Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Yang Tak Boleh Diubah


__ADS_3

“Mas.. Mas..,” desah suara anak kecil mencoba membangunkanku.


“Haaa!!!” teriakku terkejut.


Aku membuka mata, kepalaku sedikit pusing, tanganku terasa kaku, dan aku baru sadar sedang dikamar anak laki-laki dengan cat berwarna putih yang berusia kurang lebih 12 tahun. Terlihat dari buku-buku yang tertumpuk dimeja belajarnya bertuliskan “Persiapan Ujian Nasional”. Kamarnya rapi, tapi dari tatanan buku yang ada dimejanya yang berantakan, aku rasa kamarnya rapi bukan karena anak itu yang merapikan.


“Mas-nya tadi jatuh didepan rumah, jadi tadi bapak sama mas Dendy gendong mas kekamarku,” kata anak itu dengan polosnya.


Wajah anak itu tidak terlalu asing bagiku. Kuperhatikan dengan seksama, dia mirip denganku waktu sesusia dengannya.


“Oh makasih ya, dek,” kataku sambil bangun dari kasur anak itu “Namamu siapa?”


“Aska, mas, nama mas siapa?”


Terkejutnya diriku ketika mendengar nama panggilannya sama denganku.


“Aska?” gumamku sedikit terkejut “Aska siapa?”


“Andakara Askadhitama,” lalu anak itu berjalan ke meja belajarnya, dan mengambil beberapa buku pelajarannya yang telah dia beri identitas.


Namanya persis dengan namaku. Karena gengsi memiliki nama yang sama aku mengaku sebagai “A’an.”


“Ohh mas A’an. Tadi mas, darimana kok jatuh didepan rumah?” Tanya Aska kecil kepadaku.


“Tadi mas, abis kerja, kayaknya kecapekan terus jatuh dari motor,” jawabku. Seingatku, beberapa jam lalu aku dalam perjalanan pulang dari kantor. Sedikit intermeso, pekerjaan keseharianku adalah menjadi seorang karyawan disebuah kantor pemerintah. Aku telah diangkat menjadi pegawai tetap. Sama halnya dengan pegawai pemerintahannya lainnya, berangkat pagi pulang sore.


Aku menatap ke arah jendela, dan matahari tingginya sekitar 1 tombak “Udah berapa lama tidurku, Ka?”


“Mas udah tidur dari kemarin sore,” jawabnya.


Sontak langsung aku beranjak dari kasur, meminta ijin Aska untuk pulang. Saat keluar kamar Aska aku tak merasa asing dengan suasana rumahnya. Terlihat familiar dimataku, gak ada seorangpun kecuali aku dan Aska yang berada dirumah.


“Bapak sama ibu gak ada, Ka?” Tanyaku dengan nada sedikit kencang.


“Udah berangkat kerja kayaknya, mas, monggo mas langsung aja nanti tak sampein kalau mas A’an udah pulang.”


Aku keluar rumah, jalanan depan rumah tak asing. Teras dengan paving yang digambar matahari, nuansa rumah berwarna putih, dan ada rantai yang tergantung didekat pipa yang tersangga di tiang penyangga rumah.


Dengan tergesa-gesa aku berjalan keluar rumah. Astaga, ternyata aku dirumah, rumahku 13 tahun yang lalu.


Sontak aku berlari menuju kamar Aska, bukan kamarku. Dia duduk dimeja membaca sebuah buku, kehadiranku membuatnya sedikit terkejut “Loh, gakjadi pulang mas?”


“Bapakmu siapa?”


Aska memasang wajah bingung.


“Ibumu siapa?”


Aska semakin bingung, lalu dengan polosnya membalas “Ada paket buat bapak sama ibu ya?”


“Aduh!” keluhku sambil menepuk jidat “Alamat rumah


ini dimana?”


“Oh mas mau dijemput?” Tanya Aska “Ini di Jalan Sudirman, No. 9, Bogor, mas.”


Tak bisa dipercaya, persis seperti alamat rumahku.


Aku merogoh kantong celanaku, dan baru kusadari kalau Handphone-ku hilang. Lalu aku meraba kantong celana belakangku, untungnya dompetku aman. Semua surat lengkap dengan nama dan foto identitasku yang mulai samar.


“Kamu ada gojek?” tanyaku berusaha meminta bantuan.


“Gojek? Ojek to mas? Gak ada ojek kalau dideket sini mah,” jawabnya.


“Hah, kamu gaktau gojek? 2020 bro, masak kamu gaktau gojek?”


“Mas, ini masih 2007 kali mas. Baru aja aku kemarin ulang tahun yang ke 12 hehe,” jawab Aska sedikit malu menceritakan hari ulang tahunnya.


“2007?! Tanggal berapa?”


“Tanggal 19 Oktober, Mas.”


Gila, apa aku kembali ke masa lalu. Tapi bukannya aku jadi kecil lagi, malah ketemu sama diri sendiri waktu masih kecil. Lalu aku berpikir, karena aku bisa kembali kesini karena tertidur, mungkin dengan tidur lagi aku bisa kembali ke masa sekarang.


“Boleh tidur lagi gak, sebentar aku sedikit pusing,” pintaku.


“Boleh, tidur aja mas santai,” jawab Aska.


Masih dengan perasaan gak percaya, aku melangkah menuju kasur dan langsung berbaring lalu memejamkan mata.


“Mas, bangun mas,” Aska terlihat memanggil, sambil menggoyangkan badanku. Butuh sedikit upaya bagi seorang anak kecil setinggi 140cm membangunkan babon besar sepertiku “ Bapak, sama ibu udah dateng, mas disuruh makan dulu.”


Aku terbangun, dan berjalanan mengikuti Aska.


Tanganku digandeng “kayak orang buta aja mesti digandeng” gumamku. Sayang Aska tidak memperdulikannya dan tetap berjalan menuju meja makan dengan menggandeng tanganku.


Dimeja makan bapak dan ibu sudah siap duduk dengan hidangan sederhana diatas meja makan. Aku terhenti saat melihat bapak dan ibu. Mirip bener-bener mirip. Persis seperti bapak dan ibuku, ibu memiliki tahilalat yang tertutup alis, sementara bapak memiliki tahilalat diujung leher bawah yang dekat dengan tulang rusuk bagian atasnya.


“Monggo, mas, dimakan seadanya,” kata ibu Aska sambil menyodorkan piring dan centong nasi.


“Seadanya aja ya, mas, ini diambil tempe sama tahunya. Ini tahu tempe bukan tahu tempe sembarangan, kalau udah dicocol sama sambelnya istriku, beuh rasanya kayak ayam McD, mas haha,” kata bapak sambil tertawa menggoda ibu.


Aku sedikit tertawa, mengingat dulu bapak sering melakukan. Bapak itu penggemar ayam, dan ibu jarang banget masak ayam buat bapak. Sembari makan, bapak dan ibu bertanya. Aku berbohong soal namaku sama seperti yang aku lakuin ke Aska.


“Kalian mirip ya,” celetuk Ibu saat melihat aku, dan diriku diumur 12 tahun.


Yaiyalah mirip lah bu. Aku itu dia waktu umur 25 tahun.


“Mas Aska nanti leskan?” Tanya Ibu.


Aska mengangguk “Nanti gak usah dianter bu, Aska nanti mau naik sepeda bareng Jonathan.”


Ibu meng-iya-kan, dan hanya berpesan untuk berhati-hati. Aska les sekitar pukul 4 sore setelah Ashar.

__ADS_1


Dan karena percobaanku kembali kemasa sekarang dengan tidur tidak berhasil, mau gak mau sepertinya aku harus menetap dimasa lalu lebih lama. Aku meminta izin bapak dan ibu untuk tinggal lebih lama, untungnya mereka berdua mengijinkanku, bahkan untuk waktu beberapa bulan tak apa sampai aku merasa baikan. Padahal, sebenarnya aku tak mengalami luka apapun, tak mengalami amnesia atau apapun, tapi itulah bapak dan ibu, selalu baik ke semua orang.


Pukul setengah 4 sore, Aska berangkat les dengan Jonathan. Jon kecil terlihat berbeda dengan Jon yang sekarang. Waktu kecil, Jon mengenakan kacamata berbentuk oval seperti mata katak.


Tubuhnya gemuk berisi dan berlipat-lipat. Aku selalu tak percaya Jon bisa berubah saat pubernya, dan sekarang dia seorang model majalah remaja. Semoga dia tidak homo.


Aku berada dikamar, hanya sesekali keluar buat kencing. Tak sengaja saat aku keluar aku mendengar bapak dan ibu sedang berdikusi. Dari nada bicaranya yang pelan dan berhati-hati sepertinya mereka sedang dalam masalah.


“Uang yang tak pinjemin ke pak Antok belum balik eh, bu,” kata bapak “Bapak belum bisa ngasih ibu lagi, maaf ya bu.”


“Oh yaudah gakpapa, pak,” jawab ibu lembut “Bulan ini pake uang ibu dulu ya, buat bayar cicilan rumahnya, kita ngirit lagi dulu ya.”


Terjadi hening sejenak “Gak kerasa ya udah 9 tahun kita nyicil rumah ini, dan tahun depan lunas,bu.”


“Iya eh, tahun ini mas Aska juga mau masuk SMP, aduh kita mesti lebih kerja keras lagi ya, Pak, takut kalau biayanya nanti waktu mas udah SMP lebih mahal.”


“Doain Bapak ya, Bu,” bapak.


“Iya selalu kok itu, pak.”


“Makasih ya, bu. Nanti kalau uangnya udah balik bapak kasih ke Ibu semua.”


“Iyalah wajib, kalau enggak,” terdengar seolah ibu memberi sebuah kode kepada bapak.


Mereka berdua tertawa, dan sepertinya terdengar suara bapak mencium ibu.


Aku menghela nafas panjang. Bapak dan Ibu bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Ibu seorang guru, dan bapak bekerja diperusahaan swasta yang sedang berusaha keluar dari pailid saat itu. Aku ingat pak Antok itu rekan kerja bapak, dia bosnya. Kalau kutebak, uang yang dipinjam pak Antok itu buat nutup kerugian perusahaan bapak, karena posisi bapak diperusahaan tersebut adalah sebagai salah satu direktur bersama pak Antok.


Bapak sudah bekerja diperusahaan tersebut kurang lebih 7 tahun, dan ibu sudah menjadi guru lebih dari 10 tahun. Air mataku sedikit terjatuh mengingat apa yang dikatakan bapak waktu minta dibeliin PS.


“Ya nanti ya, mas. Tenang uang bapak banyak, cuman masih disembunyiin aja, nanti kalau udah ketemu pasti bapak belikan PS.”


Bapak gak pernah ngomong kalau dia gak punya uang, aku juga baru tau ternyata waktu SD cicilan rumah belum selesai, perusahaan pinjem uang bapak, dan salah satu alasan kenapa ibu jarang masak ayam, ya bapak gak ngasih duit lebih ke ibu.


Mungkin bagi Bapak dan Ibu masalah financial itu sebuah aib bagi anaknya. Entahlah mungkin sebagian orang tua mikir kalau anak tidak perlu tahu dan ikut berpikir masalah keuangan keluarga.


Aku ingat kalau memiliki tabungan yang lumayan, dan mungkin bisa membantu keuangan Bapak dan Ibu. Lagian baru seminggu gajian dan kalaupun aku masih tinggal disini selama sebulan kedepan uangnya gak bakal kepake banyak.


Masalahnya, gimana cara ngasihnya. Aku punya beberapa rencana.


Pertama, aku akan memukul bapak sampe giginya copot 1. Mitosnya kalau gigi ditaruh dibawah bantal nanti ibu peri bakalan ganti gigi itu sama apa yang kita inginkan.


Kelemahan rencana pertama ini, aku pasti pingsan kalau bapak balas mukul aku. Bapak itu dulu atlit tapak suci, jagoan basket, atlit timnas kriket, sementara prestasi olahragaku cuman main gundu. Kalaupun pernah juara itupun gundu tingkat tarkam (antar kampong).


Kedua, aku minta tolong si Aska kecil buat ngasih duitnya ke Bapak dan Ibu. Kalau misal rencana ini berhasil aku berhasil ngangkat martabat Aska kecil dimata mereka.


Kelemahannya, Aska kecil itu bandel kalau masalah uang. Dulu seingatku, aku sering ngambil uang ibu didompet buat main PS. Aku yakin dia berangkat les gakmau dianter karena mau main PS dulu.


Ketiga, langsung aja kasih ke mereka. Lagian tinggal ngasih juga kenapa aku mesti ngajak mereka berantem ya?


Kelemahannya, mereka pasti menolak. Ah nolak gak ya, kalau menurutku pasti ditolak, secara aku orang asing disini, walaupun sebenarnya aku juga anak mereka. Entar dikira maling lagi tiba-tiba ngasih duit.


Yaudah nanti aja mikir cara ngasihnya, aku bergegas keluar rumah tanpa ijin menuju ATM terdekat. Seingatku sekitar 200m jadi bisa dijangkau dengan jalan kaki.


Sepertinya cara yang paling tepat adalah dengan cara pertama. Didepan rumah ada balok kayu besar, pasti sekali pukul juga pingsan dan giginya juga copot.


“Bapak, maaf ya anakmu sedikit durhaka demi membantu cicilan,” gumamku sambil berjalan.


Tiba didepan rumah tiba-tiba ada suara motor dari belakang sambil membunyikan klakson motornya dan berteriak “Minggir-minggir!!”


"Bruak”


*


“Aduhh..,” kepalaku terasa sedikit sakit, sambil berusaha bangkit aku membuka mata dan¬¬¬¬ masih merintih kesakitan “Loh!” teriakku terkejut.


Langsung kurogoh kantongku dan mengambil dompet, uang yang tadi aku ambil udah gak ada. Gagal aku kasih uang buat Bapak dan Ibu, aku cek saldo tabunganku make m-banking, untungnya uangnya balik.


"Tidur terus, mas, dari tadi bangun-bangun teriak,”


Aska udah besar, sekarang dia udah kelas 12 SMA. Seragamnya tergantung dipintunya, topi abu-abu, dan rompi organisasinya yang terlipat diatas lemarinya. Ada beberapa gambar logo kampus besar yang tertempel dipintu kamarnya.


Kamar Aska mulai berantakan, teringat dulu aku jarang merapikan tempat tidurku “Emang tadi aku abis ngapain, Ka?” tanyaku bingung.


“Lah, mas A’an-kan pengangguran yang selama ini numpang disini, bukannya tadi kecapekan katanya ngelamar kerja?” jawab Aska.


Lah sialan ni bocah, ngeledekin masa depannya jadi pengangguran. Gak tau dia kalau nanti dia jadi budak Negara. Aku beranjak berdiri dan mendekati Aska, dia sedang asik bermain HP dan aku paling tau kalau udah duduk tegap berwajah serius seperti ini pasti dia sedang ada masalah dengan pacarnya.


“Berantem ya?” kataku mengejutkan Aska.


“Apaansih, ngintip aja, mas,” jawabnya lalu menutup handphonenya dengan lipatan kedua tangannya.


Dulu aku bisa disebut bucinnya bucin. Kalau missal waktu SMA ada bucin award pasti aku yang dapat nominasi itu tiap tahun. Tahun pertama ngasih surprise bareng temen-temennya dikelas, tahun kedua buat cake buat doi lalu kasih kekelasnya, dan tahun ketiga, sok-sokan misterius ngasih bunga sama cake buat doi yang ulang tahun dirumahnya, dan sengaja naik ke gunung bawa kertas dengan tulisan ucapan ulang tahun. Dulu, gak ada yang sebucin diriku. Mungkin ada tapi beda sekolah.


“Putusin aja,” kataku dengan santai.


“Gundulmu, antum siapa tiba-tiba nyuruh putus?” jawab Aska sewot.


Aku tertawa kecil “Ya kalau gak jodoh mah, ngapain diperjuangin.”


“Yakan siapa yang tau jodohku, bukan antumkan? situ emang Roy Kobayasi?”


“Hahaha iya deh, kamu yakin to dia yang terbaik?”


Aska terdiam “Ya tau apa enggak dia yang terbaik itu kalau disyukurin ya dia bakalan jadi yang terbaik.”


Nafasku sedikit sesak saat mendengar apa yang dikatakan Aska. Itu yang selalu aku ucapin kesetiap orang deket aku. Ya memang aku tau kalau dia bukan jodohku nantinya, sebenarnya niatku hanya berusaha agar Aska tidak patah hati dikemudian hari.


“Udah sana mas tidur lagi aja!” bentak Aska lalu dia keluar kamar.


“Idih kayak cewek aja kalau ngambek,” gumamku dalam hati.


Aku berpikir sepertinya lebih baik mencegah Aska yang masih remaja buat berhenti bucin sampe ketemu jodohnya. Buang-buang uang, buang-buang waktu. Aku berpikir karena sebelumnya aku gagal menyelamatkan orangtuaku, sekarang waktunya nyelamatin diriku dimasa lalu.

__ADS_1


Aku menunggu Aska kembali kekamar. Sekitar 2 jam setelah dia pergi dari kamar Aska kembali. Wajahnya pucat, aku yakin masalahnya belum selesai. Aku ingat dulu pernah bertengkar hebat dengan mantanku menjelang ujian. Ya masalah klasiklah.


Aska sama sekali tidak menggubrisku, dia langsung menjatuhkan diri dikasur dan membenamkan wajahnya. Tak ada pergerakan sama sekali sejak setengah jam dia membenamkan wajahnya, sepertinya dia tertidur. Handphone-nya tergeletak tepat disamping tangan kirinya.


Kuambil handphone-nya lalu ku buka ponselnya.


“Maaf, hubungan ini gak sehat. Aku gak bisa mendewasai kamu. Aku gak ingin menghalangimu bertemu dengan jodohmu, dan aku gak ingin kamu menghalangi aku bertemu jodohku, jadi kita akhiri aja hubungan kita. Maaf, maaf sebesar-besarnya, tapi kelak kamu gak akan menyesali keputusanku ketika kamu bertemu orang yang tepat.”


Tulisku di WhatsApp dan siap aku kirim.


“Bruk!!” tiba-tiba sesuatu menghantam kepalaku.


**


Aku membuka mata, dan udah pagi. Tiba-tiba ibu memanggil untuk sarapan. Aku berjalan keluar kamar Bapak dan Ibu udah berada dimeja makan.


“Makan mas A’an,” kata Bapak sambil menarik kursi untukku duduk disebelahnya.


“Monggo mas, ambil makannya seadanya ya,” kata Ibu sambil membuka satu persatu lauk yang masih tertutup.


Kalau mereka masih mengenalku dengan nama A’an, artinya ini belum selesai.


“Aku udah berapa lama ya disini?” Tanyaku kepada mereka berdua.


“Lah mas udah lama disinikan?” jawab ibu.


“Gak masalah ya?”


Bapak dan Ibu menggelengkan kepala,”Gakapa malah Ibu sama Bapak ada temennya, Aska juga udah kuliah diluar kota, kalau gak ada mas A’an rumah jadi sepi.”


Ternyata udah sejauh itu aku tinggal dirumah ini sebagai orang lain.


“Bapak Ibu, aku pengen nanya, bapak dan ibu punya penyesalan nda dalam hidup?”


Mereka berdua berpandangan satu sama lain, lalu melihat kearahku. Aku mengangkat bahu “Ya, semua orang pasti punya penyesalan kan?” jawab Ibu.


“Apa penyesalan bapak sama ibu?”


Bapak tersnyum,” Ya banyak mas, Bapak dulu itu disekolah selalu jadi ketua osis, waktu kuliah dulu aktif organisasi, IPK Bapak bagus, mahasiswa kesayangan dosen. Sampe suatu hari dulu Bapak pernah ditawarin jadi dosen di Jogja. Itu dulu Bapak nyesel kenapa tawaran itu dulu Bapak tolak. Kalau dulu gak Bapak tolak mungkin sekarang gak jadi wirausahawan yang dulu terpontang panting gimana caranya ngelunasi utang. Mungkin sekarang bapak punya penghasilan pasti buat mengajar.”


“Kalau Ibu, nyesel karena kenapa dulu Ibu gak nerusin warungnya nenek. Kalau misal Ibu nerusin warungnya nenek, mungkin Ibu gak perlu ketemu murid-murid bandel tiap hari. Kamu tau sendiri Ibu kerja disekolah yang terkenal bandel muridnya, makan ati tiap hari,” lanjut Ibu.


“Masih nyesel sampe sekarang?”


Mereka menggelengkan kepala sambil melahap kedua makanan yang ada dipiring mereka masing-masing.


“Kalau ada kesempatan balik kemasa lalu, Bapak Ibu pengen apa?”


Mereka berdua tertawa “Enggak, Bapak gak pengen ada kesempatan kayak gitu. Bapak ngerasa walaupun itu salah satu penyesalan dalam hidup Bapak, tapi Bapak bersyukur tidak mengambil kesempatan itu. Bapak dirumah deket sama orangtua, bisa ngerawat orang tua, waktunya ketemu orang tua lebih lama. Kalau dulu kesempatan itu diambil, mungkin bapak bakal menyesal karena kesempatan deket sama orangtua itu dikit banget. Kamu tau sendiri, dosen waktu mahasiswa libur gak libur.”


“Ibu juga gak menyesal. Kalau misal Ibu ngelanjutin warung itu, ilmunya waktu kuliah dulu gak kepake, dulu Ibu kuliah di Pendidikan Matematika. Ya walaupun ketemu sama murid-murid yang bandel, kalau satu aja dari mereka keterima disekolah favorit, murid-murid yang ibu ampu lulus Ujian Nasional, senengnya setengah mati. Kamu taukan, kalau tiap mau Ujian Nasional mereka sering nginep dimushola belakang rumah buat belajar,” tambah Ibu.


Lalu mereka saling menatap satu sama lain “Lagian kalau Ibu balik kekampung buat nerusin warung, gak mungkin ketemu Bapak. Nanti si Aska gak bakalan ada.”


“Kadang ya mas, otak itu suka kurang ajar, dengan mengandaikan yang udah-udah dan pikiran kita merespon untuk membandingkan dengan kemungkinan kejadian yang gak bisa keulang,” kata Ibu sambil tersenyum.


“Yang terbaik buat kita, itu ketika kita bisa bersyukur sama yang udah ada,” timpal Bapak.


“Pak, Bu, ini aku Aska. Ini aku Aska saat berumur 25 tahun,” aku merogoh dompetku dan menunjukan KTPku, aku menunjukan id card kantorku “Kalau emang aku datang dari masa depan, dan aku pengen memperbaiki masa laluku buat masa depanku nanti, apa itu salah?”


Mereka tak terkejut sedikitpun, Bapak berhenti makan. Lalu memindahkan kursinya mendeketiku lalu merangkulku “Apa to mas yang mau diperbaiki?”


Aku terdiam “Banyak, aku gakmau patah hati, aku pengen bantu Bapak melunasi hutang usahanya dulu, aku pengen pekerjaan yang lebih baik, aku pengen sekolah yang lebih baik, aku pengen nikah sama Gita Gutawa, aku pengen lebih ..,”


Belum selesai aku berbicara bapak memoton “Apa jaminannya kalau misalnya kamu ngerubah itu hidupmu bakal lebih baik?”


Aku tertunduk “Gak ada, tapi aku yakin..,”


“Yakin apa?” Bapak kembali memotong pembicaraanku.


“Aku yakin pasti aku, kita lebih bahagia.”


“Mas, yang udah terjadi ya itu yang terbaik, yang paling baik. Bahagiamu itu, sekarang itu karena kamu mensyukuri penyesalanmu dulu. Gak ada yang bisa menjamin kebahagiaan kecuali diri sendiri. Dan gak ada yang lebih buruk dari terjebak dengan penyesalan dimasa lalu,” kata bapak sambil mengusap punggungku.


Aku menghela nafas, sesaat setelah aku menghembuskan nafasku, tiba-tiba dadaku sesak. Kepalaku pusing dan mataku berat. Aku melihat Bapak dan Ibu tersenyum.


***


“Aska!!!” terdengar teriakan Usy “Yaampun, kamu pingsan 3 hari. Aku kira kamu bakalan mati dan kita gak jadi nikah bulan depan!!” Usy seketika menghampiriku dan memelukku.


Dibelakang Usy ada Bapak dan Ibu, mereka terbangun mata dan terkejut melihatku bangun. Bapak dan Ibu menangis lalu mereka tersenyum sambil berjalan kearahku. Mereka bertiga memelukku dengan erat.


“Kamu tuh hati-hati to kalau naik motor,” kata Ibu sambil mengusap kepalaku.


“Aduh,” kataku sedikit merintih.


Aku ingat ternyata aku pingsan. Aku pingsan karena aku tertabrak saat perjalanan pulang kerumah. Aku ingat kalau waktu itu aku jadi korban tabrak lari dan aku juga ingat, selama aku pingsan, aku mengalami perjalanan waktu.


Kulepaskan pelukan mereka bertiga, dan menertawakan kekhawatiran mereka.


Aku tersenyum melihat mereka berdua, pernah mengeluh karena Bapak dan Ibu kupikir terlalu pelit.


Dalih Bapak “... Uangnya masih disembunyikan,” cuman tipuan buat anak kecil. Bahkan untuk membeli kebutuhan sekolah pun mereka berdua selalu mencari yang paling murah, bukan yang paling bagus.


Dulu aku selalu ngeliat temen-temen yang punya sepatu, buku, dan binder yang bagus. Sementara aku hanya make buku biasa bindernya diganti dengan buku agenda yang polos. Mau buka toko klontong atau sekolah.


Tapi berkat itu semua aku jadi terbiasa hidup hemat. Aku gak kaget waktu pertama kali pegang uang dengan membelanjakannya untuk kebutuhan tersierku. Aku punya manajemen uang yang baik.


Lega melihat Usy tersenyum. Dia adalah perempuan yang aku lamar 4 bulan lalu. Aku memang gak pernah beruntung dengan lawan jenis. Aku berusaha menghasut Aska remaja untuk mutusin dan langsung aja deketin Usy kasih tau dia kalau jodohnya kelak.


Tapi, jika itu aku lakukan mungkin Usy gak bakalan nikah sama aku bulan depan. Dia temen baikku saat SMA, selalu cerita apapun, kita sangat terbuka kayak oksigen. Ngerti satu sama lain. Bayangin kalau aku suruh Aska nikung Usy, mungkin dia bakalan terusik dan ngecap aku jadi PHO.


Perjalanan waktu selama aku pingsan membawaku kedalam perasaan yang jauh lebih baik. Aku lebih bisa memaknai apa yang terjadi sekarang. Aku melihat Usy tersenyum lebar dan tertawa, melihat Bapak dan Ibu yang semakin menua tetapi ketawanya masih kuat. Seketika seorang dokter datang melakukan check up.

__ADS_1


Aku rasa sekarang aku akan berhenti menyesali yang sudah-sudah. Aku ingin memaknai hidup ini dengan lebih baik. Aku ingin membuat setiap pilihanku adalah pilihan yang terbaik.


__ADS_2