![Limemine [AnimeXReader]](https://asset.asean.biz.id/limemine--animexreader-.webp)
OOC kayaknya ... Dah lah.
I hope you like and enjoy đâ¨
****
Sekarang, Y/n tengah duduk di ayunan taman dekat dengan apartemennya. Ia mendongak membiarkan tetesan air yang jatuh membasahi wajah dan pakaiannya. Ia tidak peduli.
Apa menurut kalian Vampir itu ada? Apakah benar wajah para Vampir itu tampan dan memiliki kekuatan yang melebihi manusia pada umumnya?
Y/n selalu penasaran dengan makhluk mitologi itu.
Ah, tapi ia teringat dengan kakak beradik yang berada di sebelah apartemennya. Y/n cukup akrab dengan mereka, Yuichirou memiliki wajah tampan dengan kulit yang agak gelap seperti para pria pada umumnya, sifatnya juga yang jahil, lucu dan ceroboh selalu bisa menjadi bahan ejekan.
Berbeda dengan sang adik, Mikaela Hyakuya yang memiliki kulit begitu pucat, tenang, juga berpikir rasional. Wajahnya juga begitu tampan, jauh berbeda dari laki-laki yang pernah ia lihat di manapun, juga ada beberapa hal yang menurutnya aneh.
"Sedang apa kau, Y/n?"
Y/n tersentak kaget ketika mendengar suara itu, lalu ia tidak merasakan tetesan hujan lagi.
"Mi-kun?"
Lihat, pria yang baru saja Y/n pikirkan muncul dengan payung di tangannya.
"Sudah malam,dan kau di taman dalam keadaan hujan lebat seperti ini. Nanti kau demam, Y/n!" seru Mikaela dengan alisnya yang bertaut kesal.
"Sejak kapan kau datang?!" tanya Y/n bingung.
"Tidak penting, Ayo pulang! Atau kau akan sakit! Itu merepotkan!" Mikaela menarik tangan Y/n membuat gadis itu terdiam sejenak, lalu membawanya berjalan meninggalkan taman.
"Mi-kun!!"
"Berhenti memanggilku seperti itu!"
****
Mikaela Hyakuya, pria berambut pirang itu menghela napas. Ia dengan telaten mengganti handuk kompres yang berada di dahi seorang gadis.
Y/n namanya, gadis yang menurutnya keras kepala ketika diberitahu untuk tidak diam di bawah hujan. Sebenarnya yang mengurusi Y/n demam biasanya adalah kakaknya Yuichirou, karena gadis itu tinggal sendiri, tapi kakaknya itu tengah menginap di rumah temannya.
Y/n demam, walaupun cepat sembuh hanya dalam sehari dua hari, tapi bisa terbilang cukup sering.
Ya, ini bukan pertama kalinya, sering ia mendapati Y/n tengah berdiri, berjalan dengan santai di bawah hujan. Tidak seperti orang lain yang akan berlari ketika hujan mulai turun dan melindungi pakaiannya agar tidak basah.
"Mi-kun, maafkan aku sudah merepotkan mu ..." ujar Y/n dengan nada yang sedikit lemah, wajahnya juga sedikit pucat.
"Sudah berapa kali kubilang untuk berlindung dari hujan, bukan berdiam diri! Sudah tahu kau itu selalu demam ketika terkena hujan, apalagi saat malam!"
Mikaela meremas handuk dan kembali menyimpannya di dahi Y/n. Ia melihat gadis itu yang sedikit menggembungkan pipinya. Y/n terlihat menggemaskan, Eh! Lupakan pemikiran tadi!
"Ya, maaf! Aku hanya menikmati air mata langit yang tengah jatuh ke bumi!" gerutu Y/n.
"Apanya yang air mata langit!" seru Mikaela dengan kesal. "Sudahlah, cepat minum obatmu!"
Mikaela memberikan beberapa pil obat, lalu Y/n duduk di samping ranjang dengan Mikaela yang duduk di kursi. Dengan segera Y/n meminum obat itu dan kembali berbaring.
"Beristirahatlah ..." Mikaela menyelimuti Y/n hingga ke bawah dagunya lalu kembali duduk di kursi. Gadis itu berbalik memunggunginya menghadap tembok dengan posisi sedikit meringkuk.
__ADS_1
Tak lama, Mikaela bisa mendengar suara dengkuran halus dari gadis itu, membuat ia tersenyum.
Sifat keras kepala Y/n dan yang selalu mengejek kakaknya juga berdebat dengannya itu menyebalkan, tapi ia juga menyukainya. Ya, Mikaela menyukai Y/n.
Sebenarnya, berapa seringnya Y/n terkena demam, ia dan kakaknya tidak pernah merasa terbebani oleh gadis itu. Tapi, ada hal yang tidak di ketahui gadis itu.
Mata Mikaela membulat, tiba-tiba ia merasakan tenggorokannya terasa begitu haus hingga membuat kepalanya pening dan terjatuh dari kursi. Gigi taringnya mencuat, iris matanya memerah, dan tubuhnya terasa panas.
Sial! Kenapa harus sekarang, sedangkan kakaknya tidak akan pulang malam ini.
Mikaela bangkit dan berdiri di sisi ranjang, ia bisa melihat leher mulus Y/n yang tertidur memunggunginya. Tenggorokannya semakin kering, ia meneguk ludah hingga membuat jakunnya bergerak naik turun.
Mikaela menggigit bibir bawahnya dengan taring hingga darah mengalir dari sana. Hasratnya menginginkan untuk menghisap gadis di hadapannya, tapi pikirannya menolak. Karena di taringnya terdapat racun yang akan melemahkan korbannya hingga lemas dan tak bisa melawan.
Mikaela tidak bisa keluar dari apartemen Y/n untuk mencari kakaknya, karena ketika ia merasa haus, kekuatannya akan melemah, juga masih sore hari hingga khawatir akan ada yang melihatnya apabila ia keluar.
Setidaknya ia harus keluar dari kamar Y/n dan bersembunyi, karena ia akan membahayakan gadis itu jika tetap di sana.
Dengan cepat Mikaela meninggalkan ruangan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun yang akan membangunkan Y/n dari tidur lelapnya.
****
Y/n terbangun, ia membuka ponselnya dan menunjukkan pukul 10.15 PM. Ia bangkit terduduk di samping ranjang sambil memegang kepalanya yang sedikit pening.
Y/n mengernyitkan dahinya, tidak ada Mikaela di sana. Kemana pria itu? Apa dia sudah kembali ke apartemennya? Ya, mungkin saja, karena hari sudah malam.
Y/n bangkit, ia akan ke dapur, perutnya terasa lapar. Ia berharap semoga saja Mikaela menyiapkan makanan untuknya.
Brak!! Prang!!
Y/n terdiam sesaat ia akan membuka kenop pintu kamar. Suara benda terjatuh itu berasal dari dapur. Jantungnya berdetak kencang, apa itu seorang maling? Apa Mikaela saat pulang tidak mengunci pintunya?
Tapi di ujung dapur, terdapat gerakan yang aneh. Di sana ada seseorang yang tengah duduk meringkuk sambil meremas rambutnya dengan kuat.
"Y/n jangan mendekat!"
Mata Y/n membulat mendengar suara itu, suara Mikaela tapi terdengar begitu kesakitan.
"Mi-kun, kau tidak apa-apa?" Y/n semakin mendekati Mikaela dan ia bisa melihat bahu pria itu yang sedikit bergetar.
"Menjauh lah, jangan mendekat!"
Seolah tidak mendengar, Y/n terus mendekati pria itu dan memegang bahunya.
"Mi-kun, kau sa-"
Brakk!
Mata Y/n membulat ketika dengan cepat Mikaela berdiri dan mendorongnya ke meja dapur dengan kuat, lalu piyama bagian bahunya dirobek hingga terdengar kancing yang jatuh. Y/n bisa merasakan hembusan napas Mikaela di lehernya, membuat ia secara refleks memejamkan mata.
Setelah menunggu beberapa saat, Y/n tidak merasakan apapun. Ia membuka matanya, dan di hadapannya ia bisa melihat iris mata merah menyala yang menatap dirinya dengan rasa bersalah dan kesakitan secara bersamaan, juga gigi taring yang mencuat.
"Ma-maafkan aku, Y/n!"
Jantung Y/n berdegup kencang, melihat kristal bening ia menumpuk di mata pria itu. Tangannya terulur menyentuh pipi pria itu dan ibu jarinya mengusap lembut.
"Kau seorang vampir, Mi-kun?" tanya Y/n pelan.
__ADS_1
"Ma-maaf ..."
Kristal bening itu jatuh, dan Y/n mengusapnya.
"Apa itu sakit, Mi-kun?"
Y/n menatap khawatir Mikaela, lalu ia membenarkan piyamanya, dan memamerkan tulang selangka juga bahu kanannya, membuat pria itu menatapnya tidak percaya.
"Minumlah darahku, Mi-kun. Itu pasti sakit, aku tidak keberatan."
Tangan kiri Y/n dengan lembut mengusap rambut pirang itu dan membuatnya mendekat.
"Be-benarkah?"
Balasan anggukan dari pertanyaan membuat mata Mikaela kembali berkilat oleh hasrat hausnya.
"Jangan menyesal, Y/n!"
"Aghh!"
Y/n memejamkan mata merasakan sakit ketika lehernya tertancap taring Mikaela. Ia meremas rambut pria itu kuat, dan tangan kanannya menutupi mulutnya agar suara aneh tidak keluar.
"Ja-jadi itu ya, aku sering mendengar suara aneh dari kamar kal-Rngh!"
Sungguh itu terasa sakit ketika Mikaela mulai menghisap darahnya dan tubuhnya tiba-tiba terasa begitu sangat lemas hingga tangan yang menutup mulutnya terasa berat dan berpindah meremas ujung meja. Kakinya seperti jelly, tapi pria itu menahan pinggangnya dan tengkuknya dengan kuat. Walau begitu, entah kenapa ia merasa nyaman.
Mikaela melepaskan gigitannya, melihat darah yang mengalir dari bekas gigitannya, lalu ia menjilat leher Y/n, membuat gadis itu mengeluarkan suara lenguhan.
"Manis!"
Mikaela menatap kagum ke arah leher Y/n, rasa yang tidak pernah ia rasakan, bahkan dari kakaknya.
"Manis?"
Pertanyaan itu membuat Mikaela tersadar, dan matanya membulat ketika Y/n mendorong tengkuknya membuat bibir mereka bersatu. Ia masih terdiam, saat gadis itu menelesupkan lidahnya ke sela bibirnya, lalu bermain di sana membuat lidah mereka saling bertaut sehingga ia merasa sekujur tubuhnya seperti tersengat listrik.
Gadis itu melepaskan tautannya dan mengakhirinya dengan menjilat sisa saliva juga darah di sudut bibir Mikaela.
Mata mereka saling bersibobrok, dengan merasakan napas panas terengah-engah yang saling bersahutan, Y/n berucap sambil terkekeh, "Aku selalu penasaran dengan rasa manis dari darah yang di rasakan vampir seperti di dalam novel. Tapi, yang aku rasakan hanya bau darah dan rasa yang buat aku sedikit mual!"
"Y/n, kau gila!" bisik Mikaela tepat di bibir Y/n.
Mikaela membuat Y/n terduduk di meja dapur, dan ia semakin mengeratkan pelukan di pinggang gadis itu hingga membuat tubuh mereka semakin merapat.
"Y/n, kau akan menyesal semakin membangkitkan hasrat vampir yang tengah kehausan!"
Mikaela berucap dengan nada sensual sambil menarik piyama Y/n dengan sedikit kuat hingga kancingnya terlepas semua. Lalu, ia kembali menancapkan taringnya di bagian tulang selangka, membuat gadis itu mengerang.
"Engh!!"
Mikaela menyeringai. "Lihat, darahmu terasa panas, Y/n!"
Ucapan Mikaela membuat wajah Y/n memanas dan jantungnya berdegup sangat kencang.
Y/n memejamkan mata, dan menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya terasa begitu lebih lemas dan ia hanya bisa pasrah kepada pria vampir di hadapannya.
****
__ADS_1
Jangan lupa Vomment, like dan masukin fav ya:'