LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 7


__ADS_3

SUDAH seminggu tahun ajaran baru dimulai. Terakhir Karen memberiku kabar, dia sudah kembali ke Bandung. Semua barang-barang penting seperti laptop, ponsel dan buku catatan ikut diboyong saat Kinan pergi. Jadi dia tak menemukan petunjuk berarti. Saat kusarankan untuk membuka media sosial adiknya, Karen tak menemukan ada yang patut dicurigai.



Hingga hari ini, cowok itu belum menunjukkan batang hidungnya di sekolah. Aku berniat mengetik chat LINE untuk bertanya apakah hari ini dia masuk sekolah, tapi kemudian menyimpan ponsel ke saku. Sepanjang perjalanan menuju kelas, kulihat banyak siswa mengobrol seru.



Sepertinya ada gosip yang masih hangat. Radar pencari beritaku menangkap sinyal kejanggalan sekitar. Aku adalah bagian dari klub Pers Prisma Jaya atau disingkat PPJ. Praktis kegiatanku selain belajar adalah mencari berita. Maka, ribut-ribut di koridor seperti ini biasanya mengandung berita yang pantas kutulis. Untuk urusan pers, Prisma Jaya memiliki tabloid internal yang terbit sebulan sekali. Namanya PJ World. Tentu saja dikelola oleh PPJ. Selain tabloid, kami juga mengelola blog sekolah dan mading.



Aku adalah bagian dari tim rubrik trending topic—rubrik yang biasanya memuat berita-berita yang sedang hangat di area Prisma Jaya. Kebanyakan memang hanya gosip. Tapi tak jarang berita dari rubrik kami dijadikan headline news di PJ World.



Demi mengorek informasi, kuperlambat langkah saat melewati kursi panjang yang diduduki oleh Joanna dan teman-temannya. Dia versi perempuan dari Ken. Cantik, kaya, terpandang. Namun satu kekurangannya: otak. Sering kali mulutnya bekerja lebih banyak di- banding otaknya. Dia terkenal sudah lama mengejar-ngejar Ken, tapi sampai saat ini cintanya belum juga mendapat sambutan.



Berhubung tak ingin pagiku dirusak oleh nenek lampir itu, maka kuputuskan berakting—pura-pura bermain ponsel sambil bersandar di dinding cukup jauh dari Joanna, namun masih leluasa mendengar suara cemprengnya.



“Nggak mungkin!” tukas Joanna keras. Wajahnya sedikit memerah, jelas sedang marah.



Mei, gadis keturunan Tionghoa yang katanya paling care pada Joanna mengelus bahu temannya itu, kemudian suaranya yang bernada tinggi di akhir terdengar. “Sabar lah, Jo. Aku yakin Ken nggak akan lama dengan siapa pun cewek itu.”



Joanna tampak semakin marah. “Tapi mana bisa gue biarin gitu aja Mei?! Selama ini gue yang ngejar-ngejar dia! Bilang sama gue, siapa cewek yang disukai Ken! Siapa namanya tadi?”



Kamila, salah satu anggota geng yang wajahnya paling polos menjawab, “Namanya the siapa ya tadi? Sama kayak tokoh jahat yang di sinetron itu. Ah, ya … Adriana. Bener, Adriana.”



Mei menambahkan, “Adriana Kinanti.”



Sandiwara itu masih terus berlanjut. Tapi aku sudah tak berminat jadi penonton. Radar pencari beritaku berdengung-dengung. Adrenalinku terpacu. Tiga kata menggema di kepalaku: Ken menyukai seseorang! Jawaban atas keraguanku selama ini soal kewarasannya.



Aku melangkah menuju kelas. Adriana Kinanti. Nama itu kuucap baik-baik agar melekat di ingatan. Ini berita besar! Bagaimana mungkin aku sampai ketinggalan berita heboh begini!



Setibanya di kelas, suara gaduh langsung memenuhi gendang telinga. Kelasku paling bontot dan suasananya tak sekondusif kelas unggulan yang mayoritas siswanya kalem-baik-berprestasi.



Aku hanya tersenyum simpul saat beberapa teman sekelas menyapaku. Langkahku mantap menuju satu titik. Kursi kedua dari belakang yang diduduki dua gadis yang langsung menegakkan kepala begitu melihat kehadiranku.



“Ser, ke mana aja sih?!” sambar Vina, gadis bertubuh sintal. Di sebelah Vina, duduk gadis berkacamata dan berperawakan kurus tengah menumpukkan dagu dengan wajah lesu. Dia Yola, salah satu dari sekian banyak penggemar Ken.

__ADS_1



Vina dan Yola bersahabat karib. Keduanya sering disebut angka 10 jika sedang berjalan bersama. Vina satu tim di PPJ denganku. Sementara Yola adalah informan paling membantu jika aku dan Vina ingin mencari berita soal Ken. Fangirling. Kurang lebih seperti itulah yang Yola lakukan terhadap Ken. Mengagumi, mencintai, sampai mungkin setingkat memuja.



Aku langsung menarik salah satu kursi ke meja Yola dan Vina, tak mampu menyembunyikan keantusiasanku. “Adriana Kinanti sama Ken. Kejadian fenomenal apa yang aku lewatin?! Kok bisa aku sampe nggak tau?!” sambarku langsung.



Vina menggelengkan kepala dengan gaya mendramatisir. “Lo pasti nyesel, kan, Ser?”



Aku serta-merta menggeleng. “Nggak. Selama kamu ceritain kronologisnya dengan sempurna.”



“Sebaiknya lo baca di tabloid aja, Ser. Karena gue yang akan tulis artikelnya.” Vina terkekeh, setengah menutup laptop di hadapannya agar aku tak melihat apa yang tengah ditulisnya.



Aku merengut tak terima. “Nggak adil, dong. Emang kamu udah dapet cerita lengkapnya apa, Vin?”



“Tentu.” Vina dengan percaya diri menaikkan alis sesaat. “Gue beruntung karena tadi ke kantin dulu. Ken cerita soal cewek namanya Adriana Kinanti. Dengan sangat jelas dia nyeritain kronologis pertemuannya dengan cewek itu.” Gadis gembul itu memekik girang.



“Yah … seenggaknya si Ken mematahkan dugaan bahwa dia nggak doyan cewek.”




Vina balas berargumen. “Dia itu cuma sok-sokan jual mahal aja, Yol. Mana kita tahu di luar dia punya cewek berapa? Sekarang aja kita baru diceritain tentang ceweknya. Nggak tau kan gimana dulu-dulu? Tipe kayak Ken mustahil betah jomblo!”



Vina ada di rumpun yang sama denganku. Mencari berita untuk mencari kelemahan Ken habis-habisan. Tipikal anti-fans. Sedang Yola yang berdiri di sisi Ken sebagai fans-nya sudah pasti setia membela idolanya.



“Bilang aja lo iri kan gara-gara nggak bisa masuk fansclub-nya Ken. Ngaku deh!” Yola mengibaskan tangan, tertawa meremehkan.



“Gue nggak salah denger tuh? Gue niat gabung waktu itu cuma buat jadi mata-mata aja, kali. Nggak ada rasa menyesal sama sekali.” Vina tak kalah meremehkan.



Yola akhirnya menjulurkan lidah. “Jangan minta info lagi sama gue kalo gitu!”



Diancam begitu, barulah Vina tertawa sambil memukul lengan Yola. “Yaelah, bercanda kali Yol. Ah lo mah serius amat sih kayak upacara.”



Aku menahan tawa melihat tingkah keduanya. Yola kini sepenuhnya memandangku. “Biar gue yang ceritain, Ser. Bocah gembul samping gue ini emang maunya selalu menang sendiri.”

__ADS_1



Keputusan itu sempurna, membuat Vina merengut. Dia langsung menutup laptopnya. “Kalo Serena denger ceritanya, gue nggak yakin deh artikel gue dipake.”



“Masukin aja dulu ke tim redaksi, Vin,” sahutku. “Gue nggak akan bikin judul yang sama.”



“Makanya itu,” Vina menumpukan dagu, meniru gaya Yola sebelumnya. “Judul yang nggak sama itu yang bikin artikel gue pasti berakhir jadi bungkus gorengan.”



“Itu mah emang lo-nya aja yang pesimis mulu,” sambar Yola tajam, tampaknya masih kesal. Tanpa peduli tampang Vina yang makin mengerut, dia beralih padaku. “Jadi gini, Ser. Tadi pagi-pagi banget, pas gue sama gembul samping gue ini ke kantin, Ken ngumpulin anak-anak yang udah dateng dan bikin pengumuman menghebohkan. Soal cewek yang ditaksirnya. Gue nggak bisa ceritain ulang karena sebenernya gue nggak mau percaya.”



Yola menggerak-gerakkan tangannya ketika bicara. “Ken bilang, tempo hari dia ketemu sama cewek di deket TU. Cewek itu pake seragam sekolah lain dan nggak sengaja jatuhin buku notes pas tabrakan sama Ken. Ken bilang dia mau ngejar cewek itu dan balikin bukunya. Tapi nggak sengaja dia baca isi buku itu dan entah kenapa tiba-tiba dia lupa niatnya mau balikin buku. Pas sadar, cewek itu udah pergi entah ke mana. Dia tahu nama cewek itu dari bukunya. Ada nomor HP yang dicantumin di sana, tapi pas dihubungi nggak bisa. Jadi kemarin Ken nanya, apa ada yang kenal sama cewek yang namanya Adriana Kinanti itu.”



Yola menghela napas sesaat. “Bukan cuma itu, Ser. Ken bilang, dia benar-benar penasaran sama cewek itu setelah baca catatannya. Dia benar-benar harus ketemu sama cewek itu lagi. Dia bilang, dia mau balikin buku itu sekaligus ngungkapin perasaannya. Gila nggak? Sinetron banget kan? Makanya banyak yang nyama-nyamain si Adriana ama tokoh antagonis di sinetron yang santer itu. Gue aja males dengernya. Bisa-bisanya Ken kocak begitu.”



Aku mencerna penjelasan Yola baik-baik. “Yol, lo liat nggak notes cewek itu isinya apa?”



Yola menggeleng lesu. “Itu juga yang bikin gue penasaran abis, Ser. Ken nggak kasih liat. Ah, tapi di notes-nya ada foto cewek itu. Ken sempet kasih liat. Gue sempet moto sih. Mau liat?”



Tentu saja aku langsung mengangguk antusias.



Yola mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Aku segera menjulurkan tubuh sedekat mungkin dengannya. Vina kini tengah berkipas-kipas ria menggunakan buku tulis sejarah milik Yola—tam- paknya sengaja ingin membuat sahabatnya kesal.



Aku memandang layar ponsel Yola yang menampilkan sosok gadis bernama Adriana Kinanti. Napasku tertahan. Perlu beberapa saat untuk mencerna apa yang kulihat. Kepalaku terasa berputar-putar.



Wajah dalam foto itu selama beberapa minggu terakhir terus kupandangi, terus kuingat kalau-kalau aku melihatnya di suatu tempat. Dengan gemetar kukeluarkan ponsel, membuka galeri untuk melihat foto yang tempo hari Karen kirimkan padaku. Lantas menyamakannya dengan foto yang ada di ponsel Yola.



Persis sama.



Yola dan Vina sama-sama tertegun. Namun, wajahku sudah lebih dulu pucat.



“Lho, dari mana lo dapet fotonya Adriana Kinanti, Ser?” Yola bertanya.


__ADS_1


Kupandang kedua temanku dengan sorot tegas. “Aku kenal siapa dia.” []


__ADS_2