Liontin

Liontin
Cari Kerja ( Deni Wiratmaja)


__ADS_3

Akhirnya mereka menuju meja makan tampak menu lengkap , bahkan dimeja itu ada nasi goreng . pak Fajar yg tidak biasa makan malam menemui nasi goreng jadi bertanya tanya , karena makanan itu adalah makanan kesukaannya.


" lho tumben bi , ini bikin nasi goreng malam malam ? " tanya pak Fajar ke bibi Maya yg menghidangkan kerupuk udang di meja makan.


" itu yg bikin no Sheila dan neng Ella tuan " bibi Maya menjawab apa adanya , karena tadi hanya mengikuti kemauan dari nona mudanya dan temannya itu.


" kalian berdua yg bikin " tanya Pak Fajar terhadap Ella dan Sheila , Ella hanya tersenyum .


" iya pa cobain deh kalau ga enak jangan dimakan , itu belajar dari non..eh Ella" kata Sheila gugup mau menyebut Ella hampir keceplosan , Ella hanya melotot akan perkataan itu.


" enak pah..." kata mama Dita yg ternyata sudah mencicipi


Pak Fajar pun tak sabar mencicipi nasi goreng itu sambil manggut manggut , kemudian ambil centong dan menambah lagi .


" dih...papa...jangan dihabisin ..!" Sheila protes karena papanya ambilnya melebihi porsi .


Semua yg ada di meja makan tertawa atas kelakuan bapak dan anak itu.


Setelah acara makan malam bersama mereka ngobrol diruang tengah , semuanya berkumpul termasuk Alden.


" Terima kasih nak Ella, berkat nak Ella Sheila sekarang banyak perubahan , dan bisa mandiri sepertinya " mama Dita sambil tersenyum melihat perubahan anaknya itu.


" saya yg terima kasih Tante , dengan adanya Sheila, saya jadi terhibur dan tidak kesepian " Ella menjawab apa adanya karena memang waktu itu masa terpuruk bagi dirinya. Sehingga harus mengorbankan Sheila sebagai penghiburan tersendiri.


Sementara papa Fajar dan mama Dita yg mendengarkan tampak mengerutkan dahinya. Karena ucapan Ella itu.


" lho kok bisa seperti itu " mama Dita penasaran jadinya.


" begini ma... Ella itu , pas ketemu Sheila itu tinggal sama neneknya , neneknya meninggal , dan katanya masih punya ayah , giliran ketemu ayahnya , ayahnya juga meninggal " kata Sheila ikut sedih , mama Dita mendatangi Ella dan memeluknya dengan sayang.


" turut berduka ya , dan yg sabar , terus sekarang sama siapa ?" sehabis memeluk kemudian memandang dan menelisik wajah berkacamata itu secara intens.


" sendiri Tante " kata Ella menunduk


" sanak saudara ...? " mama Dita melanjutkan bertanya yg lain dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Ella.


" tenang mah , dia orangnya tegar , bahkan mengajari Sheila jualan online...UPS"


" iss...ngga sopan " mama Dita ketularan anaknya juga .


" ya udah Sekarang disini saja ya , biar tambah rame , anggap Tante mama kamu juga boleh , om kamu anggap papa kamu juga boleh , ya kan pah !" mama Dita menawarkan diri untuk itu , dan dijawab anggukan oleh Papa Surya


Mereka asik bercerita diruang tengah itu , bahkan Sheila yg usahanya saat ini sudah mulai besar dan kewalahan disarankan untuk membeli ruko , dan akan di biayai oleh papanya , namun Sheila menolak karena belum terpikirkan kesana , hingga satu persatu meninggalkan tempat itu untuk beristirahat.

__ADS_1


Pagi harinya Ella dan Sheila pamit untuk kembali ke kontrakannya lebih dulu sebelum berangkat kuliah nanti karena ada beberapa yg akan dikerjakan oleh Sheila dan Ella.


Tinggal papa Surya, mama Dita dan Alden yg ada di meja makan. Untuk sarapan bersama.


" Alden , usia kamu kan sudah 28 lebih kenapa ngga kamu pacari aja itu si Ella , walaupun sederhana , ia ramah dan cekatan , mama merasa cocok dengan dia , bahkan bisa mendidik adaik.kamu itu " kata mama Dita yg sudah pingin menimang cucu dari Alden


Alden saat ini hanya diam saja , karena sudah sejak lama orang tuanya memintanya untuk menikah , akan tetapi Alden masih fokus sama tugas dari tuannya itu.


" benar kata mamamu Alden , papa juga setuju jika kamu sama Ella " papa Fajar antusias karena dari kemarin yg hingga pagi ini , Ella menunjukkan hormat dan sopan terhadap orang tua.


" akan Alden pertimbangkan ma pa ...." Kata Alden men jeda kalimatnya itu hingga.


" jika Alden masuk kriteria darinya ...."


Papa mama Alden tampak gembira mendengar jawaban dari Alden.


" tapi....itu tidak mungkin terjadi " wajah gembira papa mamanya langsung surut karena pernyataan Alden itu.


" lho kenapa....? " mamanya penasaran kenapa tidak mungkin terjadi.


" Alden...merasa tidak pantas bersanding dengannya...." kedua orang tua itu saling pandang dan bertanya tanya mengenai "tidak pantasnya" Alden terhadap Ella.


" karena apa....?"


" Dia nona muda Anderson , nona Daniella Liontin Brian Anderson Yairs, pewaris Anderson Corp. Yg Alden pimpin saat ini "


Kedua orang tua Alden terbelalak mendengar keterangan dari Alden saat ini , bahkan tangannya bergetar dan masih harus meyakinkan keterangan itu.


" be...benarkah ?" mama Dita memastikan anggukan dari Alden, yg semakin yakin bahwa yg dikatakan Alden adalah benar adanya.


Papanya masih syok mendengar hal itu , dan seakan masih tidak percaya , bahkan dulu ketika Tuan Brian masih menjalankan bisnisnya , Dia tidak segan segan jika ada musuh yg mengusik . Hingga Tuan Brian kecolongan ketika menjadi korban dari musuhnya.


" makanya pa ma , ketika Sheila bersama dengan nona Anderson , pengawasan papa langsung Alden ambil alih , sebab jika ada orang yg tahu mengawasi mereka , bisa jadi keluarga ini tidak utuh lagi.. Beruntung Nona Ella mau bekerja sama mengawasi Sheila, dan kejadian kemarin murni , nona Ella yg mengendalikan , juga tentang tadi malam dengan om Farid "


Papa Fajar termangu mendengar penjelasan dari Alden itu.


" jadi tadi malam bisa begitu karena non Ella ? " papa Fajar bertanya dan diangguki oleh Alden .


Mereka bercerita tentang keseharian Ella dan saat ini bersama dengan Sheila. Dan papa mama Alden memaklumi semuanya itu karena keinginan Sheila anaknya didukung oleh nona Anderson.


******


Sementara itu Deni Wiratmaja , yg berencana pindah ke kota J . Saat ini sudah berada di kota ini , untuk mencari tempat tinggal nantinya . Setelah beberapa waktu mencari rumah yang tepat , akhirnya ia lebih memilih area perkampungan dipinggir kota namun tidak jauh dari jalan raya dan yg penting nyaman buat keluarga. Deni mencoba beberapa hari menginap dan mencoba peruntungan mencari peruntungan di kota ini. Namun karena usianya yg sudah terlanjur berkepala 4 dan hampir berkepala 5 akhirnya dia susah untuk menemukan pekerjaan.

__ADS_1


Karena Wira Wiri nya naik kendaraan umum dan tentu menghabiskan biaya ia memilih jalan kaki di sekitar tempat tinggal yg baru itu.


Dering ponselnya bergetar dan dilihatnya ternyata dari sang istri kemudian ia mengangkat ponselnya itu .


Setelah beberapa saat ia berbicara dengan istrinya lewat telepon , Deni istirahat dahulu sambil ngopi di warkop sekedar melepas lelah.


" ini om pesanannya " kata penjual kopi sambil memperhatikan wajah lelah Deni yg sudah berumur itu.


" makasih bang " Deni mengambil kopinya dan menikmatinya sejenak.


" kalau sudah tua begini nyari kerja disini susah ya bang !" kata Deni membuka perkataannya.


" iya om , susah kecuali punya orang dalam " penjual kopi itu menjawab apa adanya.


" atau kalau om punya keahlian ya mending digunakan disini mah " lanjut penjual kopi itu menikmati kepulan asap rokok.


" keahlian apa kalau sudah tua begini bang " Deni terkekeh dan menikmati kembali kopinya.


" ya keahlian mah ga harus yg muluk muluk om , sekedar bisa benerin motor atau mobil juga keahlian , lha yg cuman bisa menambal ban aja juga keahlian om ..." penjual kopi itu masih menikmati rokoknya sambil berbicara.


sementara Deni mencerna perkataan dari penjual kopi itu memang benar adanya.


" kalau ada modal dikit mah mainin aja om , sewa ruko atau kios , pelan pelan aja " penjual kopi masih bicara terus seakan mau didengar atau ngga dia bodo amat.


" disebelah situ om , ada ruko disewakan siapa tahu berminat , orangnya enak diajak ngobrol , tawar aja siapa tahu rejeki om disitu " pemilik warung itu memberikan pendapat dan siapa tahu Deni ini berminat.


Deni masih diam saja sambil berfikir akan perkataan dari penjual kopi itu.


" emang om tinggal dimana ? " fix penjual kopi ini cerewet batin Deni tapi benar adanya.


" di kampung belakang sini bang , Deket dari sini " jawab Deni singkat padat jelas.


" nah kan Deket kalau sewa ruko itu om , ngga jauh jauh mencari rejeki kalau om minat buka bengkel mobil atau motor , sekalian jual sparepart kan lumayan om "


'coba ye kalau gue kenal nih orang udah gue becek nih Mulut' batin Deni ketika mendengar penjelasan penjual kopi itu.


" ada nomor teleponnya ngga bang siapa tahu minat ?" Deni coba mengakhiri pembicaraan dengan penjual kopi itu.


" ada ada bentar....nih ntar bilang ke yg nomor itu jika dikasih tahu sama penjual kopi bawah tower gitu om , biar kita dapat persenan"


'pantes aja cerewetnya minta ampun, ngga tahunya nyari persenan juga ternyata' dongkol dalam hati Deni


" baik saya catat ya " Deni mencatat nomor telepon itu , memang siapa tahu dirinya sendiri atau istrinya nanti yg butuh untuk memakai ruko itu dan disewa.

__ADS_1


__ADS_2