Liontin

Liontin
Rumah Nenek Ais


__ADS_3

Daniella bangun pagi pagi dan mempersiapkan segala sesuatu , hari ini ia belum ada kelas mata kuliahnya karena Minggu depan baru akan masuk .


Hari ini Ella akan membantu bibi Odah dan ibu ibu lainnya untuk mempersiapkan selamatan neneknya itu. Selain itu akan mengantar paketan pesanan yg tertunda


" neng Ella , mau kuliah ya...kalau mau kuliah dulu juga ngga papa " ,


Mpok Sarni yg sudah datang bersama bibi Odah sudah mulai memasak pagi hari ini , mereka suka rela untuk membantu Ella.


" engga bi , kan baru membereskan adminitrasi dan perkenalan kemarin , besok Senin baru masuk kuliah "


" Alhamdulillah , lho bukannya pakai beasiswa to nduk " mbak Sri adik ipar dari Mpok Sarni ikut menimpali , ia ngontrak Deket rumah bersebelahan dengan Mpok Sarni, maklum meski orang asli sini mereka lebih baik ngontrak dari pada jadi satu orang tua atau mertua yg kadang malah riweh fan ribet.


" ya memang beasiswa, tapi kalo pendaftaran sama lain lainnya Yo masih pakai uang sendiri , nanti kalau udah kuliah baru biaya biaya itu yg masuk beasiswa " Ella mencoba memberi pengertian kepada mbak Sri yg mempertanyakan adminitrasi kuliahnya.


" kecuali uang pendaftaran , memang engga pake mbak , kalo ngurus photo copy sama pas photo kan harus biaya sendiri "


" lha iya itu , kalo yg kaya gitu Yo tetep biaya sendiri , emang jauh tempat kuliahnya La "


" di Jakbar mbak , lumayan kalo naik motor , pinggang bisa encok kalau tiap hari , kalau naik kereta makan waktu , ngga bisa sambil dagang lagi " keluh kesah Ella kepada ibu ibu .


" nyari ilmu ya begitu neng...harus berkorban " Mpok Odah yg sedang memotong kentang pun ikut menimpali.


Di dapur tempat nenek itu mereka asik mengobrol, hingga kesedihan yg dirasakan Ella sedikit berkurang dan terhibur.


" neng Ella didepan ada yg nyariin tuh , cowok ganteng....."


Mbak Watik yg baru masuk sehabis dari warung untuk belanja kekurangan bumbu memberi tahu jika ada tamu.


" orang kurir tukang paket bilangnya cowok ganteng , makanya nikah tik Watik..." Seloroh Mpok Odah yg tahu jika didepan ada orang nyari Daniella mau ambil paketan dan itu sudah hampir tiap hari kecuali hari kemarin karena suasana berduka.


" belum ada yg pas Mpok...pinginnya dapet CEO atau bos besar gitu....kaya di novel novel gitu Mpok..."


Wati tidak mau kalah karena sering dibilang perawan tua , walaupun belum tua , karena wajah keibuan tapi kelakuannya kekanak Kanakan.


" Halah...dapat kaya gitu nunggu beling busuk mbak ? ".


Mbak Sri yg dari tadi diem ikut menimpali selorohan Watik.


Watik hanya cengar cengir , dan anggap angin lalu , karena memang setiap harinya begitu kalau sore hari sambil ngerumpi .


Di tempat nenek Daniella rata rata kontrakan , jadi tidak kaget kalau setiap harinya akan seperti itu. Ibu ibu suka gosip sana sini.


Hanya rumah nenek Ais yg tidak dikontrakkan , karena rumahnya yg sederhana , tidak kecil dan tidak terlalu besar , masih sisa halam rumahnya yg sering untuk menanam bunga bunga oleh nenek Ais.


***


" Itu semua berapa biayanya mas ?" Tanya Ella kepada kurir paket yg menjemput paketan yg mau dikirim Ella.


" 215 ribu mbak , banyak banget soalnya , tadi sudah saya hitung ulang , biaya untuk pengiriman yg jauh sudah saya pisah sama yg dekat , jadi sekitar segitu..."


Kurir itu sambil mengulang hitungannya , kemarin libur jadi hari ini banyak banget.


" tak bawain 250 ya mas , kurang atau lebihnya besok aja gapapa , kan tiap harinya mas Adit yg ambil..."


" Ok siap mbak..."


Kemudian Adit memasukkan paketan itu ke dalam box motornya , selain box ia juga membawa karung berisi paketan yg lain.


" makasih ya mas "

__ADS_1


" sama sama , saya langsung ya mbak , assalamualaikum"


" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"


Ella kemudian masuk lagi menuju ke dapur tempat ibu ibu yg memasak.


" kalau mau kenduri pas ini Mateng aja ya , jadi ntar siang sama sore buat acara malam saja , biar satu satu beres , bagaimana neng Ella ?" Mpok Odah mencoba nego waktu untuk kenduri di pagi hari sekitar pukul 10an pagi , biar kalau sore ngga bentrok untuk persiapannya.


" Yo alangkah baiknya begitu Mpok "


Mbak Sri menimpali ucapan Mpok Odah yg bertanya kepada Ella.


" alangkah baiknya bagaimana , semua saya serahkan bibi Odah dan yg lainnya , saya ngikut aja bi..."


Ella mencoba memahami maksud dari Mpok Odah , yg akhirnya semua setuju untuk usulan itu .


***


Sore harinya Ella bersiap sholat Maghrib, karena setelah itu akan bersiap siap untuk acara ngaji , mendoakan almarhumah nenek Ais.


Ella mencoba bertawakal dengan semua ujian ini , mungkin esok lebih baik. Harapannya dan rasa berserah diri ketika sedang memanjatkan doanya kepada sang pencipta.


Begitupun hari berikutnya ketika 3 hari meninggalnya sang nenek , masih acara ada acara ngaji dan mendoakan neneknya.


Sehingga 3 hari berturut turut , Ella dan ibu ibu sekitarnya bahu membahu untuk mempersiapkan semuanya.


Setelah acara 3 hari selesai Mpok Odah membereskan segala sesuatu yg masih tersisa. Baik perlengkapan masak atau lain lainya.


Suaminya Mpok Odah membantu bagian depan , membereskan tenda dan kursi pinjaman yg dipakai kemarin hingga malam nanti.


" BI.. , masih ada hutang warung atau ngga , kan kalau acara seperti ini biasanya pinjam warung dulu .."


" ada beberapa , coba ntar bibi tanyain , baiknya pakai uang yg dari orang takziah aja neng , karena itu untuk nenekmu "


" tapi kalau kurang kasih tahu saya ya bi.. , bagaimanapun juga itu tanggung jawab saya "


Ella mencoba memberikan tawaran itu , karena merasa tak enak hati jika semuanya Mpok Odah yg membereskannya , bahkan sampai hutang neneknya kemarin di warung telah dibayar Mpok Odah karena nenek Ais sudah meninggal.


" iya neng , tenang aja...saya juga utang Budi sama Nenek Ais juga Kakek Parta , coba kalau tak ada mereka , belum tentu saya sama Abang berada disini neng "


Mata Mpok Odah mengembun mengingat kejadian beberapa tahun silam . Ia dan suaminya kena jambret ketika mau membawa anaknya ke puskesmas. Kakek Parta saat itu masih sehat dan segar , apalagi dia dijuluki jawara di kampung ini .


Sempat menolong Mpok Odah dan membawa anaknya ke puskesmas , sehingga anaknya yg muntaber bisa tertolong , uang serta kalung yg mau dijual bisa kembali dari jambret itu.


" udah bi , jangan di ingat lagi , semua sudah ada jalannya "


Ella mencoba menghibur , Mpok Odah yg teringat kejadian waktu lampau.


Mpok Odah hanya mengangguk angguk , tapi air matanya pun luluh mengalir ke pipinya.


Wanita berkerudung itu menyeka air matanya dan kemudian memeluk Ella.


" bibi , boleh Ella menitip sesuatu jika Ella kuliah nanti "


Ella mencoba mengalihkan obrolannya ketika Mpok Odah mulai sesenggukan .


" tolong apa neng ?" Sambil menyeka air matanya , Mpok Odah mencoba mengerti dan mendengarkan permintaan Ella.


" Ella mau kuliah , mohon doanya , sama Ella nitip rumah nenek , Ella mau kos Deket tempat kuliah , kalau balik kesini jauh soalnya , mau ya bi ?"

__ADS_1


" Oalah neng , tentu bibi doain biar sukses jadi orang nantinya , kalo masalah rumah ntar ada laki bibi , sama Deni biar bantu , tapi ini tetep punya neng Ella, bibi hanya menjaga , tidak lebih , tanpa neng minta bibi tetep akan jaga ni rumah , walaupun ngga ada orangnya "


" Makasih Bi ..."


Ella memeluk Mpok Odah haru , alangkah bahagianya jika ini adalah saudara kandungnya , tp ini orang lain yg sudah dianggap saudara sendiri.


" nyak , bagi duit buat beli pulsa.." Deni anaknya Mpok Odah tiba tiba masuk dan menengadahkan tangannya ke arah Mpok Odah.


" kagak , lu tuh ya...game terus , war waran terus , kagak , nyak kagak bawa duit "


Mpok Odah sempet emosi kalau sudah melihat anaknya sering main game , bukannya belajar malah game terus.


" buat apaan Deni..?"


Ella mencoba bertanya , pagi ini baru mau berangkat sekolah , Ella yg sudah terbangun dari jam 4 pagi sudah beberes bersama Mpok Saodah.


" Buat beli pulsa kak , disekolah suruh bawa hp buat ngerjain tugas "


" nih..." Uang warna biru diterima Deni dari Ella, Deni kemudian mencium uang tersebut


" wangi , makasih kak Ella"


" eh...eh...eh...jangan dikasih cuman buat game Mulu tuh " sambil tangannya met enteng dan masih memegang sodet buat dibersihkan .


" Salim dulu nyak yg cantik tapi pelit "


Deni mencium punggung tangan Mpok Odah dan Ella bergantian .


" Assalamualaikum"


Lalu keluar untuk berangkat sekolah .


" jangan dibiasakan neng Ella "


" ga papa Bi.. ngga tiap hari ini "


Kemudian mereka melanjutkan beberes rumah. Tak lama kemudian Mbak Watik dan yg lainnya datang membantu mereka.


" Bi... kalau sehabis 7 hari nanti , kalau bahan yg ada ini masih sisa dibagiin aja ya pok , banyak banget soalnya "


Ella memperhatikan belanjaan dan sebagian banyak yg dibawa orang yg takziah berupa kebutuhan dapur itu terkumpul di balai ruang tengah.


" beres mbak Ella "


Seloroh Mbak Watik selalu duluan kalau masalah bagi bagi.


" ya udah , ntar aja kalau 7 hari sudah selesai , kalo nunggu 40 hari takutnya udah ngga enak dan sebagian basi "


Mpok Odah pun setuju usulan itu.


Sehingga hari itu untuk kegiatan bersih bersih dan beberes rumah.


Hingga tak terasa hari pun beranjak sore.


Berganti malam , menyambut esok pagi.


Semoga bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2