LUNAR ECLIPSE

LUNAR ECLIPSE
Episode 6


__ADS_3

DUA minggu libur semester terasa cepat berlalu.



Aku menyeret langkah menuju papan pengumuman. Hari ini pembagian kelas! Kuingatkan itu pada diriku demi menghibur diri dan sejenak melupakan pencarian Kinan yang belum membuahkan hasil. Melihat namaku di daftar kelas unggulan mungkin bisa memperbaiki mood-ku pagi ini. Ah, tapi, jika aku ada di kelas unggulan, sudah pasti tak akan sekelas dengan Karen. Sahabatku itu mungkin belum akan masuk hari ini. Beberapa hari lalu, dia ke Yogyakarta untuk melacak keberadaan Kinan dengan melihat barang-barang di kamarnya. Setelahnya aku belum mendapat kabar lagi. Kuharap kali ini ada titik terang.



Tampaknya semua orang sangat antusias. Papan pengumuman yang memuat daftar pembagian kelas dipadati siswa angkatanku. Aku masih berdiri di belakang kerumunan ketika seorang gadis berkucir ekor kuda menyenggol lenganku. Aku menoleh, dan dia tersenyum lebar. Dia pemegang peringkat dua seangkatanku semester lalu. “Aku masuk IPS



1. Kelas unggulan,” gumamnya semringah.



Tentu saja aku ikut senang untuknya. “Selamat ya, Ka.”



“Kamu gimana, Ser? Pasti kita sekelas dong!”



Aku juga penasaran. Sangat penasaran! Kutinggalkan Eka, kemudian masuk ke kerumunan sampai akhirnya tiba di barisan paling depan. Kutelusuri lembar pertama jurusan IPS—lembar IPS 1—kelas unggulan. Hatiku berdesir kalut karena tak kutemukan namaku di sana. Lembar kedua pun sama. Di lembar ketiga, barulah terpampang namaku di deretan huruf S. Aku menautkan alis, heran bercampur kesal.



Serena Aldyathena. IPS 3.



Demi Tuhan! Mengapa aku di IPS 3?!



Aku tak amnesia! Jelas-jelas akhir semester lalu aku menempati peringkat pertama di jurusan IPS. Menurut peraturan di sekolah ini, siswa-siswa dengan prestasi tertinggi sudah pasti ditempatkan di kelas nomor 1. Harusnya sekarang aku di IPS 1!



Dengan emosi memanas, kutelusuri deretan nama di lembar kelas IPS 1. Nama Aldebaran Karendra, ada di daftar nama itu. Padahal peringkat Karen jauh di bawahku. Dalam lembaran yang sama, ada pula nama Wahyuni Ekasari—gadis yang tadi menyapaku dan Bagaskara Dewa Aji—pemegang peringkat ketiga.



Jika mereka saja yang di bawahku ditempatkan di kelas unggulan, lalu mengapa aku tidak? Ini jelas-jelas keberpihakan tanpa dasar! Aku tak terima diperlakukan seperti ini!



“Mereka pikir, aku akan diem aja?” gerutuku. “Pasti ini karena beasiswa!”



Kutarik kertas yang memuat namaku dari papan pengumuman dengan kasar. Tanpa memedulikan protes dan tatapan heran orang- orang di sekitar, aku segera melangkah menuju ruang guru. Aku harus mendapat penjelasan yang masuk akal tentang ini!



Selama dua tahun terakhir, entah sudah kali keberapa aku keluar- masuk ruang guru demi urusan protes-memprotes. Langkahku tahu tujuannya dengan jelas. Dalam beberapa detik saja, aku telah tiba di hadapan meja pojok kanan ruangan bersekat itu. Meja itu lebih besar dibanding meja-meja lain di ruangan tersebut, terhalang sebuah rak buku tinggi sehingga tampak seperti ruangan pribadi.



Seorang lelaki paruh baya duduk di balik meja tersebut. Dia membenarkan letak kacamatanya begitu melihat kehadiranku. Pak Burhan, terkenal dengan julukan sosiopat lantaran ekspresi dingin dan pembawaannya yang seakan tak peduli pada orang lain. Herannya, seorang seperti dia justru menjabat wakabid kesiswaan—jabatan yang seharusnya menuntut pemegangnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan siswa.

__ADS_1



Pak Burhan menungguku bereaksi, ekspresinya datar. Dia pasti muak. Dia pasti ingin menertawaiku karena lagi-lagi aku datang padanya. Sudah pasti dia tahu apa yang ingin kubicarakan karena pembagian kelas ini kuyakin ada kaitan dengannya.



Sambil berusaha bersikap setenang mungkin, aku sedikit mem- bungkukkan badan sebagai sopan-santun.



“Duduk, Serena!” gumam Pak Burhan sambil menunjuk kursi kosong di seberang mejanya. “Saya mau dengar apa protes kamu kali ini.”



Aku menahan emosi dengan mengembuskan napas dalam-dalam. “Makasih, Pak. Tapi maaf, tujuan saya datang bukan untuk duduk- duduk.”



Kuletakkan lembar daftar nama IPS 3 di meja Pak Burhan dengan gerakan tegas. “Pak Burhan yang terhormat, saya datang ke sini untuk mendengar penjelasan Bapak tentang ini.”



Pak Burhan melirik sekilas kertas tersebut, kemudian bersandar di kursinya sambil tertawa pendek. Kumis tebalnya bergerak-gerak menyebalkan.



“Waktu saya kelas X. Pihak sekolah bilang saya nggak bisa masuk kelas unggulan karena saya ada di peringkat terbaik ketiga. Saya maklum dan terima waktu ditempatkan di kelas biasa. Waktu kelas XI, saya terbaik kedua.” Aku mendengus sesaat, memandang nanar lawan bicaraku. “Dan lagi-lagi dengan alasan yang sama, saya nggak bisa masuk kelas unggulan. Oke, saya masih bisa terima. Walaupun saya merasa diperlakukan nggak adil karena dimasukkan ke IPS 3—kelas dengan prestasi terendah—padahal saya termasuk siswa berprestasi. Tapi sekarang, Pak. Saya peringkat teratas. Nggak ada alasan menaruh saya di kelas terendah! Saya harusnya ada di kelas unggulan. Tapi kenapa lagi-lagi seperti sebelumnya? Saya nggak bisa terima ini. Jelaskan sama saya, apa alasan saya ditempatkan di kelas terendah?!”



Ekspresi Pak Burhan tak berubah sama sekali. Dia menegakkan tubuhnya, membuka beberapa berkas yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan setumpuk amplop, memisahkannya pada ruang kosong di mejanya.




Aku mengatupkan rahang menahan kesal. Itu surat-surat dari kotak saran sekolah. Jelas aku tahu karena aku yang menulisnya. Aku tak terkejut melihat semua surat itu ada di tangan Pak Burhan. Bukankah tujuanku menulis semua surat itu memang agar dia membacanya? Menulis surat dan memasukkannya ke kotak saran sekolah sudah menjadi kebiasaanku sejak muncul begitu banyak hal-hal di sekolah ini yang membuatku merasa tak puas. Kapan tepatnya aku lupa. Namun, jelas aku tak akan mengaku bahwa aku yang menulisnya. Selama ini, aku tak pernah membubuhi nama di surat-suratku.



“Kamu yang menulis semua surat ini, kan?”



Aku tak gentar. “Apa buktinya kalau saya yang menulis semua surat itu?”



“Jangan pikir saya bodoh, Serena.” Pak Burhan kembali tertawa pendek. “Saya ini guru kamu. Saya tahu kelakuan semua murid saya.”



“Kalaupun benar saya yang menulis surat-surat itu, apa salahnya, Pak?” Aku mengeraskan rahang. “Semua surat itu dari kotak saran, kan? Bukankah kotak saran memang tujuannya menampung saran-saran dari para siswa? Bapak nggak berhak menuduh, apalagi menghakimi siapa pun yang berniat memberi masukan baik untuk sekolah.”



“Kamu harus tahu, Serena. Semua yang tertulis di surat-surat ini bukan saran. Semua tuduhan tanpa dasar!” Pak Burhan menaikkan suaranya satu oktaf, namun nadanya tetap terkendali. Dia membuka salah satu surat, kemudian membacanya, “Tiga April 2016, saat pelajaran olahraga, saya melihat Pak Deni memeluk Tiara—salah satu siswa kelas sepuluh yang sedang bermain basket di lapangan indoor.”



Dengan cepat, Pak Burhan membuka amplop lain. “18 April. Bu Eni, guru Bahasa Indonesia sama sekali tak masuk ke kelas selama enam bulan terakhir. Beliau selalu beralasan berhalangan hadir. Sebagai gantinya, dia selalu membebankan banyak tugas pada kami. Tapi, beberapa hari lalu, saya dan beberapa teman justru melihatnya sedang makan bersama seorang guru di depan sekolah, padahal saat itu harusnya dia mengajar di kelas kami.”

__ADS_1



Pak Burhan mengempaskan surat yang telah selesai dibacanya ke meja. Dia memandangku datar. “Apa-apaan semua ini! Omong kosong apa yang kamu tulis, Serena? Kamu tahu, betapa bahayanya jika dinas pendidikan sampai membaca semua ini! Untunglah saya melihatnya sebelum audit dilaksanakan.”



Aku mengepalkan tangan demi meredakan kekesalan, tetapi masih berusaha bersikap wajar. “Saya nggak tahu ternyata seperti itu kelakuan guru-guru saya.”



Pak Burhan mendengus berat. Tampaknya semakin kesal. “Jangan bicara sembarangan tentang guru-guru kamu.”



“Bukan saya yang menulis itu, Pak.” Aku tetap pada jawabanku. “Lagi pula, siapa pun penulis surat-surat itu, saya yakin dia punya alasan mengapa melakukannya.”



“Saya tahu kamu yang menulisnya. Jangan mengelak. Saya sudah mencocokkan tulisan kamu.”



Aku mengembuskan napas panjang. “Jadi, alasan Bapak menempatkan saya di kelas terendah karena surat-surat ini?” tanyaku sarkastis.



“Jika saja pemberi beasiswamu tak berbaik hati, mungkin kamu sudah lama tak ada di sekolah ini, Serena.” Pak Burhan menautkan jari- jarinya sambil menumpukan siku di meja. “Belajar saja dengan baik. Kamu harusnya beruntung bisa diterima di sekolah ini. Jangan ikut campur apa yang bukan jadi urusanmu!”



“Apa karena saya nggak seperti anak-anak lain?” tanyaku ketus. “Karena saya di sini mengandalkan beasiswa. Benar begitu kan, Pak? Itu sebabnya saya diperlakukan berbeda.”



Tepat pada saat itu, bel tanda masuk berbunyi. Pak Burhan bangkit dari kursinya. Senyum kemenangan terlukis di bibirnya. “Bukankah kamu pintar? Harusnya kamu sadar, Serena. Uang membedakan kedudukan. Mereka yang punya uang selalu ada di posisi lebih tinggi. Kamu sama sekali tak mengeluarkan uang sepeser pun selama sekolah di sini. Wajar kalau kamu diperlakukan berbeda. Sekarang, sebaiknya kamu segera masuk kelas. Belajar saja yang rajin dan jangan menyusahkan saya dengan hal-hal seperti ini lagi. Pemegang beasiswa yang merepotkan ya cuma kamu!”



Kedua tanganku terkepal sempurna di sisi tubuh. Ingin sekali rasanya kuhantamkan kepalan tanganku ke wajah Pak Burhan. Orang seperti dirinya hanya menodai predikat guru. Sebagai ganti keinginanku meninju wajahnya, kuulurkan tanganku. “Kalau begitu terima kasih, Pak.”



Pak Burhan memandang tanganku yang terulur dengan alis ter- angkat. Dia tak mungkin membalas uluran tanganku, maka tanpa menunggu reaksinya, kuturunkan kembali tanganku. “Terima kasih karena sudah membiarkan saya bersekolah di sini. Saya beruntung masih bisa bersekolah, apalagi di sekolah sebagus ini. Kalau begitu saya permisi. Maaf mengganggu Bapak.”



Pak Burhan mengekori kepergianku dengan pandangan waspada. Saat mencapai pintu, aku berbalik. “Satu hal terakhir, yang mungkin harus Bapak tahu. Meskipun kami cuma anak-anak, tapi kami nggak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Jika Bapak menyalahkan penulis surat itu, sebaiknya Bapak cari tahu apa alasannya menulis surat tersebut. Nggak akan ada asap jika tak ada api, kan?”



Kutundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya melangkah pergi. Angin segar langsung menyambut begitu keluar dari ruang guru. Di dalam sana hanya ada hawa panas yang kental. Aku tak pernah nyaman berada di ruang guru lama-lama. Setelah ini, Pak Burhan pasti akan mengawasiku lebih ketat. Tapi aku sama sekali tak takut. Aku juga akan mengawasinya. Dia yang harusnya takut karena mata dan telingaku ada di mana-mana.



Sekelebat bayangan abu-abu melintas di hadapanku.



Aku tersenyum ketika bayangan itu berdiri di sampingku. Bayangan itu tak berwujud, hanya seperti kabut semi tebal.


__ADS_1


“Awasi dia. Kalau ada yang mencurigakan, segera lapor aku,” perintahku pada bayangan yang kemudian memelesat pergi menembus dinding, masuk ke dalam ruang guru. []


__ADS_2