
"Terus gimana ini mas?" tanyaku kepada mas Bara.
"Tendanya dilipet lagi aja, mas. Terus gabung sama temen-temen saya aja masih cukup kok," perintahnya padaku dan Aji.
Aku terbangun dan bergegas keluar dari tenda. Aku ternganga melihat frame tendaku yang sudah patah. Aku harus mengungsi ke tenda mas Bara dan rekan-rekannya. Tak apalah meski salah seorang temannya memelukku, dan jenggot tipisnya digesekkan ke dahiku. Aku anggap ini pengorbananku demi selamat dari tiupan angin kencang.
Karena sudah terlanjur sadar bahwa ada badai, tidurku tidak se-nyenyak sebelumnya. Aku sempat terkejut saat pundakku terasa basah. Kupikir tendanya bocor, ternyata orang yang tidur disampingku meneteskan air liurnya. Ingin kupukul palanya pake sendal gunung, tapi apa daya, kakiku terkunci dan tanganku hanya bisa bergerak sebatas memindahkan posisi dari kepala ke pinggang. Dari dalam tenda terdengar suara angin kencang bergemuruh aku sadar jika melanjutkan tidur berdua bersama Aji mungkin kita bakalan pelukan, eh. Pelukan ketakutan, eh. Pokoknya gak bisa dibayangkan.
Aku sempat melihat Aji yang tidur tepat disampingku. Dia lebih dulu terlelap dariku, posisinya terlihat pasrah dengan menyilangkan tangannya sementara orang disamping Aji tertidur dengan wajah mengarah ke Aji. Untungnya, nafas orang yang tidur disamping Aji sama sekali tidak mengganggu tidurnya, padahal sesaat sebelum aku tertidur nyenyak aku mendengar dengkuran dari orang yang tidur disamping Aji. Mungkin karena lelah saat itu aku langsung tertidur setelah 1 jam kesulitan memejamkan mata.
Saat aku terbangun matahari dari barat masih malu-malu menampakan sinarnya, sementara sumbing sudah mengintip dari arah Barat Laut. Tak ingin aku mengerjapkan mata sedikitpun, langit masih masih berwarna biru kehitaman, sementara awan berwarna jingga, oke aku bukan anak indie, tapi gak bakalan ada orang yang memungkiri keindahan pemandangan dari camp Gajahan dipagi hari. Dinginnya angin, dan silaunya fajar yang mulai naik membuat kami semua terhipnotis, bahkan otot-otot yang tadinya mulai terasa pegal seakan hilang rasanya. Tak seorangpun dari kami yang sempat mengabadikan moment ini.
"Kalau udah puas matahari terbit, makan dulu sejam lagi kita berangkat ya!" teriak mas Bara yang ternyata dia sibuk menyiapkan makan. Dibuka olehnya beberapa nasi bungkus yang dia taruh diatas daun jati. Diujung daun itu ada sebuah batu untuk menahan daunnya agar tidak terbang, karena anginnya yang cukup kencang.
Aku melihat Aji dan yang lainnya. Mereka semua tersenyum lega, aku tau dari mimik wajah dan matanya yang terlihat tenang. Karena aku menyadari mas Bara yang sedang sibuk, aku memutar haluan dan membantunya. Sayangnya saat aku menawarkan bantuan ternyata sudah disiapkan semuanya "Udah tinggal makan aja, semua sama kok, ambil aja nasinya 1!" katanya sambil mempersilahkanku.
"Nanti bantuin bawa air ya, perjalanan ke puncak masih 1 jam. Takut kalau dehidrasi, yang penting sekarang makan aja dulu," katanya sambil membuka nasi bungkus yang ada didepannya. Aku menemaninya makan bersama, tak lama setelahnya Aji dan yang lainnya menyusul.
"Gila, Ka, keren banget ya pemandangannya disini!" kata Aji bersemangat.
"Gak nyesel aku, nunggu 7 tahun dari SMA loh dan ternyata emang keren banget disini," balasku dengan antusias.
"Bentar lagi nih, kita sampe ke puncaknya!"
"Yoi boss!!"
Dengan semangat aku segera menyelesaikan makan dan segera bersiap. Aku sempat mengabadikan moment lagi sebelum berangkat menuju puncak gunung sumbing, "Elah, narsis amat ni bocah!" keluh Aji saat ku mintai tolong.
"Biasa buat laporan sama Usy," kataku sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Sekitar 1 jam setelah semua rombongan pendaki selesai makan, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Setiap orang sudah membawa air minum berukuran 1000ml. Sebelum memulai perjalan akhir kami, mas Bara memimpin berdoa. Selesai doa kami tos dulu dan berteriak "Pendakian 101020, BISA!!" seolah ada energi tambahan setelah kami berteriak.
Tak banyak obrolan dan candaan saat menuju puncak gunung Sumbing. Tak begitu terasa perjalanannya pula, mungkin karena kemarin kami sudah terbiasa berjalanan lebih jauh. Saat sampai di puncak, kami disuguhkan dengan beberapa pilihan. Ada puncak Sejati, Rajawali, Kawah, dan Buntu.
"Kalau dari namanya sih, kerenan puncak Sejati," kataku begitu saja saat sampai. Semua melihatku.
"Oke, kita ke puncak sejati," kata mas Bara, tak kusangka langsung setuju begitu saja.
Puncak Sejati ini terletak diujung kiri pegunungan. Jalannya cenderung curam, kakiku terasa pegal karena harus menaiki batu yang cukup tinggi satu persatu dan tanpa aku sadari minum yang kami bawa tadi sudah hampir habis, hanya mas Bara yang sepertinya baru diminum seteguk saja.
Memang diantara teman-temannya, badan mas Baralah yang paling proporsional. Urat tangannya terlihat kokoh, otot lehernya juga begitu. Dia sudah menjadi sosok yang humoris, sudah menjadi sosok yang tegas dan dari bagaimana dia mengambil keputusan tadi dia jadi lebih terlihat bersahaja, aku jadi ingin kenal mas Bara.
"Aaarrrrgggg!!!"teriak seluruh rombongan kami yang sampai ke puncak sejati. Tampak wajah mereka sangat lega.
Semuanya saling berbagi pundak untuk duduk bersandar, meluruskan kaki lalu memejamkan mata. Begitupun aku dan Aji. Kami menghela napas panjang, tangan kaki kami sama-sama lemas. Sedikit bernostalgia dengan Aji.
"Yoi, ya emang harus gak jadi-gak jadi dulu, omdo-omdo dulu," balasku. Teringat dulu hanya sebuah wacana belaka, yang sudah terjadwalkan ternyata gagal, yang sudah dipersiapkan ternyata ada kepentingan, ya kita memang selalu berencana, kesempatan selalu ada, tapi eksekusi tak selalu terlaksana.
Aku lihat mas Bara duduk didekat tulisan puncak sejati. Kakinya diangkat sebelah, seluruh badannya tertiup angin dan keliatan banget dari lekuk perutnya bahwa memang dia seperti orang yang terlatih. Aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Sedari awal dia adalah sosok yang tenang, seperti seorang bapak yang membawa rombongan keluarganya, yang kukira kaku, ternyata sama sekali tidak. Memang dia orangnya tegas dan lugas, tapi benar-benar bisa membagi peran kapan dia harus bersikap seperti itu.
"Mas Bara udah seringkan ya kesini?" tanyaku sambil duduk disebelah kirinya.
Dia menurunkan kaki kirinya yang sebelumnya terangkat "Ya, beberapa kali aja, ngapain mas muncak?" tiba-tiba dia bertanya padaku.
"Wishlist doang sih mas, sama temen deket aku itu," kataku sambil menunjuk Aji.
"Laut ada buat disebrangi, Gunung ada untuk didaki, tapi ya buat apa?" pertanyaan mas Bara yang mulai memojokkanku.
"Wishlist bambang!" kataku kesal "Antum, sendiri kenapa ke Gunung, malah lebih banyak dari saya, heii!!"
__ADS_1
"Sama sih, awalnya cuman pengen doang. Ya apa tadi kamu bilang, wishlist ya? Ya sama, tapi saya baru sadar ternyata lebih dari itu," mas Bara menghela nafas "Saya sadar saat naik gunung sama temen-temen, 2 tahun kemarin."
"Kenapa mas?" tanyaku penasaran.
"Semua Pendaki Pemula, tujuannya itu pasti cuman 1, 'Puncak Tertingginya'. Dah gak mungkin ada yang lain, itu aja yang dipikirannya ibarat dia melihat tujuannya itu kayak sedang make kacamata kuda. Karena itu, ada yang bilang 'Orang naik gunung itu bakal keliatan watak aslinya'. Semua orang itu punya ambisi, kalau orang itu hanya melihat 1 tujuan didepan, bisa saya pastiin dia egois," kata mas Bara bercerita layaknya seorang motivator. Aku mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, dia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan "Padahal mas, kalau dia mau kasih jarak sama tujuannya, maksud saya dia mau sedikit menoleh kesamping, kebelakang ada banyak hal bermanfaat buat dia.
"Kalau pundaknya kuat bisa bantu bawa barang temennya, kalau tangannya ringan bisa bantu bersihin sampah disekitarnya, selera humornya bagus bisa menghibur temannya saat perjalanan, kalau kakinya lebih kuat dia bisa berjalan dulu buka jalan buat temennya. Ya gimana ya mas, jangan terlalu dekat sama tujuan kita, biar pandangan kita tetep bisa luas kesekitar, beri jarak, apapun itu harus berjarak biar radius pandang kita lebih luas, biar kita tidak dibutakan dengan ambisi," mas Bara menutup kalimatnya sambil menoleh kearahku.
Kami saling bertatapan dan tanpa kusadari aku melihat dia dimasa lalu. Aku memejamkan mataku setelah melihat kesehariannya yang sering menggendong seorang perempuan paruh baya, yang aku rasa itu ibunya.
Aku tau yang telah dilaluinya berat. Kehilangan salah satu orang tuanya waktu kuliah, dengan kondisi ibunya yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja, membuatnya harus mengorbankan banyak waktu kuliah dan hobinya. Aku melihat dia sering mengangkat piala, tapi tak pernah seharu aku melihat dia mengangkat ibunya.
Aku menundukkan kepala, sepintas aku melihat bagaimana dia memperlakukan ibunya. Seakan dunia berbalik mas Bara adalah orang tua buat ibunya. Memandikannya, menggendongyna, membersihkan celananya, menyuapinya, menemani tidurnya, meluruskan kaki ibunya lalu memijatnya dan tak henti dia berdialog dengan ibunya saat tidur sambil mengusap rambutnya yang mulai putih. Mas Bara selalu tidur disamping ibunya, mungkin dia ingin memastikan saat ibunya membuka mata anaknya masih menemaninya.
Dia seorang freelance dibidang jurnalis dan fotografi. Saat pekerjaannya sepi, kadang dia menjadi kuli angkut, kadang menjadi tukang parkir. Apapun dia jalani, asalkan makanan yang masuk ke perut ibunya bukan dari rejeki yang merebut hak orang lain dan bukan uang panas.
"Yuk turun," katanya sambil menepuk pundakku.
Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan untuk dijadikan istri kedua, aku ingin belajar banyak dari dia. Mungkin di chapter hidupku yang lain aku ingin bertemu dengan mas Bara lagi.
Perjalanan pulang tidak terlalu berat karena jalan sedikit menurun. Kami bisa berlari kecil sampai ke parkiran swadas. Tak terlalu banyak berhenti, dan waktu tempuh untuk turun gunung jauh lebih singkat daripada naik. Tak banyak obrolan, kami fokus untuk turun gunung dengan membawa tas masing-masing. Tak terlijat lelah sedikitpun kami menikmati perjalan turun gunung kami. Kami sampai di Camp Bowongso sebelum Ashar. Sebelum berpisah aku sempatkan minta kontak mas Aji, mungkin dikesempatan lain aku bisa bertemu dan ngobrol banyak.
Aku dan Aji juga sudah memesan travel malam buat pulang ke Bogor, tidak lupa aku memberi kabar ke Usy.
"Aku pulang ke Bogor, gak usah kangen!" centang satu.
Travel datang sekitar pukul 6 sore. disela-sela menunggu tiba-tiba Aji nyeletuk "Ka, 2 minggu lagi aku nikah."
"Anjaya Anjay Anjayaniii, serius?!!"
__ADS_1