Limemine [AnimeXReader]

Limemine [AnimeXReader]
The Anger [Khun Aguero Agnes]


__ADS_3

Hope you like and enjoy 🍀✨


****


"Cermin di akhir?"


Sekarang kami -Aku, Khun, Rak, dan Hansung Yu- tengah berada di sebuah ruangan dalam penginapan. Aku hanya terduduk di kasur, sambil mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentang Cermin di Akhir yang bisa menjadi peluang untuk mengalahkan Jahad dalam pertaruhan yang di berikan data Khun Edahn, Jahad melawan Bam untuk sebulan lagi.


Ya, kami berada di lantai tersembunyi di dalam kereta neraka. Seperti yang Khun katakan, aku benar-benar diawasi oleh pria itu, membuatku selalu bersamanya, tentu saja kecuali saat mandi dan tidur.


Seperti ada yang mengawasi, membuatku berdiri dan langsung menatap ke arah jendela di belakang Hansung Yu, membuat mereka yang berada di ruangan menatapku. Yang kulihat adalah sebuah lingkaran yang melayang.


"Ada apa, Y/N?" tanya Hansung Yu.


Aku menggeleng, "Tidak ada apa-apa. Maaf mengagetkan kalian." Aku tersenyum tipis meminta maaf, tapi tanpa mereka sadari, jariku mengeluarkan setetes Shinsu, dan mengarahkan kepada lingkaran itu untuk menghancurkannya, lalu mereka melanjutkan pembicaraan tadi.


'Khun! Rak!'


Itu adalah suara Bam, lalu Khun mengambil sebuah jam di sakunya, mereka berkomunikasi lewat itu. "Bam?"


'Bisakah kalian keluar sekarang juga?! Ada sesuatu yang ingin aku latih bersama kalian!'


Aku menatap ekspresi bertanya Khun, 'Ah, ajak juga Y/N!'


***


Sekarang kami berada di hadapan seorang pria berambut biru panjang yang diikat dengan sekujur tubuhnya dipenuhi dengan listrik, itu adalah Khun Edahn, kepala keluarga Khun sekaligus ayahnya Khun Aguero Agnes. Dan aku melihat tatapan Khun yang menatap tajam ayahnya itu.


"Apa-apaan ini! Jadi... Kau ingin aku menekan ini?" tanya Khun kepada Bam dengan sebuah benda berbentuk seperti spons di tangannya.


"Iya!! Itu memberitahumu sifat dan bentuk Shinsu yang cocok untukmu!"


Ah, mendengar penjelasan Bam, apakah kalau aku mencobanya, aku tidak perlu menyembunyikan bahwa aku bisa menggunakan Shinsu? Itu lebih baik, jadi aku bisa leluasa untuk menggunakan Shinsu nanti untuk membantu perjalanan mereka, tanpa harus menyembunyikannya lagi.


"Kalau begitu, aku duluan!!"


Bam mengklik tombol itu, lalu cairan di dalam benda itu mulai berubah dan melayang juga mengeluarkan cahaya, hingga berbentuk sebuah bola transparan dengan Shinsu yang menggumpal di dalamnya. Itu adalah sebuah orb, aku tahu itu, kemampuan yang sangat langka, bahkan aku bisa melihat tatapan kaget Khun Edahn.


"Kelihatannya menyenangkan!! Aku juga mau coba!!" Itu suara Rak yang bersemangat, lalu sebuah bentuk perisai dari batu muncul dari benda itu.


"Kau juga cobalah, Y/N!" Bam berucap ke arahku dengan senyum lembut, dan Rak melemparkan benda itu ke arahku.


"Oi! Pacarnya kura-kura biru, Ini!"


Aku melirik Khun yang sedang berdebat dengan ayahnya, lalu aku menekan tombol benda itu. Meskipun aku sudah bisa tahu bentuk seperti apa Shinsuku.


Sebuah cahaya kehijauan berbentuk sebuah pohon, itulah bentuk Shinsuku. Aku sudah tahu, dan apa fungsi dari kemampuanku. Mereka tidak akan kaget, karena Shinsu berbentuk tumbuhan sudah ada, seperti Yuri Jahad yang berbentuk bunga.


"Hei! Kenapa kau diam saja? Cepat coba?!" perintah Edahn yang ditunjukkan kepada Khun.


Aku menghampiri Khun dan memberikan benda itu, "ini Khun."


"Hah! Menyusahkan saja!" Pria itu menerimanya dan mulai menekan tombolnya, lalu benda itu kembali melayang hingga mulai berubah bentuk membuatku mendongak untuk melihatnya. Tak lama, sebuah bentuk tombak yang dilapisi es terlihat di sana.


"Hah? Tombak es? Kau anakku, dari luar sana ya?"


"Kau baru menyadarinya sekarang?! Lamban sekali!!" tanya balik Khun dengan nada yang tinggi.


"Tapi kenapa kau bukan Spear Bearer? Tombak es adalah kemampuan yang sangat langka." Pertanyaan itu membuat ekspresi Khun berubah menjadi serius.


"Asal kau tahu, aku tak akan pernah bisa mengalahkan mu dalam tombak. Makanya aku tak mempelajarinya. Tim kami juga sudah punya Spear Bearer, aku tak ingin merusak keseimbangan tim kami."


Khun berbalik untuk pergi, "Kalau begitu, aku pergi dari sini, ya Bam. Ayo, Y/N!" Pria itu memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya, dan aku mengangguk.


"Jangan terlalu memaksakan diri."


"Khun! Cobalah sedikit lagi!"


"Maaf, Bam. Perjuangan yang sia-sia tidak cocok untukku!"


"Hei, bocak tengik!"


Khun melirik Edahn dengan tatapan bertanya, lalu perdebatan ayah dan anak yang dibalas dengan tajam oleh Khun. Kemudian bujukan Bam, yang membuat Khun menyerah, lalu menyetujui permintaan Bam untuk mengikuti latihan mereka untuk menjadi lebih kuat. Bahkan Khun tidak bisa membantah Bam.

__ADS_1


***


Enam hari sudah kami berlatih, bahkan aku bisa mengubah bentuk tanaman sesuai yang aku inginkan, menjadikan senjata, ataupun pertahanan, bahkan aku bisa menyembuhkan luka. Tentu saja aku tidak menunjukkannya kepada yang lain bagaimana kemampuan pengendalian Shinsuku, aku hanya menunjukkan kemampuan mengubah bentuk tanaman.


Sekarang aku tengah duduk di sebongkah batu dengan tudung jubahku yang menutupi kepala, sambil menunduk menatap pohon-pohon kecil dengan sedikit cahaya hijau yang kubuat dengan batang pohon berbentuk kaki dan tangan, lalu mengendalikannya seolah batang kecil yang menjadi tangan mereka berkacak pinggang, dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.


"Xixixi ... Lucunya!!" Aku sedikit terkikik dan tertawa melihat pohon-pohon kecil bercahaya hijau itu. Ah itu menjadi hiburannya sambil menunggu Khun dan Rak yang sedang berlatih shinsu dengan Hansung Yu.


"Kau payah sekali untuk orang yang berasal dari sepuluh keluarga." Itu adalah suara Hansung Yu, "Lihatlah, bahkan Y/N buat Shinsu menjadi mainannya."


Mendengar hal itu, aku mendongak dan bisa melihat tatapan lembut dan kagum dari Hansung Yu. Lalu aku beralih menatap Khun yang tampak kesal.


"Hmph! Dan berhentilah menatapnya seperti itu!"


Hansung Yu menyeringai, "Heh! Apa Khun Aguero Agnes tengah cemburu?!"


Mendengar ucapan Hansung Yu, aku menunduk membuat wajahku memanas. Apa benar Khun cemburu? Aku merasa senang mendengarnya.


"Jangan bercanda!"


"Tapi, menurutku masalah terbesarmu adalah harga dirimu, Khun."


"Apa...?!"


Setelah itu perdebatan yang selalu membuat kesal Khun dan tingkah Rak yang tidak masuk akal dengan memakan batu, aku kembali memandangi pohon-pohon kecilku yang semakin menari dengan aktif. Hingga cahaya terang membuat perhatian kami teralih, itu berasal dari Orb yang dibuat Bam, lalu serangan yang menggetarkan tanah.


Aku melihat tatapan kagum Hansung Yu, "Kekuatannya ... Luar biasa."


Lalu aku berdiri, melihat Bam dan Khun Edahn yang berbicara membuatku penasaran, hingga suara tinggi Edahn dan cahaya yang membuat kami berteleportasi "Hei, para musuh abadi!! Ayo, Maju!"


Aku mendarat cukup jauh dari Khun, tapi aku masih bisa melihat pria itu. Khun dan Rak berhadapan dengan pria berambut panjang, wujud kelam Bam, Jue Viole Grace. Sedangkan di hadapanku tidak ada seorangpun.


Suara keras dan seolah di aliri listrik terdengar olehku, "Hei! Aku pikir kalian akan merasa canggung di dekat musuh abadi kalian, jadi kalian akan menghadapi orang yang berbeda. Sekarang, kalian bisa memamerkan apa yang kalian pelajari dengan lebih mudah. Aku tak akan ikut campur, Jadi kalian tangani sendiri!"


Pria yang memberi intruksi itu, dengan tenang mendesah nikmat oleh anggur yang ia makan di tangannya. Sungguh seenaknya sekali!


Aku berjalan menuju Khun dan Rak yang kesusahan ketika melawan Viole, lalu melihat mereka lari untuk menghindari musuh abadi Bam itu. Namun, dengan cepat Viole berada di belakang Khun dan menyerang dengan dahsyat.


"KHUN!" Aku mencoba berlari menuju Khun, tapi seseorang menyerangku hingga dengan refleks aku menghindar mundur ke belakang.


Aku melirik ke arah Khun, Rak yang berhasil membuat batu untuk menghalangi serangan Viole lagi kepada Khun, lalu Khun dengan tatapan tajam yang membuat dirinya termotivasi, lalu mengeluarkan sebuah tombak dari lighthousenya dan melapisinya dengan es.


Itu tatapan yang ia benci, tatapan pria itu yang kembali mengingat gadis yang sekarang berhadapan dengannya. Sial! Ia semakin benci dengan Khun Maria.


"Siapa kau?" tanya gadis itu sambil memiringkan wajahnya. "Aku tak mengenalmu, hingga aku bisa menjadi musuh abadimu. Apa kau sangat membenciku?"


Wajah polos itu membuatku muak.


"Ya, aku sangat membencimu!"


"Kenapa?" Maria melirik ke arah Khun yang kembali melawan Viole, "Ah, apa kau membenciku karena A.A selalu mengingatku?"


Aku menggertakkan gigiku, mataku memanas. Andaikan gadis ini tidak pernah ada, mungkin Khun tidak akan selalu mengingatnya. Kembali mengingat reaksi pria itu ketika nama Maria disebut, juga tatapan yang membuat ia termotivasi ketika mengingat gadis itu, membuat amarahku semakin memuncak.


Gadis itu menyeringai, "Ah, bagaimanapun aku adalah musuh abadimu di sini, tentu saja aku akan menghabisimu."


Maria berlari dengan cepat ke arahku, aku tidak menghindarinya, tapi aku membuat rumput di sekitarku menjadi tajam mengelilingiku dan mengendalikan rumput itu untuk menyerang Maria. Maria berhasil menghindarinya dengan menggunakan Shinsunya dan menebas rumput tajam di sekelilingku dan menyerangku, membuatku menahan serangannya dengan tangan.


Maria menyeringai seolah ia berhasil menyerangku, tapi tanpa ia sadari, dengan cepat aku melilitkan rumput di seluruh tubuhnya membuat ia membelalakkan mata, dan aku membuat rumput-rumput di sekitarku merambat dengan cepat membuat sebuah ruang berbentuk bola dengan aku dan Maria di dalamnya. Aku tidak ingin Khun melihat keberadaan gadis ini.


"Lepaskan aku!" Gadis itu memberontak, dan aku mengendalikan agar semakin mengeratkan lilitannya.


"Bagaimana jika A.A tahu kau memperlakukan gadis yang disukainya seperti ini?" Gadis itu menyeringai dengan berani.


Aku menghela napas agar berbicara dengan tenang, "Tentu saja aku tidak akan membiarkan Khun untuk melihatmu, lagipula kau tidak bisa keluar dari sini! Dan jangan memanggil Khun seperti itu!"


Ini adalah kesempatannya untuk menghabisi gadis di hadapannya untuk meluapkan amarahnya, meskipun di dunia nyata Maria tidak akan benar-benar mati. Aku tidak sebaik Bam yang akan memaafkan semua orang.


Aku mengendalikan rumput-rumput itu hingga semakin melilit di tubuh Maria membuat gadis itu menjerit kesakitan dan memberontak, mendengar jeritan itu aku melilitkan tanamanku di mulutnya hingga dia tidak bisa bersuara. Gadis yang di bencinya, gadis yang membuat pria yang ia cintai tidak bisa melupakan masa lalunya.


Aku hanya menatap ekspresi kesakitannya, dan semakin merasakan mataku yang memanas dengan rasa sesak hingga tenggorokan. Ia senang dengan penyiksaannya kepada Maria? Tentu saja, semakin aku melilitkan tanamanku ditubuhnya, entah kenapa amarahku semakin memuncak.


Air mata jatuh mengaliri pipiku, benar apa yang diucapkan gadis dihadapannya, mereka memang tidak saling mengenal, tapi rasa bencinya kepada Maria begitu besar. Dirinya terasa begitu cemburu, sangat cemburu. Keinginan dia untuk bisa selalu bersama Khun, berandai bahwa Khun hanya selalu mengingatnya, dan merasa bahwa Maria begitu beruntung.

__ADS_1


Hingga, lilitan itu berhasil menutupi seluruh tubuh Maria dan membunuhnya, membuatnya menghilang, aku terduduk dengan menangkup kedua wajahku. Sial! Kenapa yang muncul harus gadis itu? Dadaku terasa begitu sesak hingga tenggorokan, dirinya merasa ingin menjerit, tapi seolah ada yang menahan di tenggorokannya, hanya air mata yang mengalir tanpa henti dari matanya.


Perlahan-lahan, ruangan yang hanya tersisa aku sendiri terbuka, membuat cahaya dari luar menerobos masuk. Aku tidak bergerak dari posisi, aku berharap tidak ada yang menyadari bahwa dirinya untuk saat ini.


Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Khun ketika mengetahui musuh abadiku adalah Maria.


***


Setelah pertandingan dengan melawan para musuh abadi, mereka tengah duduk sambil meminum kopi yang dibuat oleh Hansung Yu.


Khun menatap sekelilingnya, 'Apa Kiseia sudah menghilang sekarang? Lalu ke mana Y/N?'


Khun mendongak menatap Khun Edahn yang berdiri melayang di udara, "Jadi, bagaimana dengan pertandingannya? Bam pada akhirnya melawan hampir seluruh musuh abadi sendirian."


"Yah, anggap saja kalian berhasil. Soalnya kalian semua sudah mencapai tujuan kalian. Sejujurnya, aku tidak menyangka kau mampu membuat tombak es."


"... Kau itu ayah yang hebat."


"Sekarang, mari kita lanjutkan latihannya. Lebih baik jangan berhenti setelah kalian menguasainya."


"Kita tak ada istirahat?!" Seru Khun bertanya.


Khun kembali menatap sekitar, di mana gadis itu? Kenapa dia tidak kembali? Atau dia sedang dalam bahaya? Khun pikir gadis itu tidak akan dalam bahaya, karena bagaimanapun dia adalah seorang Irreguler, tapi melihat Y/N yang tidak muncul-muncul, membuat perasaannya sedikit khawatir.


"Hei, Putra V." Khun Edhan berbicara kepada Bam.


"Ya?"


"Ikuti aku. Aku akan mengajarkanmu cara ke 'babak selanjutnya'"


Lalu Khun melihat Bam menghampiri Khun Edahn, lalu data ayahnya itu membuat sebuah bola besar yang terbuat dari batu untuk menyembunyikan dirinya dan Bam. Melihat hal itu, bergegas Khun berdiri.


"Hei, kura-kura biru, mau pergi kemana kau?" tanya Rak heran.


"Aku tidak melihat Y/N dimana pun, ke mana dia?" Mereka yang ada di sana seolah baru menyadarinya dan melihat ke arah Khun.


"Apa kau khawatir dengan kura-kura pacarmu i- Aduh!"


Saat itu juga Khun memukul kepala Rak hingga menjerit kesakitan, "Jangan menyebutnya seperti itu, buaya idiot!"


"Siapa yang kau panggil idiot!"


"Kau, bodoh! Sudahlah, aku akan mencarinya." Khun berjalan meninggalkan mereka.


"Khun, apa kau perlu bantuan untuk mencarinya?" tanya Hansung Yu mendekati Khun.


"Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri." Dengan cepat, Khun meninggalkan mereka.


"Ckck ... Apa Khun sedang jatuh cinta?" Hansung Yu terkikik memikirkannya.


****


Y/N berada di kamar penginapannya sambil duduk di tepi ranjang , ia masih berharap tidak ada yang menyadarinya, matanya masih sembab dan mukanya masih sangat kacau. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya seperti ini, terutama Khun.


Y/N sengaja kembali ke penginapan dan tidak berkumpul dengan yang lainnya. Ia ingin menenangkan hatinya.


Kalau ia pikir kembali, ini baru pertama kalinya ia merasakan emosi kuat dalam membenci seseorang. Ah masuknya Khun di kehidupannya benar-benar merubah dirinya secara perlahan.


Suara ketukan dan pintu yang terbuka menyadarkan lamunan Y/N, lalu menoleh. Terlihat Khun yang berdiri di sana.


"Kenapa kau berada di sini? Latihan belum selesai."


Y/N memalingkan wajahnya yang kacau, dan ia merasakan pria itu mendekat lalu duduk di sebelahnya, dengan cepat tangan pria itu meraih dagunya membuat wajah Y/N menghadap menatap Khun.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau habis menangis? Kenapa?"


Pertanyaan itu membuat lidah Y/N kelu, tentu saja ia tidak bisa memberi tahu Khun bahwa ia menangis hanya karena cemburu.


"Apa kau akan terus diam? Apa kau tidak akan berbicara kepadaku?"


Pria itu menatap dirinya seolah khawatir. Apa benar pria itu khawatir kepadanya? Pemikiran itu membuat Y/N menggigit bibirnya. Lalu, tiba-tiba sebuah benda kenyal menempel di bibirnya membuat ia membeku. Khun hanya mengecup bibirnya dengan lembut, lalu melepaskannya.


Pria itu menghela napas dan berdiri, lalu mengusap lembut kepala Y/N, "Aku akan biarkan kau sendiri dulu. Cepatlah datang, yang lain akan khawatir!"

__ADS_1


Sebelum Y/N merespon, pria itu sudah pergi meninggalkan kamarnya. Y/N menyentuh bibirnya, apa ia sedang bermimpi? Ia tidak pernah melihat Khun bersikap selembut itu. Y/N menarik sudut bibirnya, hatinya merasa menghangat, ia berharap semoga itu benar-benar bukan mimpi.


****


__ADS_2