
ORANG-ORANG lebih akrab memanggilnya Ken. Dia adalah matahari di Prisma Jaya, magnet semua perhatian, penampung segala hal baik di sekolah ini. Orangtuanya pemilik saham terbesar di Yayasan Prisma Jaya. Jelas dia orang terpandang. Seakan segalanya belum cukup sempurna, dia juga memiliki wajah tampan tanpa cela serta otak encer tiada dua.
Siapa yang tak mau menjadikan cowok semacam dia gandengan?
Tentu saja banyak antrean gadis yang bersedia jadi kekasih Ken. Namun anehnya, Ken tak pernah tertarik. Apa dia tidak normal? Bisa jadi. Tapi orang-orang tak ada yang berpikiran sepertiku. Bagi semua orang, seorang Ken adalah cowok gentle yang katanya jago taekwondo, ketua tim basket sekolah dan juga pemegang tetap juara umum jurusan IPA.
Oh, bukankah dia sempurna tanpa cela?
Ya, seandainya dia bisa mengerem semua aktivitas yang mulutnya lakukan. Sejak insiden hantu Nona San kelas X dulu, ketenaran Ken melejit dan tak pernah turun hingga sekarang kami hampir duduk di kelas XII. Selain pemegang segala predikat di atas, dia juga masih menjadi story teller yang andal. Sama seperti hari pertama tahun ajaran baru dua tahun lalu, seorang Ken selalu menceritakan berbagai kisah tentang hantu-hantu sekolah ini. Dia sama sekali tak menutupi kemampuannya. Apa yang dia lihat dan dengar, itulah yang dia ceritakan.
Sampai sekarang, rasa penasaranku terhadapanya tak pernah padam. Aku kesal setiap kali mendapati hantu-hantu sekolah uring-uring- an jika Ken berulah. Tapi mustahil ikut campur, apalagi memperingati- nya secara langsung. Bisa-bisa aku diprotes satu sekolah. Tapi anehnya, mengapa tak satu pun hantu berani melawannya?!
Bukan hanya para hantu yang mendapat imbas dari sifat ceplas- ceplos Ken. Menurut selentingan gosip anak-anak, cowok itu sering membuat beberapa gadis yang tertarik dan hendak mendekatinya juga berakhir menyedihkan.
Pernah ada seorang gadis menyatakan perasaannya pada Ken. Ken menolaknya, sudah biasa. Yang tak biasa adalah kata-kata yang Ken lontarkan sebelum meninggalkan gadis itu. “Lain kali kamu jangan buang pembalut sembarangan. Itu ada nenek yang dari tadi ngikutin kamu terus.”
Seandainya aku jadi gadis itu, mungkin sudah kutonjok wajah Ken. Bagaimana mungkin ada seorang cowok mengatakan hal semacam itu padamu! Sayangnya, gadis itu terlalu polos. Bukannya marah, dia justru menangis, sepenuhnya percaya pada perkataan Ken. Esoknya dia minta ustaz setempat untuk mengusir ‘nenek’ yang mengikutinya.
Pernah lagi, saat di kelas XI, ada adik kelas menyatakan perasaan pada Ken. Dengan wajah menyesal Ken mengatakan, “Maaf, Dek. Aku nggak bisa nerima cinta kamu. Bukan karena aku nggak suka kamu. Kamu cantik, baik juga. Tapi, aku nggak mau bersaing sama orang yang udah lama nyimpen perasaan ke kamu. Dia lebih berhak dari aku atas kamu.”
Bayangkan campur aduk perasaan ketika seseorang yang kita sukai mengatakan itu.
Tapi kemudian dengan tampang tanpa dosa, Ken menambahkan, “Dia orang yang udah lama suka sama kamu. Dia ada di belakang kamu.”
Adik kelas itu menoleh ke belakang. Hanya ada koridor kosong. Tak ada siapa pun. Lalu kemudian menjerit. Sebenarnya masih banyak selentingan kisah unik setiap kali ada yang berusaha mengungkapkan rasa suka pada Ken. Kurasa dia sengaja melakukannya untuk mencari perhatian seakan-akan perhatian semua orang terhadapnya selama ini tidak cukup.
Aku mendecih, kesal sekaligus penasaran setiap kali mengingat segala hal tentang cowok itu.
Teman-teman Ken juga mungkin sudah sama gilanya. Jika Ken spontan mengatakan apa yang dia lihat, teman-temannya akan me- nanggapi dengan tawa dan menjadikan ucapan Ken sebagai bahan lelucon.
Dasar anak-anak tak tahu diri! Hal-hal seperti itu tak pantas dijadikan bahan lelucon! Tapi aku enggan menghakimi. Maka sebagai balasan atas tindakan kesewenang-wenangan Ken, aku sering menulis artikel-artikel yang banyak mengandung protes terhadap sikapnya. Kebanyakan aku menulis tentang sikap-sikap yang seharusnya para indigo lakukan demi menjaga keamanan dua dunia yang saling berseberangan. Aku menulis dengan nama pena Mahesa. Jadi selama ini, segencar apa pun aku menyindir Ken, hanya tim redaksi yang tahu bahwa Mahesa adalah aku.
Sepoi angin membangunkanku dari segala pemikiran tentang Ken. Orang yang memicu pikiranku kini sedang duduk di atas satu-satunya kursi di tengah panggung dengan gitar dalam dekapan. Di belakangnya terpancang seperti layar sebuah spanduk besar bertuliskan:
PENSI PELEPASAN KELAS XII ANGKATAN
ke-60.
Matahari sedang tinggi-tingginya, tetapi gadis-gadis penggemar Ken seolah tak peduli. Mereka berdesakkan di depan panggung demi bisa melihat pujaannya. Aku memperhatikan dari jendela kelasku di lantai dua. Jika saja gadis-gadis itu tahu posisiku ini adalah tempat yang memiliki view bagus ke arah panggung, mereka pasti akan berebutan ke sini.
Sambil menggigit bibir bawah, aku bersiap dengan note kecil dan pena, menanti waspada ketika Ken mulai membenarkan letak mikrofon dan mendekatkannya ke depan bibir.
Aku mengangkat ujung bibirku. “Lihat apa yang bisa aku tulis buat kamu kali ini.”
Dehaman singkat Ken mengudara lewat pengeras suara yang tersebar seantero sekolah. Beruntung dia tak langsung menyanyi karena yang kutunggu bukan nyayiannya, melainkan ocehannya. Selama ini cowok itu mungkin tak sadar sumber artikel protes tentangnya di tabloid sekolah berasal dari rasa kesalku terhadap perilaku semena- menanya mengganggu ketenangan para hantu.
__ADS_1
“Siang semua!” teriak Ken sambil melambaikan tangan pada kerumunan di depan panggung. Suara basnya terdengar menyenangkan di telinga orang-orang, dan fakta itu sungguh menyebalkannya di telingaku.
“KEN!!!” gema teriakan gadis-gadis pemujanya sepuluh kali lebih heboh.
Senyum Ken mengembang. Tampak menggemaskan memang, tapi aku menolak mengakui.
Cowok itu sengaja berdeham, menerawang sejenak seperti ber- usaha menyusun kata.
Aku tertawa. Memangnya selama ini dia berpikir dulu jika ingin bicara?
“Pertama-tama, gue mau ngucapin terima kasih buat kakak-kakak kelas XII. Terima kasih udah ngasih segala yang terbaik untuk sekolah kita tercinta. Makasih udah lulus semua dengan nilai-nilai terbaik.”
Kata-kata Ken memancing heboh tepukan tangan para siswa kelas XII.
“Gue berdoa untuk kesuksesan kalian. Ke mana pun kalian setelah lepas dari sekolah ini, gue harap kalian bisa sukses dan jadi orang berguna.”
Tepuk tangan kembali menggema. Aku menggenggam penaku kuat- kuat. Ayolah, bukankah biasanya dia bicara omong kosong?!
“Yang kedua, buat temen-temen angkatan gue, selamat datang di kelas tertinggi!”
Kali ini, anak-anak kelas XI yang sebentar lagi mangkat ke kelas tertinggi bersorak meneriakkan nama Ken.
Ken membuat isyarat agar semua tenang. “Thanks buat guru-guru kelas XI yang udah bimbing kami dengan sungguh-sungguh. Kalian adalah inspirasi terbesar kami. Kalian adalah pelita hidup kami.”
Beberapa guru kelas XI yang duduk di deretan kursi samping panggung tersenyum bangga pada Ken, membuatku makin muak.
“Serena!” Seseorang menepuk keras bahuku.
Perhatianku tersita. Aku menoleh kesal dan mendapati cowok beralis tebal mendekatkan wajah ke arahku. Aku mundur seketika menjauhi wajahnya.
“Ya ampun, Karen! Ngagetin aja!”
Secara subjektif, menurutku cowok ini lebih mengagumkan dibanding Ken. Bagaimana mendeskripsikan seorang Karen? Bagiku Karen memiliki perpaduan yang pas antara karisma yang memikat dan ketenangan. Darah Arab dari sang ayah membuatnya memiliki hidung tinggi, alis tebal dan mata yang dalam sementara karisma dan ketenangannya yang memikat didapat dari ibunya yang keturunan ningrat Yogyakarta.
Cowok supercuek itu terkekeh geli. “Ngapain sih di situ?”
Aku menjauhkan diri dari jendela dan berpaling sepenuhnya pada Karen. Sahabatku yang hobi basket dan nulis puisi itu sedang memikul sekardus air mineral, meletakkan bawaannya di atas meja lalu melongok ke jendela.
“Oh, si Ken,” gumamnya dengan nada aneh.
Aku memilih duduk di meja dekat jendela. Kebetulan kelas sepi karena semua orang sibuk dengan acara PENSI. Karen berpaling ke arahku. Ketua OSIS sekaligus ketua panitia PENSI ini kan dia. Mengapa pula dia justru datang ke sini menemuiku?
“Katanya lo nggak suka sama tuh anak?” Karen menyindir. Aku tertawa mendengarnya.
“Bener ya kata orang-orang. Biasanya musuh lebih perhatian dibanding temen sendiri,” tambahnya.
__ADS_1
“Jangan ngaco deh Aldebaran Karendra!” ketusku. “Aku cuma nyari berita baru aja.”
Karen mengangguk. Namun tampangnya justru semakin mengejek. “Selama ini berita yang lo tulis selalu tentang Ken.”
Aku mengerjap. “Ya jelas dong! Kalo seandainya dia turun dari jabatan most wanted, mungkin aku akan nulis tentang orang lain.”
Karen manggut-manggut. “Oh, begitu. Tapi nih ya, kalo gue baca, tulisan-tulisan si Mahesa itu lebih dari sakadar ngikutin tren most wanted. Lebih tepatnya, dia terobsesi kayak fans setia banget.” Cowok itu mengerling padaku. “Jangan kira gue nggak tahu kalo Mahesa itu elo!”
Aku membisu. Tak menyangka mendapat tuduhan langsung seperti itu. Bukannya menjawab, aku justru menciptakan jeda dengan berdiri tak nyaman.
Untunglah jeda itu dipecahkan oleh dering ponsel Karen. Sahabatku itu memonyongkan bibir. “Heran, kan, gue bisa tahu dari mana? Apa sih yang nggak gue tahu tentang lo. Tapi sebentar, adik gue nelepon.” Karen melangkah menjauhiku untuk mengangkat telepon.
Dalam hati aku bertanya-tanya, memangnya selama ini Karen punya adik? Kusimak percakapannya di telepon dari tempatku duduk.
“Emang Papa nggak jemput di bandara?” tanya Karen, alis tebalnya berpaut. Dia mendengarkan sesaat, kemudian tertawa geli. Air wajahnya berubah santai. “Kan udah gue bilang tunggu aja di bandara, nanti Papa pasti jemput. Tapi kalo emang lo mau pulang sendiri ya nggak apa-apa. Tahu alamat rumah, kan?”
Aku punya perasaan bahwa adik yang Karen maksud itu pastilah perempuan. Karena penasaran, aku mendekatinya. Sahabatku itu masih bicara di telepon.
“Ya udah, lo jangan keliling jauh-jauh ya. Gue masih harus bantu temen-temen gue nyiapin konsumsi. Nanti kalo udah selesai gue langsung pulang kok. Paling agak sorean. Hati-hati, ya. Bye!”
Karen memutus sambungan. “Siapa?” tanyaku langsung.
Karen mengantongi ponselnya ke saku celana. “Emang beda ya kalo lagi ngomong ama paparazzi, nanyanya cepet.”
Aku mengabaikan cekikikannya dan tetap memasang wajah penasaran.
“Adek gue dari Jogja,” jawab Karen akhirnya sambil mengangkat kembali kardus air mineralnya.
“Adek kamu yang mana?” tanyaku heran sambil memasang tampang tersinggung. Karen tak pernah cerita kalau dia punya adik. “Sodara kembar gue.”
Aku terbelalak.
“Biasa aja dong mukanya!” Karen terkekeh. “Nanti kalo kerjaan gue dah kelar, gue telepon ya! Kita nongkrong bareng bertiga.”
Karen melangkah pergi meninggalkanku yang baru hendak memakinya. Bagaimana mungkin selama hampir dua tahun bersahabat, aku tak tahu dia punya saudara kembar?!
Kusimpan kekesalanku hingga rangkaian acara PENSI selesai.
Hampir pukul lima sore ketika aku masuk ke ruangan di mana banyak anggota OSIS sibuk merapaikan ini-itu. Tapi aku tak melihat batang hidung sahabatku itu.
Kutepuk bahu Monic—wakil ketua OSIS yang terlihat sibuk mengoordinir anggotanya. “Nic, lihat Karen nggak?”
Monic menyahut, “Rendra ya? Dia tadi izin balik duluan. Katanya mau jemput adiknya.”
Jadi ajakan nongkrong tadi hanya basa-basi Karen saja! Sekali lagi aku menelan kekesalan. Keesokan harinya cowok itu tak masuk sekolah. Dan pagi esok harinya, dia mengirim chat ke LINE-ku waktu bel masuk baru berdering. Alih-alih membawa kabar gembira, isi chat Karen lebih dari cukup untuk membuatku bergegas meninggalkan sekolah dan memilih menemuinya. []
__ADS_1