Limemine [AnimeXReader]

Limemine [AnimeXReader]
Tree of Witness [William Vangeance]


__ADS_3

****


Seorang gadis kecil dengan gaun sederhana tersenyum ceria ketika melihat sebuah bunga kecil berwarna putih yang terlihat cantik saat mekar, membuat ia berjongkok dan menatap bunga itu dengan senang, tapi sedetik kemudian bunganya berubah layu menjadi berwarna kehitaman.


Wajah gadis kecil itu berubah sendu, matanya berkaca-kaca melihat itu. Hatinya terasa sakit melihat bunga itu mati seketika. Lalu perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara akar yang bergerak diiringi dengan cahaya yang ia lihat di balik bangunan.


Ia berdiri, dan menghampiri cahaya itu sambil bersembunyi di balik tembok dengan mata berbinar, melihat anak laki-laki berambut putih tengah membuat pohon yang terus tumbuh semakin besar di **san**a.


Tanpa sadar ia mendekati pohon itu dengan memperhatikan jarak sambil mendongak terkagum dengan pohon yang dibuat dari sihir itu. Hatinya merasa sangat senang, bibirnya sedikit terbuka oleh senyumannya.


"Siapa?"


Gadis kecil itu refleks menoleh mendengar pertanyaan itu dan tersenyum sumringah. Pria kecil berambut putih dengan setengah wajahnya yang dipenuhi luka, tapi ia tidak merasakan takut sama sekali melihatnya dan perlahan mendekatinya.


"Nii-san sangat hebat!! Nii-san bisa buat pohon besar!"


Pria kecil itu mengernyitkan dahinya melihat wajah gembira dengan mata yang berbinar-binar sambil tangannya yang di rentangkan menggambarkan besarnya pohon yang ia lihat.


"Te-terima kasih ..." Pujian dengan wajah yang terlihat begitu bahagia membuatnya merasa senang dan hatinya menghangat. Tanpa sadar pria kecil itu memegang dadanya dan sudut bibirnya naik membentuk sebuah senyuman.


"Ha'i, Nii-san .... Nama Nii-san siapa?" Gadis kecil itu bertanya sambil mendongak menatap mata pria kecil penasaran dengan tangan yang saling bertaut di belakang tubuhnya.


"William Vangeance."


"Yoroshiku William Nii-san, Namaku Y/n!" Gadis kecil itu menunjukkan deretan giginya oleh senyuman lebar.


"Yoroshiku, Y/n" balasnya dengan senyuman.


Lagi Y/n kecil melihat pohon yang dibuat William dengan lekat, seolah tidak ingin mengalihkan pandangannya sedetikpun.


"Y/n, apa kau sangat menyukai pohon?"


"Ya, sangat!" Balas Y/n antusias, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah sedih dan menunduk, "Tapi aku tidak bisa mendekatinya."


"Kenapa?" William sedikit memiringkan wajahnya dan Y/n hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ehh!" Y/n yang masih menunduk, kaget ketika salah satu lengannya ditarik untuk mendekati pohon itu.


"Kalau begitu sentuh saja pohonnya,  Atau kau bahkan bisa menaikinya." William mengarahkan tangan Y/n ke pohon, membuat Y/n membulatkan matanya.


"Jangan William Nii-san! Hentikan!" Y/n memberontak, namun terlambat.


Pohon dengan daun-daun lebat itu berubah menjadi kuning kehitaman dan berguguran, ranting yang menopang daun itu turun dengan batang pohon yang asalnya terlihat kokoh seketika berubah menjadi hitam dan rapuh.


Itu membuat William terdiam melihatnya, sedangkan Y/n bola matanya sudah berkaca-kaca, jari-jari tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih.


"Maaf ..." Lirih Y/n sambil menunduk.


Mendengar suara Y/n yang bergetar, itu membuat William menoleh dan matanya membulat.


"Jangan menangis, Y/n..." ucap William dengan nada khawatir.


"Maaf William Nii-san! Maaf ..."


Bulir air mata Y/n jatuh, lalu gadis kecil itu menutupi wajahnya dan berjongkok, membuat William semakin panik tidak tahu harus berbuat apa.


"Maaf, buat pohon William Nii-san jadi mati ... Maaf!" Lagi, hati Y/n merasa sakit hati, ketika tanaman yang ia sukai berubah mati saat ia sentuh. Ia merasa bersalah.


William kembali melihat sihir pohonya yang sudah mati, lalu melirik Y/n. Gadis kecil yang sangat menyukai tanaman, tapi ia memiliki sihir yang menghancurkan tanaman tersebut. Ia ikut berjongkok di hadapan Y/n dan menatapnya sendu.


"Maaf, William Nii-san ..." Y/n tidak mendengar suara apapun, apa William marah kepadanya dan meninggalkannya? Ia menggigit bibirnya semakin merasa bersalah, ia tidak berani membuka wajahnya. Tubuhnya bergetar, lalu ia terdiam saat merasakan puncak kepalanya yang dielus lembut.


"Tak apa, Y/n ... Berhenti menangis!" Y/n mendongak dan menatap wajah William yang menatap lembut ke arahnya.


"William Nii-san marah?"


Melihat wajah Y/n yang sembab dengan hidungnya yang memerah juga mata bulat yang berair menatapnya membuat William semakin melebarkan senyumannya.


"Tidak ..." William menggeleng pelan lalu menghapus sisa air mata di pipi gembil Y/n tanpa sadar. "Itu membuatku semakin bersemangat, kekuatanmu juga hebat."


Y/n mengernyit sedih, "Tapi itu buat aku gak bisa pegang pohon atau bunga ..."


Lagi, William mengelus lembut kepala Y/n, "Kalau begitu aku akan terus berlatih, sampai bisa buat pohon di mana kau bisa menyentuhnya dan bahkan menaikinya hingga bisa melihat pemandangan indah dari atas pohon."


"Benarkah!" Penjelasan itu membuat mata  Y/n kembali berbinar-binar dengan tangan yang mengepal di depan dadanya antusias.


"Ya, tentu saja ..." William mengangguk membenarkan ucapannya.


"Kalau begitu William Nii-san harus janji!" Gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya, dan William menautkan jari kelingking mereka dengan eye smile di wajahnya.


"Ya, Janji!"


****


William terperanjat dari tidurnya. Pandangannya mengedar memperhatikan ruangan, ah ia masih berada di ruangan kerjanya. Ia menghela napas menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mendongak memejamkan mata.


Kenangan masa lalunya, kenangan dengan teman pertamanya yang membuat ia tersenyum. Janji yang harus ia ingat, senyuman ceria dari gadis kecil yang melihat sihir pohon dunianya. Gadis kecil yang pertama kali membuat hatinya menghangat dari rasa kesepian saat mengingat pandangan orang lain yang melihatnya.


Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, hatinya menggebu-gebu oleh perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan yang membuat tubuhnya bergetar dan tersenyum saat mengingatnya. Perasaan yang tidak pernah ia alami, tapi ia tahu apa perasaan itu.

__ADS_1


"Ne, Kau sedang memikirkan apa, Komandan William?"


William tersentak ketika hembusan napas yang menerpa wajahnya, membuat ia refleks membuka mata dan beradu pandang dengan manik hitam indah tepat di hadapannya.


"Y/n ..." William menegakkan tubuhnya dan memutar kursi menghadap orang yang di maksud sepenuhnya.


Gadis yang baru saja ada di pikirannya sekarang ada di hadapannya tengah tersenyum sambil penuh arti dengan cahaya rembulan yang menyinarinya dari jendela yang entah sejak kapan sudah terbuka, tapi itu membuatnya terlihat sangat cantik.


"Apa kau masuk lewat jendela, Y/n? Kau akan menjadi bahan obrolan anggota lain yang melihatnya ..." Wajahnya menatap serius Y/n, tapi gadis itu menanggapinya dengan tertawa pelan.


"Xixixi ... Kalau itu denganmu, aku tidak keberatan, Komandan."


Y/n mengedipkan sebelah mata ke arahnya, dan itu membuat ia menunduk memejamkan mata tersenyum. Ah, ia akan menjadi buah bibir para anggotanya, dengan 'Komandan yang tengah berdua dengan salah satu perempuan dari anggota fajar keemasan di sebuah kamar.'


William tertawa pelan, lalu ia mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Y/n. Pria itu membimbingnya untuk duduk di pangkuan lalu mengecup punggung tangannya lembut.


"Fu~" Y/n menahan tawa kecilnya melihat perlakuan William. "Apa yang kau lakukan, William Nii-san?" Y/n bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya jahil ke arah William.


Tapi pria itu menelesupkan jarinya di sela jari-jari Y/n menggenggamnya erat hingga saling bertaut.


"Aku merindukanmu ..."


Bisikan pelan William tepat di samping telinganya membuat Y/n terdiam. Pria itu menatap wajah gadisnya yang merona tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak menyangka setelah lama tidak bertemu, William Nii-san menjadi komandan dari pasukan terhebat di kerajaan clover." Y/n tersenyum lebar dengan tangan kirinya meremas jubah yang ia pakai melampiaskan rasa gugupnya.


"Aku juga tidak menyangka kau mendaftar menjadi ksatria sihir."


"Kenapa kau merekrutku William Nii-san? Padahal saat test pertama aku tidak bisa menggunakan sapu terbang yang kau buat karena selalu hancur saat ku pegang xixixi ..." Y/n tertawa pelan mengingat kejadian lucu dirinya mengikuti test ksatria sihir.


"Itu menunjukkan kalau kau hebat, Y/n ..."


Mendengar pujian itu entah kenapa membuatnya tidak merasa senang, melainkan sedih dan membuat ia menunduk.


Menyadari itu, William hanya tersenyum lalu menuntun Y/n untuk berdiri dari pangkuannya membuat gadis itu mengernyit bingung. Lalu ia menggenggam lengan Y/n dan berjalan keluar ruangannya.


"Mau kemana, Komandan William?"


"Aku akan tepati janji saat kita pertama kali bertemu ..."


Tanpa banyak protes, Y/n mengikuti langkah William, hingga mereka berada di lapangan tempat para anggota berlatih dengan hamparan rumput hijau.


Y/n mendongak ke atas dan tidak melihat adanya bintang, hanya rembulan yang bersinar terang menggantung di langit. Ia tersentak menabrak dada bidang William dan menahannya dengan tangan ketika pinggangnya dipeluk, sedangkan pria itu hanya tersenyum menanggapinya.


"Pejamkan matamu, Y/n."


"Sekarang buka matamu ..."


Y/n membuka matanya secara perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan pandangannya. Yang ia lihat membuat matanya membulat dan menahan napasnya sejenak.


"Kau gadis yang hebat, Y/n." Y/n tidak mengalihkan pandangannya ketika William berbisik tepat di telinganya. "Hanya kau yang bisa menghancurkan sihir pohon duniaku dalam sekejap."


Pemandangan yang sungguh indah, ia sekarang berada di puncak sihir pohon milik William membuat ia bisa melihat ibukota kerajaan clover dengan rumah-rumah yang menyala oleh cahaya kuning dari lampu, hingga terlihat seperti hamparan bintang.


"Kau sudah menyelamatkanku berkali-kali Y/n ..." Hembusan angin menerpa wajahnya dengan lembut bersamaan dengan napas hangat William yang bisa ia rasakan di lehernya.


"Kau yang menyelamatkanku dari ritual Pohon Qliphoth, kau yang membuatku merasa bahagia karena dikagumi dan menghilangkan rasa kesepian dari pandangan menjijikan yang melihatku karena kutukan ini."


Mendengar itu Y/n menolehkan wajahnya ke samping dan tangannya bergerak menyentuh pipi William membuat matanya terpejam seolah menikmati sentuhan dari tangannya.


"William Nii-san ..."


Y/n menangkup lembut wajah pria itu sambil mengelusnya, tubuhnya beralih saling berhadapan dengan William, menatap lekat ekspresi wajah yang tidak mungkin ditunjukkan oleh pria itu di hadapan orang lain.


Tangannya merambat menyentuh ke dahi William dengan luka kutukan yang menutupi setengah wajahnya dan mengelus dengan ibu jarinya pelan. Y/n bisa merasakan kain di pinggangnya diremas kuat.


"William Nii-san tidak menjijikkan. William Nii-san pria yang sangat sempurna, kau dikagumi oleh rakyat dan anggotamu sendiri sebagai ksatria terhebat yang menyelamatkan mereka dari berbagai peristiwa. Dan aku ... " Y/n tertawa pelan menggantung ucapannya "Sangat bangga sebagai teman yang mengetahui masa kecilmu."


Bulu mata lentik William bergerak seiring dengan manik violet pria itu yang terbuka membuat Y/n tidak bisa mengalihkan pandangannya dari manik indah pria itu hingga mereka saling bertatapan.


Tangan William yang lebih besar menangkup tangannya yang berada di pipinya dan menggenggamnya erat dengan mulutnya yang membentuk senyuman.


"Y/n ..."


"Ya, William Nii-san?"


"Aku sudah berusaha keras meningkatkan kemampuanku untuk menepati janji, tapi tak lama setelah itu kau menghilang. Setelah menjadi ksatria sihir, aku mencarimu sambil menyelesaikan misiku, tapi ku tak bisa menemukanmu. Sebenarnya kau pergi ke mana?"


Y/n sedikit menunduk mendengar ucapan William dengan nada sendu dan senyumannya sedikit memudar, pandangannya menurun berubah sayu. "Lalu secara tiba-tiba kau muncul ketika aku telah menjadi komandan ksatria sihir, tapi kemampuanmu masih bisa mengalahkan sihir pohon duniaku.


"Namun, itu membuatku sangat bahagia, hingga aku hampir tidak bisa mengendalikannya. Melihatmu baik-baik saja itu membuatku sangat bersyukur dan terasa sedikit lega."


William memegang dagu Y/n agar menatapnya, bibir gadisnya sedikit terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu, pandangannya menyiratkan perasaan bingung.


"A-aku mencari cara untuk bisa mengendalikan sihirku, dan belajar menggunakannya dengan cara lain."


Y/n sedikit melirik manik violet William yang masih menatapnya lekat. "Ta-tapi terkadang aku masih tidak bisa mengenda- Umph!"


Mata Y/n membulat ketika bibirnya ditekan oleh benda kenyal dan basah, hingga ia mundur beberapa langkah membuatnya bersandar pada pohon dan secara refleks tangannya berpegangan. Menyadari hal itu membuat Y/n panik dan mendorong bahu William untuk melepaskannya, tapi tidak dihiraukan pria itu.

__ADS_1


Sudut matanya berair, jantungnya berdegup kencang, dan tak lama kemudian William melepaskan ciumannya. Air matanya jatuh ketika manik mereka bertemu.


"Maafkan aku, aku menyentuh pohonmu, William Nii-san ..."


William hanya tersenyum, dan  Y/n tersadar tidak ada yang berubah dengan batang pohon yang disentuhnya. Tangan William menangkup pipinya dan mengusap lembut cairan di sudut mata Rin.


"Kau tidak berubah, Y/n ..."


William semakin mendekatkan dirinya ke arah Y/n membuat gadis itu semakin bersandar. "Akhirnya aku sudah menepati janjiku."


Mata Y/n berkaca-kaca terharu, pria di hadapannya begitu keras untuk menepati janjinya, sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, tangannya naik melingkari leher William.


"Terima kasih William Nii-san ... Terima kasih sudah menepati janjimu, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, dan ..."


Mata William membulat sejenak terkejut dengan Y/n yang menekan tengkuknya hingga bibir mereka bertemu. Lalu maniknya tertutup menikmati momen dengan gadis di hadapannya, ia memeluk pinggang Y/n dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.


Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang lain menangkup pipi Y/n dan rahangnya dengan lembut agar tetap seperti itu. Saling mencecap dan menyalurkan kehangatan.


Tanpa mereka sadari, luka di wajah William mulai sedikit demi sedikit terkikis menjadi cahaya seperti kunang-kunang yang terbang menuju langit.


Tak lama kemudian ciuman mereka terlepas, dengan wajah yang begitu dekat hingga bisa mereka bisa merasakan napas mereka masing-masing.


"William Nii-san, wajahmu ..."


Pria itu tersenyum dan mengecup bibir gadisnya yang sedikit terbuka. "Kau menyelamatkanku lagi, Y/n ..."


Manik mereka saling menatap dan mengunci, tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan mereka dari apa yang ada di hadapannya.


"Dulu kau adalah sahabat pertamaku, dan sekarang kau adalah gadis pertamaku, Y/n ..."


Wajahnya merona malu mendengar penuturan William, membuat pria itu terkekeh pelan.


"Aku mencintaimu, Y/n ..."


Lagi, William menekan tengkuk Y/n dan kembali menciumnya sambil memejamkan dengan perasaan yang membuncah senang. Lalu, ia bisa merasakan hawa keberadaan gadis yang dipeluknya seolah semakin memudar, dan setetes cairan hangat mengenai pipinya.


William membuka matanya dan tubuhnya menegang bagaikan tersambar petir dengan apa yang dilihatnya. Ia menjauhkan wajahnya, menelisik dari atas hingga ke bawah tubuh Y/n.


Matanya membulat tidak percaya ketika gadis dihadapannya secara samar-samar terlihat transparan. Ya, tubuh Y/n berangsur transparan.


"Y/n! Apa yang terjadi dengan tubuhmu?!"


Y/n hanya menangkup kedua pipi William dan menggeleng pelan sambil tersenyum. Air mata tidak bisa berhenti keluar dari kelopak matanya.


"Maafkan aku, William Nii-san ... Sebenarnya, akulah yang membuat kutukan itu pada dirimu, dan hanya hilang saat kau menyatakan bahwa kau mencintaiku, bersamaan denganku juga."


Bahu Y/n mulai mengeluarkan butiran-butiran cahaya yang terus naik ke langit secara perlahan.


"Tidak! Apa yang akan terjadi padamu sekarang?"


Air mata sudah menumpuk di kelopak mata William siap jatuh, dirinya merasa putus asa. Ia bisa melihat Y/n yang ingin mengusap air matanya, tapi yang ia rasakan hanyalah sapuan halus dari angin yang terasa dingin.


"Maafkan aku, William ... Aku akan selalu mengawasi mu, pohon ini akan menjadi saksi kita berdua dan legenda selama ribuan tahun."


"Sebenarnya aku menjauh darimu saat tahu bahwa aku adalah makhluk yang membuat kutukan itu padamu, dan pergi mencari ingatanku untuk menghilangkannya."


"Berhenti! Aku tidak peduli!" Seru William putus asa "Kumohon jangan pergi, Y/n ..."


Seolah tak mendengar ucapan Y/n, William memeluknya dengan erat. Hatinya terasa sesak, tubuhnya bergetar mengetahui bahwa ia akan merasakan kehilangan lagi.


"Maafkan aku  ... Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama."


Y/n membalas pelukan William dengan tubuhnya yang semakin memudar.


"Terima kasih ..."


"Tidak, Y/n! Jangan menghilang lagi!" Mohon William tepat di telinga Y/n. Ia sudah tidak bisa mempertahankan ketenangannya lagi. Rahangnya mengeras menahan isakan tangisnya.


"Sayonara ... Aku mencintaimu, William Nii-san."


Suara lembut Y/n menghilang bersamaan dengan angin kencang yang menerpa dedaunan membuat suara gemerisik.


William jatuh berlutut, ia hanya memeluk kehampaan dengan jubah Y/n di genggamannya. Ia meremas kain itu erat, tubuhnya bergetar hebat, napasnya tercekat dan hatinya terasa sangat sesak.


"Kau meninggalkanku lagi, Y/n ..."


Dirinya baru saja terbang ke langit bermimpi untuk terus bersama gadis yang ia sangat cintai, tapi seketika ia dihempaskan ke tanah dengan kuat, kenyataan pahit dan takdir yang tidak bisa ia rubah.


"Y/n, berapa ribu tahun atau juta tahun lamanya aku akan menunggu hingga kita bisa terus bersama-sama."


William menenggelamkan wajahnya di jubah yang ia pegang, menghirup harum yang tersisa dari gadisnya.


Ya, ia tidak peduli seberapa lama mereka bisa kembali bersama.


"Aku akan selalu mencintaimu, Y/n ..."


Pohon besar yang terbuat dari sihir itu tidak bisa menghilang, atau hancur. Lebat dedaunan dan batang pohon yang kokoh juga tinggi, menjadi saksi kisah pasangan yang tidak sempat bisa bersama pada zamannya dan menjadi legenda.


****

__ADS_1


__ADS_2