Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Teman Lama Aska


__ADS_3

Aku seneng banget dapet kabar dari temenku Aji. Semalem dia ngabarin kalau hari ini dia balik dan akan menetap di Bogor. Sebelumnya dia merantau di salah satu perusahaan manufaktur di bidang otomotif di Karawang. Aji dulu kuliah di UGM, dan setelah lulus dia mendapat kontrak untuk bekerja di Karawang. Entah karena sebuah alasan yang belum dia ceritakan di chat nya semalam, sekarang dia akan menetap di Bogor.


Aji ini temen sekolahku. Kita dari SD sampai SMA selalu 1 sekolah, bahkan dari SD sampai SMP kita sekelas, hanya saja dia dulu waktu SMA dia IPS aku IPA. Kita memiliki banyak kesamaan dari gaya berpakaian, rambut yang sedikit bergelombang, badan yang kurus, kulit kuning langsat, dan alis tebal dan sedikit miring dibagian mata kiri. Sampai-sampai kita sering disangka kembar sama orang yang baru pertama kali ketemu. Ohiya, karena jalan menuju sekolah kita bareng, jadi aku sering nebeng Aji waktu berangkat.


Dia pulang ke Bogor hari sabtu, dan setiap hari selama aku menunggu hari itu, aku berusaha tidur cepat karena tak sabar ingin sekali ketemu Aji.


"Anjay, si Aji anak IPS yang kerja dibengkel!" teriakku saat bertemu dengan Aji.


"Anjay, si Aska bucin!" balasnya saat melihat ke arahku. Aji menyambutku dan membuka gerbang rumahnya. Dia mempersilahkanku memasukan motorku, lalu dia berlari kedalam rumahnya.


Selesai parkir motor, aku duduk diteras rumah Aji. Aku inget dulu pernah main disini, depan rumah Aji dulu ada prosotan dan arena balap Tamiya. Kita sering main bareng, dan orang tua Aji juga udah nganggep aku seperti malika, malika kedelai hitam yang sudah dianggap anak sendiri.


Orang tua Aji keluar dari pintu rumahnya dan menyalamiku. Aji dibelakang membawa sebuah keranjang berisi makanan.


"Anjay, kirain mau disuguhin baut sama obeng," sahutku saat Aji berjalan membawa keranjang tersebut.


"Dikata kerjaanku debus apa makan obeng."


Orang tua Aji masuk rumah setelah selesai salam-salaman. Aku dan Aji duduk didepan teras rumahnya.


"Mmmm, bentar deh, Ji, sini-sini,"kataku sambil memintanya mengarahkan matanya kepadaku.


Aku menatap matanya beberapa saat. Lalu aku bisa melihat banyak sekali momen yang kita lalui bareng. Aku hentikan saat aku melihat diriku bersama Aji waktu SMA. Banyak aib yang gak mau aku lihat.


"Apaansih, kayak homo!" kata Aji sambil noyor jidatku.


"Hahaha sorry, by the way kamu juga dulu bucin, inget banget aku dulu kita ke kantin cari coklat sama kardus beng-beng buat Liontin. Didalem kardusnya diisi surat cinta yang dimasukin kardus, bukannya dimakan malah didudukin sama Liontin, mana ditolak lagi hahaha!" seruku setelah mengingat kejadian kita dulu.

__ADS_1


"Bukan ide aku, gara-gara kamu Ka itu. Sialan emang, mana abis itu aku berantemkan sama Fafa, padahal dia temen sebangku. Masa kursiku dulu ditendang-tendang," balas Aji kesal.


"Cowok mesti berani, bro Hahaha!"


"Daripada sok-sokan buat cake sendiri, eh taunya rasanya kayak karet ban," balas Aji.


"Masih inget aja dulu pernah buat cake tapi malah bantet kayak karet ban, untung udah mantan," balasku.


Kami berdua memiliki segudang kenangan waktu SMA. Kami pernah sengaja bolos kelas karena ingin nonton band favorit kami yang lagi ngadain konser di Depok. Kami pernah nyuri beras yang dijual di Koperasi Siswa, uang hasil curian itu kita pake buat beli baju distro yang lagi trending. Dulu kita juga pernah mulung koran tiap ada siswa, atau anak berprestasi di sekolah buat dikiloin yang uangnya kita pake buat liburan ke Jogja dan Solo.


"Aku baru inget kenapa dulu aku sering sakit perut, itu karena uang kita uang panas, Ka,"kenang Aji sambil geleng-geleng.


"Haha iya, gimana ya kabarnya penjaga koperasi, apa kita mainlah kesana minggu depan hari sabtu."


Aji menggelengkan kepala "Gak ah, gak enak kalau masih inget ditagih ntar curian kita."


"Ya bisa, ntar ngajak istri lah gampang,"balas Aji.


"Ya masak bahasan cowok mau dibawa bareng istri, bro, yang bener aja,"balasku sambil menolak ide Aji.


"Emang bahasan kita mau bahas apaan dah, kalau udah tua paling yang dibahas anak, kerjaan, masa mau bahas urusan ranjang?"


"Hahaha, iya juga sih yaudah jadwalin aja entar, Ji."


"Nah gitu dong, btw katanya mau nikah, Ka?"


Aku mengangguk sambil tersenyum "Gak kerasa ternyata, dulu kita pengen nikah umur 20 eh ini telat 5 tahun."

__ADS_1


"Masa depan emang misteri, Ka," jawab Aji.


"Nikah bege, Ji, mau nunggu apalagi," pintaku karena aku tau dulu Aji orangnya bucin dan selalu disia-siakan.


Aji hanya tertawa kecil, dia seolah cuek dengan perkataanku "Santai, Ka, everybody have their own time."


Kami berbicara cukup lama sampai akhirnya sudah larut malam. Enaknya jadi anak cowok, apalagi udah gede itu gak ditanyain udah pulang atau belum. Aku pulang sekitar jam 7 malam setelah sholat isya. Aku berpesan ke Aji untuk datang ke nikahanku akhir bulan depan. Dia mengangguk dan mengiyakan undanganku.


Tidak banyak mintanya, aku tau dia orangnya simple sepertiku. Tidak minta seragam groomsmen karena emang gak aku buat. Melihat Aji aku jadi teringat lagi masa SMA ku dulu, dia benar-benar masih orang yang sama. Bener-bener satu frekuensi, mungkin kita adalah cetakan yang sama dari mesin yang berbeda.


Dulu aku tidak punya banyak teman, sama halnya dengan Aji. Kami mungkin terlalu sering berduaan, sampai lupa memperluas circle pertemanan. Oh iya, aku lupa menanyakan apa alasan Aji pulang dan keluar dari perusahaannya dulu. Yah mungkin tidak terlalu penting dan bisa jadi itu privasinya.


Saat pulang Bapak dan Ibu juga menanyakan Aji "Gimana mas tadi dari rumah mas Aji," tanya Ibu padaku saat pulang.


"Ya gitu, dia katanya udah gak di Karawang lagi, udah keluar," kataku "Tadi Aska ngabarin dia kalau Aska mau nikah, Bu, bulan depan."


"Oh, kenapa kok Aji keluar?" tanya Ibu penasaran.


"Gak tau bu, aku lupa nanya tadi, ini oleh-oleh dari rumah Aji,"kataku sambil memberi bingkisan makanan.


"Ealah alhamdulillah ibuk punya stok makanan dari Aji," kata Ibu senang sambil mengambil bingkisan dariku.


Setelah ngobrol sebentar aku langsung menuju ke kamar. Tak lama setelahnya tiba-tiba Aji nge-WA aku "Masih inget gak dulu kita pernah pengen naik gunung?"


Aku tersenyum sambil mengingat-ingat dulu kita pernah punya cita-cita bareng buat naik gunung. Dulu kita berdua seneng banget browsing hal-hal tentang pegunungan. Gimana serunya naik gunung, pemandangan dari atas awan, dingin dan sejuknya udaranya yang jauh dari kota. Tapi kami gak pernah mau diajak ikut ekskul pecinta alam karena anak pecinta alam di Sekolah kami dulu mukanya serem dan badung-badung. Ada 1 orang yang membuat kami benar-benar tidak ingin bergabung ke Pecinta Alam karena dilihat dari badannya tidak mencerminkan seorang pecinta alam. Keliatan gak merawat diri alias jamuran :(.


Aku langsung menerima tawaran dari Aji. Kami menjadwalkan naik gunung minggu depan. Kebetulan aku juga ada kenalan untuk sewa alat-alat mendaki. Kami sangat bersemangan menghitung hari pendakian pertama kami.

__ADS_1


__ADS_2