
Aku keluar dari kamar mandi dan bergegas mengenakan kaus. Hari ini aku janjian makan bareng Usy, makan malem hari ini udah aku rencanain dari minggu kemarin. Kubuka lemari coklat yang berada di dekat pintu kamar. Aku memilih kaos berwarna hitam polos favoritku, mengenakan bomber hitam polos, dan celcana hitam. Emang aku orangnya Man In Black banget.
Aku baru menyadarinya saat aku melihat isi lemariku ada sekitar 2 tumpukan kaos yang warnanya hitam, dan salah satu tumpukannya itu kaos warna hitam polos. Saat mengenakan outfit seperti ini di Upnormal aku sering disangka pegawainya, padahal hanya mampir pipis.
Oh iya cerita sedikit lagi tentang Usy, dia itu teman dekatku sedari SMP. Mungkin aku merasakan yang namanya “Jodoh itu mungkin orang disekitarmu” ya siapa yang menyangka, kita dekat karena pernah tergabung di satu organisasi jurnalis sekolah. Aku menyukai tulisannya yang ringan dan bermakna, aku dekat karena kami saling suka dengan tulisan kami masing-masing.
Kami lanjut satu sekolah waktu SMA, hmm nggak, bahkan kami sekelas. Tapi waktu SMA beda, dia melanjutkan ke ekstrakulikuler jurnalis, sementara aku tergabung di ekstrakulikuler seni dan basket. Kami dekat karena aku pernah diwawancarai setelah sekolah kami berhasil memenangi pertandingan basket tingkat regional. Nggak, gak pernah pacaran, aku cuman terlihat jail aja sama Usy dan sebaliknya. Bedanya sekarang dia doang yang jail aku udah enggak.
Dia punya kisah cintanya sendiri yang bahkan aku gaktau sama sekali, begitupun sebaliknya. Setauku dia dulu pacaran sama ketua osis waktu di SMA tapi cerita gimana putusnya aku gaktau sama sekali, mungkin juga sebaliknya. Dan mungkin lebih baik aku juga gaktau apa-apa.
Kita berpisah saat kuliah, aku kuliah di Bogor, dia kuliah di Surabaya. Komunikasi kami selama kuliah juga hanya sebatas komen status masing-masing di sosmed. Aku sama sekali gak ada pergerakan buat deketin dia, aku dulu punya pacar waktu kuliah, mungkin juga dia punya pacar waktu kuliah, mungkin. Ya gaktau juga sih yang aku liat itu pacarnya atau bukan.
Setelah 6 tahun berlalu, kelas kami mengadakan reuni. Reuni kecil-kecilan disebuah kafe. Salah seorang temen kami nyelethuk “Kalian berdua cocok ya?” hanya karena waktu itu aku duduk bersampingan dengan Usy dan kami terlihat nyambung obrolannya, lalu temen yang lain “Udah nikahin aja Usy, Ka, daripada bingung-bingung cari-cari, hahaha!”
“Ha ha ha,” balasku tertawa waktu itu.
Sepulang dari kafe aku langsung chat Usy “Hmm tadi gak serius ya, anak-anak bercanda.”
“Hahaha santuy aja kali, Ka,” balasnya.
Dan entah apa yang ada dipikiranku waktu itu tiba-tiba aja ngechat “Tapi kalau beneran gimana?”
Dan dia juga jawab gini lagi “Kenapa harus beneran?”
Ya dari situ kami berlanjut sampai sekarang. Aku masih gak percaya kenapa kami bisa saling suka. Gak ada sesuatu yang serasi diantara kami aku rasa. Yaudahlah, jodoh tak harus serasi juga. Yang penting masih Adam dan Hawa hehehe.
Usy sekarang bekerja sebagai freelance copywriting. Itu semacam yang mengurus akun social media orang atau sebuah perusahaan. Jadi sewaktu kita jalan dia gak bisa lepas dari HP. Dari pekerjaannya itu, dia sekarang bisa hidup tanpa mengandalkan uang dari orang tuanya lagi. Dari pekerjaannya itu, dia bisa keliling keluar negeri dengan uangnya sendiri. Keren sih menurutku.
Hari ini aku ketemu dengan Usy untuk membicarakan apa yang aku lihat. Aku gak begitu yakin dengan apa yang aku lihat, semoga saja.
Sebenernya pengen makan di Angkringan dekat rumah sakit yang gak jauh dari rumah. Hanya saja, gak mungkin aku ngajak Usy buat makan di Angkringan. Aku gakmau cantiknya Usy dinikmati terlalu lama , selain sama aku dan bapak ibuknya.
__ADS_1
Aku memlih makan Ayam Kalasan. Tempatnya cukup proper untuk dinner berdua. Diujung tempat makannya ada tempat duduk yang menggunakan sofa nyaman, sampingnya juga ada tempat makan lesehan yang dilengkapi bantal empuk untuk sandaran pantat. Kipasnya berputar pelan dan suaranya gak begitu mengganggu. Tidak ada aroma wewangian macam-macam selain bau ayam yang sedang dibakar.
“Hallo sayang, mau Ayam atau Nila?” tanyaku ditelfon. Aku datang lebih dulu dari Usy. Jadi aku memesan makanan agar saat dia datang tidak menunggu makanan terlalu lama.
“Ayam aja, minumnya es jeruk manis ya. Inget M-A-N-I-S jangan asem atau kecut awas, I’lle be there on 10 minute, ya!” balasnya disana.
“Oke, see you,” tutupku dalam telfon.
Setelah memesan aku memilih tempat untuk duduk. Aku lebih suka duduk lesehan, menyilakan kaki sambil menyenderkan bahu ke tembok. Aku menggesek-gesekkan pantatku, ada perasaan yang tidak nyaman, dan setelah kuperhatikan ternyata perutku mulai oversize. Lipatannya udah mulai keluar dari lingkar celanaku, aku berusaha menutupinya dengan kaus yang aku kenakan.
“Hei!!!” seseorang melambai dari kejauhan ke arahku.
Ternyata itu Usy. Aku membalas lambaiannya, dan menyuruhnya untuk bergegas. Dia tersenyum kearahku dan berjalan cukup lemas. Usy mengenakan kaus putih di-combine dengan blazer berwarna abu gelap dengan celana yang senada dengan blazernya.
“Aska, tau gak sih tadi aku abis darimana?” tanyanya semangat setelah duduk disampingku.
“Dari dealer mobil.”
“Habis dari client pastinya.”
Usy menepuk jidatnya “Hellow, pak ojol tadi juga pasti tau aku dari client, tapi client-ku tu siyape aa’ Askadhitama!!!!”
Aku mengangkat bahu tanda menyerah. Usy menghela nafas dan sedikit cemberut “Dasar! Aku tadi abis dari Dispariyapura dong! Itutuh yang ngurus tempat-tempat wisata, ada temen-temen duta wisata-nya gitu juga.”
“And then, apa sepesialnya, sama aja kan kalau kamu jadi copywritting di perusahaan lain?”
“Enggak dong!! Aku nanti bakalan sering diajak liputan tempat wisata gitu. Aku juga dikasih kebebasan tiap minggu buat keliling tempat wisata jadi bisa jalan-jalan sambil refreshing. Ayokk, Ka temenin aku minggu depan,” pintanya merengek sambil menarik jaketku.
Aku mengiyakannya, karena memang wajahnya yang cantik itu susah banget aku tolak. Setelah aku iyakan, Usy menyandarkan badan dan kepalanya ke tembok, meluruskan kakinya, dan memejamkan matanya.
“Capek banget hari ini,” katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku memperhatikan dia yang kelelahan. Make up-nya mulai kusam, tangannya diletakan dikakinya, dan kepalanyna sedikit dimiringkan. Ya resiko pikirku, karena dia memang bekerja sebagai freelance. Aku kadang merasa ikut kelelahan saat melihatnya seperti itu.
Tak lama kemudian makanannya sampai. Saat aku menoleh kearah Usy, aku melihatnya sudah terpejam “Ya ampun, secapek apa ya anak ini, kok bisa-bisanya tidur ditempat makan.”
Aku melepaskan jaketku dan menyelimutkannya ke Usy. Aku biarkan dia beristirahat, sementara aku lanjut makan. Setelah sekitar 30 menit berlalu Usy bangun dan terlihat bingung.
“Loh kok gak dimakan?” tanyanya sambil mengusap mata.
Aku tersenyum sambil membelai kepalanya “Sudah abis incess, noh itu kamu yang belum makan.”
“Hehe maaf,” balasnya malu-malu.
Usy makan dengan lahap, sambil sesekali melihatku. Wajahnya memerah, dan tidak memperdulikan gincunya saat makan. Jarang banget lihat Usy seperti ini, mengingat dia selalu memperhatikan penampilannya apalagi saat ketemu dengan client.
Setelah selesai makan dia tertawa kecil kearahku sambil bertanya “Kesel gaksih, diajak makan malah aku tinggal tidur hehehe.”
“Kesel sih, tapi ya gimana, dapetnya juga kayak kamu,” kataku, lalu kami berdua tertawa lepas.
Setelah selesai makan aku tak tega harus tanya ke Usy masalah apa yang aku lihat. Aku mengantarnya kerumah dan dijalan kami mengobrol.
“Enak gak sih, Ka, kalau jadi kayak kamu. Pegawai, sabtu minggu libur kerja sampai jam 5 doang,” keluhnya saat diperjalanan.
“Gak juga, enakan juga kayak Usy, bisa ketemu orang banyak tiap hari upgrade skill,” jawabku mencoba menyemangati.
“Haha, iyalah emang kamu budak!” balasnya dengan tengil.
“Yeu, Galon!” balasku sambil memukul mundur kepalaku mengenai helm Usy.
“Hihh!! Ati-ati!” teriaknya sambil memukul helmku “Tapi serius deh, kadang aku tuh jenuh tau, Ka. Capek aja ya kalau tiap hari mesti kerja. Kalau misal weekday gak ada client, pengennya liburan tenang eh malah bingung karena gak ada duit, huft.”
Sambil mendengarkan ocehannya, tak terasa sudah sampai didepan rumah Usy. Aku memarkirkan motorku didepan gerbang, lalu turun membuka gerbang untuk Usy. Dia tersenyum, dan masuk kedalam, begitupun aku yang keluar dan menutup gerbang. Dia mengunci gerbang rumahnya, dan aku menaiki motor lalu menyalakan mesinnya. Usy sampai didepan pintu dan tersenyum kearahku dari jauh. Dia melambaikan tangan, dan aku membalasnya. Aku pamit pulang.
__ADS_1
“Hah, yaudah mungkin lain waktu,” gumamku dalam hati.