Lika Liku Kehidupan

Lika Liku Kehidupan
Bab 9 Chapter 2 - Bagian 1


__ADS_3

Waktu itu pukul 03:00 Pagi.


Saat ini aku masih tertidur di dalam kamarku.


Sebuah cahaya... Bukan, ini adalah mimpi.....


"Hei, Kazu-kun, apakah kamu ingin bermain denganku?"


Aku mendengar suara. Dari suara itu.... Seorang gadis, siapa gadis yang baru saja menyebut namaku?.


Membuka mata, pemandanganku saat ini telah berubah. Seperti yang kalian lihat, suasana asing yang aku berada saat ini.


"Ya..."


menoleh ke arah kiri dan kananku, ruangan yang aku berada saat ini sepertinya ruangan tempat untuk belajar.


Tunggu...! Tunggu....!


apakah ini ruang kelas....?


sebenarnya tempat apa ini? Dan kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah aku sedang tertidur di dalam kamarku? Kenapa keadaannya bisa berubah menjadi seperti ini?


Ini aneh, bagiku sebagai seorang Hikikomori yang jarang keluar rumah sekalipun, ruangan ini bukanlah tempat yang seharusnya dimiliki dalam rumahku. Apakah saat ini aku terkena ilusi?


Jika itu benar, saat ini aku hanya perlu mencari jalan keluar dari dunia ilusi ini atau aku akan keluar secara paksa dengan kekuatanku.


Menengok ke arah depanku, sekelompok anak- anak sedang bermain satu sama lain dan saat ini aku sedang melihatnya dari sudut kelas ini.


"Helloo... Apakah kalian bisa mendengarku?"


Eh, tidak ada respon dari mereka. Apakah benar dunia ini memang ilusi? Aku masih meragukan kalau dunia ini benar-benar kenyataan.


Atau Jangan-jangan saat ini aku masih di dalam mimpiku? Melihat mereka yang daritadi tidak menengok ke arahku, sepertinya aku masih meragukan kalau ini adalah ilusi.


Jelas-jelas aku sudah berbicara beberapa kali kepada mereka dan masih tetap tidak ada jawaban.


Apakah ini mimpi? ...Ya, mungkin saja benar ini adalah mimpi.


Jika ini adalah mimpi, bukankan ini terlalu realistis? Ini terlihat seperti kenyataan dibandingkan dengan mimpi.


Itu benar, mimpi bukanlah hal yang seperti ini. Lihat, aku memegang lengan kananku dan ini seperti kenyataan. Menyentuh dan aku bisa merasakannya, sudah jelas pasti ini bukanlah mimpi. Dan juga, aku merasa familiar dengan tempat ini.


Hmm....


Apakah ini semacam vivid dream? Ini begitu nyata, itulah yang terpikir saat ini olehku.


Aku mencoba melangkahkan kakiku menuju arah depan dan tidak sengaja kakiku terbentur oleh benda yang keras.


menengok ke arah benda itu, sebuah bangku baru saja menabraku. Tetapi walaupun begitu aku tidak merasakan sakit sedikitpun dari benturan itu.


Keadaanku saat ini adalah fenomena yang diluar akal sehat, bisa dibilang ini mimpi atau ilusi dan juga kenyataan, ketiga tiganya aku tidak bisa membedakannya.


Seseorang baru saja melewatiku, hembusan anginnya terasa dari sini, tetapi dia tidak bisa melihatku.


Melihat dari wajahnya, sepertinya orang yang baru saja melewatiku adalah anak-anak yang berumur sekitar 7 tahunan. Lihatlah wajahnya yang begitu muda, dia mirip sepertiku ketika aku waktu kecil.


"Eh, tunggu dulu...."

__ADS_1


"Mirip sepertiku?"


"Siapa dia...?"


Ini aneh, siapa anak lelaki itu? kenapa wajahnya bisa mirip sekali denganku? Siapa dia? Sepupuku? Bukan, aku sama sekali tidak ingat memiliki sepupu yang mirip denganku.


Apakah dia adalah kembaran ku yang selama ini aku tidak ketahui? Kurasa itu tidak mungkin, jika dia benar kembaran ku, seharusnya ayahku sudah membicarakan ini kepadaku, dan pastinya mustahil kalau dia adalah adikku. Bisa dibilang aku tidak mengingat kalau aku memiliki adik kandung atau seseorang yang berhubungan darah denganku, soalnya adikku cuman satu yaitu Kirino seorang.


Atau jangan jangan dia seorang doppelganger? Jika itu benar, anak itu adalah makhluk palsu yang sedang mencoba menjadi diriku. Saat ini aku tidak bisa menerimanya dan harus melenyapkan siapapun yang ingin mencoba mengganggu ketenanganku.


"Aku akan mencoba melihatnya dari dekat"


Karena terlihat penasaran, aku mencoba berjalan ke arah anak lelaki tersebut sambil memandanginya, tetapi mataku teralihkan ke arah gadis yang ada di sebelah anak lelaki tersebut.


Aku berhenti melangkahkan kakiku dan berfokus melihat ke arah anak perempuan itu.


"Wajah itu, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat...."


"Hmmm..... Tapi dimana yah...?"


Aku mencoba berpikir dengan keras melalui otakku, dan terus berfikir siapa kedua anak tersebut dan apa hubungan mereka denganku.


"Ahhh, Sial! Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya, siapa kedua anak tersebut dan apa hubungannya denganku? Menjadikanku semakin penasaran dan berfikir semakin keras membuat kepalaku sakit."


Aku kembali memandangi anak perempuan tersebut, sepertinya dia sedang berkumpul dengan teman-teman lainnya. Hmm... Sepertinya mereka sedang bermain petak umpet.


Kali ini giliran anak perempuan itu yang berjaga.


"Cepatlah, Kuhitung sampai sepuluh lalu aku akan menemukan kalian"


"...Dua...."


"...tiga..."


"Ayo cepat bersembunyi." Ucap anak lelaki itu.


Pandanganku kini teralihkan ke arah anak lelaki tersebut. Saat ini dia sedang kebingungan mencari tempat persembunyian, dan saat ini dia baru saja melewatiku.


Dari tadi dia sepertinya kebingungan dan menengok ke segala arah ruangan kelas ini hingga akhirnya dia mengetahui waktu terus berjalan.


"....Enam...."


Ah, sepertinya dia terus menatap loker yang tempatnya tidak jauh dari tempatku berada saat ini, lalu berlari menuju loker itu.


"Apakah disini kosong?"


"Cari tempat lain, disini punyaku!"


Sepertinya ada orang yang sudah mendahuluinya di dalam loker itu dan saat ini anak lelaki itu kebingungan mencari tempat persembunyian lainnya.


"....Tujuh...."


"Ah, sial!"


"....Aku harus mencari tempat persembunyian dimana?"


"....Delapan...."

__ADS_1


Hingga akhirnya dia melirik ke arah meja guru yang berada di depannya yang tepatnya tidak jauh dari anak perempuan itu yang sedang berjaga.


"Sepertinya di situ kosong."


"...Sembilan...."


Berlari ke arahnya dan mengumpat di kolong meja guru itu. Walaupun itu terlihat tertutup, tetapi bawahnya ada ruang kosong yang tidak tertutup, walaupun sedikit tetapi kakinya terlihat jelas dari tempatku berada saat ini.


".... Sepuluh, baiklah semuanya, aku segera datang...."


Aku sudah menduganya, kakinya yang bergerak-gerak dari tadi saat ini terlihat oleh anak perempuan itu, dan kini anak perempuan itu berjalan ke arah meja guru tersebut.


Karena terlihat penasaran dengan orang yang mengumpat di meja guru tersebut, anak perempuan itu berjalan dengan pelan dan berhati-hati.


Dilihat ada garis hijau di sepatu tersebut, sepertinya anak perempuan itu sudah mengetahui siapa orang yang mengumpat di balik meja guru itu.


Dan....


"Ahh, Kazu-kun, kamu ketahuan!"


Sudah kuduga, tidak mungkin tempat persembunyian yang masih ada ruang yang dapat udara masuk menjadikan tempat yang aman untuk bersembunyi.


"Tidak, masih belum... Aku akan sampai ke sana duluan" Ucap anak lelaki itu.


Sepertinya dia masih belum menyerah dan kini dia mulai berlari menuju benteng yang sedang kosong itu.


Dan tiba-tiba....


"Ah, tunggu!"


Dan seketika anak lelaki itu secara tidak sengaja mendorong Anak perempuan itu hingga jatuh.


Anak perempuan itu terjatuh dan lututnya mengenai meja yang berada di belakangnya. Akibatnya, lututnya mengalami memar di bagian atasnya.


Anak perempuan itu menangis dengan sekuat tenaganya, sedangkan anak lelaki itu meminta maaf kepada anak perempuan itu berulang kali.


"Maafkan aku, aku sama sekali tidak sengaja mendorongmu" "Tolong maafkan aku!" Dengan gelisah.


Anak- anak lainnya yang mendengar tangisan yang cukup keras itu kini keluar dari tempat persembunyiannya dan berfokus melihat ke arah gadis yang sedang menangis itu.


"Dia baru saja mendorong Reika-Chan hingga terjatuh!"


"Aku tahu pasti dia melakukan itu secara sengaja!"


Ehhh... Nama gadis itu ternyata Reika- Chan. Sepertinya aku pernah mendengar namanya di suatu tempat.


"Tidak, aku... Aku tidak melakukan itu secara sengaja..."


Kini anak lelaki itu terpojok dari kemarahan teman lainnya yang terus membela anak perempuan itu. Hingga akhirnya dia pergi meninggalkan ruang kelas.


"Hei, mau kemana kau? Jangan lari!"


"... Bertanggung jawablah!"


"Dasar kau pengecut!"


Akibat dari salah satu kejadian itu, membuat kepalaku merasakan fluktasi aliran kejut seperti sengatan listrik yang baru saja dirasakan di dalam kepalaku. Akibatnya, ingatan yang sudah lama aku tidak ingin mengingatnya kembali masuk ke dalam kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2