
DI samping Prisma Jaya yang hanya dibatasi oleh jalan searah, terdapat sebuah pabrik daging. Tidak terlalu besar untuk ukuran pabrik. Kata Bu Kokom, pedagang bakso yang sudah lama di Prisma Jaya, dulunya pabrik itu adalah mes dan gudang lama yang sudah tak dihuni, lalu dialihfungsikan menjadi pabrik daging.
Akses pintu rahasia para siswa yang berniat bolos terdapat di belakang sekolah, bersisian dengan gang setapak yang kemudian mengarah ke pabrik tersebut. Karena di belakang sekolah lebih banyak ditumbuhi pohon-pohon, proses pelarian bukanlah hal sulit. Aku hanya harus mengenakan jaket yang menutupi badge seragamku, menerobos keluar lewat celah dinding yang lebih mirip terowongan kecil di belakang yang ditutupi bak sampah besar di belakang sekolah, kemudian berlari secepat mungkin lewat bagian belakang pabrik daging. Aku hafal akses jalan ini karena setiap hari aku lebih sering lewat sini dibanding lewat jalan utama depan sekolah.
Kuperlambat langkah begitu tiba di balik dinding pabrik yang hampir setinggi tiang listrik. Menurutku, tempat di balik dinding bercat putih ini lebih mirip penjara dibanding pabrik. Aktivitas mesin di dalam terdengar jelas dari luar. Tapi, sama sekali tak terlihat karena pagar biru yang membingkainya tak ada bedanya dengan dinding, begitu rapat. Hanya sesekali terlihat satpam yang membuka gerbang saat ada yang ingin keluar atau masuk. Lalu setelahnya ditutup kembali.
Bu Kokom adalah tetangga salah satu satpam di pabrik ini. Dengan koneksinya, pedagang bakso itu sering membeli daging gilingan untuk produksi baksonya. Dia sering memuji pabrik ini lantaran daging giling yang mereka hasilkan menurutnya berkualitas baik, segar dan tentunya murah karena dibeli langsung tanpa rantai perantara distributor. Tapi anehnya aku selalu merasa tak nyaman. Selain karena tempatnya sepi, bau anyir darah dari hewan-hewan yang disembelih dan digiling menguar pekat di udara. Biasanya, aku akan berjalan lebih cepat jika lewat belakang pabrik ini. Sambil berusaha mengabaikan bau tak sedap itu, aku mengeluarkan ponsel, membaca kembali chat LINE dari Karen.
Ser, adik gue belum pulang ampe sekarang. Hp-nya mati. Sama sekali nggak bisa dihubungin. Terakhir kali kabarnya waktu dia nelepon gue pas kita di kelas waktu itu. Gue sekeluarga lagi sibuk cari dia.
Tenang ya, Ren. Aku yakin adik kamu nggak apa-apa. Mungkin dia ada urusan tapi dan nggak bisa ngabarin. Sekarang kamu di mana?
Di rumah
Aku ke sana. Rumah kamu di blok O sebelah mananya?
Setibanya ujung jalan, kukantongi ponsel lalu menyetop angkot jurusan Singgasana Pradana dan segera naik. Karen tak membaca atau membalas chat terakhirku. Baiklah, sampai kompleks perumahannya nanti, aku bisa mencari di mana letak rumah sahabatku itu.
Kuembuskan napas berkali-kali ketika rasa cemas mulai menggelayuti. Meski tak kenal siapa adiknya, aku yakin Karen pasti sangat khawatir. Sama yakinnya bahwa dia juga pasti mampu mengendalikan perasaan dengan baik. Aku mengenalnya sebagai sosok dewasa dan pengertian. Tapi entah mengapa, meski begitu, aku tetap merasa perlu ada di sisinya.
***
__ADS_1
AKU dan Karen mulai berteman dekat pada semester dua kelas X. Sebenarnya sejak semester satu kami sekelas, dan aku cukup mengenalnya karena dia termasuk siswa yang aktif dan dikenal banyak orang. Dia juga ketua kelas. Namun saat itu interaksi kami hanya sebatas tegur-sapa teman sekelas, seputar PR atau tugas, tak lebih.
Kami mulai dekat ketika aku ditugaskan meliput pemilihan ketua tim basket putra yang waktu itu calonnya hanya dua, Ken dan Karen. Ken yang selama ini jadi most wanted tanpa saingan, langsung dibanding- bandingkan dengan Karen. Walaupun pamor Ken lebih tinggi, aku salut pada Karen karena dia tetap santai dan menganggap kompetisi pemilihan ketua basket sebagai ajang pembuktian bakat.
Semua orang tahu kemampuan basket Karen ada di atas Ken. Tapi tetap saja Ken yang dipilih menjadi ketua. Saat diwawancarai, ketua basket lama beralasan memilih Ken supaya pamor tim basket sekolah lebih terangkat. Aku sempat marah-marah pada Karen karena dia diam saja diperlakukan curang begitu. Sejak kejadian itu, kami jadi lebih dekat.
Ingatanku melayang ke suatu sore di lapangan basket indoor sekolah begitu angkot yang kutumpangi melaju. Beberapa minggu setelah kekalahan Karen di pemilihan ketua basket. Karen sedang asyik men-dribble bola dan berkali-kali memasukkannya ke ring. Aku duduk bersila di permukaan lapangan, menumpukan dagu dan memandangnya malas. Kami masih kelas X. Aku benar-benar kesal karena diharuskan menulis artikel tentang kemenangan Ken. Kutanya pada Karen apakah dia merasa kecewa karena kemampuannya tak diakui?
Cowok itu tertawa. “Jangan lebay deh, Ser. Gue main basket karena hobi. Bisa main aja udah seneng. Emangnya kalo nggak jadi ketua gue bakal mati?”
Aku mendengus pendek. “Dasar nggak punya ambisi!”
“Apa pentingnya punya ambisi kalo dengan hidup biasa aja gue udah bahagia?” sahutnya, kemudian melempar bola ke ring. Meleset. Dia mendengus, berlari memungut bola.
Karen yang tadinya hendak melempar bola, mengurungkan niatnya dan melangkah mendekatiku. Dia duduk bersila di sisi kananku, menghela napas kasar. “Ser, lo tahu nggak, apa yang mahal di hidup ini?”
“Pendidikan,” balasku asal.
Karen terkekeh. “Bukan, bukan itu.”
Aku mengeryit malas.
__ADS_1
“Yang mahal di hidup ini tuh waktu sama niat,” balasnya tenang. Aku memandangnya diam.
“Lo harusnya bersyukur…. Biarpun secara ekonomi lo di bawah gue, setidaknya lo punya satu: niat.” Dia menjentikkan jari. “Dan satu lagi, tujuan. Nggak semua orang yang punya duit punya niat dan tujuan yang jelas. Contohnya gue.”
Aku membalas dengan cengiran kesal. “Bukannya niat kamu mau jadi pemain basket? Terus kenapa diem aja waktu kamu dicurangin kayak kemarin? Harusnya tuh kamu protes. Masa nggak ada usaha sama sekali!”
Karen mengangkat bahu, memandang barisan kursi penonton yang kosong. “Siapa bilang gue niat jadi pemain basket? Udah gue bilang, itu cuma hobi. Gue nggak percaya kalo niat sama tujuan harus gue buat.”
“Sok dewasa banget kamu.” Aku menepuk keras bahunya. “Coba aku denger apa pendapat kamu tentang niat dan tujuan.”
Saat aku kembali menumpukan dagu sambil memandangnya, Karen segera memalingkan wajah.
“Hem… ya,” Dia terdiam sesaat. Tampaknya kinerja otaknya mendadak melambat. “Maksud gue, dalam diri setiap orang pasti udah ada yang namanya tujuan. Peluang untuk sukses udah pasti ada. Nah, kalo niat sendiri sih, bergantung orangnya, Ser. Jadi kata yang tepat menurut gue bukan ‘buat’ tapi ‘nyari’. Nyari tujuan itu dalam diri gue, dengan gitu niat untuk mencapai tujuan itu akan tercipta dengan sendirinya.”
Aku menganggukkan kepala, memikirkan kata-katanya. “Ren, salah nggak sih punya impian yang tinggi? Bukannya kalo impian kita ketinggian pas jatuh nanti pasti sakit banget rasanya?”
Tiba-tiba Karen bangkit berdiri. Senyum di bibirnya mengembang lebar. Dia mengulurkan tangan ke arahku yang menatapnya heran. “Bakal gue tunjukin kalo jatoh itu asyik.”
Saat itu aku sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan Karen. Dia mengajakku pergi ke sebuah taman di daerah Bandung Selatan. Senyum mengembang di bibirnya tak lepas ketika dia menepikan motor dan menggandengku ke area bermain indoor. Segalanya menjadi jelas begitu Karen menggiringku ke sebuah trampolin raksasa seukuran lapangan bulu tangkis yang kala itu dipadati pengunjung mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Karen lebih dulu naik ke trampolin, bergabung dengan para pengunjung. Cowok itu melompat-lompat seperti anak kecil. Semakin lama, lompatannya semakin tinggi dan tawanya semakin lepas. Aku ikut tertawa meski masih berdiri memandanginya dari luar trampolin.
__ADS_1
“Ayo, Ser!” seru Karen. “Lo liat, kan? Di sini semua orang bisa jatuh setelah lompat tinggi, tapi mereka semua ketawa. Lo juga harus coba!” Sekali lagi Karen mengulurkan tangan, dan akhirnya aku menyambutnya. Sore itu, untuk pertama kalinya aku tak takut jatuh karena ada Karen di sisiku. Saat ini Karen sedang berada di titik terbawah karena kehilangan adiknya, dan aku ingin berada di sisinya. []