
TERLALU cepat, tapi sesuai dugaan. Pagi keesokannya aku mendapati Ken bersandar di tepi pintu kelasku. Tatapan cowok itu menerawang. Dia sedang melamun, sampai tak menyadari waktu langkahku berhenti di depannya. Seperti biasa dia langsung menjadi pusat perhatian. Yang tak biasa hanyalah sikapnya yang seperti tak peduli dengan keberadaan orang di sekitar. Dia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ada banyak hal yang perlu kuberitahukan kepadanya. Maka, mengabaikan jarak yang selama ini terbentang di antara kami, aku meraih tangannya. Dia tersentak kaget, tapi tak menolak begitu tahu aku yang melakukannya. Kami jadi pusat perhatian baru pagi itu. Dengan mantap aku meniti anak tangga menuju atap bangunan. Angin pagi yang masih terasa dingin berembus menyegarkan. Kulepaskan cekalanku pada tangan Ken sambil berbalik menatap cowok itu. Ken melakukan hal yang sama. Sorot matanya tajam dan menuntut.
Kubuang napas sebagai upaya menenangkan diri. “Adriana Kinanti … Kinan,” Suaraku lirih saat memulai, “udah meninggal, Ken.”
Ken tertawa seolah yang kukatan adalah lelucon. Lama dia seperti itu. Kemudian, dengan suara nyaris putus asa, dia berkata, “Tahu dari mana kalo dia udah mati? Hem? Bukan berarti karena lo bisa lihat hantu kayak gue, semua yang keliatan itu benar. Bisa aja kan itu jin yang nyamar jadi cewek itu. Jangan sembarangan ambil kesimpulan!”
Kupejamkan mata sesaat, lalu kubalas mata tajam Ken dengan keteguhan yang sama besar. “Awalnya aku juga mikir kayak gitu. Seandainya memang benar, itu lebih baik. Sayangnya ini bukan kali pertama dia muncul di depanku. Kalo kamu tanya kenapa aku bisa ngomong sama persis kayak Kinan waktu minta notes yang kamu simpen, jawabannya karena yang waktu itu datang nemuin kamu bukan aku, melainkan aku yang dirasuki Kinan!”
Ken kehilangan kata-kata. Dia limbung sedikit, lalu mengusap wajahnya gusar.
“Dia kembaran Karen dari Jogja yang hilang. Sampai sekarang, Karen masih nyari kembarannya yang sejak ninggalin bandara tepat pas hari PENSI waktu itu, belum juga sampe rumah. HP-nya nggak bisa dihubungi. Teman-temannya pun nggak ada yang tahu dia di mana. Sampe kemudian beberapa hari lalu … hantu itu muncul di depan aku.” Aku tak sadar bicara setengah menangis. “Mungkin aku bisa tenang, bisa optimis seandainya aja hantu itu nggak pernah muncul. Kamu tahu, mukanya sama persis kayak foto yang Karen kasih!”
Tangisku jadi sungguhan begitu melihat Ken tak bereaksi. Aku berjongkok, menangis melampiaskan penat di dada. “Aku bingung gimana caranya bilang sama Karen kalo sebenernya adiknya udah meninggal. Aku nggak sanggup memutus harapan dia. Bisa aja kan, mata kita yang salah, Ken? Kayak kata kamu, nggak selamanya apa yang orang-orang kayak kita lihat benar. Bilang sama aku kalo kita yang salah! Karen bilang adiknya baik-baik aja di suatu tempat. Pasti dia yang benar, kan? Kita pasti salah. Kita salah!”
Ken bersimpuh dan mendekapku di bahunya. Mencoba menenangkan tangisku dengan tepukan ringan di punggung. “Takdir nggak pernah salah, Ser. Walaupun kita nggak bisa lihat hantu cewek itu, nggak lantas semuanya bakal berubah.”
Masih dengan wajah berlinang air mata, aku melepaskan diri dari Ken dan memandang cowok itu.
Ken tersenyum samar. “Kita nggak salah. Tapi ada yang nyuri notes cewek itu waktu gue tinggal ke kelas lo kemarin.”
Kalimatnya membangunkan degup keras di dadaku. Kuederkan pandangan ke arah bangunan lain di sekitar sekolah ini. Kata-katanya membuatku merasa pergerakan kami di sini pun seakan sedang diawasi.
“Itu artinya, ada seseorang di sekolah ini yang kenal sama Kinan dan punya sangkut-paut sama semua ini. Kalo nggak, nggak mungkin dia nyuri notes itu. Gue yakin dia tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kinan. Dan kemungkinannya dia nggak mau kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Menurut kamu, gimana Kinan bisa kayak sekarang?”
Ken diam sejenak. “Hantunya keliatan menderita. Udah pasti dia meninggal dengan cara nggak wajar.”
“Maksud kamu…,” Napasku tersekat, “dia dibunuh?”
__ADS_1
Ken menggeleng muram. “Pas selesai PENSI, gue ketemu cewek itu di depan TU. Dia keliatan buru-buru. Tapi dia negur gue dengan cara nggak wajar kayak yang kemarin gue ceritain. Gue tahu dia bukan cewek biasa. Dia nggak mungkin tahu rahasia gue kalo dia nggak punya ‘sesuatu’, kan?”
“Dia bisa astral project,” jawabku sambil menghapus air mata. “Itu kata Karen.”
Ken mengembuskan napas keras. “Terus, apa rencana lo sekarang?”
“Selain yang udah kamu ceritain, nggak ada yang lain lagi?”
Ken memicingkan mata. “Lo curiga sama gue?”
“Kamu satu-satunya yang bilang lihat Kinan pas PENSI. Kinan bahkan nggak bilang apa-apa sama Karen.”
Ken tertawa. “Jadi … tujuan utama lo ngajak gue ke sini buat ngonfirmasi ini?”
Aku diam saja. Ken bangkit berdiri.
“Oke, jadi menurut lo, gue harus gimana?”
Ken mengangkat bahu. “Gue lakuin ini demi cewek itu. Lo nggak perlu khawatir.”
Dengan suara terkendali, aku membalas, “Kenapa kamu segini pedulinya sama dia? Kalo kamu lakuin ini cuma karena naksir sama dia—”
“Jangan percaya gosip yang lo denger tanpa konfirmasi lebih dulu,” sergahnya dengan nada marah. “Itu cuma kesimpulan orang karena tiba-tiba gue nyari seorang cewek. Kemarin gue udah cerita kan, gue penasaran sama Kinan karena dia tahu rahasia gue. Dan sekarang, gue mau nyari tahu apa yang terjadi sama dia karena baca isi notes-nya.”
Isi notes-nya! Dua sisi dalam diriku langsung berperang. Demi apa pun, aku ingin tahu isi notes itu.
“Dia nulis nama lo di notes-nya!” tanya Ken seakan bisa membaca pikiranku.
Aku sepenuhnya bungkam. Cowok di hadapanku ini bukanlah orang yang patut dipercaya. Namun, aku yakin dia tak sedang membual sekarang.
“Notes itu isinya catatan hariannya Kinan, Ser! Dan di dalamnya ada nama lo!”
__ADS_1
Bagaimana aku mengekspresikan perasaanku sekarang, sungguh aku tak tahu. Aku memandang ubin atap setengah linglung. “Nggak mungkin!” tolakku. Bukan tanpa alasan. Tapi memang semua ini tidak masuk akal. “Aku nggak pernah ketemu dia sebelum dia jadi hantu.”
Ken berdeham sesaat. “Sayang, notes itu udah nggak ada di gue.
Kalo seandainya ada, gue pasti kasih liat ke lo.” Suara Ken melemah. “Kinan—cewek itu nggak gampang ditebak. Biarpun gue udah baca seluruh catatannya, gue belum sepenuhnya paham apa yang dia maksud dalam catatannya itu. Gue juga udah mancing dia keluar, tapi dia nggak mau muncul lagi.”
Ken mengerutkan dahi, seakan tengah mengingat-ingat. “Ya, gue ceroboh. Harusnya gue foto dulu catatan itu. Nggak nyangka aja ada orang yang bakal nyuri dari gue. Tapi lo bisa andelin ingatan gue seandainya kita lakuin penyelidikan nanti.”
“Di notes-nya, ada kalender warna-warni yang aneh. Sebagian besar puisi yang maknanya samar-samar. Dan ada nama lo tersemat di salah satu puisinya .”
“Dia nulis apa tentang aku?” tanyaku penasaran.
Ken berpikir sesaat. “Judul puisinya Bintang. Kayaknya dia nulis itu buat lo.”
Aku tersentak sesaat. Tentang notes itu, tiba-tiba aku teringat. Ke- marin, Kinan memintaku mencari notes-nya. Apa dia tahu ada seseorang yang mengincar notes itu sehingga dia memintaku mencarinya?
Aku bangkit berdiri, lalu menukas, “Jumat nanti Karen akan datang ke pertemuan klub astral project yang Kinan ikuti. Aku bakal ke sana. Seandainya mungkin, aku bakal nyari cara untuk bilang yang sebenarnya sama Karen.”
“Kalo gitu gue ikut.”
Aku mengerutkan hidung. “Buat apa?”
“Karena gue bagian dari penyelidikan ini sekarang.”
Bel masuk berbunyi nyaring. Aku memandang Ken lurus. “Aku belum setuju untuk kerja sama dengan kamu. Terlalu berisiko. Orang- orang bisa curiga. Terutama Karen.”
Ken mengerjap takjub. “Lho … terus lo tadi kenapa nangis depan gue gitu? Bukan itu sama aja artinya kita sepakat terbuka satu sama lain?”
“Bukan,” sahutku sambil melangkah ke pintu besi atap, “Itu cuma refleks. Dan supaya kamu mau kasih tau aku semua yang kamu tahu.”
Ken mengangguk dengan gaya menggemaskan. “Oke, nggak masalah. Tapi karena gue udah denger semuanya, gue juga nggak bisa diem aja. Gue tetap akan ikut campur dengan cara gue sendiri.” []
__ADS_1