
***
Langit biru begitu cerah, hingga nyaris menyakitkan untuk dilihat. Saat ini aku sedang berjalan menuju ke sekolah. Seperti biasa, merasakan sinar matahari yang sangat intens, membuatku merasa tidak nyaman.
Bagi seseorang otaku penyendiri yang selalu mengurung dirinya sendiri di dalam kamarnya, aku merasa terganggu dengan adanya sinar matahari yang begitu silau yang menyinari kedua mataku ini. Silauan matahari adalah musuh alami bagiku, mataku tidak terbiasa untuk melihatnya cukup lama, dan setiap kali aku melihatnya, mataku tiba-tiba mengeluarkan air yang cukup perih di sela-sela mataku ini.
Walaupun udara yang kurasakan saat ini cukup hangat, tetapi tetap saja aku tidak terbiasa. Pada siang hari mungkin matahari pada mencapai batasnya, pada waktu itu biasanya aku pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Ya, kegiatan sehari-hariku disekolah ketika ada waktu luang adalah pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Tujuanku utamaku bukanlah untuk belajar, tetapi untuk tidak menimbulkan masalah yang ada di sekitarku. Karena tempatnya sepi jadi aku bisa bersantai disana sampai bel masuk pelajaran selanjutnya berbunyi.
Tetapi melihat kondisiku saat ini, tubuhku juga telah mencapai batasku, melelahkan untuk berjalan sampai ke sekolahku, jika memungkinkan aku ingin menggunakan teleportasi untuk sampai ke sekolahku, tetapi melihat keadaan sekitarku saat ini yang cukup ramai, sebaiknya aku tidak menimbulkan kecurigaan yang tidak diinginkan.
Sesekali aku melihat jam tanganku, waktu telah cepat berlalu, dalam 2 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi, kini aku melangkah dengan cepat hingga berlari untuk menuju ke sekolahku. Itu menguras staminaku, kaki manusia biasa yang tidak terlatih ini tidak cukup kuat untuk mengimbangi gerakan langkah kakiku ketika sedang berlari. Hingga keringat yang menetes di dahiku, keadaan dimana telah mencapai batasku.
"Sial...! jika tidak cepat-cepat aku akan terlambat"
"...Menggunakan tubuh yang tidak terlatih ini, jika aku mengetahui akan ada keadaan seperti ini, seharusnya aku rajin untuk berolahraga..."
Aku berhenti melangkahkan kakiku untuk mengambil nafas, "Hufff" saat ini nafasku tidak beraturan dan otot-otot kakiku mati rasa. Ingin sesekali aku duduk untuk beristirahat dan meluruskan kakiku, tetapi waktu telah berlalu sehingga aku tidak bisa melakukan hal itu, aku melanjutkan lariku untuk mencapai sekolahku.
Terus berlari dan hingga nafasku terengah-engah, tinggal sedikit lagi aku akan sampai ke sekolahku. Saat ini aku bisa melihat gerbang sekolah, sepertinya sudah setengah tertutup, ada seorang satpam yang sedang memegang gerbang itu, dan sepertinya aku menyadari kalau aku terlambat.
"Kau terlambat!"
"Hufff-huff" aku memegang gerbang itu untuk mengambil nafasku dan mengeluarkannya, setelah itu aku mencoba melihat jam tanganku.
__ADS_1
Ini... Bukankah aku masih ada sisa sepuluh detik lagi? Apakah paman ini sedang bercanda?
Aku kembali menengok arah depanku dan mencoba berbicara kepada penjaga gerbang ini.
"Maaf Paman, tadi malam aku lupa mengaktifkan alarm ku, jadi aku bangun kesiangan dan terlambat untuk ke sekolah."
Itu benar, tidak biasanya aku terlambat seperti ini, dan juga tadi malam aku lupa untuk mengaktifkan alarmku sehingga aku datang terlambat seperti ini.
Apakah paman ini akan mempercayai ucapanku? Yah, bagaimana mungkin alasan seperti itu akan membuatnya percaya dengan ceritaku ini. Jika keadaanya sudah seperti ini, aku hanya bisa menggunakan itu.
"Baiklah aku percaya dengan mu, tidak seperti biasanya kamu terlambat seperti ini. Tapi ingat, jangan di ulangi lagi!"
Ah, itu bagus, aku tidak perlu repot-repot untuk mengubah ingatannya, mendengar perkataannya itu aku merasa lega.
"Baik paman, apakah sekarang aku boleh masuk ke dalam?."
"Terimakasih banyak paman, aku pergi dulu!"
Aku berjalan masuk melewati gerbang dan sedang berjalan menuju ruang kelasku.
Melewati koridor sekolah dan kelasku berada di lantai 2 yang artinya aku harus berjalan untuk menaiki tangga dan menuruninya untuk berangkat dan pulang sekolah.
Walaupun ini adalah hari keduaku masuk ke sekolah setelah liburan musim semi, aku sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan manusia yang berada di ruang kelasku. Sebaliknya, aku pergi sekolah demi ayahku. Dia yang telah banting tulang bekerja untuk membiayai ku memasuki sekolah ternama ini. Jadi aku merasa bersalah kepadanya jika aku tidak pergi kesekolah dan membuang-buang keringat yang telah dia keluarkan untuk mendapatkan secukup banyak uang untuk membiayai ku ke sekolah ini.
__ADS_1
Area-area disini juga cukup luas, sehingga ada peta yang terpajang di pertigaan koridor untuk murid baru yang tidak hafal jalur sekolah. Ini juga memudahkan ku untuk mencapai kelasku.
Kelas 11 B, aku melihat plang yang tertera di atas luar pintu itu. Hmm.... ini adalah ruang kelasku.
Aku membuka pintu kelas dan melihat keadaan sekitar di dalam kelasku.
Para pria dan wanita berkerumun saling mengobrol dan membaginya menjadi beberapa grup, mereka sedang asyik membahas hal yang menyenangkan menurut pikiran mereka.
Tetapi setelah aku melangkahkan kakiku memasuki kelas ini, tatapan mereka berubah setelah melihatku.
Mereka semua menatapku, marah, dengki, itulah tatapan yang mereka perlihatkan kepadaku.
"Kazuto-kun!"
Aku beralih untuk tidak melihat tatapan mereka yang tajam itu, dan melihat ke sumber suara.
Mendengar sumber suara itu, dari arah belakang. Melihat arah belakang sudut kelas ini, seorang wanita berambut panjang yang berwarna hitam sedang memanggil namaku. Itu adalah... Rinon- san.
Dia adalah teman masa kecilku. Setelah keluargaku pindah rumah ke daerah ini, Rinon sering bermain ke rumahku, dan rumah kami juga bersebelahan, tidak heran jika dia selalu menempel kepadaku.
Walaupun begitu, dimasa lalu dia selalu menyelonong masuk ke dalam kamarku dan terus mengganggu ketenangan ku. Berbicara dan menyentuh barang-banrangku seenaknya, itu terus menggangguku. Tetapi aku hanya bisa diam selagi dia asyik bermain dengan barang-barangku dan tidak memperdulikannya.
Dia juga sering mengajakku berbicara, tetapi aku selalu menjawabnya dengan bahasa formal ketika kami berdua sedang berbicara satu sama lain. Karena aku tidak ingin mengulangi kejadian Masalalu kelam itu, hingga saat ini setiap ada yang berbicara denganku, aku selalu menggunakan bahasa yang formal.
__ADS_1
Berjalan menuju Rinon, kebetulan tempat duduk ku berdekatan dengannya, sehingga kami biasanya saling mengobrol ketika ada pelajaran yang sulit dipahami dan saling berbagi pemikiran yang berkaitan tentang pelajaran.
Menuju ke arahnya, tiba - tiba ada seseorang yang sedang duduk di kursinya sambil menjulurkan kakinya. Akibatnya, jalanku terhalangi olehnya.