Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Tugas Mata Aska


__ADS_3

Sekarang ada ruangan khusus di Kantor dimana client kami di investigasi secara khusus. Ruangan itu seperti ruangan introgasi di film Aladeen saat reka adegan dia dipotong jenggotnya. Ada sebuah meja dan kursi ditengah ruangan, tepat diatas meja ada sebuah lampu gantung yang membuat posisi meja jadi pusat cahaya dari ruangan itu.


Sepertinya mas Felix menceritakan ini ke pak Langgas, sehingga pak Langgas sekarang menugaskanku ketempat ini. Entahlah maksudnya apa, cukup diajak menangkap burung saja pikirku yang paling aneh. Semoga ini tidak.


Sekitar setelah jam istirahat kantor, aku diminta keruangan itu. Meskipun disiang hari ruangan yang nampak seperti gudang ini terasa sangat gelap. Tak ada ventilasi ataupun jendela yang membiarkan cahaya matahari masuk keruangan ini. Aku disediakan segelas teh hangat dan gorengan beserta cabe. Ya karena masih lapar kusantaplah tempe goreng yang ada didepanku. Tak lama kemudian ada suara langkah kaki dibelakangku, dan saat aku menoleh.


"Loh Aska?"


"Loh pak John?" kataku terheran-heran.


Perkenalkan pak John, dia adalah kepala kantor sekaligus pemilik perusahaan. Aku jarang bertemu dengan pak John karena dia terkenal sebagai sosok yang pendiam, ambisius, penuh misteri, dan kemauannya sulit ditebak. Serius, bahkan bersinggungan aja gak pernah, bertegur sapapun jarang. Sebatas yang aku tau dari pak John ini, dia selalu datang lebih pagi dari siapapun. Bahkan pernah sebelum pramukantor datang pak John sudah datang.


Pak John berjalan ke kursi didepanku dengan ragu-ragu. Dia menarik kursi dan melihatku dengan bibir berminyak bekas gorengan. Kami berdua masih bengong dan tanpa kusadari aku melihat masa lalunya. Tak ingin banyak melihat aku mengedipkan mataku dan memalingkan wajah sambil mengambil teh hangat yang dihidangkan "Ijin minum tehnya, Pak," kataku sambil menunduk.


Pak John hanya mengangguk. Pria ini tak terlihat seperti orang berumur 45 tahun. Entahlah rambutnya diwarna hitam atau tidak, tapi sama sekali tak terlihat uban, selain itu tak banyak garis wajah, hanya memang kulitnya yang gelap ditambah alisnya yang tebal dan melengkung teratur dengan matanya itu membuat pandangannya tajam menusuk kearahku.


"Gimana, mas, kerjaan beres?" katanya basa-basi.


Aku sedikit aneh ketika dia menanyakan hal seperti itu seharusnya diatau laporan pekerjaanku dari pak Langgas "Alhamdulillah, pak, beres," jawabku "Kerjaan bapak juga beres?" anjay kenapa aku menanyakan hal gak perlu. Jelas dia pasti jawab bereslah.


Pak John hanya mengangguk. Dia melipatkan kedua tangannya dan memangku wajahnya diatas kedua tangan. Jempolnya sesekali dimainkan seolah sedang berpikir "Kamu tau, kenapa saya harus ketemu kamu?" tanyanya dengan nada sedikit bingung.


Aku menggaruk kepalaku "Enggak, Pak, saya diminta pak Langgas kesini tadi pagi."


"Astaga, Langgas itu maunya apa ya. Kerjaan saya banyak, mas," jawabnya kesal. Seketika pak John menarik kursinya dan berdiri lalu dia berjalan keluar "Saya kembali keruangan."


Pak Langgas berjalan berlalu keluar ruangan, langkahnya cepat. Nampaknya dia merasa kesal diminta berduaan denganku hanya untuk nge-chill bareng. Aku langsung kembali keruangan melanjutkan pekerjaanku, disana ada mas Felix yang menyantap makan siangnya.


"Lah, Ka, udah balik?" tanyanya dengan mulutyang penuh dengan makanan.


"Gak jelas banget, masak aku kesana ketemu sama pak John," kataku kesal "Mana suguhannya cuman gorengan sama es teh."


"Mas Aska!!" panggil pak Langgas dari dalam ruangan.


"Iya pak," jawabku dan segera masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


"Duduk mas," katanya mempersilahkanku untuk duduk "Jadi gimana tadi mas sama pak John?"


"Gimana apanya pak?" tanyaku bingung.


"Ya tadi sama pak John gimana mas?"


"Apaan emang saya kriminal apa perlu diintrogasi diruangan kayak gitu," kataku kesal.


"Bukan gitu, mas," kata pak Langgas sambil menggaruk kepala bingung "Jadi mas, saya tu pengen ada yang kenal sama bapak."


"Maksudnya?"


"Ya kan kamu tau sendiri dia suka minta aneh-aneh mas. Minta alat cukur hewan padahal gak punya anjing atau kucing, minta lampu gantung, minta iguana, minta ruanganya dihias ada mainan burungnya, datengnya selalu pagi. Ruangannya dikunci itu tuh kenapa mas saya pengen tahu itu dari kamu."


"Ya mana saya tau, sayakan tepung."


"Kata mas Felix kamu bisa lihat masa lalu orangkan, kan bisa lihat sehari mundur, lihat dia kemarin mas Askadhitama!" kata pak Langgas kesal "Mas, saya butuh orang buat melakukan pendekatan sama dia mas, dan saya lihat mas Aska bisa melakukan itu."


"Ya masak saya suruh sendirian disana pak, berduaan lagi kalau candle dinner gitu gakpapa ada indikasi kalau pak John tu homo," timpalku dengan nada bicara agak tinggi.


"Yaudah deh mas, tadi gimana sempet lihat apa mas?" tanya pak Langgas.


"Oh gitu, oke deh, mas Aska nanti pulangnya buru-buru nda?"


"Kalau pak Langgas ngajak saya nangkep burung, saya pulang buru-buru."


"Malem-malem ngapain nyari burung mas, nanti kamu ikut saya dulu ya, nanti saya nganter pak John pulang sama diajak dia makan mie bangka."


"Tapi nggak..,"


"Udah ikut aja, seneng-seneng wes to, udah sana kembali ke meja kamu dan bekerja selayaknya menjadi karyawan pada umumnya."


"Mas Felix boleh ikut?"


"Enggak, dia ditunggu istrinya dirumah, kamu kan masih bujang. Ikut aja."

__ADS_1


Yah okelah akhirnya aku mengalah dan nanti ikut makan bareng pak Langgas dan pak John.


*


Jam pulang telah tiba, aku menunggu pak Langgas dan pak John dilobby kantor. Aku duduk sambil melihat pegawai lain berlalu lalang pulang. Kebiasaan pak John ini kelewat rajin, dia selalu datang pertama dan pulang terakhir. Setauku pak John ini workaholic banget, dia pulang paling cepet jam 7 malem, beda denganku yang kadang kalanya datang terakhir pulang pertama. Apalagi kalau ada tugas keluar kantor, udah deh sebelum jam makan siang udah balik rumah.


Aku agak terkejut ternyata pak Langgas sangat akrab dengan pak John, saat perjalanan di mobil mereka ngobrol seolah seperti sudah kenal lama. Entah apa mungkin semua kepala divisi seperti itu, atau hanya pak Langgas. Ya okelah pak Langgas juga udah 5 tahun di kantor, tapi sampai bisa bercanda saling ngeledek itu bukan hal yang biasa aku lihat. Pernah sekali dulu banget mungkin udah setahun yang lalu sejak terakhir aku rapat bersama pak John dia terlihat sangat bersahaja. Bicaranya on point, tidak bertele-tele dan fokus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia tertawa, hanya saat aku semobil ini aku baru tahu pak John bisa tertawa selepas itu.


"Mau kawin ni anak buahku, Pak," kata pak Langgas sambil menepuk pundakku.


"Ya semua juga mau kawin kali, Pak, masa pak Langgas gakmau, lagi? Hahaha"


"Ya saya mah nunggu ke Panti Pijat Kuy Kuy bareng bapak, yehahaha"


"Mau ni belok abis ini, mas Aska?" tawar pak John.


"Enggak pak, saya bentar lagi nikah kok,"jawabku sedikit takut. Hmm tapi enak juga sebenernya. Hmm tapi enggakah.


Mereka berdua tertawa. Saat makanpun begitu, tak ada obrolan pekerjaan. Hanya obrolan hobi dan keseharian mereka masing-masing. Setelah selesai makan, aku mengantar pak John ke rumah, dan sebelum kukembalikan mobil kantor, aku antar dulu pak Langgas.


"Pak Langgas udah bisa sampe ketawa kayak gitu, kurang kenal pak John kayak gimana, Pak?"


"Itu gak berarti apa-apa mas, pak John emang sukanya bercanda."


"Lah saya baru tau," kataku heran.


"Saya juga baru tau belakangan ini mas, saya tuh kasihan kalau lihat pak John di kantor. Mukanya penuh tekanan. Kalau mas tau, dia tuh sekarang lagi sakit mas sebenernya, saya kasihan lihatnya gak tega mas. Makanya saya minta mas Aska itu deketin pak John biar dia ada temennya, biar agak ramean, saya temenin kok mas."


Yah, aku mungkin belum bisa menangkap maksudnya, tapi aku iyakan aja.


"Besok ikut saya lagi ya mas. Nanti kalau misal saya dipanggil saya ajak kamu mas."


"Siap pak."


"Sekarang mas Aska punya tugas baru bareng saya, ya, kerjaan kantornya jangan sampai keteteran."

__ADS_1


"Siap pak."


"Siap mulu, tak jitak kamu!"


__ADS_2