Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Aska Dan Aji


__ADS_3

Sepulang dari muncak hatiku agak was-was. Pertama karena Usy udah 1 x 24 jam belum balas chat, ditambah rasa penasaran sekaligus kesel denger kabar kalau Aji nikah bulan depan. Selisih seminggu denganku. Aji cuman bilang calonnya gak jauh-jauh dari dia sama sekali gak pernah cerita kalau dia mau nikah. Apa ini akibat dari perantauannya? Apa Aji disantet? Atau mungkin dia di Bandung kepedalaman menghamili anak orang, terus dipaksana nikah? Kepalanya kejedot apa coba.


Oke, kesampingkan dulu tentang Aji karena akhirnya tepat 25 jam setelah kepulangan dari Sumbing Usy balas chat “Heii, mana oleh-olehnya?! Capek ya? Kamu gosong gak? Hmm ada yang lecet? Dengkul masih ingat aku?” balasnya.


Buset, agresif parah dan aku balas stiker hormat “ Kamu kemana aja niihhh, 23 jam lagi aku hampir laporin kamu ke Polisi, Biii.”


“Hehe maaf akhir-akhir ini repot, sama kemarin Ayah pulang,” ceritanya.


"Hah serius?" balasku.


Oh iya sedikit cerita tentang Ayah Usy, aku tidak terlalu sering ketemu Ayahnya karena aku tau beliau orang yang sibuk banget. Dia bekerja disalah satu instansi pemerintahan pusat yang mengharuskannya berpindah tempat pekerjaan. Saat ini Ayahnya bekerja di Sulawesi Selatan di Watansopeng, kata Usy jabatan Ayahnya sekarang ini sebagai seorang kepala kantor. Beliau sudah 3 tahun dinas di Watansopeng, sebelumnya Ayah Usy dinas di Pekalongan. Kalau denger dari ceritanya, ayahnya bakal dipindah tiap 4 tahun sekali, jadi sisa 1 tahun lagi sebelum beliau dipindah.


Ayahnya badannya tegap, bahunya lebar dan perutnya sedikit buncit, sedikit ya sedikit. Kulitnya sawo matang dengan kumis sapu yang terawat rapi, dan janggut tipis yang sepertinya diwarna agak kemerahan. Hidungnya sangat mirip dengan Usy, ada lekukan sedikit diujungnya, dan dari tatapan matanya terlihat sekali Ayahnya orang yang sangat tegas. Oh ya badan Ayah Ush ini lebih tinggi sekitar 2 inc dariku, jadi terkesan dia seperti seorang tentara yang galak, sumpah takut banget.


Aku tak begitu sering ketemu, hanya beberapa kali kami ketemu dan ngobrol santai itupun juga sebelum dan saat lamaran saja. Selebihnya aku jarang sekali bertemu. Usy lebih sering menyusul Ayahnya ke Sulawesi ketimbang Ayahnya yang pulang, kadang ibunya tinggal lebih lama disana, sementara Usy dirumah sendiri. Kayaknya aku tau alasan kenapa Usy disuruh pulang ninggal ibunya.


Oh iya, Ayahnya punya hobi mancing. Dulu setelah lamaran, tiba-tiba aja dia nyeletuk “Main sini ke Watansopeng, nanti saya ajak main ikan Pari, sama nangkep burung!”


Aku hanya meng-iyakan ajakan sebagai formalitas yang pada kenyataannya, itu tidak pernah terlaksana sampai sekarang.


Oke karena kangen jadi langsung aja ku telpon Usy.


“Assalamu’alaikum, call center JNE?”


“Wa’alaikumsalam gak bikin kembung kopi dangdut,” balas Usy dari balik telfonnya.


“Hmmm yang kemarin abis mennghilang nih ya, gak ada ngerasa bersalahnya nih ya.”


“Hehe maaf kemarin hp aku matiin aku kira kamu bakalan lama. Seneng banget dong, mas, kemarin Ayah pulang udah sebulan kali ya gak ketemu sama papah, gimana kemarin pendakiannya? Nemu Yetti gak?”


“Iya deh iya, gak ada Yetti di Indo, adanya Banaspati,” jawabku sedikit kesal.


"Enak dong bisa BBQ sambil jerit malam," jawab Usy dengan nada polos.


"Semoga malam ini Usy didatengin banaspati."


Usy tertawa kecil, dan obrolan basa-basi kami berlanjut sampai sekitar pukul 11 malam. Sampai diujung obrolan Usy berkata “Minggu ini bisa ketemukan?”


Aku meng-iyakan permintaannya dan setelahnya kami mengakhiri obrolan malam ini. Besok mesti banget kerja dan rencananya besok main ke tempat Aji. Dia harus melakukan klarifikasi, jangan-jangan dia ngehamilin anak orang terus dipaksa nikah.


**


“Balik duluan ya!” seruku setelah tepat pukul 5 sore, aku bergegas keparkiran motor. Diperjalanan kubeli sebungkus pisang goreng keju buat dimakan dirumah Aji. Aku sudah memberi kabar pagi tadi buat ketemu dengan Aji sepulang kerja, atau setelah magrib. Perjalan dari kantor ke rumah Aji cukup memakan waktu jadi mungkin setelah magrib baru sampai.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum paket buat calon manten!!” teriakku dari luar pagar rumahnya.


Aji berjalan keluar dan membuka pintu, dia tertawa kecil sambil menunjukan giginya yang tak begitu putih. Ditambah wajahnya yang hitam terbakar oleh-oleh pendakian kemarin.


“Wa’alaikumsalam ya ahli kubur, sini-sini duduk diteras ajaa ya!,” dia mempersilahkan duduk dan masuk kembali kedalam.


Aku berjalan duduk keteras rumahnya. Membuka pisang goreng yang tadi kubawa, tak lama setelahnya Aji membawakan teh dan kopi “Tinggal pilih mau minum yang mana hehe.”


“Lah kan belum nanya, Ji, tadi,” keluhku.


“Nah biar gak usah nanya,” jawabnya sambil tertawa kecil.


“Kalau pengennya Sogem gimana?”


“Sogem?”


“Soda gembira!”


Aji masuk kedalam rumah, dan kembali membawa gelas, sebotol soda, sirup dan susu kental manis kaleng “Nah udah tinggal di sruput, nyuuuttt,” katanya sambil menuangkannya kedalam gelas.


“Bercanda, buset dah mie ayamnya sekalian mana?” kataku sambil meminum sogem yang disajikan. Aji masuk kedalam rumah, dan aku menghalanginya. Kupukul palanya dan memintanya duduk.


"Kenapa nikah cepet-cepet, Ji?" tanyaku dengan wajah sedikit terheran-heran.


"Jadi gini, Ka," Aji membenarkan posisi duduknya.


"Nungguin ya?"


Aku mencelupkan tanganku ke sogem dan mencipratkan ke mukanya "MAU NI SEKALIAN GELASNYA KU LEMPAR KE PALA KAU?!"


Aji tertawa kecil "Ya, gimana ya, rasanya kayak udah waktunya aja sih."


"Udah waktunya lahiran? Jadi calonnya udah hamil duluan?"


"Kagak, buset. Ya seumuran kitaman emang udah waktunya nikah, Ka."


"Ya iyasih, dapet orang mana?"


"Tetangga," jawab Aji sambil cengar-cengir.


"Lah, Ica? Kok bisa sih?"


Aji mengangkat bahunya "Ya bisa aja, aku mulai deket sama dia disemester akhir, kita kenal waktu lebaran 3 tahun kemarin. Pikirku waktu itu 'tetangga cakep juga ni' yaudah aku bawa kekamar aja."

__ADS_1


"Udah gila temen aku."


"Haha enggaklah."


Aku tau siapa Ica, dia dulu juga temen kita waktu SMA tapi beda angkatan, dia selisih 1 tahun denganku dan Aji. Tau sih dia cakep, ya kalau adek kelas cakep pasti kakak kelas juga tau, tapi yang gak aku sangka ternyata dia tetanggaan sama Aji.


"Dan kebetulan dia juga kuliah di Bandung, Ka, yaudah deketin aja sekalian. Bisa pulang bareng, berangkat ke Bandung bareng, kosan bareng. Hmm kalau kosan enggak kok, Ka, percaya deh."


Aku mengangguk mengerti "Lah terus cepet banget mau nikahnya?"


"Kemarin aku ketemu ustad, Ka."


"Buset di Bandung jadi santri," seruku terkejud.


"Hahaha enggak, ya ketemu aja gitu waktu makan siomay. Tapi dia iseng banget deh waktu itu, masak ngintip chatan aku sama Ica terus ngomong 'Nikahin aja mas, nunggu apalagi,' terus waktu itu aku jawab belum siap mau kerja sama mapan dulu, eh dibales 'Jodoh itu sifatnya kayak ajal mas, emang sih itu rejeki, tapi datangnya gak kenal kapan kita siap dan gak siapnya' gitu," katanya sambil memainkan tangannya seolah meniru ustad yang dia temui "Kalau ajal gak bisa ditolak, kalau jodoh bisa, karena jodoh itu rejeki, kang," sambungnya.


"Terus gimana Aji yakin kalau Ica rejekimu?"


"Lah dia mau aku lamar tahun kemarin, yaudahlah sebelum berubah pikiran, lagian aku juga gak ganteng-ganteng amat, aku mah cuma modal nekad ama tekad ajalah, takut ntar dia banyak yang deketin, terus banding-bandingin bayangin ntar punya anak kayak aku dia gakmau," jawabnya enteng.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ya ada benarnya juga apa yang dia bilang "Terus kenapa resign?"lanjutku bertanya.


"Hmm.. kenapa ya, aku pengen buka usaha aja, target emang kalau udang udah cukup aku pengen buka usaha FnB, ntar sering-sering mampir ya kalau udah mulai buka," katanya dengan semangat.


"Gampang nanti lah kalau sama temen sendiri," jawabku "Terus gimana persiapan nikahnya, kalau lamarannya tahun kemarin lama juga ya berarti?"


"Iya, kan dia baru lulus tahun ini, kemarin dia nunggak 2 semester karena sakit, aku sih yang pengen dia lulus dulu biar ada rasa tanggung jawabnya aja sama sekolahnya. Dan ya, sebenernya biar aku nabung juga sih hehe untungnya nikahannya sederhana, yang kita undang cuman orang deket aja, temen kerja orang tua, temen kerja aku dulu temen sekelas dia waktu SMA, sama keluarga."


"Lah, gak ngundang aku dong?"


"Lah Aska emang bukan temen, tapi keluarga, pasti diundanglah," katanya sambil tersenyum menjijikan.


Aku lempar keju karena gak tahan lihat senyumnya.


"Terus abis nikah?"


"Abis nikah ya Ica jadi istriku, lah gimana?"


"maksudnya tinggal dimana, Icanya kerja nggak, langsung beranak gak, gitu ondel!"


"Oh ngalir aja."


"Gak deg-degan, Ji?"

__ADS_1


Aji berlagak santai sambil menggelengkan kepala. Dia terasa begitu tenang dan siap, seperti tidak terbebani sama sekali. Ya mungkin nanti kita bisa ngobrol lain waktu lagi. Gak kerasa udah pukul 9 malam sudah larut malam akupun pamit pulang. Tak lupa undangan pernikahannya diberikannya padaku.


Well, Aji nikah bulan depan atau tepatnya 2 minggu lagi, dan aku rasa Usy juga bakalan senang denger kabar baiknya. Dia temanku, bukan, dia keluargaku.


__ADS_2