Lika Liku Kehidupan

Lika Liku Kehidupan
Bab 14 Chapter 2 - Bagian 6


__ADS_3

"Kamu tidak mengetahuinya, ada aturan yang membuat kami para dewa dan dewi untuk tidak ikut campur turun kedunia itu, maka untuk dari itu aku secara pribadi menemuimu untuk membantuku mengambil cincin itu, melihatmu yang sedang menganggur, dan juga kamu tidak terikat dengan hukum itu, seharusnya itu bisa kan?"


Apa? Aku menganggur? Hah? Apa - apaan dengan perkataannya itu. Bukankah kamu yang telah membuatku menjadi seperti ini.


Aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain karena itu bukan urusanku. Aku lebih memikirkan diriku sendiri untuk kedepannya dan nasib keluargaku.


Tetapi jika dia mau mengembalikan kekuatanku, permintaannya itu bisa kita bicarakan dengan baik - baik.


Tunggu, bukankah ini adalah kesempatanku untuk memintanya mengembalikan kekuatanku. YA, aku akan mencoba melakukan hal itu.


"Aku akan memenuhi permintaanmu dengan satu syarat, kembalikan kekuatanku yang telah kamu segel itu"


Jika saja kekuatanku kembali, jangankan untuk mengambil cincin itu, bahkan dunia kecil itu dapat kuhancurkan dengan satu jentikan jariku.


Huh, ini adalah pilihamu, jika kamu tidak mau memenuhi syarat itu maka aku tidak akan membantumu untuk mengambil cincin itu.


"Itu.... Syaratmu sangat berat sekali... Bagaimana dengan meminta yang lain? Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang satu ini"


"Yasudah, itu bukanlah urusanku, kau ambil saja sendiri cincin itu dengan kedua tanganmu"


Aku sudah menduga jawabannya itu, makan tuh cincin, senjata makan tuan. Mampus, kau pikir ini akan sesuai dengan rencana mu? Jangan mimpi!


Huh.... Sedang apa dia? Hei! Hei! Apa yang sedang dia lakukan. Energi sihir yang sangat besar ini, apa yang sedang ingin dia rencanakan.


"Sudah kuduga, cara yang lembut tidak akan bekerja padamu, seharusnya aku memilih cara yang itu dari awal"


Apa? Apa - apaan dengan ucapannya, jadi selama ini dia sudah merencanakan untuk memaksaku.


Tetapi dilihat dari dirinya saat ini, sepertinya Asura sedang tidak main - main.


Tekanan ini sangat berpengaruh terhadap tubuh manusiaku. Energi sihir yang cukup besar dikeluarkan olehnya yang dimana tubuh yang dikenakan ku tidak akan bertahan.


Arghh.... Aku merasakan sesak nafas, 'Hwuhhh' Aku harus mengatur nafasku agar tetap aman.


"He- Hentikan itu..."


Kau mencoba menindasku dengan mengeluarkan energi sihir itu, Asura sangat berbahaya, padahal dia belum mengeluarkan kekuatan penuhnya dan pada saat ini aku merasakan getaran di tubuhku.. Hihhhh! Merinding di sekujur tubuhku, buluk kudukku berdiri semua.

__ADS_1


"Aku tidak menyangkanya, kalau kamu adalah seorang manusia... Tetapi aku tidak berpikir seorang manusia bisa memasuki Alam Dewa.... "


"Hah? Apa maksudmu?"


Dari dulu aku memang manusia kan? Aku hanya menggunakan Character Asgard dalam waktu yang cukup lama saja ketika aku berada di alam sana.


Ada apa dengannya tiba - tiba menanyaiku tentang ini? Sepertinya sesuatu yang berbahaya akan segera terjadi. Saat ini aku harus waspada dengan sikap yang berubah-ubahnya itu, sikapnya tidak bisa diprediksi seolah-olah Asura memiliki sifat yang berbeda yang lain dari dalam dirinya.


"Kamu pasti merasa kesepian kan? Dikhinati oleh temanmu sendiri, bahkan di keluargamu juga kan?"


"Hah, apa sih maksudmu...?"


Sikapnya yang tidak bisa diprediksi itu seolah - olah Asura memiliki sifat ganda yang berada di dalam dirinya.


Aku khawatir, ini tidaklah mudah untuk menghilangkan ini, sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


"Dan juga adikmu....."


"Jangan kamu berani menyentuh adikku!"


*Crack*


Hah, apa? Berani -beraninya dia mengancam ku dengan menggunakan nama adikku.


"Adikmu yah... Aku sebenarnya merasa cemburu dengan adikmu, apa yang kamu perlakukan kepadanya berbeda sekali dengan yang saaat ini kamu perlakukan kepadaku!"


"Heii!! Sekali lagi aku peringatkan kau jangan berani macam-macam untuk menyentuh adikku! Jika terjadi sesuatu kepadanya, aku tidak akan memaafkanmu!!"


Ini adalah keadaan yang dimana aku tidak bisa melakukan sesuatu apapun, rencananya aku tidak ingin membuat dia marah, tetapi dia menyangkut pautkan masalah ini dengan adikku, saya tidak bisa membiarkannya untuk melalukan sesuatu yang buruk kepada Kirino. Aku akan melindungi keluargaku dengan seluruh kekuatanku, bahkan jika saya bertarung dengannya dengan sekuat tenagaku, aku akan melakukannya.


Demi keselamatan adikku, tidak masalah jika itu mengancam hidupku. Asalkan tidak terjadi sesuatu dengan Kirino, saya berani bertaruh nyawa untuk melawan Asura.


"Jika kamu berani menyentuhnya, kamu akan kubunuh!!"


Huh, retakan ini.... Tiba - tiba keluar energi sihir dari tubuku.


"Ahahahaha.... Ahahahaha..., Sepertinya kamu begitu menyayangi keluargamu itu"

__ADS_1


"Itu bagus, tetapi bagaimana dengan ibu tirimu? Teman - temanmu? Apakah kamu akan melindungi mereka juga sama seperti adikmu?"


Teman - temanku? Mereka hanyalah semut dihadapanku, aku sama sekali tidak memperdulikan nyawa mereka, saat ini prioritasku adalah menjaga keselamatan adikku.


"Hmm... Hmm.. Aku mengerti perasaanmu kok, saat ini hatimu sedang bergejolak kan? Hanya aku yang dapat mengerti perasaanmu, jadi, percayalah kepadaku, jangan sungkan untuk bercerita kepadaku, aku akan mendengarkan apapun keluh kesah darimu jika itu kamu"


Apakah benar begitu? Jika aku tidak mendapatkan kekuatan ini, mungkin hingga saat ini aku hanya bisa mengurung diriku di dalam kamarku, hingga waktu berjalan hingga bertahun - tahun lamanya mungkin sampai kelulusanku. Mereka semua akan terus menindasku, pembullyan, pengkhianatan. Apakah kamu pernah merasakan itu?


Tidak memiliki teman untuk dipercaya, hingga matipun aku akan tetap terus menyendiri. Apakah kamu pernah merasakan semua itu?


"Tidak menjawab, sepertinya benar begitu yah? Aku mengerti kok Hm.. hmm...." sambil mengangguk.


Apa? Mengerti perasaanku? Jika itu diriku di masa lalu yang terlalu polos dan lugu, mungkin aku akan mempercayai kata-katanya, tetapi saat ini aku sudah pernah mendengarkan perkataan yang seperti itu, itu sama persis perkataannya dengan seorang gadis yang mengkhianatiku, aku muak dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


*Crack* Retakan yang mengikat seluruh tubuhku tiba - tiba hancur ketika aku mengeluarkan emosiku, energi sihir besar saat ini menyelimuti diriku.


Saat ini aku bisa menggerakan tubuhku.


"Jangan bercanda!!"


"Jangan membuatku tertawa!" Aku menyingkirkan tangannya yang memegang pundakku.


Saat ini Asura hanya terdiam ketika aku mengambil tindakan.


"Apakah kamu pernah mengalami rasa sakit ini? Di khianati oleh teman - temanmu? Dicampakan oleh gadis yang kamu sukai, tidak dipercayai oleh guru - gurumu, bahkan apakah kamu pernah merasakan dikhianati oleh seseorang yang kamu cintai?"


"Aku bertanya kepadamu apakah kau pernah mengalaminya? Hah?! Tentu saja tidak kan? Jadi berhentilah seolah-olah kau merasakan penderitaan ku ini! Orang yang tidak pernah merasakan rasa sakit mana mungkin bisa mengerti apa itu arti dari penderitaan yang sebenarnya! "


"... Jika kau merasakannya, mungkin kau akan mengerti apa arti dari rasa sakit yang sesungguhnya, penderitaan yang kualami ini terus menerus terjadi kepadaku hingga saat ini, dan kau saat ini bilang mengerti perasaanku seolah-olah kau telah berbagi melalui rasa sakit ini bersamaku. Sungguh, aku muak dengan sifat naifmu! Lihatlah kenyatannya, dunia ini memang buruk dari awalnya. Hanya ada keserakahan, dan kekejaman, tak kenal ampun, bahkan yang terburuk adalah kenaifan yang baru saja kau ucapkan, dari dulu hingga kini aku tidak pernah bertemu orang yang senaif dirimu itu, berbicara omong kosong seenaknya dengan mulutmu, apakah kau saat ini mengerti perasaanku? Jika kau tidak mengerti maka berhentilah mengucapkan kata yang tidak masuk akal itu, itu membuatku muak!"


Ya, hal yang membuatku bertahan sampai detik ini adalah karena Adik'ku, dia adalah orang yang terus memberiku semangat dikala aku sedang terpuruk oleh keadaan, dialah satu-satunya orang yang mengerti perasanku. Ini berbeda sekali dengan omong kosong yang baru saja diucapkannya.


Saat ini Asura sepertinya hanya terdiam setelah aku mengucapkan dengan nada yang tinggi, dilihat dari wajahnya, sepertinya dia membuat reaksi ketakutan di wajahnya ketika mendengarkan perkataan ku tadi.


Bagaimana aku tidak emosi, dia yang memancingku menjadi seperti ini, emosi dari dalam diriku meluap dan pada akhirnya aku mengeluarkan emosi yang tak terbendung itu.


Omong kosongnya, mengatakan bahwa itu adalah sesuatu hal yang biasa baginya, tetapi bagiku ucapannya adalah hal yang paling menyakitkan. Jika kamu tidak pernah merasakan penderitaan, maka berhentilah bahwa kau memahami arti dari rasa sakit itu sendiri. Orang yang tidak pernah menderita tidak akan mengetahui arti dari sebenarnya penderitaan. Ya, bahkan jika itu kamu, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu.

__ADS_1


__ADS_2