
Ini adalah.....
Kejadian ini aku mengingatnya.
10 menit kemudian anak lelaki tersebut kembali ke ruang kelasnya dengan memegang tangan gurunya.
Ruangan itu kosong, tidak ada seseorang pun disana.
"Dimana Reika-Chan?" Melirik ke arah kiri dan kanan ruang kelas"Tidak ada siapapun di sini...."
"Eh, Tadi ada disini Bu guru, tadi aku tidak sengaja mendorongnya dan ada memar di lututnya"
"....Ini aneh, kenapa ruang kelas ini menjadi sepi?"
Tolong Hentikan!
Jangan memperlihatkanku masa lalu kelam ini!
"Kalau tidak ada hal lain lagi, ibu akan kembali dulu"
"Ehh, tunggu...."
Guru itu pergi meninggalkan anak lelaki itu.
Tolong hentikan ini sekarang juga! Jangan perlihatkan kepadaku! .... Kejadian seperti ini, aku sama sekali tidak ingin mengingatnya kembali.
"......"
"..."
Itu adalah awal dimana aku membenci manusia.
Aku membenci pertemanan. Ketika seorang teman yang tidak bisa mempercayai temannya, itulah yang kusebut dengan kebencian.
Terutama dengan gadis yang aku dorong itu, awalnya saat aku pertama kali melihat gadis itu, aku menganggap bahwa orang itu seperti bunga yang bermekaran di musim semi. Tetapi ketika aku tidak sengaja melakukan sebuah kesalahan, semuanya berakhir sudah.
Waktu aku masih berada di sekolah dasar, aku adalah orang yang terlalu polos. Aku mengatakan bahwa "pertemanan adalah hal yang sangat menyenangkan" dan itulah kata-kata yang membuatku sadar bahwa tidak ada seorangpun teman di dunia ini yang dapat mengerti perasaanku. Sungguh, dunia palsu ini hanya ada tipuan dan kekejaman yang ada di dalamnya.
Selama ini, kenangan pahit yang sudah bertahun-tahun telah hilang di kepalaku, kini muncul kembali sebagai bunga yang terkutuk. Ya, aku mengutuknya, masa lalu ini, terutama orang yang menuduhku dengan alasan yang sangat tidak masuk akal sama sekali. Dan di saat aku menjelaskannya, mereka sama sekali tidak mempercayai satu kalimat dari ucapanku sekalipun.
Persahabatan....
Pertemanan.....
Apa- apaan itu!
"Dia mencuri uangku"
"Dia juga memukulku"
"Dia baru saja Merobek buku catatan ku"
Itu adalah benar bahwa aku telah mendorong Reina-chan, tetapi aku tidak melakukan hal apapun selain itu, jadi berhentilah menuduhku dengan alasan sembarangan!
Mereka semua menuduhku dengan alasan yang tidak mendasar, dan terus memperpojok ku terus menerus. Mereka semua mempermainkan ku seperti sebuah mainan.
Ya, saat ini orang-orang di sekitarku menatapku begitu tajam.
Ketidakpercayaan dan kebencian, itulah tatapan mereka yang tertuju ke arahku.
Kalian semua! Berhentilah menatapku dengan wajah yang menyeramkan itu.
"Kazuto! Apakah benar kamu telah mendorong Reika-chan hingga terjatuh?" Bu Gu melempar buku cetak yang dipegangnya ke sebuah meja. Akibatnya, dentuman yang sangat keras terdengar sampai ke telingaku.
__ADS_1
Aku menoleh ke arahnya, ya, saat ini tatapannya menandakan rasa kebencian yang sangat mendalam yang tertuju ke arahku.
Itu memang benar, aku telah melakukan hal yang salah, aku telah meminta maaf berulangkali kepadanya.
Kesalahanku ini, padahal waktu itu aku sudah berlari untuk mencari pertolongan kepada seseorang, dan akhirnya menjadi seperti ini. Padahal aku meminta tolong kepadamu dan saat ini juga kau memarahiku, sebuah alasan yang tidak masuk akal sama sekali dia memarahiku.
"....Tetapi kenapa kau malah lari dan tidak pergi menolongnya?"
Berhentilah menanyakan pertanyaan itu kepadaku! Bukankah aku sudah meminta bantuan kepadamu Sensei?.
Ya, aku sudah meminta tolong kepadamu dan saat ini juga kau menuduhku. Bukankah sudah kuceritakan semua kejadian itu kepadamu? Seharusnya saat ini kau menenangkanku dan membelaku, dan kenapa malah menuduhku dengan alasan yang tidak mendasar seperti itu?
Jelaskan kepadaku dan kenapa kau menatapiku dengan tatapan sama seperti mereka semua? Sebagai seorang guru, bukankah seharusnya kau bertindak dengan cara yang lebih tenang sedikit? Apakah kau menganggapku salah dimatamu dan mengalihkan kejadian sebenarnya, seolah-olah kau telah menyembunyikannya.
Matanya dengan tajam tertuju ke arahku yang sedang duduk di kursiku, menandakan bahwa matanya tidaklah main-main seperti seseorang yang ingin membunuhku.
Ya, semua orang yang berada di kelas ini tidak ada satupun dari mereka yang mempercayai kata-kataku.
Mereka menganggapku sebagai orang jahat yang sudah menyakiti para siswa-siwi di sekolah ini.
"Itu..."
Teman-teman sekelas lainnya menatapiku dengan tatapan sinis, dengki, dan kebencian.
Tatapannya semakin tajam, lalu mereka mengatakan.
"Lebih baik kau mati saja!"
"Keluarkan dia dari sekolah ini!"
"Aku tidak mau berteman dengan seorang penjahat!"
Tidak! Hentikan! Jangan mengatakan hal yang kejam begitu...
Mereka semua yang berada dikelas ini termasuk guruku menatapiku dengan rasa dengki dan marah, terdapat niat membunuh di dalam tatapannya, seolah-olah mereka semua merencanakan untuk membunuhku.
Rumor tentang buruk ku disekolah menyebar ke kelas lainnya yang menandakan aku di cap sebagai orang jahat di sekolahku.
Bahkan para guru-guru lainnnya sekalipun, mereka memandangku sebagai siswa tidak bermoral yang tidak diajari etika sekalipun.
Saat itu, kebencian yang berada di dalam diriku melonjak semakin mendalam, dan sampai kini masih tersimpan di dalam hatiku. Aku mengutuk mereka semua yang telah merendahkan ku. Ya, aku sangat mengutuk sekali perbuatan mereka yang sama sekali tidak menganggapku sebagai seorang manusia sedikitpun.
Di kelas ini, mereka semua tidak mengharapkan kehadiranku untuk mengikuti pembelajaran ini. Mejaku setiap harinya dicoreti oleh spidol maupun tip ek yang tertulis " Matilah kau penjahat!" Yang menandakan bahwa mereka semua adalah musuhku.
Saat ini aku menatapi, menatap anak perempuan itu yang sedang diam di kursinya.
Sejak saat itu, Reika- chan tidak berkata apa-apa lagi kepadaku.
Ya, tatapannya menjadi dingin. Mungkin Reika- Chan mengira kalau aku adalah orang yang jahat. Sekarang dia membenciku dan saat ini rasa percayaku terhadap teman-temanku terputus sudah.
Tidak ada yang mempercayaiku, aku tidak ingin mempercayai itu.
Bahkan di rumah sekalipun, tidak ada yang mempercayaiku.
"Hei, dasar anak sialan! Kenapa kau berulah lagi disekolah?!"
Bahkan ibuku tidak percaya kepadaku.
Keluargaku adalah keluarga hasil dari pernikahan lagi, Orang tuaku ini sangat keras sekali, terutama dengan ibu tiriku ini.
Dia adalah salah satu orang yang kubenci selain disekolahku.
"Gurumu telah memberitahukan ku bahwa kau telah melukai seorang gadis, apakah kau tidak sadar perbuatan apa yang telah kamu lakukan itu!"
__ADS_1
Setiap harinya, aku selalu dimarahi, jika saja ada barang atau uang yang hilang, yang pertamakali ibu tiriku curigai adalah diriku. Dia memarahiku dan menyuruhku untuk mengakui bahwa aku telah mencurinya, tetapi sebenarnya aku tidak mengambil barang atau uang apapun. Jika aku tidak mengaku, ibu tiriku menyabetku dengan rotan, bahkan pernah menyiramku dengan air panas yang baru saja mendidih.
Rasa sakit itu, aku merasakannya, perih sekali hingga aku menangis berlari masuk ke dalam kamarku. Dan benar saja, ibu tiriku mengancam ku, jika aku sampai memberitahukan kekejamannya kepada ayahku, mungkin hal yang lebih buruk dari itu akan terus menimpaku. Dia sama sekali tidak menganggapku sebagai manusia sedikitpun, bahkan lebih buruk dari hewan.
Hentikan....!
"Apakah kau tidak mengetahui siapa orang tua dari gadis itu?!"
"Dia adalah bos dari perusahaan ayahmu bekerja kau tahu! Jika sampai kau menyakiti putrinya, ayahnya tidak akan tinggal diam, ini semua salahmu dasar anak sialan!"
Ya, orang tua Reika-Chan, adalah bos dari perusahaan Ayahku.
Kejadian itu sampai terdengar oleh ayahnya, akibatnya ayahku dipecat dari pekerjaannya, dan saat itu juga ayahku menjadi seorang pengangguran.
Sekitar setengah bulan, ayahku sampai saat itu masih tidak menemukan pekerjaan sekalipun. Terkena terik sinar matahari hingga lelah di sore hari, dia terus mencari pekerjaan untuk mencari nafkah untuk keluarganya, tentunya pada waktu itu aku tidak tega untuk memberitahukannya, malahan aku menambah beban yang diakibatkan dari perbuatan ku itu. Sungguh, saat itu aku sungguh menyesalinya.
Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak ingin berangkat ke sekolahku, tetapi Ayahku memaksaku untuk pergi dan pergi.
Aku berbicara kepada ayahku bahwa aku tidak ingin pergi ke sekolah itu, semua orang disitu adalah musuhku, hanya ada orang jahat yang berada di sana.
Setiap harinya ketika aku pergi berangkat ke sekolahku, melewati koridor sekolah, tatapan siswa siswi mengarah kepadaku. Aku mengetahui kebencian mereka tertuju ke arahku.
Sejak saat itu, aku berhenti ke sekolah dan meminta Ayahku untuk mencarikan sekolah yang lain untuk ku.
Sebetulnya, aku tidaklah tega untuk membebani masalah ini kepada ayahku, pindah ke Sekolah yang berbeda artinya harus menyiapkan uang yang cukup untuk biaya masuk sekolah.
Sebulan berlalu, aku terus mengurung diriku di dalam kamarku. Aku masih terbayang-bayang kejadian itu, membuatku trauma akan kejadian itu, frustasi, rasa ingin bunuh diri terus berbisik ke dalam kupingku.
Waktu itu, kenapa bisa menjadi seperti ini. Aku mengutuk semua orang yang telah membenciku, tidak, lebih tepatnya aku mengutuk dunia ini.
Kejadian yang mengerikan selalu menimpa diriku, selama ini aku tidak pernah mendapatkan kejadian yang baik sekalipun.
Dari kecil aku selalu dimarahi. Dimata orang lain mereka menganggapku salah, selalu dan selalu sebuah kesalahan selalu tertuju ke arahku. Temanku, saat setelah kejadian buruk itu aku sudah tidak memiliki teman sekalipun. Ya, aku tidak membutuhkan teman, mereka semua hanya akan menjadi musuhku, pada saat itu aku sama sekali tidak mempercayai dengan ikatan pertemanan. Pada akhirnya mereka semua juga pasti akan mengkhianatiku.
Bahkan ketika aku pergi ke sekolah baru sekalipun, pada saat itu aku menggunakan bahasa yang formal dan tidak berbicara kepada siapapun, menyendiri dan terus menyendiri sampai saat ini.
Untuk menghindari terulang laginya kejadian seperti itu, aku menggunakan bahasa yang formal dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutku.
Dunia busuk ini, kenapa aku berada di dalamnya. Kenapa semua ini terjadi kepadaku.
Penderitaan yang secara beruntun itu, tidak ada habisnya hingga aku duduk di bangku sekolah menengah atas.
Saat ini, masa depanku terlalu suram, hal apa yang membuatku merasakan keterpurukan mental di saat aku sedang sedih, adikku yang selalu mendukungku.
Dia adalah orang yang selalu memberiku motivasi untuk hidup disaat ayahku pergi meninggalkan rumah untuk bekerja.
Tetapi ibu tiriku mengetahui hal itu dan memarahi adikku di dalam kamarnya supaya tidak bergaul denganku lagi.
Setelah mendengar ucapannya, aku kembali ke dalam kamarku dan mengunci pintuku dan murung untuk kesekian kalinya.
Mataku hanya ada kekosongan dan kehampaan. Jiwaku telah pergi entah kemana, tidak ada motivasi untuk hidup dan selalu melampiaskan kekesalan ku ke arah foto keluargaku.
Foto itu terdapat ibu tiriku, ayahku dan adik tiriku yang terpajang di dalam kamarku.
Aku memukulnya berkali kali dengan tanganku dan membantingnya ke lantai sambil membayangkan kekesalanku terhadap foto itu.
Dengan tangan yang penuh darah, aku menaruh dendam ke semua manusia yang telah mengkhianatiku, teman-temanku, guruku dan juga ibu tiriku. Seringkali telingaku berbisik untuk membunuh mereka semua, tetapi aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melakukan perbuatan itu.
Hingga kini, aku selalu di bully dan dimusuhi oleh teman-teman sekolahku. Akibat dari masa lalu kelam itu, ada seorang teman sekolah masa kecilku yang saat ini sekelas denganku. Dia memberitahukan teman sekelas lainnya, bahkan ke kelas sebelah tentang perbuatan burukku yang mengakibatkan seluruh kelas menjauhiku. Walaupun begitu, ada satu orang yang mempercayaiku, dia adalah seorang gadis yang rumahnya bersebelahan denganku. Saat ini dia dikelas yang sama denganku, tetapi walaupun dia adalah teman sekelas ku, aku sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Aku takut, dia sama seperti mereka, mendekatiku lalu mengkhianatiku.
Lebih baik aku tidak memiliki teman sekalipun daripada nanti mereka mengkhinatiku dan akan ada penyesalan di hatiku. Justru itu, aku menjauhi gadis yang selalu menempel kepadaku. Menjauhinya supaya dia tidak akan terkena masalah kalau berada dekat denganku. Jika saja aku memiliki sebuah kekuatan yang dapat mengendalikan dunia ini.
Aku akan sepenuhnya mengubah dunia ini agar sesuatu yang buruk yang selalu menimpaku agar sirna dalam kehidupanku.
__ADS_1
"Ehh... Apakah benar begitu?"
Tiba-tiba terdengar suara di dalam kepalaku.