LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 8


__ADS_3

AKU bergegas menemui Ken di kelasnya. Sebaiknya mendengar langsung penjelasan tentang pertemuannya dengan Kinan darinya. Sayangnya cowok itu tak ada di sana. Bel melengking tiga kali tanda upacara Senin pagi telanjur membuat suasana riuh. Semua murid berhamburan berjalan satu arah di koridor menuju lapangan.



Sambil merapatkan diri ke pintu kelas Ken, aku mengamati satu per satu wajah, berharap salah satunya adalah si most wanted narsis itu. Namun nihil. Mungkin cowok itu sudah lebih dulu turun ke lapangan, mengingat perannya sebagai ketua kelas yang tak pernah lengser sejak kelas X.



Aku mengembuskan napas lelah, merasa bodoh karena terlalu hafal kebiasaan cowok yang sebenarnya tak kukenal itu. Kami belum pernah saling menyapa. Dia bahkan mungkin tak pernah tahu ada murid bernama Serena di sekolah ini. Baru saja aku hendak menggabungkan diri dengan barisan siswa-siswa yang berlarian tergesa karena terlambat, ekor mataku menangkap sosok Nona San melambai-lambai dari ujung koridor gelap. Hantu itu memanggilku.



Saat yakin tak ada guru yang melihat, aku mengendap-endap meng- hampiri hantu berkimono itu. Dia nyengir lebar saat kupandang heran. Wajahnya yang sepucat kertas, begitu kontras dengan mata sipitnya yang tinggal segaris ketika tersenyum. Aku dan Nona San jadi berteman sejak insiden yang melibatkannya kelas X dulu. Dia menjadi salah satu hantu sekolah ini yang sering kumintai bantuan.



“Ada apa, Nona San?”



Wajah pucat Nona San tampak cemas. Dia menggerakkan telunjuk, memintaku mengikutinya. Hantu itu terbang menyusuri koridor. Sementara aku masih di pojok, sejenak memastikan keadaan, kemudian berjalan merunduk di balik dinding pembatas lantai untuk mengikutinya.



Aku heran melihat Nona San berhenti di kelas paling ujung, kelas Ken yang baru kutinggalkan. Dia menembus pintu, kemudian membukakannya sedikit untukku yang berjalan merangkak. Setelah tiba di dalam kelas, barulah aku bisa bernapas lega. Aku mendapati Nona San sudah duduk manis di atas meja ketiga dari depan pada baris kedua dekat pintu. Dia melambaikan tangan, menyuruhku mendekat.



Hantu itu menunjuk meja yang didudukinya. Aku menaikkan alis, bingung, melongok ke meja yang ditunjukkannya. Untuk sesaat kami terdiam. Nona San ternyata tak menunjuk meja, melainkan ukiran tulisan di mejanya. Bentuknya tak teratur seperti diukir dengan ujung kuku.



“Ken?” tanyaku menyuarakan ukiran di sana.



Nona San mengangguk, wajahnya muram.



Aku mencoba mengonfirmasi, Kenapa ada nama Ken di sini? Namun segera mengangguk begitu sadar akan sesuatu. “Ini kan kelasnya Ken.”



Wajah Nona San yang pucat seakan geram ingin mengatakan sesuatu. Matanya memandang sekitar kelas, seperti mencari sesuatu, kemudian berhenti di jendela. Kenapa tak katakan saja apa yang dipikirkannya?! Biasanya dia bicara panjang-lebar.



Kuikuti arah pandang Nona San, lalu tertegun begitu sadar ada sosok lain di ruangan ini. Sosok gadis berambut cokelat sepunggung, duduk di deretan kursi ketiga paling ujung. Sosok yang jelas bukan manusia itu memalingkan wajah ke jendela sehingga tak tampak wajahnya olehku. Cahaya matahari pagi menguarkan sosok itu hingga menjadi semacam bayangan semu yang nyata tapi tak ada.



Nona San memandangku dengan kedua alis terangkat, kembali menunjuk ukiran nama Ken di meja. Aku menyimpulkan dengan ragu. “Yang nulis ini gadis itu?”



Nona San mengangguk dengan antusias.



“Kenapa dia nulis nama Ken di sini?” tanyaku bingung. Nona San mengangkat bahu.



Penasaran, aku kembali memandang sosok di dekat jendela itu. Melangkah perlahan mendekati demi melihat rupanya. Sosok itu berseragam, tapi bukan seragam sekolah ini. Roknya berwarna marun kotak-kotak, kerah kemeja putihnya mencuat dari balik jas biru dongkernya. Dia memakai dasi berwarna senada dengan rok. Dadaku berdegup kencang. Rasanya aku pernah melihat seragam seperti itu di suatu tempat, tapi tak yakin di mana.



Begitu aku tiba di samping meja yang ditempatinya, sosok itu memutar kepala memandangku. Mata bulatnya bergetar begitu bertemu dengan mataku yang terbelalak. Aku menggeleng linglung, berjalan mundur hingga akhirnya tertahan meja di belakangku.


__ADS_1


Paras cantik sosok itu, rambut panjang bergelombangnya yang kecokelatan, alis tebalnya yang membentuk lekukan indah—seluruhnya kukenal. Walaupun belum pernah bertemu langsung, bentuk mata yang tegas dan dalam itu serupa dengan milik Karen. Pantaslah mereka kembar. Sosok ini benar-benar versi perempuan dari sahabatku. Sosoknya serupa foto yang Karen kirimkan tempo hari. Juga seragam yang dikenakannya. Jika saja wajahnya tak sepucat kertas, aku pasti merasa begitu beruntung menemukannya.



Bibirku kelu, tak mampu menyebut namanya. Berkali-kali kukedipkan mata berharap apa yang kulihat ini halusinasi semata. Tapi sosok itu tak juga pergi, justru semakin jelas memandangku dengan tatapan sedih.



Aku enggan memercayai mataku. Kinan belum meninggal. Tak mungkin sosok ini adik Karen yang sedang kami cari. Hantu itu dapat membaca perang batinku. Hampir tanpa kentara, dia menggerakkan ujung bibirnya, memberiku senyum yang nyaris tanpa rasa. Keterkejutanku belum hilang. Dari matanya, sosok itu mengeluarkan air mata berwarna merah.



Tubuhku gemetar hebat. Air mata darah itu makin banyak, terus mengalir hingga seragam gadis itu berlumuran darah.



Aku memejamkan mata, lalu menjerit sekuat tenaga hingga akhirnya tubuhku tak sanggup menampung keterkejutan, sepenuhnya menyerahkan diri pada alam bawah sadar.



***



“KAREN telepon, katanya dia mau ke sini.”



Informasi itu memaksa otakku yang baru terjaga bekerja mencerna segalanya. Tante Risma mengelus lembut rambutku. Tubuhku se- penuhnya hangat oleh dekapan mesra selimut tebal. Dari jendela kamar kutahu di luar langit sudah gelap. Seingatku, hari masih pagi ketika aku datang ke sekolah dan menemukan bahwa Adriana Kinanti adalah nama lengkap adik Karen. Aku ke kelas Ken, mengikuti Nona San. Lalu … gadis yang duduk dekat jendela, tangisan darah. Otakku berhenti bekerja sampai sana. Kupejamkan mata sambil meredakan degup jantung.



Tangan hangat Tante Risma meraba keningku. “Demam kamu udah turun. Tadi kamu diantar pulang dalam keadaan pingsan sama Pak Wahyu, Vina, Yola juga. Kenapa tadi nggak bilang sama Tante kalau kamu nggak enak badan, Ser?”



Pak Wahyu itu wali kelasku. Aku tersenyum menenangkan kekhawatiran tanteku. “Serena cuma kecapean aja kok, Tan. Mungkin karena belakangan ini sibuk bantu Karen nyari adiknya. Nggak apa-apa kok.”




“Karen Tante suruh masuk aja, ya? Kamu kan lagi sakit.” Tante Risma memberi usul.



Kepalaku masih agak pusing. Aku bangkit duduk, lalu menggeleng pelan. “Nggak usah, Tan. Biasanya dia nggak mau mampir kalo udah malem gini. Jam berapa sekarang?”



“Hampir jam delapan. Kamu mau keluar lagi sakit begini?”



Dibantu Tante Risma, kukenakan sweter tebal dan syal di leher. “Ada yang mau Serena omongin sama Karen. Sebaiknya di luar aja.”



Kening Tanteku berkerut, biasa jika dia sedang cemas.



“Serena nggak lama kok, Tan,” kataku menenangkan, “sebelum jam sembilan pasti udah pulang.”



Tanteku mengulurkan kelingking. “Janji, ya?”



Kutautkan kelingkingku padanya. “Janji.”

__ADS_1



Di luar, angin dingin menusuk kulit meski tubuhku terbungkus baju hangat. Begitu kubuka pagar, Karen yang masih duduk di CBR merahnya menyambutku dengan senyum.



“Hai,” sapanya ringan.



Aku tersenyum sebiasa mungkin, tapi bibirku terasa kaku. “Hai.”



Karen tersenyum lebar sekali, seakan siap memuntahkan kebahagiaan. Melihatku diam saja, dia turun dari motornya dan tanpa kuduga langsung menyongsongku dengan pelukan erat. “Ser, gue baru dapet kabar dari Kinan!” serunya semringah. Tak lama kemudian, dia melepaskan pelukan dan mundur selangkah memandangku. Alis tebalnya terpaut. “Badan lo kok anget?”



Aku merasa seperti balok es yang beku ketika tangannya yang hangat menutup sempurna keningku. Lidahku kelu oleh informasi yang baru saja dilontarkannya. “Kabar apa, Ren?”



Karen mendesah halus. Tangannya menggandengku. “Ayo kita ngomong di dalem aja. Lo lagi sakit, kan? Di sini dingin.”



Aku bergeming. Menolak beranjak.



Melihat ketegasanku, Karen menyerah. Wajahnya yang terakhir kali kulihat begitu pucat dan putus asa, kini telah kembali seperti Karen semula. Binar di matanya membuat hatiku seperti diiris sembilu.



“Lo kenal Melanie, kan?” tanyanya.



Alisku berkerut. Kenapa tiba-tiba membicarakan teman sejurusan kami itu? Tentu saja aku kenal Melanie. Gadis itu termasuk cukup berprestasi di jurusan IPS. Meskipun tak pernah sekelas, sejak kelas X gadis itu sering meminta bantuanku jika ada pelajaran yang tidak dia pahami. Belakangan ini aku baru sadar, sebenarnya Melanie mendekatiku agar bisa dekat juga dengan Karen.



“Kinan ikutan klub astral project. Semacam klub online rahasia tempat orang-orang yang minat sama kemampuan astral project kumpul dan saling berbagi pengalaman. Pas gue cerita ke Melan soal Kinan, kebetulan banget Melan bilang, dia punya kenalan yang juga ikut klub itu. Kata kenalannya Melan, ada planning pertemuan klub malam Jumat ini di salah satu kafe di Bandung.”



Aku tak bereaksi. Senyum Karen makin lebar. “Dan yang bikin gue seneng, nama Kinan tercantum di daftar anggota yang bakal hadir!”



Bagaimana mungkin? Tenggorokanku tersekat.



“Melan ngeyakinin gue kalo sebenarnya Kinan sengaja kabur. Mungkin dia ada masalah.” Suara Karen sedikit muram. Lalu kembali biasa. “Tapi gue seneng tahu dia baik-baik aja, Ser. Seenggaknya keluarga gue lebih tenang pas dapat kabar ini. Jumat nanti, gue bakal ke kafe itu buat ketemu Kinan. Lo ikut, kan?”



Kuharap apa yang Karen katakan benar dan sosok yang kulihat di sekolah tadi hanya ilusi semata. Embusan angin terasa menusuk mata. Cepat-cepat kualihkan pandangan dari Karen begitu sadar mataku basah.



“Aku nggak enak badan, Ren,” sergahku, “besok kita omongin lagi.”



“Ya udah, lo istirahat ya. Besok gue udah sekolah kok. Makasih ya buat semuanya.”



“Kamu juga.” Aku melambai singkat, lalu menyembunyikan tangis di balik pagar.

__ADS_1



Tuhan, bantu aku. Bagaimana cara mengatakan bahwa sebenarnya adiknya sudah meninggal? []


__ADS_2