LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 10


__ADS_3

KAREN menggandeng tanganku dan baru melepasnya setelah tiba di depan kelasku. Dia tak bicara apa pun sejak kami meninggalkan UKS. Lagi pula aku juga tak bisa menjelaskan apa-apa jika dia bertanya dan aku yang justru butuh bertanya lebih banyak.



“Kayaknya kelas lo nggak ada guru,” komentar Karen setelah mengamati keadaan kelasku yang ramai. Seolah membaca ekspresiku yang kebingungan, Karen menjelaskan, “Sebentar lagi pulang. Tadi lo pingsan hampir empat jam. Mending sekarang lo duduk aja di kelas. Nanti pulangnya bareng gue. Harusnya kalo masih nggak enak badan, tadi nggak usah sekolah. Kemarin bener lo pingsan?”



Aku hanya mengangguk. Sudah pasti tampangku linglung, karena Karen langsung menepuk sebelah bahuku bersama sepasang alis yang terpaut.



“Kayaknya aku cuma kecapean, Ren. Kamu nggak usah mikirin aku begitu. Maaf ya, jadi ngerepotin.”



Mata Karen tampak menyelidik. “Lo kayak sama siapa aja. Terus, kenapa tadi si Ken sampe marah gitu ke elo? Kalian ribut soal apa di koridor tadi? Gue liatin dari lapangan kayaknya sengit banget.”



Aku menggigit bibir sejenak, lalu bicara jujur. “Kalau itu … aku juga nggak tahu.”



Meski tampak tak puas, Karen mengangguk dan sekali lagi menepuk bahuku. “Nanti gue jemput ke sini, oke. Tungguin bentar kalo misalnya gue agak lama. Ada materi tambahan buat ngejar ketinggalan gue karena nggak masuk-masuk kemarin.”



Sungguh tak enak rasanya berbohong begini. Tak mungkin ku- katakan bahwa aku baru saja kerasukan hantu adiknya. Kulepas ke- pergian sahabatku dengan lambaian singkat. Aku memeluk tubuh yang terasa menggigil sambil melangkah memasuki kelas yang keadaannya sungguh membuat kepala bertambah pening.



“Itu Serena!” seru Deby, salah satu teman sekelasku. Seruannya langsung membuat seisi kelas yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing menoleh ke arahku. Aku kebingungan, sementara teman-teman mulai mengerumuni. Sebenarnya sekarang pelajaran siapa sih, sampai-sampai kelas bisa serusuh ini?! Dalam hati aku mengutuk guru tak bertanggung jawab yang meninggalkan jam pelajarannya tanpa instruksi apa pun seperti sekarang.



“Ser, lo sama Ken kenapa?”



“Tadi lo pingsan di depan Ken, kan?”



“Ya ampun! Beruntung banget deh lo digendong sama Ken! Mimpi apa lo semalem?!”



What? Aku digendong Ken? Kutatap sekelilingku, tapi kepalaku yang pening tak mampu menemukan siapa yang meneriakkan kalimat terakhir itu. Siapa pun dia, kurasa dia sedang bergurau.



Kupijit pelipisku sesaat. “Aku mau duduk!” geramku sambil menatap wajah-wajah ingin tahu di sekelilingku. Lalu rautnya berubah kecewa mendengar nada kerasku.



“Udah woy! Balik! Serena nggak enak badan gitu malah pada lo kerumunin. Biar dia istirahat dulu!” Suara itu milik Vina.



Banyak seruan-seruan kesal menanggapi, tapi kemudian kerumunan di sekitarku bubar. Vina berderap mendekat dan menuntun ke mejaku. Tak lama, Yola juga datang dan mengambil tempat di kursi seberang mejaku.



“Lo nggak apa-apa?” tanya Yola, suaranya terdengar penasaran sekaligus khawatir.



Vina menepuk bahuku. “Gue heran banget pas dapet kabar lo pingsan. Ada apa sebenernya sih, Ser? Kenapa lo sampe nekat gitu? Pasti soal Adriana Kinanti ya? Cerita dong! Kemarin lo langsung kabur gitu aja tanpa bilang siapa sebenarnya cewek itu!”



Aku mengusap kening sampai poniku berantakan. Bukannya menjawab, lekat kutatap wajah penasaran Vina. “Kamu bisa ceritain kronologis lengkapnya?”



Vina menaikkan alisnya. “Katanya sih, lo tiba-tiba pingsan setelah debat soal notes sama Ken. Lo nggak inget?”



Aku membuang tatapan ke depan. Tak ada yang kupandang. Aku hanya sedang berpikir. Ken sudah mengatakan perihal notes tadi. Namun yang ingin kuketahui, apa isi percakapan itu. Kuingat-ingat kembali apa yang Ken katakan di UKS. Aku, maksudku Kinan meminta notes darinya? Tidak salah lagi. Jika benar demikian, notes yang dimaksud pastilah yang kemarin heboh dibicarakan oleh Vina dan Yola, notes milik Kinan yang jatuh dan ditemukan Ken.



Kuacak rambutku dengan sebelah tangan, membuat Vina dan Yola memandangku heran.



“Ser, kayaknya lo belum sehat betul deh.” Yola beringsut mengelus tanganku, menenangkan. “Mending lo izin pulang duluan sana.”



Aku memejamkan mata dan mengatur napas. Tenang Serena, tenang. Semua ini masih bisa dicerna baik-baik asalkan kamu tenang. Namun, saat aku membuka mata, hatiku kembali menumpahkan sumpah-serapah. Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang melihat sosoknya?! Aku lebih senang bersikap optimis seperti Karen. Dengan begitu semua tak akan serumit ini. Jelas sudah bahwa hantu Kinan bukan hanya halusinasiku. Tapi bagaimana mungkin aku mengabarkan Karen bahwa adiknya sudah meninggal dan jadi hantu? Bagaimana cara Kinan meninggal hingga tidak tenang dan jadi hantu? Masih banyak segudang pertanyaan yang menggangguku, tapi yang keluar dari bibirku hanya erangan frustrasi.


__ADS_1


***



TIGA puluh menit kemudian, tepat ketika bel pulang berdering, aku menyesali keputusanku karena menolak pulang lebih awal. Vina dan Yola yang sudah lebih dulu selesai membereskan barang dan sudah hendak meninggalkan kelas, menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu. Yola terpaku di tempatnya sementara Vina berlari ke arahku.



“Serena! Ada Ken!”



Satu nama itu yang sejak tadi menggangguku. Dan saat ini, demi apa pun yang ada di dunia, hanya dia yang sungguh tak ingin kutemui di saat kalut seperti sekarang. Demi Tuhan aku butuh memikirkan langkah apa yang harus kuambil. Dan manusia jenis Ken, tak akan pernah peduli hal itu. Aku sadar kalau aku membutuhkannya juga, tapi jangan memaksaku sekarang!



Setelah menyampirkan tali tas di bahu, aku berbalik dan langsung berhadapan dengan sepasang mata berbulu lentik milik Ken.



Cowok itu menyeringai tipis, tapi kemudian tersenyum manis. “Udah baikan?”



Aku mengatupkan rahang. Tidak, selama kamu masih ada di bumi.



“Nggak enak juga kita ngobrol di sini,” komentarnya sambil melirik Vina dan Yola yang masih berdiam di kelas sambil memandang penuh rasa penasaran, kemudian kembali ke mataku. “By the way, temen lo yang kayak bodyguard itu mana, kok nggak sama lo?”



Yang dia maksud itu pasti Karen. Seandainya Karen ada bersamaku, pasti akan lebih mudah menghindar dari cowok ini. Aku masih mengatupkan bibir rapat-rapat. Ken paham bahwa aku berniat tak membuka mulut sedikit pun.



Dia memperhatikanku beberapa saat, kemudian membuka suaranya yang berubah serius. “Ada yang beda sama lo. Jangan coba nutupin itu dari gue.”



Dia bicara mengenai apa? Aku bahkan tak yakin apa yang coba kututupi.



Ken mendadak melebarkan senyum, dia berkata dengan suara berbisik, “Banyak yang kenal sama lo di sini. Udah pasti lo beda sama yang lain karena nggak banyak yang dikenal mereka.”



Aku mengerjap cepat. Mereka siapa?




Aku hampir lupa cara bernapas. Ya Tuhan! Apa mungkin Ken mencari tahu tentangku dengan bertanya pada penghuni sekolah ini?



“Lo tahu, kan, gue bisa liat mereka,” kata Ken ringan.



Entah mengapa otakku berjalan lambat sekali. Aku hanya diam. Di balik punggung Ken, kulihat Vina dan Yola memberi isyarat agar aku melawan. Kurasa kali ini Yola yang fans berat Ken lebih memilih membelaku.



Ken lebih cepat membuka suara. “Pasti ada yang mau lo jelasin ke gue, kan? Obrolan kita tadi sempet diganggu sama si Ketua OSIS. Jadi mumpung dia nggak ada, gue mau denger penjelasannya dari lo sekarang.” Tatapan tajam cowok itu menghunjam mataku.



Kubalas tatapannya tanpa sedikit pun gentar. Tapi anehnya mulutku masih bungkam. Selama ini, terlalu banyak yang kupendam. Banyak kata-kata yang ingin kumuntahkan di depan wajahnya sampai aku bingung mana yang harus kukatakan lebih dulu.



Haruskah kukatakan bahwa aku tak suka dia sejak pertama kali bertemu?



Haruskah kukatakan aku benci setiap kali dia mengumbar cerita- cerita hantu dan berlagak hebat di depan semua orang?



Atau, haruskah aku mengatakan bahwa aku juga memiliki ke- mampuan yang sama tapi tak bersikap jemawa sepertinya?



Namun, aku tersentak begitu satu kalimat melintas di benakku.



Tidak. Aku menolak spekulasi yang otakku lemparkan untuk semua pertanyaan itu. Kupejamkan mataku sambil meneriakkan kalimat dalam hati mengenai hal yang berlawanan dengan kesadaran itu. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini. Sekarang aku butuh dia untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada Kinan. Perasaan pribadiku padanya harus disingkirkan demi kepentingan itu.



“Nggak usah beratin diri lo, Serena.”

__ADS_1



Suara Ken membuka kembali kelopak mataku. Aku masih belum bereaksi. Cowok itu menelengkan kepala ke arah Vina dan Yola, juga ke arah beberapa teman sekelasku yang masih ada di dalam kelas yang seperti sengaja memperlambat gerakan agar bisa mendengar percakapanku dengan Ken. “Kalian semua bisa keluar dulu nggak? Gue harus ngomong empat mata sama teman kalian ini.” Dia menunjukku dengan gerakan kepala.



Ken mengawasi satu per satu hingga semua temanku pergi, ke- mudian mengunci pintu kelas dan kembali ke hadapanku.



“Tenang aja, gue nggak akan ngapa-ngapain lo kok.”



Aku bahkan tak khawatir tentang itu. Yang kupikirkan justru bagaimana caranya mengatakan maksudku agar dia tak salah paham.



“Gue nggak akan kasih lo wejangan aneh-aneh soal banyaknya hantu yang ternyata kenal sama lo,” ucap cowok itu sok bijak. “Yah, mungkin hantu-hantu sini kenal lo karena lo salah satu fans fanatik gue, kan? Nggak masalah, itu hak setiap orang. Tapi…,” Ken menggantung kalimatnya sambil berderap mendekatiku. Anehnya aku tak mundur selangkah pun. Kubiarkan dia meletakkan tangannya di bahuku.



“Gue cuma mau lo jawab pertanyaan gue. Dari mana lo tahu kalo selama ini gue bohong?” Dia berkata dengan suara penuh penekanan.



Kali ini, alisku terpaut karena tak mengerti apa maksud perkataannya.



“Cuma ada dua kemungkinan.” Ken mencengkeram bahuku. “Yang pertama, lo tahu karena kenal sama Adriana Kinanti. Kedua, lo tahu, karena lo juga bisa lihat mereka.”



Rasanya udara di sekitarku berkurang, membuat napasku sesak selama sesaat. Ken menunggu jawabanku. Mana mungkin kujawab bahwa keduanya benar? Bahwa aku mengenal Adriana Kinanti dan sosok itu baru saja merasukiku, ditambah aku juga bisa melihatnya. Tapi Ken tampaknya sama sekali tak berniat melepaskanku sebelum mendapatkan jawaban yang dia inginkan.



“Kamu bohong?” tanyaku benar-benar tak mengerti.



“Cewek itu,” jawabnya dengan suara tertahan, “waktu pertama ketemu, dia bilang kalo gue nggak boleh lagi ngarang cerita soal hantu-hantu yang gue lihat. Gue abis tampil di PENSI dan pengin ke kelas waktu nggak sengaja nabrak dia sampe semua buku di tasnya jatuh berantakan saking kagetnya karena dia tahu rahasia gue. Selama ini gue masih sering cerita ke anak-anak soal hantu. Padahal nggak satu pun kisahnya benar karena sejak hantu-hantu sini tau gue suka usil, nggak ada dari mereka yang mau deket-deket atau bahkan cerita ke gue lagi. Jadi, gue ngarang cerita tentang hantu-hantu sini yang sekilas gue lihat. Cuma gue yang tau tentang itu. Dan … cewek bernama Adriana Kinanti itu bikin gue bener-bener kaget sampe nggak sadar kalo notes cewek itu ketinggalan.”



Ken menajamkan matanya. “Dan lo tahu apa yang bikin gue ngejar lo kayak gini?” Ken menjawab sendiri pertanyaannya. “Tadi, lo baru aja bilang ke gue kata-kata yang sama persis kayak dia dan minta gue balikin notes itu ke lo. Sekarang, apa penjelasan lo tentang ini?”



Seluruh kosa kata seakan meluap dari kepalaku. Tatapanku tanpa fokus. Tak ada yang lebih mengejutkan dari ini. Dan lagi-lagi, sama seperti saat jam istirahat lalu, aku melihat kabut yang perlahan menebal dan membentuk satu sosok … Kinan.



Karena terlalu terkejut, aku bahkan tak bisa mengalihkan tatapan dari hantu itu agar Ken tak mencurigaiku. Cowok itu sontak mengikuti arah mataku menatap Kinan yang berdiri tepat di samping kanan Ken, membuat cowok itu melepaskan cengkeramannya di bahuku dan mundur dengan limbung.



Mulanya mata Kinan yang redup kecokelatan itu memandangku datar sebelum akhirnya dia menoleh dan bersitatap dengan Ken.



“Kamu … Adriana Kinanti?” Suara Ken terdengar parau.



Kinan berkedip satu kali. Ken menggeleng keras. “Nggak mungkin,” desisnya. “Kamu nggak mungkin dia. Dia masih hidup. Jelas-jelas baru beberapa minggu yang lalu aku ketemu—”



Kalimat itu tak terselesaikan karena Ken kemudian tampak terpukul. Dia menopang tubuh dengan berpegangan pada tepi meja. “Beberapa minggu….” Ken tertawa sumbang. “Nggak mungkin dalam waktu itu— ”



Cowok itu menggeleng, masih sambil tertawa seakan hal ini lucu baginya.



Tanganku gemetar. Situasi yang menyelubungiku sama sekali bukan hal baik. Ada hal kelam di balik semua ini. Dan aku sadar telah terseret terlalu dalam. Ken memiliki pikiran yang sama denganku tentang Kinan. Dan pikiran itulah yang sungguh ingin kulenyapkan tapi rasanya mustahil. Hantu ini adik dari sahabatku.



Saat kutatap, hantu Kinan balik menatapku. Cepat-cepat kuarahkan pandanganku ke sembarang arah. Aku takut dia merasukiku lagi. Tapi tiba-tiba saja aku mendengar sebuah suara memanggilku. Kulihat Ken masih terdiam di tempatnya, jadi suara itu jelas bukan miliknya.



“Serena.”



Kepalaku bergerak kaku ke arah Kinan. Kutatap mata cokelat itu dan seketika sadar, dialah pemilik suara itu. Dia sedang bicara padaku meski bibirnya tetap terkatup.



“Cari notes itu.”

__ADS_1



Lalu Kinan menghilang bagai buih. Kemunculan Kinan sudah cukup mewakilkan penjelasanku pada Ken. Aku melangkah pergi meninggalkan kelas. Setelah ini, aku yakin Ken pasti mencariku lagi. []


__ADS_2