Limemine [AnimeXReader]

Limemine [AnimeXReader]
Before [Hatz]


__ADS_3

"Kau bahkan tidak akan bisa melampauinya! Kau anak tidak berguna!"


Itulah yang sering ia dengar dari kedua orang tuanya, perkataan yang sangat menyesakkan ketika di bandingkan dengan seseorang yang lebih hebat darinya dan tak bisa ia lampaui.


Y/N, di belakang rumahnya, ia berlatih dengan sangat keras dalam menggunakan pedang. Ia terus mengayunkan pedang di tangannya, meskipun malam sudah begitu larut dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.


Perkataan kedua orang tuanya yang bahkan tidak memperdulikannya dan hanya menginginkannya menjadi orang yang hebat dalam ekspetasi mereka. Amarah yang selalu terpendam di hatinya, hanya membuat ia begitu kesal dan semakin ingin menebas seseorang dengan pedangnya.


Y/N semakin mengayunkan pedangnya dengan kuat, air matanya menumpuk di pelupuk matanya dan siap jatuh. Dirinya sungguh tidak kuat dengan tekanan orang tuanya untuk melampaui pria itu.


Pria yang harus ia lampaui, pria yang jenius dalam berpedang, pria yang tidak terkalahkan. Hatz, itulah nama pria itu.


Y/N menancapkan pedangnya ke tanah dan terduduk dengan memegang pedangnya erat. Bahunya bergetar dengan napas yang tidak beraturan karena berlatih semenjak siang. Ia menangis meluapkan kekesalannya sambil menggigit bibir.


Tidak, ia tidak kesal kepada pria itu, bahkan ia tidak membenci Hatz. Tapi kesal karena dirinya yang begitu lemah, dan tidak bisa melampaui ekspetasi kedua orang tuanya, meski ia sudah berusaha sekuat yang ia bisa. Kesal, bahwa orang tuanya bahkan tidak melihat usahanya sedikitpun dan menghargainya. Kesal ketika orang tuanya tidak mendukung satu hal yang sangat ia sukai.


Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa seperti ada yang menahannya dan dadanya terasa begitu menyesakkan. Ia menangis meluapkan emosinya yang tertahan selama ini, hari sudah malam, tidak akan ada yang mendengarnya dan memperdulikannya. Ia hanya ingin meledakkan tekanan di hatinya dan membuatnya sedikit tenang.


Y/N mengusap air matanya, ia tidak boleh lupa dengan esok. Hari dimana ia dan pria itu akan kembali bertanding, juga menentukan nasibnya di keluarganya.


Yang tidak Y/N sadari, sepasang manik hitam memandanginya dengan dengan lembut.


****


Y/N memejamkan mata dan menghela napas, ia sudah berada di arena tempat mereka akan bertarung, dan Hatz yang berdiri di hadapannya dengan tenang. Seluruh keluarganya dan seluruh Klan akan melihat mereka bertarung dari tempat tinggi yang sudah di siapkan, sehingga tidak akan ada yang mengganggu pertarungan mereka.


Pria itu memakai baju khasnya dengan dua pedang di pinggangnya yang biasa digunakannya, dan Hatz mulai menarik salah satu pedangnya. Y/N juga, ia menarik pedang di pinggangnya dan memasang posisinya.


Yang membuat Y/N mengernyitkan dahinya ketika melihat pose berpedang Hatz terlihat buruk, berbeda dari biasanya yang tanpa celah untuk ia lawan. Ada apa dengan pria itu?


Ini adalah pertarungan resmi mereka, memang bukan pertarungan sampai mati, hanya sampai salah satu dari mereka menyerah, dan ini akan menentukan siapa yang terkuat di antara mereka juga menentukan nasib Y/N. Y/N yakin semua orang pasti sudah tahu siapa pemenangnya, tapi jika ia kalah lagi, maka ia tidak akan di akui lagi oleh keluarganya. Tidak, bukan klannya, tapi kedua orang tuanya tidak akan mengakuinya lagi.


"Baiklah, kita akan mulai pertandingan yang akan menentukan siapa yang terkuat." Itu adalah suara tegas dari ketua klan yang akan menjadi juri pertandingan mereka.


Y/N menggenggam pedangnya erat mengarahkan kepada Hatz, melakukan ancang-ancang untuk menyerang pria itu, dan ia menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara gong yang akan menjadi tanda pertarungan mereka di mulai.


DANG!


Mendengar itu, Y/N semakin mengeratkan pegangan pedangnya dan bersiap untuk berlari, tapi yang ia lihat, pria itu tidak bergeming sedikitpun dan hanya menunduk sambil memejamkan mata.


Tanpa peduli, Y/N berlari dengan kecepatan penuh, membuat suara pedang dan tatapan mereka beradu ketika Hatz menahannya, tapi kemudian Y/N mendominasi pertandingan, seolah pria itu tidak serius melawan dirinya.


Y/N berputar, dan tanpa menyia-nyiakan ketika ia melihat celah besar di pertahanan Hatz, membuat pria itu terjatuh dengan ujung pedang Y/N yang siap menghunus leher pria berambut hitam itu.


"Aku menyerah!" Hatz mengangkat kedua tangannya, dan tatapan mereka saling beradu. Tapi tatapan Y/N yang Hatz lihat adalah tatapan kecewa, tatapan sendu yang terlihat sedih.


"Pertarungan selesai! Pertarungan ini dimenangkan oleh Y/N!"


"Tidak mungkin! Hatz kalah dengan Y/N?!"

__ADS_1


"Mustahil Y/N mengalahkannya!"


"Y/N hebat!"


Mendengar hal itu, dengan napas yang memburu, Y/N berpaling dan segera pergi meninggalkan arena. Ia benci, pria itu sengaja mengalah kepadanya.


"Y/N!"


Y/N tidak memperdulikan orang yang memanggil dirinya, ia terus berjalan. Dirinya terasa begitu serba salah, rasa bingung antara harus senang atau kesal menyatu dalam hatinya.


Sial!


****


Seorang pria berambut hitam berjalan dengan manik hitamnya yang memandangi setiap tempat yang ia lewati, seolah mencari sesuatu.


Perasaan Hatz begitu khawatir dengan gadis yang bertarung dengannya tadi. Y/N menghilang setelah pertarungan dan menatapnya dengan sedih. Dirinya juga merasa bersalah kepada gadis itu, mengalah di pertarungan tanpa mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia tahu apa yang akan terjadi dengan sahabat masa kecilnya itu ketika dia kalah bertarung dengannya, ditambah malam sebelum pertarungan ia melihat Y/N berlatih begitu keras hingga larut malam, sehingga ia tidak menginginkan gadis itu sedih, tapi ternyata tindakannya semakin membuat sedih Y/N.


Kemana gadis itu? Apa yang akan di lakukan Y/N ketika sendirian. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, membuat Hatz terdiam. Lalu dengan cepat ia berbalik dan berlari, meninggalkan arena mereka bertarung melewati rumah-rumah anggota klan, untuk memasuki hutan.


Apa gadis itu akan ada di sana? Apa Y/N tidak lupa dengan tempat mereka bermain dahulu?


Hatz berlari dengan kencang,  membuat suara gemerisik rumput dan daun ketika beradu dengan angin. Ia mengehentikan larinya ketika sebentar lagi ia akan sampai dengan tujuannya untuk mengatur napasnya.


Sayup-sayup, ia mendengar senandung lembut yang merdu di telinganya. Suara yang sangat ia kenal, membuat dirinya sedikit bernapas dengan lega. Suara yang sangat ia sukai sejak dulu, suara yang menenangkan hatinya dan tanpa sadar membuatnya tersenyum.


Ia berjalan dengan pelan, dan berhenti di sebuah pohon besar dengan kayu berbentuk balok menempel di batangnya untuk menjadi sebuah tangga. Tangga untuk menuju ke rumah pohon di atas sana dengan suara sang gadis yang semakin terdengar.


Di sana, terlihat Y/N yang tengah duduk bersenandung sambil tersenyum sedang melukis. Gadis itu seolah menikmati kegiatannya dan begitu fokus. Sudah sangat lama Hatz tidak melihat ekspresi Y/N yang seperti itu. Wajah yang begitu tenang dalam menikmati sesuatu, dan bukan dalam paksaan. Ia sangat menyukainya, membuatnya tanpa sadar tersenyum dan menatap gadis itu dengan lembut.


Hingga senandungan itu berhenti dan Y/N menoleh ke arahnya. Gadis itu mengeryit seolah tidak suka ia berada di sini.


"Kenapa kau di sini?" Y/N menyimpan alat lukisnya di meja dekatnya lalu berbalik menatap tajam Hatz.


Pertanyaan itu membuat Hatz tersadar dan berdehem menetralkan ekspresinya.


"Aku minta maaf, Y/N."


"Kau tidak perlu minta maaf. Pergilah!"


Hatz menatap wajah Y/N, dan ia mulai berjalan mendekati gadis itu.


"Sudah kubilang, pergilah!"


"Aku menyukaimu, Y/N!"


Mendengar ucapan itu, Y/N membeku dengan Hatz yang sudah berdiri di hadapannya. Lalu pria itu berlutut, dengan Y/N yang menunduk membuat wajah mereka berhadapan.


"Aku menyukaimu ... Aku tahu apa yang akan terjadi kepadamu ketika kau kalah, dan aku tidak ingin melihatmu sedih, sedangkan kau sangat menyayangi orang tuamu!"

__ADS_1


Tangan Y/N mengepal dan tatapan mereka beradu, "Tapi kau sengaja mengalah kepadaku, kau seolah meremehkan kemampuanku, Hatz!"


Hatz menggenggam tangan Y/N yang mengepal, "Aku tidak meremehkanmu. Aku sangat tahu kau berusaha begitu keras, lebih dari siapapun. Kau bahkan berlatih hingga larut malam."


"Lalu kenapa kau tidak mengeluarkan seluruh kemampuanmu untuk melawanku?!" Mata Y/N memanas, dadanya terasa bergejolak, membuat ia mengeratkan genggaman tangan Hatz. Ia merasa kecewa dan sedih, juga bingung harus apa setelah ini.


Hatz menatap Y/N dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Y/N ... Tanpa pikir panjang aku melakukan tindakan yang menyakiti dirimu."


Sungguh. Hatz merasa dirinya begitu bodoh, ia kira Y/N akan senang bahwa dia akan menang tanpa harus bertarung, tapi ternyata dugaannya salah. Gadis itu kecewa kepadanya.


"Aku hanya ingin berguna untuk orang tuaku!" Y/N memejamkan mata membuat air matanya jatuh. Ia menunduk dan menggenggam tangan Hatz dengan begitu erat.


"Aku menyayangi mereka dan berusaha untuk sesuai dengan ekspektasi, tapi bahkan mereka tidak menghargai usahaku sedikitpun!" Bahunya bergetar, dan Y/N menggigit bibirnya menahan rasa yang begitu menyesakkan di dadanya, genggaman di tangannya lepas membuat ia mengepalkan tangan.


Lalu tiba-tiba kepalanya di tarik dengan lembut, Hatz memeluk dirinya dan mengusap rambut Y/N dengan lembut.


"Menangis lah! Kau tak perlu memaksakan dirimu!"


Mendengar itu, membuat Y/N semakin menggigit bibir dan menenggelamkan wajahnya di dada Hatz, tangannya meremas baju di pinggang pria itu.


"Aku menyukaimu ... Aku menyukaimu yang berusaha dengan begitu keras." Hatz bisa merasakan basah di dadanya dan bahu yang gemetar di dekapannya.


"Aku menyukaimu ketika kau sangat menikmati saat melukis dan bersenandung. Kau hanya perlu melakukan hal yang kau sukai, Y/N. Jangan pedulikan siapapun yang membuat dirimu jatuh."


Y/N merasa bebannya seolah terangkat mendengar ucapan Hatz, hatinya terasa tenang membuat ia berhenti menangis dan hanya menyisakan isakan kecil.


Merasa Y/N mulai tenang, Hatz melonggarkan pelukannya dan menunduk menatap wajah gadisnya. Mata yang sembab, hidung yang merah, dan sesekali isakan keluar dari bibirnya, masih belum bisa menghentikan tangisnya sepenuhnya. Y/N sungguh manis.


Tangan Hatz terulur ke pipi gadis itu dan mengusap sisa air mata di sana, membuat Y/N memejamkan merasakan sentuhan lembut Hatz.


"Terima kasih, Hatz."


"Y/N?"


Y/N membuka matanya dan mendongak, membuat manik gelap mereka saling menatap. Tatapan Hatz yang lembut dengan sedikit senyuman.


"Ayo kita menaiki menara bersama suatu saat nanti, Y/N. Kita akan menjadi kuat dan kita akan terus bersama."


Mendengar ucapan itu, Y/N menggeleng pelan dan tersenyum.


"Tidak, Hatz. Aku akan tetap di sini, aku akan menjadi pelindung klan kita hingga kau kembali menjadi ranker yang hebat suatu saat nanti. Dan terima kasih, karena tindakanmu juga, aku tidak akan dibuang oleh orang tuaku."


"Lalu apakah kita akan berpisah ketika aku akan dipilih menjadi regular untuk menaiki menara?"


Tatapan Y/N berubah sedikit sendu dan ia kembali memeluk perut Hatz. "Ya, aku harap kau tidak melupakanku saat menaiki menara nanti."


Hatz mengusap rambut hitam sebahu Y/N. dengan lembut, "Aku harap kau selalu bahagia, Y/N. Hingga aku kembali dan menikahimu."


"Aku akan menunggumu, Hatz!"

__ADS_1


****


__ADS_2