Lika Liku Kehidupan

Lika Liku Kehidupan
Bab 17 Chapter 3 - Bagian 2


__ADS_3

Aku berhenti dan melihat ke arah wajah orang itu, orang itu adalah Rio. Dengan rambut pirang yang diwarnainya, kerah dan kancing terbuka, dengan tindik dikupingnya, melihatnya sekilas saja aku sudah mengetahui kalau dia bukan siswa yang baik sekalipun.


Dia adalah orang bodoh yang selalu membulyku. Dia juga yang memberitahukan seluruh teman sekelas bahwa aku memiliki tindakan kriminal di masa laluku. Akibatnya, seluruh siswa dan siswi di kelas ini tidak ada yang mau berbicara denganku.


Huh, dia sedang berada di grupnya. Lihatlah dia saat ini, tersenyum kepadaku tanpa alasan yang jelas. Tetapi satu hal yang pasti, dibalik senyumannya dia pastinya sedang merencanakan sesuatu hal buruk kepadaku.


Anggota gengnya juga sama saja, mereka tidak ada yang memiliki sifat yang baik sekalipun.


Aku sesekali berpikir bagaimana orang ini bisa naik kelas, apakah orang tuanya menyuap uang ke Walikelas sebelumnya untuk bisa naik kelas? Dan juga, kenapa kelas kita bisa bersamaan?


Hidup ini memang begitu kejam, melihatnya saja sudah membuatku muak.


Sesekali aku ingin menghajar wajahnya, tetapi saat ini aku harus bersikap rendah hati dan tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.


Aku menghela nafas, dan melangkah melewati kaki yang berjulur itu dengan menghiraukannya.


Berjalan menuju mejaku, aku kembali melihat ke arah belakang. Seperti dugaanku, tatapannya berubah kesal setelah aku menghiraukannya.


Huh, apa yang sedang kamu pikirkan? Ada apa dengannya? Memangnya apa yang sedang kamu rencanakan?


Aku menaruh tasku dan duduk di kursiku. Sedangkan itu Rinon berbalik ke arah belakang dan menghadap ke arahku.


"Kazuto - kun, apakah Rio melakukan hal yang tidak - tidak kepadamu?"


Aku menghela nafas dan menjawab pertanyaannya.


"Tidak mungkin orang bodoh itu berani melakukan hal yang seperti itu kepadaku. Jika dia berani melakukannya, aku akan menghajarnya sampai aku puas, baru aku akan melepaskannya."


"Jadi begitu... Setelah mendengar ucapanmu, aku merasa lega karena Rio tidak melakukan hal yang tidak - tidak kepadamu."


Setelah Rinon baru saja menyelesaikan ucapnnya, seseorang membuka pintu dan memasuki ruang kelas ini. Itu adalah Guru walikelasku.


"Kelas sudah dimulai, aku akan kembali lagi mengobrol denganmu diwaktu istirahat...." Kembali menghadap ke depan.


"Ok..." Balasku, dengan wajah datar.


Semua siswa yang mulanya sedang asyik mengobrol di grupnya, kini kembali ke tempat duduknya masing - masing.


Aku menaruh lengan tanganku ke meja dan menaruh kepalaku di atas tanganku, sambil melihat ke arah luar jendela yang berada di sampingku.

__ADS_1


Pegunungan yang jaraknya lumayan jauh, aku bisa melihatnya dari sini dengan ditutupi oleh Bukit - bukit yang letaknya berada di pinggiran kota ini.


Burung - burung yang berterbangan menuju bukit untuk mencari makanan dan menuju tempat tinggalnya, Pemandangan indah itu membuatku melamun dan mengantuk. Sesekali aku berpikir kenapa pemandangan yang indah seperti ini, kenapa ada sesuatu yang kejam di baliknya.


Sebenarnya dunia ini tampak indah, tetapi yang membuatnya tampak buruk dimataku adalah tindakan dari manusianya.


Mereka membuat hal buruk, menindas yang lemah dan melakukan perbuatan keji demi mencapai keinginan dan nafsunya. Nafsu akan duniawi akan menjerumuskannya ke dalam sebuah kabut hitam yang dapat membuatnya jatuh kedalam kegelapan.


Yang miskin akan tetap miskin, dan yang kaya akan menjadi lebih kaya, begitu juga sebaliknya, yang lemah akan mudah tertindas oleh yang kuat, dan yang kuat akan berdiri di segalanya. Perbedaan pendapat akan menimbulkan rasa kebencian, kebencian itulah yang dapat membuat yang kuat melakukan perbuatan yang diluar batas demi menghilangkan rasa kebenciannya.


Huh, dunia yang damai.... Apakah aku bisa mewujudkannya?


Aku kembali menengok ke arah depanku, Guru sedang menjelaskan sesuatu, dia adalah Guru mata pelajaran olahraga di kelasku sebelumnya, namanya adalah Kazuki Sensei. Sekarang dia menjadi walikelasku di kelas ini.


Aku kembali memperhatikan ucapannya, dia sepertinya sedang menjelaskan sesuatu.


"Jadi... Kita akan mengadakan pemilihan ketua kelas dan wakil kelas."


Ketua kelas dan wakil kelas? Itulah yang kudengar dari ucapan yang baru saja dikatakannya.


Aku baru menyadarinya... Aku baru menyadari kalau ini adalah hari kedua setelah liburan musim semi.


"Siapa diantara kalian semua yang ada di kelas ini untuk mencalonkan diri untuk menjadi ketua dan wakil kelas?" Bu Guru bertanya.


Tidak ada jawaban.


Semua murid yang berada di kelas ini tidak ada yang berani mencalonkan dirinya untuk menjadi ketua dan wakil kelas di kelas ini.


Sudah wajar jika tidak ada yang ingin mencalonkan diri. Tugas dari ketua kelas memang berat karena harus mengatur para siswa yang ada di kelas ini agar tetap tenang dan rapi, tetapi kondisi di kelas ini tidak memungkinkan untuk melakukan hal yang berat itu.


Lihatlah... Aku menatap orang yang duduk di bangku paling depan di kelas ini. Si Rio ini, walaupun ada Guru yang sedang menjelaskan tetapi dia malah bermain kartu dengan gengnya itu, mengobrol dan tidak memperhatikan, sikapnya sangat tidak mencerminkan pelajar yang teladan.


Tetapi....... Tiba - tiba ada seseorang yang berdiri dari kursinya. Seluruh siswa menatap menuju orang itu.


"Kazuki - Sensei.... Aku menyarankan diriku untuk menjadi ketua kelas."


Seluruh kelas terdiam mendengar ucapan dari orang itu.


Kalau tidak salah dia adalah.... Hirotaka Takuma, sebut saja dengan Takuma.

__ADS_1


Dia mendorong kacamata yang dikenakannya setelah selesai berbicara.


"Itu bagus, jadi.... Apakah ada siswa atau siswi lainnya yang ingin mencalonkan dirinya untuk menjadi wakil kelas?"


Seluruh kelas menjadi diam... Tidak ada yang berani berbicara. Tetapi, Hirotaka kembali mengutarakan niatnya sambil mendorong kacamatanya.


"Untuk itu Kazuki Sensei.... Aku juga menyarankan Rinon sebagain wakil kelas." Menunjuk ke arah Rinon.


"Ehh.. Tidak... Aku... Aku tidak bisa melakukan hal yang seperti itu."


Dia.... Aku mengetahui kalau Takuma menjadi ketua OSIS di sekolah ini, tetapi memaksa seseorang untuk menjadi wakilnya, bukankah ini termasuk tindakan pemaksaan?


Dan juga, apa - apaan dengannya itu. Aku mengetahui kalau Takuma menyukai Rinon, tetapi melakukan yang sejauh itu... Bukankah itu akan mencerminkan sikap yang buruk kepada Rinon.


Tunggu, tidak. Apakah dia sengaja untuk menjadikan Rinon sebagai wakilnya untuk bisa selalu mendekatinya?


"Rinon, apakah kamu keberatan?" Guru mulai bertanya kepada Rinon.


"Itu....."


"Rinon-san, lebih baik kamu menerima tawaranku saja, kamu adalah salah satu siswi teladan di kelas ini, tugas penting seperti ini lebih cocok untukmu dibandingkan dengan siswa yang tidak bermoral yang bisanya hanya berlindung di balik wanita."


Hei, hei, hei? Apakah kamu menyindirku? Huh.. apa - apaan dengan ucapannya itu. Secara sengaja dia menunjukan sikap permusuhan kepadaku. Aku tidak ingat pernah menyinggungmu, tetapi kenapa kamu mulai menyinggungku?


"Tapi... Baiklah, aku akan menerimanya."


"Baiklah.. Untuk semuanya... Apakah tidak ada yang keberatan jika Takuma dan Rinon menjadi Ketua dan wakil kelas?"


Guru mulai kembali bertanya kepada murid - murid lainnya.


Sesisi kelas sekali lagi terdiam.


"ibu anggap kalian semua setuju, kalau begitu Takuma akan menjadi ketua dan Rinon akan menjadi wakilnya."


Seluruh kelas bersorak beramai ramai setuju dengan keputusan yang Sensei ucapkan.


Bel istirahat mulai berbunyi, kelas pertama telah selesai. Waktu menunjukan pukul 11:00 , hari sudah siang.


"Baiklah untuk kelas pertama telah selesai, Untuk saat ini ibu tidak bisa mengajar dulu karena akan mengadakan rapat dengan para Guru lainnya, Kegiatan belajar mengajar akan dimulai di hari berikutnya. Yang membawa bekal silahkan dimakan, yang ingin pergi ke kantin cepat sebelum bel masuk berbunyi, Ibu akan kembali ke kantor terlebih dahulu..."

__ADS_1


Bu guru meninggalkan kelas dan kelas pertama telah selesai.


__ADS_2