![Limemine [AnimeXReader]](https://asset.asean.biz.id/limemine--animexreader-.webp)
I hope you like and enjoy 🍀✨
****
Y/n berjalan sambil tersenyum menikmati daun-daun cokelat yang berjatuhan dengan cahaya kejinggaan yang menandakan akan terbenamnya matahari. Angin musim gugur yang menerpa wajahnya lembut hingga rambut hitam panjangnya yang terurai sedikit berterbangan, sesekali ia memotret pemandangan indah oleh kamera yang menggantung di lehernya.
Y/n sedang mencari udara segar sembari berjalan pulang dari studio tempatnya bekerja. Pekerjaan yang sangat ia minati dan membuat hatinya senang ketika menikmati ciptaan tuhan yang keindahannya tidak terbatas. Apalagi senyuman dia-ups!
Y/n melirik bangku yang berada di samping, ingin mengistirahatkan kakinya, ia duduk dan melepaskan gantungan dari kameranya. Ia melihat-lihat hasil tangkapannya beberapa saat lalu, dan sesekali menyematkan poni rambutnya ke belakang telinga ketika sedikit menganggu pandangannya.
Merasa ponselnya bergetar, Y/n mengambil di dalam saku coatnya dan membukanya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Kenapa dia mengetahui nomor ponselnya?
Tanpa menunggu lama, Y/n membuka pesan itu. Seketika itu juga matanya membulat melihat isi pesan itu, tangannya membekap mulutnya sendiri. Dadanya terasa di tekan oleh benda berat.
Sesak.
Itu yang ia rasakan. Pandangannya memburam oleh air yang menumpuk di pelupuk matanya siap jatuh jika berkedip. Degup jantungnya yang kencang membuat napasnya memburu.
Siapa dia? Kenapa seseorang mengiriminya ini? Bagaimana bisa orang yang ia percaya berada di dalam foto itu? Apa alasannya?
Tidak! Ia tidak boleh panik dan percaya dari pesan yang dilihatnya, pesan yang belum tentu itu benar. Ia harus membuktikan bahwa pesan itu bohong!
Ia menggenggam ponselnya erat, dan mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk menenangkan diri. Menyambar kamera di pangkuannya dan segera bangkit menuju apartemennya.
Y/n harus segera mengecek gambar dari pesan itu!
Pesan yang berisi dua kata dan sebuah foto. Foto yang membuat pikirannya melayang. Foto yang ketika ia melihatnya, hatinya terasa sakit. Foto yang berisi kekasihnya dan sahabatnya.
...'You see?'...
****
Eren mengacak rambutnya frustasi, sudah hampir dua minggu kekasihnya tidak menghubunginya atau menemuinya. Hatinya merasa gelisah karena khawatir.
Ia mengambil ponselnya, me-miscall Y/n terus menerus, tapi tidak pernah dijawab seolah tidak merespon panggilannya, bahkan pesan yang ia kirim tidak dijawab. Segera Eren mengalihkan ke kontak sahabatnya yang bekerja bersama kekasihnya.
Armin Arlert.
Tanpa menunggu lama, sahabatnya mengangkat panggilannya.
'Moshi-moshi, Eren?'
"Armin! Apa Y/n berada di sana? Apa dia menghubungimu!?" tanya Eren dengan nada sedikit tinggi, wajahnya terasa gusar dan berharap.
'Tidak!'
Mendengar ucapan itu membuat bahunya menurun dan bersandar pada sofa tempat ia duduk. Ia berharap Y/n kembali bekerja, dan ia bisa menemuinya di sana, karena gadis itu tidak akan bisa menghindar.
'Terakhir ia memberitahuku ketika ingin mengambil cuti sementara. Ada masalah apa? Apa kalian bertengkar?'
"Mungkin?" Jawabnya tidak yakin. "Sudah dua Minggu juga dia tidak merespon dan menghubungiku. Aku tidak tahu apa alasannya!"
'Kau sudah ke apartemennya?'
"Sudah! Aku yakin dia ada di sana, tapi dia bahkan tidak menjawab!"
'Kau coba lagi saja ke sana! Mungkin Y/n akan merespon. Aku tahu Y/n tidak akan seperti itu tanpa ada alasan. Apa kau melakukan kesalahan kepadanya?'
Pertanyaan dari Armin membuat Eren tercenung. Kesalahan? Ada satu hal yang membuat ia merasa sangat bersalah kepada kekasihnya.
"Uhh ... A-aku tidak tahu, mungkin!" seru Eren sambil mengusap wajahnya kasar merasa bingung.
'Berusahalah temui dia lagi, dan semoga dia memberitahumu apa alasan dia menghindar!'
"Hahh ... Baiklah, Terima kasih, Armin!"
__ADS_1
'Okey, aku akan menutup teleponnya!'
"Iya..."
Dan panggilan terputus.
Eren segera bangkit, mengikat rambut cokelat setengkuknya asal, meraih jaketnya kasar, dan berjalan keluar apartemennya tergesa-gesa dengan suara gebrakan pintu di belakangnya.
Ia tidak peduli apabila ada pencuri atau apapun, ia hanya ingin segera bertemu dengan Y/n.
****
Di sinilah Eren, berdiri tepat di depan pintu apartemen Y/n. Ia bisa melihat beberapa kantung plastik yang menggantung di sana. Itu beberapa makanan yang ia bawa selama beberapa hari, dan karena Y/n tidak membukakan pintu, ia menyimpannya di sana, berharap Y/n akan mengambilnya, tapi sepertinya itu bahkan tidak tersentuh sama sekali.
Eren menekan bel apartemen Y/n dengan tidak sabaran. Untuk kali ini, ia harus bertemu dengan kekasihnya itu.
"Y/n, kumohon buka pintunya!"
Tok! Tok! Tok!
Eren juga mengetuk pintu rumah Y/n dan bel secara bergantian. Ia berdiri dengan gelisah, menggerakkan kaki kanannya mengetuk-ngetuk lantai.
Apabila untuk kali ini Y/n tidak membuka pintu, ia akan mendobraknya. Tidak peduli dengan tetangga Y/n yang akan merasa terganggu.
Sekali lagi, tangannya terulur dan mengepal siap mengetuk pintu di hadapannya lagi, tapi tertahan ketika mendengar suara kunci yang diputar dan pintu yang terbuka.
"Masuklah!"
Eren membeku mendengar suara parau Y/n, wajahnya terlihat jelas begitu pucat dengan mata sembab, hidung mungilnya terlihat memerah. Pipinya juga terlihat lebih cekung dan terlihat lebih merah seolah diusap kasar berkali-kali.
Apa dia sehabis menangis?
Eren masuk dengan beberapa kantong plastik di pintu ketika Y/n berjalan menjauhinya dan memunggunginya memasuki kamar.
Ia menutup pintu dan terlihat bahwa lampu apartemen Y/n tidak menyala, hanya cahaya yang masuk dari jendela besar di sana menunjukkan hari yang mulai malam.
Eren duduk di sofa setelah menyalakan lampu. Tak lama kemudian Y/n datang dengan sebuah foto di genggamannya.
"Kita putus!"
Eren bagai disambar petir mendengar ucapan Y/n membuat bahunya menegang kaku, dan matanya membulat ketika ia bisa melihat jelas foto yang dilempar Y/n dengan kasar ke meja.
Sial! Siapa yang mengambil foto itu?!
*****
Melihat ekspresi Eren, membuat Y/n terkekeh kecewa. Hatinya kembali berdenyut dan tubuhnya terasa sakit seperti di tusuk ribuan jarum secara perlahan. Ia mendongak menatap langit-langit apartemennya, matanya kembali berair, ia ingin menangis tapi ia tidak ingin Eren melihatnya.
"Keluarlah! Jangan pernah temui aku lagi! Kau sudah bebas sekarang!"
Y/n membalikkan tubuhnya kembali menuju kamar.
"Tunggu!"
Y/n menepis kasar tangan yang menggenggam lengannya dan menatap tajam Eren.
"Kau menghindari ku selama dua minggu karena foto ini? Mungkin itu editan!"
Y/n terkekeh sinis mendengar sangkalan Eren. Apa dia berbicara tidak berpikir dulu? Ah, ia lupa bahwa pria bekas kekasihnya itu bodoh.
"Kau pikir aku siapa? Aku seorang fotografer! Hal edit-mengedit sudah menjadi makananku sehari-hari!"
"Siapa yang mengirim foto itu?!" Tangan Eren terkepal, dan ia mendongak menatap Y/n yang berdiri dengan ekspresi mengeras. Tidak, ia tidak marah kepada gadis di hadapannya, ia marah kepada siapa yang mengirimi Y/n itu.
"Tidak penting! Tidak tahu!" Y/n membalas tatapan pria di hadapannya.
Y/n terhuyung ketika tangannya ditarik kuat sebelum ia siap, membuat ia jatuh di pangkuan Eren dan pinggangnya di peluk erat.
"Kau tidak ingin mendengar penjelasan ku?"
__ADS_1
Y/n memberontak dengan mencubit bahkan mencakar lengan pria itu, tetapi Eren semakin mengeratkan pelukannya seolah tidak terasa apapun.
"Untuk apa? Aku bersyukur seseorang mengirimiku foto itu. Kalau tidak, aku tidak akan pernah mengetahui perbuatan mu dengan Mikasa!"
Nada Y/n naik dua oktaf, napasnya sedikit memburu karena ia memberontak dan menahan amarahnya yang membeludak. Tatapan Eren menurun sendu, menyiratkan bahwa ia merasa menyesal, tapi hal itu tidak membuat Y/n luluh.
"Maaf ..."
"Kata maaf tidak akan mengubah kesalahan yang telah kau perbuat. Kata maaf juga tidak akan bisa mengembalikan rasa percaya, atau menghilangkan rasa terkhianati dan kecewa!"
Y/n bisa merasakan bahunya yang memberat oleh kepala Eren yang menunduk di sana sambil berbisik dengan nada penuh penyesalan.
"Maaf ..."
Matanya kembali berair, ia menggigit bibirnya kembali merasakan sesak di dadanya. Tubuhnya bergetar menahan tangis.
"Kau dan Mikasa adalah teman sejak kecil dengan Armin, bahkan sebelum aku datang di kehidupanmu ... Aku tahu itu ..." Y/n menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan menahan suaranya yang bergetar. "T-tapi ... Tidak bisakah kau memutuskan ku dulu sebelum melakukan hal seperti itu?"
"Kekasih yang kupercayai akan terus menjagaku, orang yang selalu mendukungku, melindungi ku, membuatku tertawa, menghianatiku dengan sahabat yang sudah ku anggap sebagai saudara yang kusayangi. Saudara yang selalu mendengarkan keluh kesah ku!"
Y/n meremas tangan yang memeluk pinggangnya kuat, menyalurkan rasa frustasi dan kekesalannya. Air matanya sudah jatuh menyusuri pipi dan berakhir di tangan Eren, ia tidak bisa membendungnya lagi.
"Mungkin keberadaan ku memang tidak seberapa, dibandingkan dengan kebersamaan kalian bertiga sedari kecil. Tapi uhh ... Untukku kalian sangat berharga." Y/n berkata sambil terisak, bahunya bergetar.
"Tidak! Kau juga berharga untukku! Kumohon maafkan aku!" Eren sungguh menyesal, ia membuat gadis yang ia sayangi menjadi rapuh.
"Lepaskan!" Y/n bisa merasakan pelukan di pinggangnya melonggar, dan ia segera pindah dengan duduk di ujung sofa, sedangkan Eren di ujung yang lain.
Y/n mengangkat kakinya ke sofa dan memeluknya, menyimpan dagunya di lutut sembari melihat Eren dengan air mata yang beberapa kali jatuh.
"Aku berharap itu adalah bohong, atau hanya mimpi. Berhari-hari aku mencoba untuk meneliti foto itu, dan berkali-kali aku cari foto lain yang mungkin hanya mirip kalian, tapi berkali-kali itu juga aku mendapatkan hasil yang sama ... Bahwa itu foto asli tanpa editan sedikitpun!"
Y/n membenamkan wajahnya di antara lutut dan dadanya. Air matanya tumpah, merasakan rasa sakit yang semakin dalam di hatinya. Bahunya bergetar dan tangannya saling bertaut erat.
Eren mengulurkan tangannya, tapi kemudian mengurungkannya. Eren ingin memeluk Y/n, mengusapnya dan menenangkannya dalam rengkuhan erat. Tapi ia tidak pantas, ia adalah orang yang membuat gadis itu menjadi seperti ini.
"Kumohon pergilah! Jangan pernah menghubungi atau menemuiku lagi! Sampai kapanpun ... Melihat wajahmu ataupun Mikasa akan membuat hatiku semakin hancur secara perlahan!"
Air mata Eren menetes mendengar suara parau Y/n yang tidak berubah dari posisinya. Ia menggeleng. Tidak, ia tidak ingin berakhir dengan Y/n. Tapi, apabila Y/n tidak ingin melihat wajahnya lagi, ia bisa apa?
"Pergilah sekarang!"
Eren menghela napasnya kasar. "Baiklah apabila itu keinginanmu ..." Eren bangkit, lalu untuk terakhir kalinya ia mengusap puncak rambut Y/n lembut " ... Sayonara."
Y/n mendongakkan kepala dan melihat punggung Eren yang menjauh. Ia masih bisa merasakan telapak tangan besar Eren yang mengusap rambutnya.
Tangisnya semakin pecah ketika melihat punggung Eren yang keluar dari apartemennya. Tangannya meremas puncak kepalanya, dadanya sangat sesak dan pikirannya terasa pening mengetahui fakta yang ingin tidak alami.
Lagi! Ia akan merasakan dirinya sendiri lagi tanpa ada siapapun di sampingnya!
****
Bugh!
Eren memukul dinding di sebelah pintu apartemen Y/n dengan kuat sesaat setelah keluar.
Tubuhnya merosot, menunduk dan air matanya tidak bisa ia bendung lagi. Rasanya ia ingin berteriak, tapi tertahan di ujung lidahnya. Ia meremas kain di bagian dadanya, berharap rasa sesak di sana bisa sedikit hilang.
Sial! Apa yang harus ia lakukan sekarang?!
Penyesalan telah membuat Y/n terluka.
Penyesalan karena melakukan yang tidak sepantasnya ia buat.
Penyesalan yang membuat gadis yang sangat ia cintai menghilang.
Penyesalan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
****
__ADS_1
Jangan lupa Vomment, like dan fav, 'kan, ya:)