
Nafisah
Pesawat terbang menuju kota A sebagai tujuannya, Aldi nampak sedang membaca sebuah buku yang ia bawa sebelum berangkat terbang tadi.
Menghilangkan bosan dengan membaca buku memang paling mengasikan, selain bisa menambah ilmu buku juga bisa sebagai sarana hiburan bagi kita di saat merasa lelah ataupun bosan.
Dengan cara membaca novel, komik, ataupun cerita cerita pendek yang ada di buku.
Saat tengah asik membaca buku, Aldi melihat ke samping kearah wanita yang memakai baju menutupi seluruh tubuhnya.
Wanita itu nampak seperti sedang melihat lihat sekitar, dari gerak geriknya nampaknya ia seperti sedang melihat apakah ada yang mengikutinya atau tidak.
Aldi sendiri penasaran apa tujuan wanita itu, tapi karena itu adalah privasi jadi ia mengutungkan niatnya.
Pesawat sedikit mengalami goncangan karena melewati awan yang sangat tebal, yang mengakibatkan turbelensi pesawat yang cukup kuat.
Wanita di samping Aldi nampak sangat ketakutan hingga seluruh badanya mengigil.
Wanita itu memegang lengan Aldi begitu erat hingga membuat Aldi sedikit meringis menahan sakit akibat cengkraman wanita tersebut.
Hiks....hikss....Mama...hiks....
Suara tangisan sangat pelan terdengar oleh telinga Aldi, saat mencari sumber suara tangisan tersebut Aldi menoleh kearah wanita yang memeluk erat lengannya.
Dilihatnya mata yang memerah dengan butiran air mata ketakutan keluar dari matanya membasahi pipi wanita itu.
Aldi yang melihatnya pun panik, ia sangat bingung bagaimana cara menenagkan wanita tersebut agar tak menangis.
Karena orang bisa saja salah paham dan berfikir bahwa Aldi yang membuat wanita itu menangis padahal ia tak tau apa apa.
'Gawat, bagaimana ini, bisa dapat masalah kalau terus begini jadinya.'"Ucap Aldi dalam hati.
__ADS_1
Karena bingung harus melakukan apa untuk menenagkan wanita di sampingnya, Aldi pun memeluk dari samping wanita itu yang membuat wanita tersebut terkejut hingga mendongak menatap wajah Aldi.
Wanita itu nampak terpana melihat Aldi, walaupun dengan kacamata nya yang membuat kesan culun, tetapi aura ketampanan seorang Aldi masih terpancar jelas.
Orang lain mungkin akan melihat Aldi sebagai seorang yang kutu buku dan culun, tapi dimata wanita itu Aldi nampak seperti sosok laki laki idaman yang sangat keren baginya.
"Ehem, nona apakah kau baik baik saja?"Tanya Aldi saat melihat wanita itu terus menatapnya.
"A.....Aku ba....baik baik saja, terima kasih."Jawab wanita itu gugup karena baru kali ini ia berhadapan dengan seorang laki laki.
Aldi pun melepaskan pelukanya karena turbelensi (maaf jika salah pengejaannya) sudah mereda dan semua kembali normal.
Nampak wajah wanita itu sedikit kecewa dan tak rela Aldi melepas pelukanya.
"Namaku Renaldi, kau bisa memanggilku Aldi."Aldi memperkenalkan dirinya karena agak risih melihat wanita itu terus menatapnya tanpa berkedip.
"Namaku Nafisah, kamu bisa manggil Fia."Jawab wanita itu memperkenalkan diri dengan nama Fia.
"Baik, salam kenal."Aldi mengangkat tangan hendak berjabat tangan.
Merekapun berbincang bincang agar menjadi lebih akrab, Aldi memberitahukan tujuanya ke kota A untuk belajar di salah satu sekolah elit di sana.
Fia juga memberitau bahwa dia ke kota A untuk menghadiri ulang tahun sahabtnya di sana.
"Wahhh Aldi hebat banget, bisa dapet beasiswa di sekolah elit itu."Ucap Fia kagum mendengar prestasi Aldi.
"Terima kasih, aku hanya ingin mengapai impianku agar membuat keluargaku bangga."Jawab Aldi seraya menampilkan senyum yang membuat hati Fia sangat berbungga bunga.
"Perhatian kepada seluruh penumpang, pesawat akan mendarat di bandara kota B untuk transit sebentar lalu kembali melanjutkan perjalanan."Suara pramugari di speaker pesawat terdengar jelas.
Sampailah pesawat di bandara kota B untuk transit sembari mengistirahatkan para penumpang serta pesawat mengisi bahan bakar.
__ADS_1
Aldi dan Fia keluar bersama karena tadi Fia meminta agar Aldi menemaninya keluar lantaran takut bila harus sendirian.
Dengan masih menggunakan set lengkapnya menutupi seluruh tubuhnya, Fia berjalan bersama Aldi ke kantin bandara untuk makan sebentar.
Mereka masuk lalu duduk di salah satu ruangan, kantin yang ada di bandara ini memiliki ruangan sendiri sendiri dengan dinding pemisah menggunakan kayu, privasi setiap pelangan pun bisa terjamin, ada juga ruangan terbuka untuk pelangan yang hanya ingin sekedar makan ataupun minum kopi.
Aldi memesan makanan dan minuman tak lupa juga Fia ikut memesan.
Mereka kembali berbincang bincang sembati menunggu pesanan datang, tak lama pesanan pun datang lalu mereka makan bersama sama.
Sebelum makan Fia membuka jaket serta maskernya, dan betapa terkejutnya Aldi melihat sebuah keindahan ciptaham tuhan yang sangat amat menabjubkan.
Wajah mulus bagaikan kulit bayi, hidung yang pas tak terlalu mancung ataupun pesek, bibir merah muda yang sangat menggoda, mata indah dengan bola mata berwarna kecoklatan, rambut panjang yang tergerai indah terlihat sangat seksi, pipi cubby yang sangat mengemaskan.
Tubuh nya pun tak kalah indah, dua buah bukit kembar yang menjulang tak terlalu besar ataupun terlalu kecil, sangat pas untuk ukuran seorang gadis seusianya meskipun sedikit lebih besar dari normalnya, pinggang ramping bak model papan atas, serta kaki jenjang sangat indah dipandang mata setiap pria.
"Aldi kamu kenapa?"Tanya Fia saat melihat Aldi bengong melihat dirinya.
"Tidak apa apa, kau cantik sekali."Ucapan Aldi yang tak sadar membuat Fia malu hingga nampak wajahnya memerah.
"Fia, kamu kenapa wajah kamu kok merah, kamu sakit?"Tanya Aldi tak tau apa apa.
"T....Tidak apa apa, ayo makan."Jawab Fia mengalihkan pembicaraan.
Merekapun melanjutkan makan hingga selesai lalu dilanjut minum kopi sebentar sambil merelexkan tubuh mereka sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah 2jam berlalu, pesawat yang mereka tumpangi pun akan nelanjutkan perjalanan.
Fia kembali memakai setnya lalu berjalan bersama Aldi ke pesawat.
Setelah sampai di dalam pesawat lalu duduk di bangku masing masing, pesawat mulai take off terbang.
__ADS_1
Seperti biasanya, Fia masih saja takut saat pesawat terbang ataupun mendarat, karena guncangan yang disebabkan oleh pesawat itu sendiri.
Aldi pun kembali menenagkan Fia agar tak takut, dengan senang hati Fia menerima Aldi yang membuatnya lebih tenang hingga pesawat kembali normal terbang di udara.