LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 14


__ADS_3

“PERGI nggak, lo! Jangan ganggu dia!” Teriakan Ken menyambut begitu kami memasuki area kafe setelah mendengar jeritan Melanie.



Di sana, tepat di anak tangga teratas, kulihat Melanie sedang me- nangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Beberapa pengunjung berusaha menenangkan gadis itu. Sementara Ken—aku baru sadar kepada siapa dia mengalamatkan teriakan setelah mengikuti arah pandangnya. Astaga! Itu hantu wanita bungkuk berkebaya krem yang tadi. Hantu itu berdiri tak jauh dari Melanie, tetapi Ken menempatkan diri di tengah keduanya.



Mungkin sadar aku tengah memperhatikannya, tiba-tiba hantu itu berpaling padaku. Cepat-cepat kualihkan mata sambil merapal doa. Apa hantu itu yang menyebabkan Melanie berteriak histeris seperti tadi?



Aku baru hendak berlari menghampiri kerumunan ketika sadar bahwa Karen masih menggenggam tanganku.



“Tenang, Ser. Lo tetap di samping gue,” katanya tegas sambil mempererat genggamannya.



Aku mengangguk dan berjalan mendekati kerumunan. Remaja- remaja anggota klub AP juga masih berdiam di sana. Hawa panik merambat, menambah kesan ramai pada kafe. Setelah aku dan Karen tiba di dekat Melanie, hantu perempuan tadi sudah menghilang.



“Ada apa Mel? Tadi lo kenapa teriak?” tanya Karen khawatir.



“Di sana…,” Melanie menunjuk ke tempat hantu tadi berada. Dia terisak dengan tangan gemetar. “Tadi di sana ada cewek mukanya rusak teriak ke aku!”



“Ada yang ganggu tadi. Melan kaget,” sahut Ken tenang. “Tapi udah pergi kok. Udah nggak apa-apa.”



Kata ‘nggak apa-apa’ yang dilontarkan Ken tak lantas membuat Melanie lebih tenang. Sadar kehadiran Karen, gadis itu langsung melepaskan tangan dari wajah dan menghambur memeluk sahabatku. “Ren. Aku nggak bohong. Tadi aku beneran lihat cewek mukanya rusak nyeremin banget berdiri di deket aku. Dia teriak pas banget di kuping aku. Aku takut, Ren!”



“Iya, kita tau lo nggak bohong. Tenang ya. Udah nggak ada apa-apa kok.” Karen berusaha menenangkan.



Kali ini, aku membiarkan gadis itu menangis di pelukan Karen. Dia pasti benar-benar terkejut. Kuakui, wajah hantu tadi memang sangat menyeramkan—dengan wajah setengah rusak dan tatapan tajam yang menghunus. Mulutnya lebih lebar dari ukuran mulut manusia dengan rahang panjang. Dengan tubuh yang bungkuk seperti itu, rahangnya terlihat seakan menjuntai ke bawah bersama rambutnya yang panjang dan kusut. Akan lebih baik jika hantu tadi terus menunduk, jadi wajahnya yang kelewat menyeramkan itu tak terlihat. Aku mengembuskan napas, mengelus rambut Melanie.



“Dia nggak akan berani ganggu kamu lagi kok, Mel. Udah ya, kamu tenang dulu.”



Saat mengedarkan pandangan, aku baru sadar beberapa orang masih memandangi kami dengan tatapan aneh. Aku cuek saja sih. Namun, saat tiba-tiba jemariku diremas, aku langsung terperangah. Kulirik tanganku. Ternyata Karen masih menggandengnya sejak tadi. Pantas saja orang-orang melihat kami dengan tatapan seperti itu.



Mereka pasti berpikir, selain aneh karena telah membuat makan malam mereka terganggu, ada cinta segitiga antara aku, Karen dan Melanie. Yang benar saja! Kulepaskan tanganku. Sahabatku terlihat tak nyaman dengan perlakuanku yang demikian. Kubalas tatapannya dengan senyum semanis mungkin. Wajahnya menampilkan ekspresi yang tak kumengerti. Untunglah tak bertahan lama, karena kemudian Karen sudah sibuk minta maaf pada beberapa pengunjung yang tampak terganggu dengan keributan yang terjadi. Karen tahu cara me- nempatkan diri dengan baik. Wajar dia dipercaya sebagai ketua OSIS yang dikenal bijaksana.



Sementara itu, Ken sedang melipat tangan di depan dada melihat Melanie yang perlahan mulai tenang. “Mel, kayaknya lo tadi lagi kaget banget ya,” komentarnya dengan nada heran. “Hantu tadi langsung nyamperin lo tanpa sempet gue prediksi. Lo pasti bengong deh, makanya tuh hantu langsung ngisengin lo. Emang segitu kagetnya lo liat adeknya Karen? Kayak speechless banget gitu. Hantu biasanya nggak akan iseng sampe kayak gitu tanpa sebab.”



Aku tak bisa menahan diri dan langsung memukul lengan Ken. Mulutnya yang keterlaluan itu memang tak pernah bisa direm. “Kamu tuh apa-apaan sih, Ken. Orang lagi ketakutan malah digituin!”

__ADS_1



Ken meringis pelan. “Gue kan cuma nanya, Ser.”



Tak kusangka, Melanie tiba-tiba melepaskan pelukannya dan me- natap Ken dengan raut datar. “Aku mau pulang!” cetusnya tegas. Matanya masih memancarkan ketakutan yang jelas.



Ken tak terpengaruh. Dengan santai dia mengangkat bahu. “Sorry. Gue nggak bermaksud menyinggung.”



“Oke, kita pulang sekarang.” Karen ikut ambil suara. “Takut kemaleman juga. Nanti dicariin ortu kalian.”



Ken terkekeh datar. “Siapa juga yang mau nyariin gue. Oh ya, Ren, adek lo gimana? Nggak kekejar?”



“Kita kehilangan jejak,” sahutku, kemudian berpaling pada Karen. “Ren, Kamu ke motor aja duluan sama Melan. Biar aku sama Ken yang ambil barang-barang kita.”



“Lo nggak apa-apa?” Karen terlihat bimbang. Matanya terarah pada Ken.



Aku mengibaskan tangan demi menenangkannya. “Nggak apa-apa. Abis ambil barang, aku sama Ken langsung nyusul kamu.”



“Oh ya, bukannya kita ke sini mau ketemu klub AP yang tadi?” Ken menyela, “Kenapa nggak sekalian tanya-tanya dulu soal adek lo ke mereka? Siapa tau dapet info tambahan.”




Terkadang aku takjub dengan Ken. Di tengah situasi segenting apa pun, dia selalu mengingat tujuannya dengan jelas. Pikirannya tak pernah terpengaruh apa pun. Terbukti, kata-katanya mujarab. Kini, Karen mulai terlihat bimbang. Jika tak ada Melanie, aku yakin Karen sudah ke sana kemari melakukan hal yang berguna demi penyelidikannya.



“Aku mau pulang, Ren!” rengek Melanie sambil menarik-narik lengan kemeja Karen. Tangis ketakutannya makin menjadi. “Aku nggak mau lebih lama di sini. Hantu itu pasti ngejar aku lagi! Ayo kita pulang sekarang!”



Aku paham ketakutan seperti apa yang Melanie rasakan. Jadi, meskipun rengekannya tampak menyebalkan serta merepotkan, aku tak menentang kemauannya untuk segera pergi.



“Kalo gitu, biar aku yang tanya-tanya sama klub AP,” tawarku cepat. Ada yang perlu kupastikan sendiri.



Karen dan Ken langsung berpaling padaku.



Usulku langsung ditimpali Ken. “Oke. Kalo gitu gue ikut. Sekalian ambil barang.”



Karen masih terlihat bimbang. Aku tahu dia tak memercayai Ken.

__ADS_1



“Kita nggak akan lama kok, Ren.” Aku memasang senyum lebar sambil menepuk bahu Karen. “Udah sana cepetan. Kasihan Melan.”



Karen mengembuskan napas berat, lalu dengan enggan mengangguk. “Oke. Gue sama Melan tunggu di parkiran ya.”



“Oke, bye, Karen.” Suara Ken terdengar lebih jernih. Cowok itu menarikku tidak sabar.



“Ser!” Seruan Karen menghentikan langkahku. “Makasih banyak ya.” Dia tersenyum, lalu berpaling pada Ken. “Jagain Serena ya, Ken.”



Ken memiringkan kepala sesaat. “Gue kapten tim lo. Kapan sih gue nggak amanah?!”



Setelah melambaikan tangan, aku dan Ken kembali ke meja kami tadi untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal.



“Lo ngerasa ada yang aneh nggak sih, Ser?” tanya Ken tiba-tiba.



Aku mengangkat wajah setelah menyampirkan tas Melanie ke bahu. “Semua ini nggak masuk akal,” erangku frustrasi.



Ken menarik kursi lalu duduk. Dahinya berkerut dalam. “Gue serius. Kalo lo lihat langsung apa yang tadi terjadi, lo pasti juga ngerasain hal yang sama.”



Aku terpengaruh juga. “Soal apa ?”



“Melanie.” Ken mengetuk-ngetuk dagunya. “Cewek itu aneh.”



“Yang aneh tuh bukan Melanie, tapi kejadian ini! Karen yakin banget kalo cewek yang lari tadi itu Kinan. Sedangkan kita berdua sama-sama tahu kalo Kinan—hantunya, ada di sekolah. Hantunya, Ken! Demi Tuhan, HANTUNYA! Terus menurut kamu, mana yang harus kita percaya? Mata batin kita, atau mata yang nempel di wajah ini?!”



Ken langsung bangkit menyusul begitu melihatku berjalan meninggalkannya dengan langkah setengah mengentak. “Oke,” imbuhnya. “Itu juga salah satu yang paling aneh. Tapi menurut gue, Melanie lebih aneh. Lo nggak tau ya, gue punya keahlian khusus buat deteksi hal-hal mencurigakan?”



Aku menoleh, lalu memandangnya lurus. “Jadi, apa pendapat kamu soal tadi?”



Ken mengangkat bahu. “Ngeliat gimana reaksi Melan waktu liat cewek yang katanya Kinan itu, gue jelas curiga. Dan soal cewek yang lari tadi … nggak mungkin dia Kinan. Kita liat sendiri Kinan udah jadi hantu, kan? Jelas ada yang sengaja ngerancang ini buat bikin opini kalo Kinan masih hidup dan lagi menghindar dari keluarganya.”



Sayangnya aku tak setuju. “Kalo menurutku bisa jadi kamu salah.” Ken menautkan alis.


__ADS_1


“Ingat soal astral project yang dari tadi kita omongin?” tanyaku, lalu melanjutkan, “Kalo dengan kemampuannya itu Kinan bisa menjelajah semaunya, bisa aja yang kita lihat di sekolah itu bukan hantunya Kinan, melainkan arwahnya yang lagi berkelana lewat astral project. Bisa jadi, yang lari dari Karen tadi baru Kinan yang sebenarnya.” []


__ADS_2