
SETELAH berkendara sekitar satu setengah jam, aku, Ken, Karen dan Melanie tiba di sebuah kafe bertema outdoor yang ada di daerah Bandung Utara. Matahari sudah tergelincir, menyisakan gurat oranye, abu, dan biru di langit. Sebentar lagi, gelap akan menghilangkan campuran warna itu.
Aku memandang suasana romantis kafe itu dengan alis terpaut. Aneh sekali rasanya datang ke tempat seperti ini bersama mereka. Seakan-akan kami sedang melakukan double date. Kulirik Melanie yang senantiasa berjalan di sisi Karen, kemudian berpaling ke sisiku yang lain di mana Ken dengan pembawaannya yang khas ikut mengamati sekeliling.
Sebelum pikiranku melantur ke mana-mana, kuarahkan mata ke area kafe. Tempat ini memang sarangnya anak muda nongkrong. Bangku dan kursi ditempatkan di area terbuka sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan lampu-lampu cantik kota Bandung pada malam hari. Ini wilayah dataran tinggi, dan hamparan rumah penduduk tampak bagai sebaran lampion yang berkerlip cantik.
Tanpa sadar, aku berjalan ke tepi kafe untuk menikmati pemandangan itu. Semilir angin menerpa wajahku. Rasanya segar sekali. Sejenak, masalahku terbang bersama desir angin. Sampai suara Ken yang mengganggu terdengar.
“Liat-liat dulu kalo mau nikmatin pemandangan!”
Aku memelotot ke arahnya. Tiba-tiba merasa paranoid memandang sekitar. Tak ada apa-apa. Ken melengos sambil menahan tawa melihat tampang bodohku. Aku membiarkannya lantaran mengingat kehadiran Karen, minus Melanie. Ya, gadis itu kuanggap tak ada saja meskipun pada kenyataannya, langkahnya selalu berusaha menyamai Karen yang ada di belakangku.
Mungkin aku kekanakan, tanpa alasan jelas menjaga jarak dari sahabatku seperti sekarang. Tapi biarlah! Aku ingin Karen tahu bahwa aku tak suka Melanie ada di dekatnya. Tidak, lebih tepatnya, ada di sekitarku dan dia.
Aneh, bukan? Aku juga heran. Padahal, selama ini aku tak pernah keberatan jika ada yang mencoba mendekati Karen. Mungkin saatnya saja yang tak tepat. Sekarang, aku dan Karen sedang ada dalam masalah di mana kami harusnya bergantung satu sama lain. Dan aku benci melihat Karen lebih banyak berbagi pada Melanie dibanding denganku. Aku butuh saat yang pas untuk mengutarakan perihal adiknya. Pasti akan menguras emosi dan sulit dipercaya. Terpikir sesaat, apa lebih baik tak usah kukatakan saja? Membiarkan alur penyelidikan ini menemukan sendiri kenyataan bahwa Kinan sudah meninggal?
“Sini aja, guys!” Suara menyebalkan Ken kembali terdengar.
Cowok itu melambaikan tangan setelah menemukan meja kosong. Letaknya cukup strategis, di bawah sebuah pohon berhiaskan lampu jalar berwarna keemasan. Aku menyusulnya, sementara Karen dan Melanie di belakang. Aku sengaja memelankan langkah agar sejajar dengan Karen. Dan usahaku tak sia-sia. Karen memang menyusul seperti kehendakku. Kami biasa melakukannya jika sedang jalan bersama dan ada salah satu yang tertinggal. Tapi tak cuma Karen. Melanie yang juga sejak tadi mengimbangi langkah Karen, kini jadi sejajar denganku.
Astaga! Kami seperti iringan pengibar bendera.
Aku melirik Karen dengan wajah cemberut, tapi cowok itu malah tersenyum. Tangannya menahanku ketika aku hendak melarikan diri lebih dulu, tak melepaskannya sampai kami duduk. Kelakuan Karen membuat Melanie terpaksa tak bisa duduk di samping sahabatku. Anehnya, gadis itu tak terlihat keberatan saat harus duduk di seberang meja bersama Ken. Posisi yang tepat dan mengindikasikan bahwa kami tak sedang melakukan double date. Yup! Aku duduk bersebelahan dengan Karen. Di depanku Melanie dan di sampingnya ada Ken.
Sejauh ini sih baik-baik saja. Aku cukup tenang dengan posisi ini hingga kekesalanku pada Karen terlupakan. Berganti dengan kesibukan memilih rasa roti bakar kafe ini yang terkenal enak. Saat menunggu pesanan datang, Karen memulai perbincangan.
“Gue tau tempat ini setelah bongkar barang-barang Kinan.” Dia berpaling pada Melanie. “Terus kebetulan Melan cerita, dia punya kenalan anak klub astral project yang Kinan ikutin.”
“Astral project?” Ken bertanya heran. Atau pura-pura heran. Se- ingatku aku sudah memberitahunya soal ini.
“Adik gue bisa astral project,” sahut Karen.
Wajah Ken berbinar sambil mengangguk paham.
“Kamu kenal anak klub itu dari mana, Mel?” tanyaku.
Melanie mengibaskan tangan, tampak salah tingkah. Padahal aku kan bertanya murni karena penasaran.
“Aku kan sering ke sini buat hadir ke klub psikologi. Sering liat ada anak-anak pake jaket AP. Pernah kenalan sama salah satunya. Kebetulan aja, Ser,” jawabnya.
Aku mengangguk singkat. Ken ikutan bertanya.
“Udah berapa lama adik lo hilang?”
Karen berpaling pada Ken. “Sekitar sebulan.” Dia kemudian tersenyum sekilas dan memulai ceritanya, “Gue sering cerita ke Kinan tentang kehidupan gue di Bandung. Betapa asyiknya kehidupan gue di sini. Gue tinggal sama bokap yang nggak pernah ngekang berlebihan. Beda sama Kinan yang tinggal bareng nyokap dan suami barunya, ruang gerak dia nggak bebas. Ayah tiri kami emang perhatian, tapi terlampau mengekang. Dia sampe sering curhat karena selalu nggak dibolehin ini-itu.”
Kisah tentang keluarga yang berantakan memang tak pernah membuat siapa pun tersenyum. Kulirik Ken yang juga berlatar belakang keluarga yang sama seperti Karen. Menurut penyelidikanku selama ini, orangtua Ken memang tidak bercerai, tapi keduanya sudah tidak akur dan jarang berada di rumah. Ken hanya melipat tangan sambil bersandar di kursi sementara Karen melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“Karena itu, Kinan seneng banget waktu nyokap ngizinin dia ke Bandung selama libur semester. Itu juga sebagai hadiah karena dia juara umum di sekolahnya. Setelah ambil rapor, dia bahkan nggak ganti baju dan langsung berangkat ke Bandung naik pesawat hari itu juga. Dia nggak pernah sekali pun takut. Dia bilang, dia hampir setiap hari ke Bandung dan udah hafal semua jalan. Jadi, waktu dia telepon udah sampe dan bilang lagi di jalan, gue nggak khawatir lagi. Termasuk waktu dia nolak dijemput.”
Aku ingat saat Karen menerima telepon waktu itu. “Kinan udah tahu jalan ke sekolah? Dari mana?”
Melanie dengan sok tahu menjawab, “Dia nyari tahu sendiri. Astral project!”
Ah. Aku mengangguk paham. Meski mungkin diriku tampak bodoh, aku tak peduli. Selama ini, aku tak tahu astral project benar-benar bisa membantu seperti itu. Apalagi bisa sampai dikendalikan! Benar-benar hebat!
“Terus, gimana sama penyelidikan polisi, Ren?”
“Polisi udah meriksa. Bener Kinan sampe di Husein Sastranegara di hari waktu PENSI sekolah kita. Dia keluar dari bandara naik taksi, kelacak di CCTV bandara. Tapi, nggak ada tanda-tanda lain setelahnya. Pihak taksinya udah dihubungi, tapi nggak banyak bantu. Hp-nya terakhir terlacak di deket bandara. Setelahnya mati atau emang sengaja dimatiin.”
Aku tak tega melihat Karen menjelaskan lebih jauh. Raut wajahnya tampak muram dan putus asa. Aku memainkan kuku dengan gelisah. Jelas malam ini kami tak akan bertemu Kinan. Dan diam tak bicara begini membuatku makin tak enak. Apa yang akan terjadi pada Karen setelah tak menemukan adiknya malam ini? Aku tahu, ini satu-satu harapannya. Aku tak sampai hati meruntuhkan atau bahkan mengusiknya.
Melanie mengambil keheningan yang tercipta untuk bicara. Memang dasar image-nya sudah jelek di mataku, maka usahanya meredam cerita Karen tetap saja membuatku berpikir dia sedang cari muka.
“Tentang klub AP,” kata Melanie sambil menundukkan kepala, menjaga suaranya tak menyebar ke meja lain.
Lebay banget! Jarak meja di sini jelas jauh-jauh. Tak usah berbisik- bisik juga tak akan kedengaran orang di meja lain!
“AP itu klub online yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia. Kalian buka profil lengkap klub itu kalo buka apc.co.id.” Melanie terdiam sesaat sebelum melanjutkan, “Kinan salah satu anggota klub itu. Dan kayak yang Karen bilang, dia nemuin agenda pertemuan di kalender meja Kinan di tempat ini tanggal 20 September, malam ini. Persis sama kayak informasi yang kenalan aku kasih. Kenalan aku bilang, nama Kinan juga ada di daftar anggota yang memastikan bakal hadir malam ini.”
Dengan gaya santai, Melanie mengangkat kedua bahunya yang kurus. “Sekarang nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi. Kita tinggal nunggu kehadiran mereka aja.”
“Mereka pake jaket, kan?” tanyaku.
“Kali ini enggak!” sahut Melanie yakin. “Kenalanku yang bilang.”
“Terus, gimana cara kita ngenalin mereka?” tanya Karen heran.
“Aku hafal muka beberapa anak klub itu. Kenalanku juga datang. Kalo liat, aku pasti langsung tahu kalo itu mereka.” Lagi-lagi nada Melanie seyakin itu. Jika dia yang tahu, itu artinya percuma memanjangkan leher mencari.
Pesanan kami datang. Kegiatan mencari tertahan sampai pramusaji pergi. Aku kembali melirik Ken dan baru sadar cowok itu sedang memasang tampang aneh. Alis tebalnya terpaut dan bulu matanya yang lentik kontras saat dia mengerjap lambat. Rahangnya bergerak miring sementara perhatiannya tertuju ke Melanie.
Mengingat reputasinya selama ini, aku tak bisa berhenti berpikir macam-macam tentangnya. Demi menghentikan apa pun yang kini cowok itu pikirkan, aku menegurnya. “Ken!”
Ken tak memalingkan wajah. Untunglah Melanie tak sadar, sementara Karen yang mendengarku justru melihat ke arahku.
“Makanan kamu, Ser!” Karen memberi tahu, membuatku bungkam dan mau tidak mau mulai makan. Ketika roti di piringku setengah habis, tiba-tiba Melanie berseru.
“Itu mereka!”
Kami terkesiap dan langsung mengikuti arah pandangnya. Karen yang bereaksi paling cepat. Sahabatku itu langsung bangkit dan mengejar sekelompok remaja yang berjalan masuk ke arah kafe. Melanie langsung sigap mengejarnya. Aku telat menyusul karena Ken tiba-tiba menahanku. Aku berpaling padanya dengan tampang kesal.
“Apa sih, Ken?! Kita harus kejar mereka!”
__ADS_1
Ken menggeleng. Matanya tertuju ke satu arah. Aku mengikuti arah pandangnya, tapi kemudian cowok itu menggandengku, berjalan lebih pelan ke tempat yang Karen dan Melanie tuju.
“Jangan lihat ke sana!” bisiknya sementara kami berjalan. “Lo tahu kan, penunggu yang terkenal di sini?”
Aku ingat pernah membaca artikel tentang hantu penunggu kafe ini, sosok wanita bungkuk berambut panjang yang mengenakan kebaya warna krem.
“Dia barusan liatin lo,” tambah Ken. kata-katanya justru membuatku ingin berpaling memastikan apa dia berbohong atau tidak. Tapi dia menarikku dan memperbolehkanku menoleh.
“Dia berdiri di dekat pohon tempat duduk kita tadi.” Ken kembali membeberkan. “Lo pernah kerasukan. Sekali lo pernah dimasukin. Maka akan gampang hantu-hantu itu cari celah buat masuk lagi.”
“Oke. Aku nggak akan noleh!” sahutku tegas. “Tapi sekarang bukan saatnya buat mikirin ini, Ken. Lepas! Karen butuh aku! Dia lagi ngejar seseorang yang bahkan jelas-jelas nggak ada di sini.”
Ada keengganan yang tampak di wajahnya. Tapi Ken akhirnya me- lepaskan dan membiarkanku berlari menyusul Karen.
Saat tiba, kulihat Karen sedang mengejar seorang gadis berjaket hitam dengan hoodie yang menutupi kepalanya, sambil menyerukan nama Kinan. Mereka menuju keluar kafe. Aku tak sempat melihat wajah gadis itu karena wajahnya ditutupi masker. Tapi rambut panjangnya menjulur keluar. Sekarang aku merasa waspada ketimbang penasaran. Siapa gadis itu? Kenapa Karen memanggilnya Kinan?
Aku menghampiri Melanie yang berdiri di tangga depan kafe dengan wajah terkejut. “Itu beneran Kinan, Mel?”
Melanie mengangguk kaku.
Bersama adrenalin yang terpacu, aku segera berlari menyusul Karen keluar kafe. Awalnya aku tak melihat apa-apa selain deretan pohon besar di sekitar jalan yang menjorok ke bawah. Tapi aku memilih terus berlari karena yakin arah yang kutuju memang arah yang sebelumnya Karen lewati.
Tak lama kemudian aku melihat punggung yang kukenali. Itu Karen! Kuhampiri sahabatku itu. Dia tengah mengatur napas dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Melihatku datang, dia menegakkan tubuh.
“Mana Kinan-nya, Ren?” tanyaku sambil memandang sekitar. Suaraku bergetar.
Karen menggeleng lesu. Tapi wajah itu tampak lebih tenang. Aku bingung melihatnya.
“Dia Kinan, Ser,” ucapnya lemah. Kemudian, seulas senyum terlukis di bibirnya. “Dia Kinan.”
Aku terpaku, justru merasa khawatir. Tapi Karen malah tersenyum makin lebar dan langsung memelukku.
“Dia Kinan. Dia baik-baik aja. Dia bahkan bisa lari sekencang itu buat ngindarin gue, Ser! Dia baik-baik aja.”
Aku mengembuskan napas panjang. Merasa kaku di balik punggungnya. Tak mungkin. Kinan sudah meninggal.
Saat Karen melepaskan pelukannya dan tersenyum lega, mataku masih menyusuri kegelapan di jalan menurun di sisi kami. Setengah percaya dan tidak. Lalu, aku memandang Karen lurus demi memastikan.
“Ren, kamu yakin yang tadi itu Kinan?”
Karen mengangguk tegas. “Dia Kinan, Ser. Gue yakin dia Kinan, adik gue.”
Pikiranku mulai mengambang. Jika benar yang tadi Kinan, aku juga yakin hantu yang ada di sekolah juga Kinan. Ini membingungkan. Tapi, tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku bersamaan dengan menggemanya suara teriakan dari arah kafe.
Karen menggenggam tanganku. Wajahnya tegang, sama sepertiku. Aku menelan ludah.
__ADS_1
“Itu suara Melanie.” []