
Wajahnya berseri walau matanya masih menahan kantuk. Semalam dia sedikit berbunga setelah makan malam bersama pasangannya. Dia Usy, yang berjalan mengambil handuk di depan kamarnya untuk segera membersihkan dirinya.
Usy tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya lama tak pulang karena dinas diluar pulau Jawa. Sifatnya yang pekerja keras menurun dari ayahnya, demi bisa menghidupi anak dan istrinya, dia mengejar posisi atas di pekerjaannya. Sekarang, demi tidak merepotkan calon suaminya nanti, dia membiasakan diri bekerja keras supaya kelak dapat menghargai kerja keras suaminya.
Ibu Usy seorang ibu rumah tangga. Di rumahnya, mereka tidak menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga, karena ibunya merasa kalau dia bisa mengurus segala urusan rumah tangga sendiri. Kadang Usy juga membantu, saat pekerjaannya tidak terlalu padat.
“Bantu ibu nyiapin sarapan dong, cantik!” teriak ibunya dari arah dapur.
Usy menggantungkan handuknya diganggang pintu kamar mandi, lalu putar balik untuk membantu ibunya di dapur. Dia datang menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang, lalu mencium pipinya.
“Masak apa, bu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Ini masak telur sama capcay, kamu tolong potongin sayurannya dulu ya,” pinta ibunya sambil menunjuk kearah piring berisi wortel, sawi, dan jamur kancing yang belum dipotong.
Usy melepas pelukannya, dan segera melaksanakan perintah dari ibunya “Kamu gak buru-buru kan?” tanya ibunya.
“Enggak kok,” jawabnya tersenyum.
Setelah sekitar 20 menit selesai membantu ibunya Usy bergegas mandi. Selesainya dia mandi, Usy langsung melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. Sontak dia terkejut, dan bergegas berdandan rapi seadanya dengan menggunakan drawstring pants dan kemenja putih. Rambutnya masih basah dan belum disisir, tasnya dicangking sebelah, tangan kirinya menggendong tas make up dan sisir. Ibunya duduk menyiapkan sarapannya dan meminta Usy tidak perlu tergesa-gesa.
“Ibu siapin bekal aja ya kalau kamu buru-buru, ini makan pisang sama minum teh dulu ya,” kata ibunya sambil menyeduhkan teh untuk Usy.
Usy tak melawannya, dia seketika langsung duduk dan memakan pisang sambil menunggu teh dari ibunya. Ibunya datang dan memberikan teh dan bekal untuk Usy, diminumlah teh itu sambil dibelai rambut Usy yang masih basah.
“Anaknya bapak emang kamu ini,” kata ibunya sambil tersenyum.
Usy tertawa kecil, lalu memasukan bekalnya kedalam tas. Usy berangkat setelah pamit dengan ibunya. Langkahnya tenang saat berjalan di dalam rumah, tapi begitu dia keluar langkahnya telrihat tergesa-gesa.
“Mati, hari ini ada client datang pagi,” batinnya dalam hati. Jarak antara kantor dengan rumahnya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja dia tau lingkar kebun raya itu selalu macet, dan hanya itu jalur satu-satunya untuk bisa ke kantornya.
“Pagi semua,” sapa Usy ketika masuk kedalam kantornya. Usy sedikit terlambat, dia melihat client-nya sudah duduk di Teras halaman kantornya. Dia bergegas ke mejanya untuk menaruh tas lalu mengambil buku catatan.
__ADS_1
“Sy, udah ditunggu tuh,” kata salah seorang temannya.
“Hehe iya siap,” jawabnya sambil berjalan terburu-buru.
“Heh, tunggu rapihin dulu rambutnya!”
“Oh iya,” kata Usy sambil menepok jidatnya. Usy bergegas mengambil sisir yang dia taruh di tas make up-nya. Tak lama setelahnya dia langsung menemui clientnya.
Sekedar info tambahan, Usy itu salah satu orang yang memegang peran penting di kantor tempat dia bekerja. Meskipun kantornya itu perusahaan sudah cukup mature dan memliki pegawai yang cukup, tapi hanya Usy aja yang menjadi favorit client dikantornya.
Usy memliki retorika yang baik, wajahnya tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah mendebat pendapat client. Emosinya sangat baik, bahkan ketika ada keluhan dikantornya yang tidak bisa diselesaikan teman-temannya yang lain, ditangan Usy, keluhan itu seketika hilang dan berbalik.
“Maaf pak tadi di jalan macet,” katanya sambil menjabat tangan client-nya.
“Oh gakpapa, saya juga baru dateng kok,” balasnya sambil tersenyum.
Client Usy hari ini datang dari sebuah perusahaan start up yang menyediakan co-working space yang terintegrasi dengan sebuah rumah makan. Yang datang menemui Usy ini direkturnya langsung. Orangnya berkulit coklat sawo matang, berkumis dan memiliki tatapan yang tajam. Tubuhnya tinggi, dan lehernya terlihat kokoh. Jelas banget untuk client seperti ini pasti Usy yang tangani.
Usy meminta buku profil perusahaan, dan berdiskusi detail tentang core bisnis dari perusahaan clientnya. Dia mencatat point-point yang diminta clientnya, sesekali memberikan saran, tapi lebih banyak mendengar dan meng-iyakan apa yang diminta dari clientnya.
“Ya emang cocok dah kalau dia yang nanganin,” imbuh Linda.
Usy mengantar clientnya sampai depan kantor, setelah dia pulang Usy bergegas kembali ke mejanya untuk membuat laporan dan melanjutkan pekerjaannya kemarin.
“Memang Usy ini andalan,” kata Rosy yang datang setelah Usy selesai ngobrol dengan client.
Usy tersenyum “Enggak ah berlebihan kamu.”
“Padahal tadi telat, tapi bisa aja tetep deal.”
“Ya, dia lagi butuh kali, makanya tadi nunggu,” balasnya dengan santai.
__ADS_1
“Haha di meja ada pisang goreng sama mendoan ya, Sy, banyakin makan!” kata Rosy lalu pergi meninggalkannya.
“Kling!!” bunyi notifikasi pesan di HP-nya.
“Jangan lupa makan bekal yang udah ibu siapin ya, mbak,” isi pesan dari ibunya.
Usy tersenyum dan mengambil kotak bekal dari tasnya. Segera dia lahap sarapan yang telah disiapkan ibunya. Laalu Usy mem-foto kotak bekal yang kosong ke ibu-nya “Sudah habis Ibunda, mantaff, makasiihh yaaaa ❤”
“Semangat kerjanya, mbak Usy” balasnya.
Seperti mendapat energi tambahan, dia merenggangkan badannya dan kembali bekerja. Setelah makan siang, dia ada janji dengan teman kerjanya ketemu client.
“Yuk, berangkat,” ajak Rosy.
“SIAP!” Usy beranjak dari meja. Clientnya siang ini adalah salah satu Rumah Sakit swasta di Jakarta. Ya kurang lebih seperti itu kegiatan Usy setiap harinya, kalau gak ketemu client A ya client B kalau gak di Kantor ya di luar kantor. Usy menikmati pekerjaannya.
*
Usy pulang sekitar pukul 6 sore. Telat sejam dari biasanya, karena hari ini dia harus ke Jakarta. Wajahnya terlihat lelah, bajunya mulai agak kusut, dan bedaknya mulai luntur.
“Assalamu’alaikum, mbak Usy pulang!” Teriaknya saat membuka pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam, eh anak Ibuk udah pulang,” ibunya menghampiri Usy, dan memijat-mijat pundaknya “Anak Ibu kerja sampe malem, pasti capek.”
Usy tertawa kecil lalu berbalik badan. Dipeluk ibunya itu, sambil mengajaknya makan malam “Ini mbak bawain nasi goreng kesukaan, ibu.”
Ibunya tersenyum sambil menggandeng putri kesayangannya. Duduklah mereka berdua di meja makan, dan berbagi satu bungkus nasi goreng yang dibawa Usy.
Selesai makan mereka sholat Isya, lalu lanjut mengobrol sebentar. Ibunya sedikit berkaca-kaca disela-sela obrolan mereka, Usy memeluknya erat-erat mencoba meyakinkan ibunya kalau semua akan baik-baik saja.
Sekitar jam 9 Usy bersiap untuk tidur dengan ritual bincang malam bersama Aska sebelumnya. Setelahnya dia langsung mematikan lampu dan menarik selimutnya.
__ADS_1
“Krekk,” terdengar suara pintu kamar Usy dibuka.
Ibunya berjalan lalu duduk disamping Usy yang sudah tertidur. Diusapnya rambut anaknya sambil tersenyum. Mulutnya bergerak berkata lirih, mungkin ada doa yang di-aamiin-kan ibunya hingga jatuh air matanya. Seusai Ibunya menghapus air matanya, dia beranjak keluar kamar. Tanpa disadari Usy masih terjaga, tak bisa dia menahan ait matanya. Kedekatan antara Usy dan Ibunya, tak sekedar antara orang tua dan anak. Mereka seperti sahabat, kakak-adik, ibu-anak.