
SINGGASANA Pradana adalah salah satu kompleks perumahan besar di wilayah Bandung Selatan. Aku turun di garda depan kompleks dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Kira-kira sudah setengah perjalanan ketika melihat pangkalan ojek di bawah rimbun pohon kenari. Masih pagi. Harusnya aku kuat berjalan, setidaknya setengah kompleks lagi. Tapi percuma berjalan tanpa tahu tempat yang kutuju. Maka kuputuskan bertanya pada tukang ojek di pangkalan.
“Punten, Pak,” sapaku sesopan mungkin.
Tiga tukang ojek yang semula duduk-duduk santai di bale langsung tersenyum ramah padaku. Maka cepat kulanjutkan ucapanku supaya mereka tak salah paham. “Saya teh nyari rumah teman saya. Namanya Karen. Bapak-bapak tahu rumahnya yang mana?”
Salah satu tukang ojek kembali menyandarkan tubuhnya ke batang pohon sambil menjawab, “Tinggalnya bener di kompleks ini, Neng?”
“Iya, Pak,” sahutku mantap. “Kalo nggak salah di blok O.”
Tukang ojek yang duduk paling dekat dariku mengerutkan alis. “Oh, Kang Karen yang adiknya dari Jogja belum pulang-pulang itu, ya Neng? Yang anaknya Pak Andrean?”
“Iya Pak. Bener dia. Bapak tahu rumahnya?” tanyaku semringah.
“Bapak sih tahu rumahnya, Neng,” balas bapak itu. “Dari kemarin heboh. Rumahnya rame terus. Banyak sodaranya, kemarin polisi juga sempet dateng. Kabarnya sih adiknya ilang tanpa jejak. Kemarin teh saya juga bantu nyari. Oh, Neng ini teh pacarnya Kang Karen, ya?”
Aku tersenyum kikuk. Cepat-cepat menggeleng. “Saya teman sekolahnya, Pak. Bisa anter saya ke sana?”
“Kayaknya nggak perlu deh, Neng.” Bapak itu menelengkan kepala ke jalan di belakangku. Aku mengikuti arah pandangnya dan tertegun melihat sahabatku duduk di atas CBR merahnya, tersenyum ramah pada para tukang ojek. “Punten, Pak ngerepotin. Temen saya.”
“Sok, mangga, Kang. Temennya geulis pisan.” Entah tukang ojek mana yang menceletuk, aku tak lagi peduli.
Segera kuhampiri Karen. Kupindai perubahan dalam sorot mata teduhnya. Walaupun dia tersenyum seperti Karen yang kukenal, wajah pucatnya tak bisa membohongiku.
Aku ingin menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Sungguh. Tapi yang meluncur dari bibirku hanya satu pertanyaan, “Kamu nggak apa-apa?”
Karen tak menjawab. Dia hanya menyodorkan helm padaku. “Ayo naik!” perintahnya.
“Kamu kok tau aku di sini?”
__ADS_1
Karen meraih tanganku, menaruh helmnya di genggamanku. “Lo kan tadi nge-LINE.”
“Aku kan nggak bilang kalo udah sampe.”
“Kan gue nunggu lo dari tadi.” Senyumnya terukir lagi. “Kok lo malah ikutan bolos?”
“Lagian udah nggak ada pelajaran kok. Besok kan ambil raport, terus libur semester.”
“Kalo di Jogja, udah libur semester dari kemarin-kemarin. Makanya adik gue ke sini.”
Kukenakan helm sambil menelan bongkahan pahit di tenggorokan. Aku bisa merasakan kesedihan yang bahkan tak Karen tampakkan. Embusan angin hampir saja membantu air mataku lolos. Oh, sial. Aku memalingkan wajah agar Karen tak melihatnya, lalu segera naik ke boncengan motornya tanpa berkata-kata lagi. Aku juga tak bertanya macam-macam saat Karen mengemudikan motornya meninggalkan kompleks. Hanya desir angin yang mengisi seluruh indra pendengaran. Karen membisu. Tak seperti Karen yang biasanya.
Aku membenamkan wajah di punggungnya. Tanpa sadar melingkarkan tanganku ke sekeliling tubuhnya. Berharap dengan demikian beban yang dia rasakan sedikit terangkat. Tapi mengapa justru aku yang menangis?
***
Tanganku berkeringat, padahal siang itu dingin dan langit dihiasi awan kelabu. Sesekali gemuruh terdengar. Tak lama lagi pasti turun hujan.
Aku segera turun dari motor, mengedarkan mata ke sekitar. Rumah ini jauh dari keramaian dan hanya dikelilingi pohon-pohon tinggi yang saat diterpa angin menimbulkan suara yang menenangkan sekaligus menyeramkan. Pagar putih yang membatasi rumah ini tak lagi berwarna putih karena karat di sana-sini. Atap rumahnya yang menjorok ke bawah dipenuhi sampah daun kering, serupa dengan halamannya. Aku urung melepas helm. Apa yang ingin Karen lakukan di sini?
Karen tak peduli kecemasan yang jelas kutampakkan. Dia melepas helm, memperlihatkan wajahnya yang tanpa ekspresi. Dia tak menutupi kesedihannya kali ini. Aku baru sadar ada cekung hitam di sekitar matanya yang tegas dan tubuhnya tampak lebih kurus.
Setelah meletakkan helm di kaca spion, Karen langsung meng- gandengku yang terasa seperti paksaan. Segera kutepis tangannya. Saat itulah dia baru menoleh memandangku.
“Ini tempat apa?” tanyaku penuh selidik. Kupandang langsung manik mata sahabatku.
Karen tak menjawab dan justru berbalik meninggalkanku. Kususul langkahnya dengan berlari. Sebelum dia menginjakkan kaki di teras rumah, aku lebih dulu memotong langkahnya dengan menempatkan diri di depannya. Menutup akses semampuku.
“Ngomong sama aku, Ren!” tuntutku. “Kamu mau ngapain sih sebenarnya? Tempat apa ini? Aku tahu kamu lagi kalut, Ren. Tapi jangan lakukan sesuatu yang akan bikin kamu nyesal nantinya!”
__ADS_1
“Gue mau cari Kinan.” Suara Karen sedatar ekspresi wajahnya. “Kalo lo mau ikut, ayo masuk. Tapi kalo lo cuma mau halangin gue, mending lo tunggu di sini. Minggir!”
Kinan itu pasti nama adiknya. Aku semakin khawatir. “Kenapa cari Kinan di sini?” tanyaku heran. “Katanya adik kamu belum ketemu—”
“Ini rumah paranormal,” potong Karen cepat, mengisi teka-teki di kepalaku. Ekspresi tegasnya seperti ketika dia berlaga di lapangan basket. Tak ada keraguan. Namun, aku menangkap secercah rasa takut di matanya. Perpaduan antara putus asa dan tekad yang kuat. Selama dua tahun pertemanan kami, inilah kali pertama aku melihat Karen seputus asa ini.
“Kamu mau nyari adik kamu … pake paranormal?” Suaraku tersekat. Bingung, tak habis pikir.
Dia terdengar marah saat melanjutkan, “Cuma ini cara yang tersisa buat nemuin adik gue, Ser. Semua kenalan Kinan di Bandung udah kami hubungi. Polisi juga udah bantu nyari. Tapi jejak Kinan sama sekali nggak terendus! Polisi-polisi belum dapet hasil apa-apa. Gue harus gimana lagi?! Nyokap gue dateng dari Jogja. Dia bilang Kinan hilang gara-gara gue. Seandainya aja gue nggak cerita macam-macam soal enaknya tinggal di Bandung, Kinan pasti baik-baik aja. Mereka nyalahin gue, Ser. Sementara gue juga nggak tahu di mana Kinan. Nggak ada gunanya ngandelin polisi! Gue bisa cari Kinan di sini. Ya, benar. Malam ini juga, gue janji akan bawa Kinan pulang dan buktiin ke nyokap kalo Kinan lebih pantas hidup di sini sama gue dibanding ikut nyokap dan suami barunya.”
Aku mendekatinya. “Aku ngerti, Ren. Aku tahu kamu sedih. Tapi kamu nggak akan dapat apa-apa dengan datang ke sini,” tegasku. “Sebelumnya kamu sering bilang ke aku kalo kamu nggak pernah percaya sama hal-hal nggak masuk akal kayak ini.”
“Gue emang nggak percaya.” Sebutir air mata mengalir di pipi cowok itu. “Tapi Kinan percaya. Dia mirip lo. Dia suka segala hal berbau dunia gaib. Dia pernah bilang, cara nyari orang tercepat adalah dengan berkomunikasi dengan para hantu. Dia sering ngelakuin pake kemampuan astral project. Gue nggak pernah percaya sama dia. Tapi nggak ada salahnya kan, gue nyoba? Nggak ada salahnya gue nyoba apa yang dia lakuin. Paranormal pasti bisa bantu gue. Minggir, Ser!”
“Nggak, Ren!” Aku merentangkan kedua tanganku, menghalanginya makin mantap. “Bukan kayak gini caranya!”
Karen berusaha melewatiku. Tak ada cara lain. Tanpa peringatan, aku memeluknya ketika dia hendak melewati tubuhku.
“Aku janji akan bantu kamu nemuin Kinan. Tapi bukan gini caranya, Ren. Please berhenti!” Teriakanku terdengar bergetar di telingaku sendiri. Pipiku basah oleh air mata.
Lama sekali Karen mematung, tak mengatakan apa-apa.
“Sabar, Ren. Aku janji sama kamu. Apa pun yang terjadi, adik kamu akan ketemu. Aku akan bantu kamu lakuin apa pun, tapi bukan dengan cara kayak gini.”
Perlahan, tubuh Karen melemah sampai akhirnya jatuh sepenuhnya ke dalam dekapanku. Dia menangis di bahuku, sesenggukan yang terdengar pilu yang bercampur putus asa.
Langit juga ikut memuntahkan tangisnya, membawa serta ber- samanya awan pekat kelabu.
“Kinan pasti pulang, Ren. Aku yakin dia pasti pulang.” []
__ADS_1