan yang luar biasa. Ekor emas tersebut memancarkan cahaya yang mempesona, memantulkan serangan balik yang tak terduga ke arah musuh.
“Sial! Burung jelek itu melidunginya!”
Cakram yang dilempar oleh Assassin terpental ke arah yang sama dengan kecepatan yang sama. Terjadilah benturan hebat antara cakram dan serangan balik Guinea Mynah Bird, menghasilkan dentingan yang memekakkan telinga.
Guinea Mynah Bird segera menggapai Wang Yin dengan cermat menggunakan cakar emasnya yang halus. Dalam sekejap, burung tersebut berhasil membawa Wang Yin menjauh dari medan pertempuran yang berbahaya. Dengan lemahnya, Wang Yin menempatkan kepercayaan terakhirnya pada teman setianya.
Tak lama kemudian, Guinea Mynah Bird tiba di Akademi, meletakkan Wang Yin dengan lembut di tempat yang aman. Mata burung itu penuh perhatian dan kepedulian, seolah-olah memahami penderitaan yang dialami oleh tuannya.
Myrin melihat Wang Yin terbaring lemah di tanah, tubuhnya terluka dan wajahnya mencerminkan rasa sakit yang mendalam, “Apa yang terjadi denganmu, Wang Yin?!”
Myrin segera bergerak cepat, mengangkat tubuh Wang Yin dengan hati-hati, dan membawanya dengan langkah tergesa-gesa ke ruang kesehatan Akademi.
__ADS_1