![Limemine [AnimeXReader]](https://asset.asean.biz.id/limemine--animexreader-.webp)
Akhem ... Oke, ini kayaknya gak bakal sesuai ekpetasi. (R/nb) \= Random name boy:)
I hope you like and enjoy 🍀✨
****
"Onii-sama!"
Jyuto Iruma menghela napas ketika seorang gadis turun dari tangga memakai baju piyama dengan cepat, dan menggandeng tangannya erat sesaat baru saja ia duduk di sofa.
"Y/n! Sudah kubilang untuk tidak selalu seperti ini!"
Y/n, gadis angkatnya tanpa hubungan darah. Orang tua mereka yang menikah, membuat Iruma dan Y/n menjadi saudara. Itu sebelum Iruma menjadi anggota kepolisian. Umur mereka terpaut tiga tahun dengan umur Y/n yang lebih muda darinya.
Iruma melepaskan gandengan di tangannya, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, lalu bersandar ke sofa dan mendongak memejamkan mata mengistirahatkan rasa letihnya sebentar sebelum ia ke kamarnya.
Ya, dirinya baru saja pulang dari pekerjaannya sebagai petugas kepolisian dan juga anggota yang cukup terkenal, yaitu Mad Trigger Crew. Hari ini dirinya mendapatkan beberapa kasus, dan kasus terakhir adalah kasus pencurian yang belum diketahui siapa pelakunya. Besok pagi, dia akan melanjutkan penyelidikannya, tentu saja dengan anggota MTC yang membantu.
"Nii-sama!"
Bisikan dan napas yang menerpa wajahnya lembut membuat ia membuka matanya. Iruma membuka matanya perlahan, dan ia membulatkan matanya terkejut ketika wajah gadis itu tepat di hadapan wajahnya, hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Iruma mendorong bahu Y/n agar menjaga jarak, dan dengan tenang ia menegakkan duduknya, meskipun jantungnya berdetak dengan lebih kencang.
"Y/n, sudah kubilang jangan seperti itu!"
Iruma memalingkan wajahnya dan membenarkan kacamatanya. Bukannya merasakan Y/n menjauh, tapi ia bisa merasakan Y/n naik ke pangkuannya.
"Y/n!"
Iruma mencoba untuk mendorong pinggang Y/n agar menjauh, tapi gadis itu melingkarkan tangannya di leher Iruma dan menyandarkan kepalanya di dada, membuat ia menahan napas, berharap agar Rin tidak mengetahui detak jantungnya yang menggebu.
"Kenapa? Nii-sama tetap Nii-sama, kan?"
Gadis itu merenggut, lalu lingkaran di leher Iruma melonggar. Tangan Y/n turun meraih tangan kiri Iruma yang masih tertutupi sarung tangan.
"Ne, Nii-sama ..." Panggilan dari Y/n hanya dibalas oleh deheman.
"Y/n heran, bagaimana bisa hanya dengan rapp bisa menangkap penjahat. Itu tidak masuk akal!"
Iruma melirik Y/n yang menarik sarung yang membungkus jari-jari lentiknya dengan pelan.
"Dan bagaimana bisa mic aneh yang berubah dan mengeluarkan speaker-speaker besar yang entah muncul darimana bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Apa itu sihir?" Y/n menarik sarung tangan, hingga terlepas dari tangan kiri pria itu.
"Itu lebih baik daripada menggunakan senjata pistol yang bisa membahayakan nyawa!" jelas Iruma.
Y/n menarik kembali tangan kanan Iruma, dan kembali melakukan aksinya tadi.
"Bukankah itu tidak adil! Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa Rapp. Apa itu berarti buat yang tidak menyukai Rapp dan tidak bisa Rapp bahkan benci Rapp seperti aku, harus dipaksa bisa?"
Y/n tersentak ketika tubuhnya di dorong sedikit kuat hingga terlentang di sofa, dengan Iruma yang melingkupinya. Pria itu tersenyum miring dan tatapan Iruma yang mengunci.
"Itulah tugasku, Y/n ... Untuk selalu melindungi kamu dan menghukum mu saat bersalah!" bisik Iruma.
"Nii-sama?"
Iruma bangkit, membenarkan kacamatanya dan mengambil sarung tangannya memasukkan ke dalam saku.
"Gerah! Aku ke kamarku dulu, oyasumi."
Iruma bangkit dan meninggalkan Y/n dengan jantungnya yang berdegup kencang juga wajahnya yang sedikit memerah. Bagaimanapun juga ia seorang pria, siapa yang akan tahan terus berduaan dengan seorang gadis?
Meskipun mereka adalah saudara angkat, ia tidak pernah menganggapnya seperti itu. Dan hanya dirinya yang mengetahui perasaannya tanpa terkecuali.
****
"Jyuto, kau sudah tahu pelakunya?" tanya Pria berambut silver berkemeja putih dengan dua kancing teratasnya terbuka, bersandar di kursi mobil sambil melirik teman di sampingnya dengan asap yang mengepul dari rokoknya.
Iruma tidak menjawab pertanyaan Samatoki saat ia menatap Y/n dengan seorang pria di salah satu cafe yang duduk di dekat jendela hingga ia bisa melihat mereka dari mobil dengan sedikit jendela yang turun.
__ADS_1
Rahangnya mengeras saat tangan lancang pria itu mengusap puncak rambut Y/n dan tertawa bersama. Entah kenapa sesuatu di dalam dadanya terasa panas dan emosinya memuncak.
"Oi, Jyuto!"
Samatoki melihat pandangan Iruma, dan ia bisa melihat temannya itu mengeratkan genggamannya di stir mobil. Lalu Iruma menghela napas, mengambil sebungkus rokok dari saku dalam jasnya dan mengapit sebatang rokok di bibirnya, lalu menyalakannya dengan tenang dan mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya.
"Ya, aku sudah tahu!"
Iruma membenarkan kacamatanya, membuat kilatan cahaya sore yang terpantul memperlihatkan tatapan tajam pria itu dan senyuman liciknya.
"Hhh... Bagus!" seru Samatoki dengan sedikit terkekeh melihat temannya.
Mereka mematikan rokok, menaikkan jendela mobil, lalu pergi meninggalkan lokasi itu.
****
Y/n mengernyit dan matanya membulat ketika melihat mobil yang baru saja melaju. Mobil yang sangat ia kenali. Sedang apa Iruma, kakaknya itu tadi di sini? Apa ada urusan? Itu tidak seperti biasanya, kakaknya tidak akan berkumpul dengan temannya di tempat-tempat yang banyak orang seperti ini.
"Y/n-chan, ada apa?"
Y/n tersentak dan pertanyaan dari pria di hadapannya membuyarkan lamunannya. Refleks ia menggeleng dan tersenyum.
"Tidak ada, (R/nb)-senpai!"
"Mau pulang sekarang? Hari sudah mulai gelap ... "
Y/n menoleh dan menatap langit kemerahan menandakan matahari yang mulai tenggelam.
"Ayo!" Y/n memakai tas selempang nya, dan mulai berdiri, diikuti oleh pria di hadapannya.
"Tapi, bisakah kamu antar aku dulu menemui temanku di dekat dermaga?" Pinta (R/nb), dan dibalas oleh anggukan dari Y/n.
"Baiklah, Senpai..."
****
Hari sudah gelap, mereka sudah berada di area dermaga Yokohama. Y/n menatap ragu-ragu ke arah di mana pria yang merupakan seniornya mengajaknya ke tempat untuk bertemu teman.
"Y/n, bisa kau tunggu di sini sebentar?"
Y/n menoleh, lalu mengangguk. Seniornya berjalan menghampiri pria itu. Y/n hanya menunggu melihat mereka yang mengobrol dan mengeluarkan suatu barang, hingga tak lama kemudian.
"Yare-yare, Y/n ... Kenapa kau ada di sini?"
Y/n tersentak mendengar suara yang sangat ia kenali dari belakang tubuhnya, secara refleks ia berbalik. Di sana dua orang pria keluar dari kegelapan dengan pakaian jas yang rapi bersama pria berkemeja putih berpenampilan liar sambil menghembuskan asap rokok dari sela-sela bibirnya.
"Nii-sama?!"
"Arghh!"
Y/n menoleh ke arah seniornya dan terlihat seorang tinggi besar dengan pakaian bermotif loreng menahan senior dan pria berjaket hitam itu membawanya dengan mudah menghampiri mereka.
"Ada apa ini, Nii-sama?" Y/n menatap bingung ke arah Iruma yang dengan santainya menghisap rokok.
"Buat mereka berlutut, Rio!"
Pria di samping Iruma mengintrupsi, dan Y/n bisa merasakan keberadaan tinggi besar itu tepat di belakangnya lalu menekan bahunya kuat hingga ia meringis ketika jatuh berlutut ke lantai beton itu.
"Berani sekali kau transaksi narkoba di wilayahku, (R/nb)!"
"Narkoba!" Mata Y/n membulat mendengar hal itu. Ia menatap seniornya dan pria berjaket hitam yang berlutut sambil menunduk meminta penjelasan.
"Senpai!"
"Dia tidak hanya transaksi narkoba, bahkan melakukan pencurian."
Y/n terdiam, ia tidak percaya. Seniornya yang ia percaya melakukan kejahatan sebesar itu. Senior yang sangat baik semenjak mereka bertemu di tempat kuliah. Y/n meremas dressnya, marah dan kesal.
"Y/n, kau berkomplot dengannya ..."
__ADS_1
Y/n menatap Iruma dan menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, Nii-sama! Aku tidak mengetahui apapun!"
Tak lama suara derap langkah kaki mendekat, ada beberapa polisi yang datang.
"Baiklah, kau bisa mengurusnya, kecuali gadis itu serahkan saja padaku," ucap Iruma kepada salah satu polisi sambil membuang puntung rokok ke lantai beton lalu menginjaknya.
"Baik!" Para polisi itu membawa kedua orang pria yang berlutut memasuki mobil polisi yang tak jauh dari sana.
"Jaa ... Aku duluan, Jyuto!" Pria itu berbalik menepuk bahu Iruma dan meninggalkan mereka.
"Baiklah, Samatoki-sama." Iruma membenarkan kacamatanya yang bahkan tidak turun sama sekali.
"Aku juga akan kembali berburu ..."
Y/n bisa merasakan hawa pria tinggi besar yang berada di belakangnya perlahan menjauh, menyisakan Y/n dan Iruma di sana. Y/n perlahan bangkit, tapi suara berat yang membuat dirinya kembali terpaku dan tetap dalam posisi berlututnya.
"Tetap di sana!"
"Nii-sama!"
Iruma berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah borgol dari saku jasnya.
"Kau berkomplot dengannya, Y/n?"
"Tidak!! Aku bahkan baru saja menemuinya hari ini!" Sangkal Y/n dengan cepat.
"Heh ... Benarkah?" Ujung bibir Iruma tertarik membentuk sebuah seringaian dan tatapannya menajam ke arah Y/n dengan borgol yang ia perlihatkan di bawah bibirnya.
Tubuh Y/n gemetar merasakan aura Iruma. Untuk pertama kalinya ia begitu ketakutan dengan pria di hadapannya, padahal semenjak mereka bertemu, Y/n tidak pernah merasa seperti ini. Ia merasa dirinya seakan seperti mangsa yang tidak berdaya, siap diterkam oleh predator.
Dengan mengumpulkan keberanian, ia berdiri dan berbalik. Rasanya ia sangat ingin menjauh. Tapi sebelum ia melangkah, tangannya ditarik, membuat punggungnya menghantam dada bidang pria itu.
"Kalau melarikan diri, hukumanmu akan bertambah ..."
Y/n menahan napas ketika hembusan hangat menerpa kulit lehernya dan membuat meremang, ia bisa mencium bau rokok beraroma mint. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Nii-sama, aku tidak melakukan apapun!"
Klek!
Y/n merasakan tangan kanannya terborgol, dan seringaian Iruma semakin melebar.
"Kau sudah melakukan dua tindak kejahatan. Jalan dengan pria lain dan membuatku cemburu!"
Klek!
Mata Y/n membulat mendengar ucapan itu, otaknya masih memproses apa yang dikatakan oleh Iruma, hingga ia tidak sadar kedua tangannya telah terborgol di belakang tubuhnya.
"Hukumanmu, menjadi tahanan rumah dengan terus bersamaku hingga kau tak bisa pergi lagi!"
Kecupan di lehernya membuat ia tersadar dan secara tiba-tiba tubuhnya terbalik saat Iruma mengangkatnya seperti karung beras, membuat ia merasa pening sesaat.
"Tidak! Tunggu, Nii-sa-Ah!" Pekik Y/n, dan tersentak ketika pinggulnya di tepuk keras.
"Jangan memanggilku 'Nii', aku bukanlah kakakmu! Panggil aku Jyuto!"
"Tunggu! Turunkan aku!"
Y/n mencoba memberontak dengan menggerak-gerakkan kakinya, tapi Iruma berjalan dengan tenang seolah pemberontakan Y/n tidak berpengaruh padanya. Sial!
Lalu pria itu membawanya memasuki mobil dan melaju. Tidak, bukan duduk di samping pria itu atau di kursi belakang, Y/n duduk di pangkuan Iruma, hingga ia benar-benar tidak bisa lolos. Y/n tidak berani bergerak, entah kenapa tubuhnya terasa tegang, padahal duduk di pangkuan Iruma bukanlah hal yang pertama kali ia lakukan.
"Kau akan mendapatkan hukumannya malam ini!" bisik Iruma tepat di telinganya.
Jantung Y/n berdegup semakin kencang, wajahnya memanas, bulir-bulir keringat dingin mulai muncul di dahinya. Tangan di belakang tubuhnya bertaut, mencoba menetralkan sedikit tubuhnya yang gemetar sambil bertanya-tanya.
Hukuman apa yang akan Iruma berikan kepadanya?
****
__ADS_1
Jangan lupa Vommentnya:) juga like dan jadikan fav