
BEL pulang pada Jumat sore terdengar merdu di telinga. Setelah merapikan barang-barang, aku langsung berlari menuju kelas Karen. Tapi ternyata aku masih kalah cepat. Sahabatku itu sudah tak ada di kelasnya. Mungkin dia sudah duluan ke parkiran. Alih-alih menyusulnya ke parkiran, aku memilih jalan ke gerbang depan. Sapaan beberapa temanku hanya kubalas dengan senyum minimal. Tatapanku menyapu sekitar. Berharap aku tak bertemu Ken. Seandainya aku kembali ber- temu dengannya, pastilah cowok itu akan minta diajak ke pertemuan klub astral project yang akan kuhadiri. Aku tak ingin Karen curiga. Apalagi sahabatku itu tahu, selama ini Ken adalah orang yang jelas-jelas kuhindari. Akan aneh jika tiba-tiba most wanted itu mengintili kami.
Sambil melangkah ke luar gerbang, kupijit pelipisku untuk me- ngurangi pening. Aku berjalan ke pinggir, memberi akses bagi anak- anak yang keluar dari gerbang menggunakan motor. Di antara deru kendaraan, samar terdengar suara anjing menyalak. Hampir tiga tahun di Prisma Jaya, aku hafal suara itu milik Rama. Dia seekor anjing jenis siberian husky berbulu hitam putih milik Ken yang diurus oleh Mang Ujang si penjaga sekolah dan tinggal di rumah anjing mungil yang diletakkan di samping pos satpam. Anjing yang sama dengan yang mengejar Nona San dulu.
Keberadaan Rama mengindikasikan kehadiran pemiliknya. Biasanya, Rama akan mengantar sampai gerbang jika Ken akan pulang. Benar saja, beberapa detik setelahnya, aku mendengar suara Ken.
“Serenaaaa!!”
Aku menggigit bibir kesal, lalu mempercepat langkah. Tapi per- cuma karena si pemilik suara sudah tiba di sampingku, melajukan motor hitamnya dengan pelan. Sementara si anjing mendongak me- natapku dengan tampang sok manis. Aku hampir memekik ngeri. Tapi mengurungkannya karena sadar mendapat lirikan penasaran dari orang-orang di sekitar gerbang. Jangan sampai ulah Ken ini jadi gosip baru nantinya! Aku bisa sial!
Sambil mengusir Rama tanpa kentara ketakutan, aku tak menoleh ataupun menghentikan langkah. Pura-pura tak melihatnya. Beruntung, Ken langsung menyuruh anjingnya berhenti mengikuti.
“Lo nggak akan mau kan, naik angkot yang penumpangnya kayak gitu!” celetuk Ken.
Aku mengangkat wajah dan memandang ke arah sebuah angkot yang baru saja melintas di depanku yang disesaki penumpang. Yang membuat napasku tertahan bukan sesaknya penumpang. Tetapi sosok kuntilanak yang duduk manis di atap angkot. Aku segera memalingkan wajah ketika kuntilanak itu mengarahkan pandangannya padaku. Jantungku hampir mencelos dibuatnya.
“Hebat ya, tuh kuntilanak.” Ken tertawa melihatku. “Nebeng gratisan naiknya di atas.”
__ADS_1
Bukan pertama kalinya aku melihat kuntilanak. Jadi tak perlu waktu lama bagiku untuk kembali sadar sepenuhnya. “Apa sih, Ken? Aku udah bilang, kita nggak bisa kerja sama tanpa bikin orang-orang curiga!”
Ken cengengesan. “Gue juga udah bilang bakal tetap ikut campur pake gaya gue, kan? Lo nggak berhak protes.”
Aku mendelik, gaya jidatnya itu! Aku memperingatkan dengan tegas. “Terserah kamu mau jungkir balik atau ngapain, yang penting jauh-jauh dari aku!”
Ken memandang sekelilingnya. “Nggak enak lho diliatin orang-orang. Ntar disangkanya gue abis ditolak lagi.”
Dia tertawa seakan itu lelucon paling lucu di dunia. Aku menghentikan langkah di perempatan jalan. Memandang was-was ke ujung jalan. Fokusku tiba-tiba tertanam pada atap-atap mobil yang lewat. Ken ikutan berhenti di sampingku.
“Siapa bilang aku nunggu angkot?” Aku melipat tangan. Berusaha tampil cuek agar tak menjadi pusat perhatian. “Aku nunggu Karen.”
Ken manggut-manggut tenang. Dia justru mematikan mesin motor dan melepas helmnya. “Nunggu Karen?” Dia tertawa singkat sambil menengok ke belakangku. “Tapi kayaknya dia udah ada bawaan deh.”
Sesaat kemudian, Karen muncul dengan membonceng Melanie. Perasaan tak nyaman seketika muncul. Rahangku terkatup, sementara mataku tak lepas dari sosok sahabatku yang menepikan motor di sisi Ken. Waktu itu Karen jelas-jelas berjanji mengajakku ke kafe hari ini untuk pertemuan klub astral project. Tapi kenapa hari ini dia justru membonceng Melanie? Ah, rupanya aku melupakan satu kenyataan. Melanie-lah yang mengajak Karen. Jadi jelas pula Melanie ikut. Aku merengut kesal saat gadis yang kini sekelas dengan Karen itu mengulas senyum manis ke arahku.
“Hai, Ser,” sapanya ramah.
__ADS_1
Aku tersenyum simpul. “Hai juga, Mel.”
Karen menaikkan kaca helmnya, memandangku dan Ken bergantian, kemudian terpaku padaku. “Ser, mau ke mana? Jadi, kan?” tanyanya.
Ada nada janggal dalam suaranya. Namun, perasaan tak nyaman melihat Melanie di boncengan motornya membuatku enggan berpikir lebih jauh. Bisa-bisanya dia bertanya begitu? Terus maksudnya aku harus naik apa kalau cewek itu sudah nangkring di motornya? Tak mungkin kan, kami naik motor bertiga?! Setengah kesal, setelah yakin Karen sepenuhnya tengah memperhatikanku, aku langsung naik ke boncengan motor Ken.
Kusunggingkan seulas senyum pada sahabatku yang entah kenapa seolah telah berubah jadi orang lain itu. “Jadi dong. Ini dari tadi kita nunggu kalian,” sahutku ringan. Kulirik Melanie dengan wajah sok cuek. Ken tersenyum geli menatapku yang kini bertampang seperti mengajak duel. Karen hanya diam, membuatku makin kesal.
“Tadi Serena cerita. Mau cari adik lo, kan?” Itu Ken yang bicara.
Karen mengangguk singkat.
“Kalo gitu, ayo sekarang jalan. Keburu kemaleman.” Ken ternyata bisa juga simpati begitu. “Semakin banyak orang yang bantu, semakin besar kemungkinan ketemu, kan?” Dia memang pandai membujuk orang.
Tentu tak ada alasan bagi Karen untuk menolak bantuan semacam itu. Tapi sayangnya aku tak bisa melihat jelas ekspresi macam apa yang dia tunjukkan karena wajahnya terbungkus helm. Tapi kemudian, dia menyahut singkat, “Oke.”
Jika saja aku tahu persetujuan itu akan membawaku pada lilitan benang yang lebih dalam, pada hubungan-hubungan yang tak mudah dipahami, mungkin aku akan memilih mengatakan langsung semuanya pada Karen. Meskipun kenyataan menyakitkan, berakting seakan aku tak tahu apa-apa, membuatku merasa hampa. Kemudian kehampaan itu menjurus ke lembah menyesatkan, hingga aku kehilangan jalan pulang. []
__ADS_1