![Limemine [AnimeXReader]](https://asset.asean.biz.id/limemine--animexreader-.webp)
Akhem ... Warning! Cerita ini mengandung unsur depressed, di mohon untuk tidak meniru adegannya di dunia nyata:)
I hope you like and enjoy 🍀✨
*****
Brakk!!
Suara pintu yang di tutup secara kasar hingga terdengar begitu memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Y/n, gadis itu pelakunya, ia menutup pintu kamarnya keras dengan rambut yang berantakan.
Tangannya mengepal kuat, matanya menatap cermin dengan tajam melihat dirinya sendiri yang berantakan. Perkataan orang tuanya yang terngiang-ngiang di benaknya bagaikan film yang terus menerus di putar.
"Kau perempuan! Bagaimana bisa kau membuat orang lain hingga terluka parah! Sialan!" Ibunya yang berkata dengan amarah dan menjambak rambutnya kuat.
Ia kembali merasakan rasa sakit yang di kepalanya membuat amarah di hatinya semakin memuncak.
Plak!
"Kau membuat kami harus mengganti rugi untuk biaya rumah sakit! Kau hanya beban di sini! Kau tidak mencontoh Myuki yang tidak pernah mengecewakan kami!"
Pandangan Y/n memburam merasakan panas yang menjalar akibat tamparan ayahnya di pipi hingga terasa berdenyut.
"Hentikan, Okaa-san, Otou-san ... Jangan terus menyik-"
Prangg!!
Suara pecahan kaca yang jatuh ke lantai, pantulan Y/n di cermin yang menjadi tidak beraturan akibat pukulan gadis itu hingga tangannya yang berdarah.
Sial! Air mata Y/n jatuh, ia tidak bisa menahan emosinya lagi. Orang tuanya bahkan tidak memberi ia kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ia benci itu, ia benci kepada keluarganya. Kakaknya yang munafik ingin terlihat baik di mata semua orang.
Bahu Y/n bergetar, dan tubuhnya merosot bersandar kepada ranjangnya. Ia tidak peduli dengan pecahan beling yang akan melukainya ketika ia duduk di lantai. Perasaannya sudah begitu kacau, keluarganya yang tidak mempercayainya, kakaknya yang munafik hingga orang yang berjanji kepadanya meninggalkannya.
Dengan air mata yang tidak berhenti, pandangannya tertuju pada pecahan beling di dekatnya, tangannya meraih pecahan itu dan menggenggamnya erat, telapak tangannya mengeluarkan darah hingga menetes ke lantai.
Y/n kembali melihat pantulan dirinya, dan seketika itu juga amarahnya kembali bergejolak, juga perkataan buruk yang kembali berputar di pikirannya.
"Aku menyesal telah melahirkanmu!"
Tubuhnya bergetar, ia mengarahkan pecahan kaca itu ke arah tangan kirinya dan membuat garis tipis melintang secara vertikal.
"Ini untuk Okaa-san!"
"Dasar anak tidak berguna!"
Y/n menahan napasnya, tangannya bergetar, kristal bening kembali memenuhi pelupuk matanya. Ia kembali membuat garis tipis secara horizontal di tangannya.
"Ini untuk Otou-san!"
"Hahh! Aku sudah muak dengan sikap Y/n! Kenapa harus aku yang mengawasinya!"
Y/n menggigit bibirnya kuat, ketika mengingat ucapan Myuki, ketika tanpa sengaja dia berbicara sendiri di kamarnya. Kakak kembarnya yang munafik. Ia kembali membuat garis berbentuk '/' dengan sedikit dalam, hingga terlihat sedikit kulitnya yang menggantung di akhir sayatannya.
"Ini untuk Myuki!"
"Dia kasar, aku kasihan pada Myuki punya adik seperti itu!"
Y/n memejamkan matanya, perkataan dari orang yang membela Myuki tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya dan apa yang ia rasakan. Isakan kecil lolos dari bibirnya, ia kembali melihat tangan kirinya yang sudah dilukiskan beberapa sayatan. Y/n kembali membuat garis berbentuk '' dengan titik tengah yang menjadi penghubung garis-garis itu.
"Ini untuk orang-orang dengan mulut menjijikkan!"
Luka-luka itu ia harap bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya meskipun sementara. Namun, ingatan yang paling ia benci kembali muncul, ingatan yang membuat dadanya terasa sesak dan kepalanya pening.
"Kou-kun, kau tidak akan meninggalkanku, 'kan? Kau tidak akan melupakanku, 'kan?"
"Y/n-chan, aku akan kembali, aku tidak akan melupakanmu. Aku janji!"
Y/n mengepalkan tangannya, dan ia menyayat pahanya dengan cepat, Y/n tidak peduli dengan darahnya yang menetes ke lantai menyatu dengan pecahan-pecahan kaca itu.
"Pembohong!"
"Kou-kun!" Y/n yang mencoba menyapa Sugawara senang ketika ia mengetahui bahwa pria itu satu sekolah dengannya setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kau mengenalnya, Sugawara?"
"Haha ... Aku tidak mengenalnya, Sawamura!"
"Sial!!"
Y/n kembali menyayat pahanya dengan sedikit lebih dalam. Mulutnya terbuka, dirinya sangat ingin berteriak, tapi tertahan di tenggorokannya, hanya berakhir dengan suara erangan yang lolos.
Trak!
Y/n melempar pecahan kaca berlumuran darah di tangannya dengan kuat hingga terbentur dinding. Tangannya memukul dadanya, mencoba ia bisa menghilangkan rasa sesak di sana.
Sungguh miris, bahkan orang ia harapkan pun melupakannya!
****
Sugawara tengah berjalan di lorong sekolah menuju kantin, ketika ia berpapasan dengan seorang guru yang menyuruhnya untuk memanggil ketua kelas 1-4, adik kelasnya dan itulah kenapa akhirnya ia mengurungkan niat lalu berjalan cepat menuju kelas yang di tuju.
__ADS_1
Hingga ia akan berbelok menuju lorong kelas satu, Sugawara merasakan dadanya di hantam oleh seseorang, membuat ia mundur beberapa langkah dan orang yang menabraknya itu terjatuh.
Sugawara segera menghampirinya dan mengulurkan tangan. Gadis yang menabrak dirinya mendongak, membuat Sugawara tercenung ketika tatapan mereka bersibobrok.
Gadis itu segera bangkit dan kembali menggunakan tudung jaketnya yang kebesaran, sehingga menutupi setengah wajahnya.
"Maaf."
Kata itu menyadarkan Sugawara, tapi saat ia berbalik, ia hanya bisa melihat punggung gadis itu yang menjauh dengan cepat.
"Bukankah itu Y/n? Dia yang membuat Seira dari kelas 1-3 masuk ke rumah sakit, 'kan?"
"Itu Y/n! Kenapa dia masih masuk sekolah? Kalau aku menjadi dia, mungkin aku tidak tidak akan kembali sekolah karena malu!"
"Mungkin dia tidak punya malu!"
Sugawara memejamkan matanya, dan menghela napasnya. Lalu, ia kembali berjalan untuk ke tujuannya.
****
Sudah tiga puluh menit semenjak bel pulang sekolah berbunyi, pandangan seorang pria yang memperhatikan setiap siswa yang melewatinya.
Sugawara terdiam di gerbang sekolahnya, ia menunggu seseorang. Latihan tim volinya tengah libur, dan ia menolak ketika teman-temannya mengajak pulang bersama.
Pikirannya terus tertuju kepada gadis yang menabraknya tadi, gadis yang ia rindukan, juga gadis yang sudah ia sakiti.
Y/n, gadis yang menyapanya dengan ceria, tapi ia berpura-pura melupakannya. Itu bukan tanpa alasan, ia ingin gadis itu untuk tidak terus menunggunya dan mencari pria lain agar bahagia.
Hatinya teriris ketika melihat keadaan Y/n saat mata mereka bersibobrok, Mata yang sembab dan hidung yang memerah, juga plester kompres yang menempel di pipinya. Yang ia ingat dulu, mata yang selalu berbinar-binar ketika melihat sesuatu, sekarang hanya terlihat tatapan yang kosong dengan tersirat kesedihan yang dalam.
Apa ini salahnya? Apa yang buat Y/n menjadi sekacau itu? Di dalam ingatannya, Y/n adalah gadis yang ceria dan selalu tersenyum manis. Senyuman yang membuat hatinya hangat dan yang ia suka.
Sugawara teringat percakapan dua orang siswi di lorong tadi, tentang Y/n yang melukai seseorang hingga masuk ke rumah sakit. Apa yang telah di alami Y/n?
Tatapan Sugawara mendongak, ia merasakan angin musim gugur yang menerpa wajahnya dan dedaunan yang mulai berjatuhan. Hingga pandangannya tertuju ke arah atap sekolah, ia menyipitkan matanya ketika melihat seseorang di sana, dan sesaat kemudian matanya membulat.
Gadis yang tengah ia cari-cari berada di sana, dengan cepat Sugawara kembali memasuki sekolah dan berlari sekuat tenaga menuju atap.
'Aku harap kau tidak berpikir untuk melakukannya, Y/n-chan,' harap Sugawara dalam hati.
****
Y/n membuka tudung jaketnya, tasnya sengaja ia tinggalkan di dalam kelas. Ia berdiri dan menggenggam pagar pembatas di atap sekolah.
Pandangannya hanya melihat segelintir siswa-siswi yang pergi, sekolah sudah dalam keadaan sepi. Y/n menatap ke bawah, tidak ada apapun di sana, tapi ia merasakan bahwa tanah yang ia lihat seolah tengah melambai ke arahnya untuk melompat menghampirinya.
Kaki Y/n melewati pagar pembatas itu dan berdiri di tepian, tapi dengan tangannya yang berpegangan ke pagar. Matanya melihat langit cerah dengan semburat jingga kemerahan yang indah, angin musim gugur yang menerpa wajahnya membuat ia memejamkan mata.
Dirinya juga tidak mempunyai teman yang akan mengkhawatirkannya. Bahkan orang yang selalu ia tunggu, dan orang yang selalu menjadi harapannya sudah melupakannya. Dirinya akan menghilang tanpa ada orang yang mengingatnya.
Tanpa sadar kristal bening di matanya jatuh, menyusuri pipinya. Y/n menahan napas, ia mencoba untuk tersenyum untuk terakhir kalinya kepada dirinya sendiri.
Lalu secara perlahan pegangan tangannya di pagar mulai mengendur, Y/n menarik napas, ia berharap agar ini terjadi dengan cepat.
Hingga sesaat pegangannya lepas sepenuhnya, ia merasakan lengan kuat yang melingkari perutnya dan menariknya ke belakang, membuat mereka terjatuh dan duduk di lantai atap sekolah.
Y/n memejamkan mata ketika ia merasakan pelukan hangat yang begitu erat, pelukan yang ia rasakan setelah sekian lama.
"Kumohon ... Jangan melakukannya, Y/n! Jangan pernah!"
Mata Y/n membulat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Ia mencoba mendorong pria itu agar pelukannya terlepas, tetapi pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Kumohon, Y/n!"
"Le-lepas, sialan!" Y/n memukul-mukul dada pria itu memberontak.
Sugawara tidak memperdulikan pukulan di dadanya, ia memeluk Y/n dengan erat. Jantungnya terasa berhenti sesaat ketika ia melihat gadis itu tepat di tepian atap siap melompat.
"Lepas, Brengsek! Sialan! Bodoh!"
"Kumohon jangan lakukan itu!"
Sugawara semakin mengeratkan pelukannya, ia tidak ingin kehilangan Y/n. Apa yang telah dialami Y/n hingga dia ingin bunuh diri? Apa yang terjadi padanya selama ia tidak ada?
"Le-pas!!" Y/n berontak sekuat tenaga hingga akhirnya pelukan itu terlepas.
Y/n menatap Sugawara nanar, kenapa pria itu berada di sini? Apa pria itu datang menghentikannya hanya untuk kembali melukainya di kemudian hari?
"Maafkan aku, Y/n!"
Sugawara menarik tangan Rin untuk kembali meraihnya, tapi tatapannya tertuju pada jaket di telapak tangan kanan gadis itu dan lengan kirinya yang terdapat bercak darah.
"Lepas! Jangan sentuh aku!"
Y/n menepis tangan Sugawara, tapi tangan kirinya di raih dan genggam kuat hingga ia merasakan sakit.
"Sial! Sakit bodoh!"
Sugawara seolah tidak mendengar Y/n, ia menyingkap lengan jaket gadis itu hingga ke sikutnya. Hatinya terasa ditusuk ribuan jarum, di sana terlihat luka yang bahkan tidak diperban dan di obati.
__ADS_1
Sugawara meraih tasnya dan mengambil obat merah juga kain kasa di dalamnya, persiapan untuk dirinya terluka saat latihan. Ia tidak merasakan pemberontakan Y/n lagi, gadis itu hanya diam memperhatikan kegiatannya yang mengobati luka dengan telaten.
"Kenapa sekarang kau peduli padaku? Bukankah kau sudah melupakanku?"
Pertanyaan itu membuat hatinya kembali tertusuk, Sugawara sungguh menyesal berpura-pura melupakan Y/n.
Ia meraih tangan kanan Y/n dengan buku-buku jarinya yang terluka dan telapak tangannya terdapat sayatan yang menganga di sana.
"Apa kau mencegahku saat ini hanya untuk melukaiku lagi nanti?"
"Maaf ..." Hanya perkataan itu yang lolos dari bibirnya. Sungguh, seandainya ia tetap bersama Y/n, mungkin gadis itu tidak akan berbuat nekat.
Pandangan Sugawara menyusuri tubuh Y/n apabila ada luka yang lain setelah ia membalut lengannya. Dan pandangan Sugawara tertuju pada paha gadis itu yang tertutupi kaos kaki dengan sedikit bercak darah.
Tanpa izin lebih dahulu, Sugawara meraih paha Y/n dan menyimpan di pangkuannya membuat tubuh mereka semakin dekat.
"Jangan menyentuhnya!"
Y/n mencoba mundur, tapi Sugawara menahannya dengan kuat. Pria itu menurunkan kaos kaki Y/n hingga ke lututnya dan terlihat perban yang terpasang secara asal-asalan.
Sugawara membukanya perlahan, dan matanya memanas ketika melihat luka gadis itu di pahanya. Luka dengan tulisan 'KOU' terlihat di sana, luka dengan namanya.
"Maafkan aku, Y/n ..." Air matanya tidak bisa ia tahan lagi, air mata Sugawara menetes ke paha Y/n di antara luka itu.
Sugawara kembali mengobati luka itu. Dirinya sungguh menyesal membuat Y/n menunggu. Andaikan ia sejak awal tidak menolak Y/n. Andaikan ia tidak terus bersama gadis itu. Andaikan ia ada saat Y/n membutuhkannya, mungkin Y/n tidak akan berbuat sejauh ini melukai dirinya! Mungkin Y/n tidak akan senekat itu hingga mencoba bunuh diri.
Sugawara menarik pinggang Y/n dan memeluknya erat setelah ia selesai membalut luka itu. Memindahkan Y/n ke pangkuannya dan menenggelamkan wajahnya di rambut gadis itu.
"Maafkan aku, Y/n .... Aku sungguh menyesal!"
Kali ini bukan pemberontakan, ia bisa merasakan jaketnya yang di remas.
"Maafkan aku! Lampiaskan emosimu padaku, jangan lukai dirimu lagi, Y/n!"
Sugawara menghirup wangi rambut Y/n yang tidak berubah, wangi cokelat.
"Kumohon ...."
Sugawara merasakan bahu di dekapannya itu bergetar, dan ia bisa merasakan jaket bagian dadanya basah.
"Tidak ada yang mempercayaiku, Kou-kun!"
"Aku hanya membela diri!"
Sugawara memeluk Y/n semakin erat, hatinya teriris mendengar isakan gadis itu.
"Tidak ada yang mau mendengarkanku!"
Sugawara mengusap lembut punggung Y/n mencoba untuk menenangkannya.
"Aku mempercayaimu!"
"Mereka juga tidak menginginkanku!"
"Aku menginginkanmu! Selalu!" Sugawara memejamkan matanya, apa Y/n merasa ia tidak diinginkan?
"Bohong! Kau bahkan meninggalkanku, Kou-kun!"
Sugawara bisa merasakan remasan di bajunya semakin erat dan suara parau Y/n. "Maafkan aku ..."
Ia benar-benar menyesal, ia sudah membuat Y/n merasakan trauma di tinggalkan seseorang.
"Mereka tidak membutuhkanku!"
"Aku akan selalu membutuhkanmu."
Sugawara tidak bisa menahan diri untuk tidak menitikkan air matanya. Gadisnya terlihat kuat di luar, tapi begitu rapuh di dalam.
"Luapkan semuanya, Y/n. Menangis lah, berteriak lah kalau kau ingin .... Jangan pernah lukai dirimu sendiri!"
Mendengar ucapan itu, Y/n tidak menahan dirinya lagi. Ia meluapkan segala ia pendam, kesedihannya dan rasa frustasinya tanpa ia tahan di dekapan Sugawara Koushi. Dengan langit kemerahan menjelang malam, yang menjadi saksi bisu luapan kesedihan Y/n saat itu.
***
Hari sudah malam dan mereka masih berada di atap sekolah. Sugawara membelai lembut rambut Y/n yang tengah tertidur di pahanya yang menjadi bantalan. Gadis itu terlelap karena lelah menangis.
Wajah Y/n yang terpantul cahaya bulan, membuat wajah gadis itu semakin cantik dan membuatnya takjub. Sugawara menatap sendu wajah Y/n, hidungnya yang memerah membuat ia ingin mengecupnya, dan tangannya membelai lembut pipi gadisnya yang terdapat plester kompres, membuat gadis itu mengerang kecil.
Sugawara membuka jaketnya dan menyampirkannya di depan tubuh gadis itu. Dengan perlahan ia bangkit, lalu menggendong Y/n ala bridal style tanpa membangunkan gadisnya, mereka harus segera pulang karena sudah larut malam, dan taksi pesanannya sudah sampai.
Dengan hati-hati, Sugawara menuruni tangga atap sekolah.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terakhir kalinya ia melihat Y/n dalam keadaan terpuruk seorang diri. Ia akan membuat senyuman gadis itu kembali, dan ia pasti akan terus melindungi Y/n tanpa meninggalkannya!
Pasti!
****
Ngena gak sih? Author nyesek sendiri waktu nulis:) Ini juga request-an, tapi gak tau akunnya:'
__ADS_1
Selamat hari raya idul adha🍀✨ Maaf kalau author punya salah(╥﹏╥)
Jangan lupa Vomment ya + Jadikan favorit:)