LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 2


__ADS_3

PEMAKAMAN pertama yang kuhadiri adalah pemakaman ibu. Beberapa minggu setelah aku lulus SMP, ibuku berpulang karena tertabrak sepeda motor. Tubuhnya terpental jauh dan nyawanya seketika itu tak terselamatkan. Kemudian, karena aku mendapat beasiswa SMA di Bandung, ayah mengirimku tinggal bersama adiknya—Tante Risma dan suaminya yang kebetulan memiliki rumah tak jauh dari lokasi SMA tujuanku.



SMA-ku bernama Prisma Jaya, sebuah sekolah swasta unggulan di Kota Kembang. Dari rumah Tante Risma ke sekolah hanya butuh sekitar sepuluh menit naik kendaraan. Pada hari pertama masa orientasi, aku datang diantar om Deni, suami tanteku sampai depan gerbang sekolah.



“Sekolahnya besar, kan, Serena?” Om Deni bertanya sambil menurunkan kaca mobilnya. “Om yakin kamu pasti betah di sini.”



Aku yang duduk di kursi samping kemudi membalasnya dengan senyum, lalu melayangkan pandangan ke bangunan sekolah. Seketika



darahku terasa seperti terserap keluar tubuh. Om Deni tak menyadari wajahku yang berubah pucat.



Untuk sesaat mataku tak berkedip. Pagar hitam kokoh yang membingkai gerbang depan sekolah ini sama seperti pagar yang melindungiku dari kejaran para serigala dalam mimpi mengerikanku dulu. Bahkan, tembok yang mengelilingi pagarnya pun serupa. Detik itu aku merasakan mimpi mengerikan yang terus berulang dulu mungkin pertanda sesuatu.



Itu sebabnya, hari-hari pertamaku di Prisma Jaya kuisi dengan banyak rasa takut dan waspada. Aku menghindar jika bertemu anjing yang mirip serigala. Juga selalu waspada jika melihat makhluk halus menyerupai binatang merangkak. Prisma Jaya sendiri merupakan bangunan tua yang berdiri sejak tahun 1951. Perlu waktu untuk beradaptasi saat berada di bawah bangunan tua yang penghuninya lebih banyak didominasi hantu-hantu Jepang, Belanda, Tionghoa, juga Pribumi yang berasal dari masa penjajahan dahulu ini. Di halaman sekolahku terdapat banyak pohon rindang yang masing-masing didiami penghuni berbeda. Tiga pohon palem dekat palang nama sekolah ditempati sosok-sosok hitam tinggi—aku tak berani menatap mereka—yang sering muncul mulai sore hingga malam hari.



Bergeser ke kiri, dekat lapangan basket outdoor, ada pohon-pohon cemara yang berjajar rapat dengan hiasan tanaman-tanaman hias setinggi lutut. Di sanalah lahan bermain anak-anak Belanda. Mereka sering bersembunyi di rapatnya tanaman. Aku bergerak menuju koridor utama—satu-satunya akses masuk menuju area sekolah menurut para guru, tanpa tahu kalau para siswa pastinya selalu punya jalan rahasia untuk kabur jika ingin bolos pelajaran.



Bangunan yang paling tua di sekolahku adalah gedung IPA. Letaknya paling sebelah kanan koridor utama. Aksesnya paling dekat dengan perpustakaan dan UKS. Laboratorium dan segala fasilitas ke-IPA-an berjajar di lantai dasar. Terdiri dari empat lantai, dan bukan main banyaknya penghuni di tiap lantainya.



Ke arah barat, terdapat bangunan mirip aula yang katanya dahulu dipakai untuk menyimpan perkakas senjata pada zaman Belanda. Bangunan itu sekarang dipakai sebagai ruang guru, ruang Tata Usaha dan ruang rapat. Di sana, ada banyak penghuni, mulai dari warga pribumi, orang Belanda, Jepang, bahkan Cina. Satu lagi, di sana lebih banyak penghuni laki-laki. Mungkin karena tempat itu dulunya juga berfungsi sebagai camp militer.



Ketakutanku tak terbukti. Tak ada hal aneh yang menimpaku selama satu minggu masa orientasi. Adaptasiku dengan teman-teman baru dan para penghuni Prisma Jaya berlangsung baik. Perlahan, aku mulai melupakan kaitan antara mimpi mengerikanku dengan sekolah yang sekarang kuhuni. Hingga pada hari pertama tahun ajaran baru, ketika aku harus melepas seragam putih biru dan menggantinya dengan seragam putih bergaris hitam dengan rok selutut yang cantik, sebuah insiden menuntunku bertemu dengan seseorang yang memiliki kemampuan serupa denganku.


__ADS_1


Pagi itu aku sengaja datang ke sekolah lebih awal dengan tujuan ingin berkeliling karena minggu masa orientasi lalu belum sempat melihat keseluruhan sekolah. Masih pukul setengah enam. Langit belum banyak disinari mentari. Selain Mang Ujang, si penjaga sekolah dan beberapa rekannya, belum ada yang datang sepagi itu. Aku berjalan di koridor gedung IPA yang letaknya paling depan dekat koridor utama. Menyisir satu per satu plang nama ruangan mulai dari laboratorium sampai koperasi khusus anak IPA.



Aku baru menapaki satu pijakan tangga, hendak menuju lantai dua gedung IPA ketika dari kelokan tangga muncul sesosok hantu cantik berkimono merah yang melintas cepat melewatiku sambil histeris. Selang beberapa detik kemudian, terdengar salakan anjing. Aku belum sempat bergerak seinci pun. Seekor anjing berbulu hitam putih yang mirip serigala muncul dari kelokan tangga di depanku.



Rasanya darah di tubuhku seperti diserap keluar. Terlambat. Aku tak bisa kabur. Maka yang kulakukan saat itu adalah memejamkan mata kuat-kuat sambil mencengkeram tali tasku. Demi Tuhan, aku bersyukur ketika dalam mimpi aku selalu terbangun sesaat sebelum serigala mencabik kulitku. Tapi sekarang … mungkin aku akan merasakannya dari binatang yang hampir serupa serigala ini.



Satu detik, dua detik, tak ada yang terjadi. Sekelebat kurasakan kehadiran binatang tadi di sisiku, tapi kemudian langkah kecilnya yang tegas berlari pergi. Aku membuka mata. Degup jantungku masih perlu dinormalkan. Jadi aku bersandar sebentar di tangga. Aku mendengar langkah lain yang perlahan turun dari lantai atas. Saat cowok berseragam serupa denganku itu hampir turun ke arahku, barulah aku menegakkan badan, berpura-pura sibuk membongkar isi tas.



Aku tak curiga waktu melihat wajah tampan yang tertawa-tawa geli itu. Dia pun berlalu begitu saja tanpa peduli kehadiranku. Saat cowok itu berlalu di belokan koridor, aku bergegas mengintip ke arah anjing tadi berlari. Salakan anjing masih terdengar jelas. Benar saja. Anjing itu berlari ke kanan-kiri di sekitar pohon palem dekat lapangan basket depan. Di atas pohon palem tersebut, hantu gadis berkimono merah itu tampak ketakutan. Cowok tampan tadi berjalan santai menghampiri si anjing usil. Salakan si anjing berhenti ketika cowok itu mengelus lembut tubuhnya. Adegan janggal tadi diakhiri dengan lambaian singkat si cowok pada hantu kimono yang bertengger di dahan pohon.



Begitu cowok itu berbalik, si anjing mengikutinya.



Adegan itu membuatku sangat penasaran. Tapi karena cowok dan anjingnya itu berjalan kembali ke arah tangga di belakangku, aku segera berlari menuju kelasku di gedung IPS.




AKU heran mendapati hampir setiap kelas di lantai gedungku kosong, padahal belum lima menit bel istirahat berbunyi. Kantin pasti akan tumpah-ruah, jadi aku memutuskan kembali. Namun, langkahku terhenti ketika menangkap sosok hantu berkimono merah yang tadi pagi ketakutan dikejar anjing. Hantu itu berdiri di tepi dinding pembatas yang mengarah ke lapangan sambil terisak, seolah sedang menangis meski kutahu tanpa air mata. Kuberanikan diri mendekatinya, lalu melihat ke lapangan di mana matanya tertuju.



Jantungku berdebar lebih cepat. Di tengah lapangan di bawah sana, cowok pemilik anjing tadi sedang berceloteh di depan siswa- siswa yang mengisi hampir selapangan. Dari sini, aku tak tahu apa yang sedang dibicarakan cowok itu hingga semua orang begitu antusias mendengarkan. Teman-temanku juga banyak yang turun ke lapangan sana.



Hantu berkimono di sisiku masih terus mengeluarkan suara ta- ngisnya. Aku sengaja tak menoleh dan dia pun sepertinya tak sadar aku bisa melihatnya.



Di sela-sela isakannya, hantu itu berkata, “Manusia menyebalkan! Dia berjanji tak akan menyebarkan kisahku pada orang lain. Tapi yang dilakukannya justru menakut-nakutiku dengan anjing jelek itu, dan sekarang membongkar semuanya. Dasar manusia jahat!”

__ADS_1



Aku menggigit bibir. Jadi, itukah yang sebenarnya terjadi antara cowok itu dan hantu gadis berkimono di sisiku?



Untuk memastikannya, aku berlari menyusul cowok itu ke lapangan dan mulai masuk di antara kerumunan, berdiri di garis paling depan. Semua orang sedang memasang wajah serius. Aku mendengarkan apa yang cowok itu katakan.



“Waktu itu, Jing Fei yang nggak tahu apa-apa merasa senang saat ada tentara-tentara bermata sipit datang ke rumah bordil tempatnya tinggal. Dengan senyum memikat, disambutnya tentara-tentara itu. Dia merasa nggak perlu takut, sementara teman-temannya banyak yang melarikan diri. Nyalinya baru terusik ketika seorang tentara sipit menghunuskan samurai pada salah satu temannya, dan dengan satu tebasan terpisahlah tubuh dan kepala salah temannya itu. Jing Fei ketakutan. Anjing majikannya yang menyalak berisik juga mendapat perlakuan serupa. Jing Fei berteriak sekuat tenaga, hendak melarikan diri. Kalian tahu apa yang akhirnya terjadi?”



Semakin banyak orang-orang yang semangat mendengarkan.



“Lehernya Jing Fei ditebas juga.”



Beberapa siswa perempuan memekik ngeri.



“Sekarang, arwah Jing Fei berkeliaran di sekolah kita.” Cowok bermata cokelat cerah namun tajam itu mengedarkan pandangan ke kerumunan. “Dia tinggal di sekitar laboratorium biologi. Dia bilang, rumah bordilnya dulu letaknya nggak jauh dari sini. Kalo kalian melihat tong sampah depan lab biologi muter-muter sendiri, artinya hantu itu lagi nyari teman.” Dia menampilkan senyuman paling lebar. “Jadi gue ingetin kalian, jangan bengong di sana kalo nggak mau Jing Fei dateng nemenin kalian.”



Cowok itu meninggalkan kerumunan yang kini saling melemparkan pendapat dengan wajah takut yang bercampur heran. Aku mengerjap bingung. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Kualihkan pandangan ke lantai dua gedung IPS tempat di mana hantu Jing Fei berada. Tapi nihil. Hantu itu sudah tak lagi di sana. Kerumunan di sekitarku perlahan bubar. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa cowok itu membeberkan rahasia yang seharusnya tak ia ceritakan di depan orang- orang? Tindakannya membuat si hantu merasa tersiksa.



Kelakuannya itu mengingatkanku pada Tesa, sahabatku yang me- ninggal akibat mengatakan hal yang tak seharusnya tidak diucapkan. Cowok itu bisa melihat hantu sepertiku. Tapi dia menggunakan kemampuannya untuk menarik perhatian orang-orang. Keterlaluan. Hatiku dipenuhi gejolak jika mengingat apa yang Tesa peroleh karena tak bisa menjaga mulutnya.



Kuputuskan untuk tak ikut campur. Saat hendak kembali ke kelas, Jing Fei mencegatku. Hantu malang itu tak mengatakan apa-apa. Hanya terus mengeluarkan suara tangisan. Dia ternyata tahu aku bisa melihatnya. Setelah hari itu, aku memanggil Jing Fei dengan sebutan Nona San. Dia dipanggil begitu karena teman-teman hantunya mengira dia orang Nippon. Aku mengikuti, karena jika dipanggil demikian hantu kimono merah itu melebarkan senyum. Dia menyukai panggilannya.



Sementara cowok pendongeng tadi menjadi most wanted di seko- lahku. Ketampanan, kekayaan, serta kemampuan matanya membuat ia bersinar tiada dua.

__ADS_1



Namanya Kenzie Reynand Praditama. []


__ADS_2