LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 1


__ADS_3

Jangan datang ke sekolah pada malam bulan purnama. Atau, kamu tak akan pernah bisa pulang



SEUMUR hidup, aku belum pernah menghadiri acara pemakaman. Tapi nyaris setiap malam, setidaknya satu kali aku bermimpi tengah berdiri di antara gundukan tanah bertanda nisan diiringi tangis kehilangan. Mimpi itu datang pertama kali seminggu sebelum kunjungan wisata SMP-ku ke Taman Hutan Raya Djuanda.



Mimpi tersebut selalu memperlihatkan peristiwa yang sama. Bulan membulat gagah di tengah pekatnya malam. Cahaya peraknya menyinari nisan hingga tampak olehku bayangan tanda nama kematian itu, memanjang dan bersentuhan satu sama lain. Lolongan serigala terdengar melengking. Seperti biola pengiring tangis orang-orang berpakaian hitam yang dalam sekejap hilang meninggalkanku seorang diri bersama jasad yang baru saja dikebumikan.


__ADS_1


Lalu binatang malam yang semula hanya kudengar suaranya itu muncul bergerombol dari kegelapan rimbunan pohon di tepi area pemakaman. Mata mereka bersinar kemerahan, tajam menghunus ke arahku. Taring runcing mencuat dari mulut berliur mereka yang terbuka. Bulu halus nan lebat itu mungkin akan menjadi daya pikat seandainya mereka bukan predator buas tak berjiwa.



Warna merah menyala dari mata para predator itu, memenuhi kegelapan tak berujung di wilayah pinggir pemakaman, menunjukkan rupa menakutkan. Aku mundur teratur. Kakiku yang tanpa alas terasa dingin begitu menapaki tanah becek menuju pintu keluar. Hebatnya, kecepatanku tak berkurang meski kakiku menginjak ranting dan kerikil tajam. Aku harus segera pergi ke mana pun itu. Tanpa menoleh aku tahu para binatang pemangsa itu bergerak cepat mengejarku. Semakin kuat aku mengayun langkah, semakin besar ketakutan melandaku. Sampai akhirnya, langkahku dipertemukan dengan gerbang kokoh bercat hitam yang sedikit terbuka.



Sementara serigala-serigala pengejarku bergerak makin dekat, kugeser gerbang tersebut. Aku langsung masuk, kemudian menutupnya tepat ketika satu serigala melompat, hampir menerkamku. Para predator itu menggeram marah, mengguncang dan menjulurkan kepalanya ke dalam pagar.


__ADS_1



Mimpi mengerikan itu tak kunjung padam, entah siang atau malam. Setiap kali memejamkan mata, aku selalu memimpikan peristiwa serupa. Sampai kemudian, pada hari kunjungan wisata SMP-ku ke Taman Hutan Raya Djuanda, berkat kenekatanku bersama teman-temanku , mimpi itu berakhir bersama hilangnya nyawa sahabatku, Tesa.



Tesa meninggal. Sedang aku koma akibat luka cukup serius di kepala. Semua itu akibat ulah jail kami yang mencoba-coba melanggar pantangan kata di Taman Hutan Raya Djuanda. Dokter hampir menyerah pada keadaanku. Akan tetapi takdir berkehendak lain. Aku terbangun dari koma setelah lebih dari sebulan.



Sejak kejadian itu, mimpi tentang serigala sepenuhnya hilang. Namun, mata batinku terbuka. Setiap hari aku disuguhi pemandangan mengerikan yang tampak nyata, bahkan ketika mataku terbuka lebar-lebar.

__ADS_1



Aku bisa melihat mereka yang tak tampak di mata orang kebanyakan. Itu rahasiaku. Jangan katakan pada siapa pun. []


__ADS_2