
ESOK harinya, aku mencari Kinan di seluruh sudut sekolah. Suara batinku menyerukan namanya berulang kali. Namun sosoknya tak terlihat di mana pun. Aku mirip orang gila yang putus asa. Berjalan linglung di koridor demi koridor. Aku memanggil bukan ingin melihatnya muncul, lalu sekali lagi melihatnya menangis darah. Tapi aku ingin meyakinkan bahwa yang kulihat kemarin nyata.
Saat itu jam istirahat. Aku bersandar di pilar koridor samping lapangan basket outdoor. Meyakinkan diri bahwa yang kemarin kulihat hanya ulah hantu iseng yang memanfaatkan keadaan untuk menakutiku. Kinan pastilah masih hidup di suatu tempat. Seperti yang Karen katakan, adiknya sudah mendaftar pertemuan klub astral project dan pasti akan hadir di sana Jumat nanti.
“Aku nggak pernah lihat hantu Kinan,” kusuarakan keyakinan itu. “Ken bilang sendiri baru ketemu Kinan dan nemuin notes cewek itu. Jadi nggak mungkin yang aku lihat kemarin hantunya. Nggak masuk akal!”
Berbekal keyakinan itu, aku melarikan pandangan ke lapangan basket. Ada Karen di sana. Dia terlihat tampan dengan kaos oblong hitam, bermain basket bersama beberapa temannya. Sekilas mata kami bertemu setelah Karen berhasil memasukkan bola ke ring. Cowok itu tersenyum dan melambai padaku.
Demi kelihatan baik-baik saja, kubalas lambaian tangannya lantas kembali berjalan menuju kelas. Yang perlu kulakukan sekarang adalah menemui Ken. Dia bisa menjelaskan padaku bagaimana kronologis pertemuannya dengan Kinan. Dengan begitu, pencarian akan jadi lebih mudah. Kubelokkan langkah ke gedung IPA. Energiku yang semula tertuang banyak di kaki pelan-pelan melemah sampai akhirnya sepenuhnya berhenti. Sungguh kebetulan. Dipisahkan jarak dua pilar, Ken tengah berjalan ke arahku. Siluetnya langsung terbaca jelas oleh kelima indraku.
Aku membencinya. Memang begitu. Namun, setiap berpapasan atau bertemu langsung dengannya seperti sekarang, otakku akan berfungsi seperti orang bodoh. Mendadak aku akan jadi serupa dengan para penggemarnya, sekelas mengagumi namun bedanya aku mengagumi dalam diam. Pikiran macam apa itu?! Aku sadar mesti melakukan sesuatu jika tak ingin cowok itu melewatiku bagai tak melihat apa pun seperti biasanya.
Dia bukan Ken Arok yang gagah berani, sama sekali tak seharusnya membuatku kehilangan akal begini. Dalam hati aku mempertanyakan kebodohanku. Mengapa selama ini aku hanya berani jadi musuh dalam selimut?
Langkah Ken makin mendekat. Mata cowok itu sama sekali tak mengarah padaku—ya, aku sadar diriku bukan tipe gadis yang menarik mata. Dia sibuk membalas sapaan gadis-gadis yang lewat di sekitar koridor yang kami lalui. Kami? Astaga. Sebutan itu membuat hatiku geli, tapi bibirku terkatup sama sekali tak mengeluarkan tawa.
Lakukan, Serena! Bicara dengan cowok narsis itu bukan hal yang sulit! Dia bukan hantu atau semacamnya. Demi Karen. Demi menemukan Kinan!
Kebulatan tekad kuwujudkan lewat langkah yang makin tegas dan cepat. Namun tiba-tiba saja pandanganku terasa kabur. Muncul kabut yang perlahan makin tebal, seolah siapa pun yang melakukannya memang sengaja menghalangi pandanganku dari Ken.
Aku mundur selangkah. Dalam hitungan detik, kabut di hadapanku menjelma satu sosok. Kembali kulangkahkan kaki ke belakang saat kukenali sosok yang muncul di hadapanku. Dia … Kinan. Masih jelas terpatri dalam ingatanku wajah cantiknya.
Tak dapat kulukiskan perasaanku saat ini. Percuma meyakinkan diri bahwa ini hanya halusinasi. Sosok tak kasatmata ini begitu nyata di mataku. Sama jelasnya seperti benda-benda yang dapat kusentuh.
Aku sesungguhnya menolak percaya bahwa adik sahabatku itu telah menjadi sosok yang menurut kebanyakan orang tak pernah ada, namun begitu nyata di mata orang-orang sepertiku. Kinan memasang ekspresi seperti saat kami bertemu di kelas Ken kemarin. Tak ada senyum cerahnya seperti yang kulihat di foto. Mata bulatnya bergetar. Dia ingin bicara padaku. Getaran di matanya seakan menyambarkan efek yang sama pada mataku.
Dan … pipiku basah.
Tak dapat terjelaskan mengapa tiba-tiba hatiku terasa begitu pedih.
__ADS_1
Kinan bersedih. Hanya itu yang kupahami.
Kinan mendekatiku. Makin dekat. Terus memperkecil jarak. Sedang aku bergerak refleks menjauhinya.
Segalanya jadi terasa lambat di antara kami. Bisingnya koridor serta lalu-lalang manusia lain seperti hilang sejenak. Hanya ada aku dan hantu Kinan. Kemudian, begitu indraku mampu kembali menangkap keadaan sekitar, Kinan melayang secepat sambaran cahaya ke arahku. Setelahnya, kegelapan melingkupiku.
Kinan mengambil alih cahaya dan menempatkanku pada sisi gelap.
***
MATANYA sendu, dalam, sekaligus menyenangkan. Komposisi yang pas antara kesan positif dan negatif, bahagia dan muram. Ini kali pertama aku melihatnya dari jarak sedekat ini. Dia menatapku lurus. Menyebabkanku mengedipkan mata berkali-kali. Tak mungkin Ken ada di sini. Mustahil dia memandangku seperti itu.
Ini mimpi. Kurasa aku belum bangun. Tapi bagian belakang kepalaku pusing sekali. Rasa sakitnya nyata. Kugerakkan kepalaku ke kanan, berusaha menetralisir rasa pusing yang menusuk.
“Serena?” Suara Ken memecah keheningan, membuncahkan geli di hatiku. Dia tahu namaku. Suaranya terdengar nyata. Aku memejamkan mata beberapa saat dan membukanya kembali. Ini bukan mimpi. Tapi … bagaimana mungkin?
Aku memandang ke kanan-kiri dan segera sadar keberadaanku— ruang UKS. Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa ada di UKS?
“Ser, lo mending istirahat dulu. Jangan maksain diri.” Itu suara Karen. Aku baru sadar sejak tadi sahabatku itu berdiri di samping ranjang. Wajah seriusnya tampak khawatir.
Sekali lagi kupandang sekelilingku, kemudian berhenti di Karen. “Kenapa aku ada di sini, Ren? Sebelumnya aku nggak apa-apa. Tadi aku ada di koridor, terus—”
“Kamu perlu istirahat, Ser!” Karen memotong kalimatku. Dia mendengus pelan saat sadar nadanya terlalu keras. “Tadi lo pingsan di koridor.”
Penjelasan itu tak lantas menghapus kebingunganku. Tatapanku beralih pada Ken.
“Katanya lo ribut sama dia,” sambung Karen, mengikuti arah pandangku.
Aku ribut dengan Ken? Tidak mungkin. Jelas-jelas tadi sebelum aku dan Ken berpapasan, Kinan sudah lebih dulu—tunggu, apa jangan- jangan….
__ADS_1
“Lo Serena?” Ken bertanya datar.
Aku menenangkan diri dengan mencoba tersenyum. Aku yakin senyumku terlihat kaku karena rasanya otot wajahku juga sama kakunya. Melihat ekspresi wajah Ken, aku tak yakin apa yang harus kulakukan. Jangan-jangan aku tadi kerasukan hantu Kinan! Tubuhku langsung gemetar memikirkan hal itu. Selama ini, meskipun bisa melihat hantu dan berkomunikasi dengan mereka, sekali pun aku tak pernah kerasukan. Jika benar demikian, apa yang sebenarnya Kinan inginkan dariku?
“Iya, aku Serena,” jawabku, kemudian memancing demi memastikan kecurigaan. “Kamu kok di sini?”
Ken menautkan alisnya, tampak kesal mendengar jawabanku. “Lo akting amnesia? Gue yang seharusnya minta penjelasan. Kenapa lo tiba- tiba minta notes itu dan bilang biar lo yang nyimpen? Lo pasti sengaja kan bikin heboh satu sekolah dengan pingsan di depan muka gue kayak tadi?”
Aku mengerutkan dahi. “Notes? Maksud kamu?”
Ken mendengus, kemudian mengangguk takjub. “Akting lo keren. Tapi gue nggak butuh. Cepet bilang apa maksud lo tadi!”
Aku tak membalas meski Ken berkata dengan nada mengejek.
Dia tak mengubah air wajahnya. Nada suaranya semakin tegas. “Lo kenal dia atau cuma penasaran dan mau bikin berita sampah kayak yang ada di tabloid kayak biasanya? Jangan kira gue nggak tahu lo anak PPJ!”
Karen menepuk pundak Ken saat melihatku terpojok. “Cukup ya, Bro. Kayaknya mulut lo udah mulai keterlaluan. Serena beneran sakit. Gue emang nggak liat langsung, tapi semua orang tahu kemarin dia juga pingsan. Bisa kan, lo ngomong sopan sedikit?”
Dua cowok itu bersitatap. Ken tampak terganggu akan kehadiran Karen, sementara Karen berusaha tersenyum tipis.
“Dia temen gue,” kata Karen tenang sambil tersenyum sekilas padaku. “Namanya emang Serena. Dan bener dia anak PPJ. Tapi dia nggak kurang kerjaan dengan nulis berita nggak penting tentang lo. Cukup itu aja yang perlu lo tahu. Gue nggak tahu apa yang bikin lo marah-marah begitu ke dia. Tapi sori Ken, kayaknya Seren mulai nggak nyaman. Jadi sebagai sahabatnya, gue berhak minta lo pergi dari hadapannya sekarang. Bisa? Ah, atau nggak, bisa lo minggir biar gue sama dia aja yang pergi?”
Karen beralih padaku. “Bisa jalan, Ser?”
Aku mengangguk linglung.
Ken justru tertawa mendengar kata-kata Karen. Dia memang terlihat kesal, tapi aku yakin, rasa penasarannya jauh lebih kuat dibanding kekesalannya. Itu terlihat dari reaksinya yang hanya menganggukkan kepala dengan rahang terkatup.
“Oke, nggak masalah.” Ken memandangku lurus. “Serena, kita ketemu lagi nanti. Gue rasa kita perlu bicara empat mata.” Dia menekankan dua kata terakhir, memandang Karen sesaat sambil mendengus, lalu kembali menantang mataku.
__ADS_1
“Jangan menghindar! Gue bakal temuin lo di mana pun itu. Lo punya utang penjelasan ke gue.” []