Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Pecel Lele Mas Felix


__ADS_3

“Ehhh mas Aska!” teriak pak Langgas saat aku masuk kantor.


“Lah iya mas Aska!” sahut pegawai lainnya.


“Cikicikicikicikicik, duk-tak,” gadis tamborin bermain.


Hmm enggak ini cuman bercanda. Hanya sorak sorai sambutan basa-basi orang kantor.


Meja kerjaku bersih, sama sekali gak ada berkas menumpuk. Bahkan selembar aja gak ada. Aku melirik sekitar mejaku, mas Felix melihat kearahku sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum.


Aku tau itu kode kalau kerjaanku udah ada yang nge-back up.


Seperti biasa bu Ria, sebagai bendahara divisi, menyediakan makanan tengah partisi pembatas meja. Di ujung ruangan juga ada uap air mendidih yang sudah dicelupkan kantong teh. Kantor tempatku bekerja memang terbaik.


“Mas Aska, sini mas!” teriak pak Langgas dari dalam ruangan.


“Siap pak,” aku bergegas berjalan menuju ruangan pak Langgas.


“Gimana mas, gak enak kan pingsan?”


Pertanyaan basa-basi yang gak elite, jelas gak enaklah. Tapi aku hanya tertawa kecil merespon pertanyaan pak Langgas.


“Mau ikut saya lagi nangkep burung mas?”


Nah untuk ini “Enggak, pak. Saya pikir bakat saya bukan disitu.”


“Yaudah besok nangkep lele gimana mas?”


“Enggak pak saya mau istirahat dulu,” jawabku spontan langsung menolak semua ajakan pak Langgas.


“Oh yaudah kalau gitu. Gini mas, 3 hari mas Aska gak masuk itu aduhhh saya bingung mas. Kita dapet client 3 proyek audit mas. Satu perusahaan semen, satu rumah sakit, satunya lagi hotel mas. Mas Aska saya kasih hitungan kasarnya ya, tolong nanti dibantu buat rincian audit-nya karena nanti bakalan kita periksa mas,” sejenak pak Langgas diam “Ada yang hotel lo, mas, mau pijet nda?”


Bulu kuduk langsung berdiri. Terakhir kali diajak pijet pak Langgas, yang mijet orangnya maskulin, tapi ngondek-nya ya Alloh. Tau pensil inul, ya udah kayak gitu persis. Dipijet sama mas Inul, rasanya kayak dipukul sama linggis.


“Eh.. kayaknya enggak deh, pak, otot saya kalau dipijit jadi tegang,” jawabku sambil menggaruk kepala.


“Oh gitu, jadi gamau?” balas pak Langgas menjawab sambil mengangkat alisnya sedikit seolah berkata


“Taukan alis gue ngomong apa?!”


“Siap, kapan saja saya siap berangkat, bos,” jawabku sambil refleks hormat. Walaupun seperti bercanda tapi pak Langgas mengangkat alis itu pertanda kalau perintahnya itu mutlak.


Sekitar setengah jam aku dirungan pak Langgas.


Setelah negosiasi pijet, kami membicarakan rencana untukku visit ke lapangan. Sambil membawa botol air mineral berukuran tanggung aku berjalan menuju mejaku. Ada berkas yang numpuk menggunung nutup monitor PC-ku.


“Ini apa masa Fel?” tanyaku terkejut.


“Oh itu kerjaan kamu selama gak masuk, Ka. Kemarin aku simpen di gudang, kalau butuh bantuan bilang ya,” jawab mas Felix dengan enteng.

__ADS_1


Lah kirain udah dikerjain, ternyata disembunyiin. Aku menjatuhkan pantat dikursi lalu geleng-geleng


“Banyak banget kerjaan ditinggal seminggu doang,” gumamku dalam hati.


“Mas,” tangan pak Langgas menepuk pundakku


“Santai aja, deadline masih 3 hari kok,” katanya sambil tersenyum “Tapi kalau gak selesai dalam 2 hari, kamu punya pilihan saya masukin pondok pesantren, atau gaji kamu saya potong 30%,” senyumnya sekarang terlihat menyebalkan.


Ini pekerjaan client yang tadi aku bicarakan dengan pak Langgas di ruangannya. Berkas yang harus diaudit setebal samsak. Aku melihat berkas dengan tertunduk lemas, lebih baik aku belajar kung fu dengan laporan keuangan ber-hard cover, atau jadi atlit angkat laporan keuangan. Yah mau gakmau satu persatu memang harus diselesaikan. Lain kali kalau aku pingsan, aku pengen pingsan dikantor, agar teman-temanku merasa iba.


“Aku ambil 1 laporan ya, Ka,” kata mas Felix yang berjalan kearahku dan mengambil salah satu laporan yang ada di mejaku.


Akhirnya ada yang peduli dengan Aska yang terdzolimi.


Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, artinya ini sudah waktunya istirahat jam makan siang. Pegawai yang ada di divisiku semuanya udah berkeluarga selain aku, saat jam istirahat mereka membawa bekal masing-masing , sementara aku memesan makan di warung dekat kantor.


Karena hari ini banyak pekerjaan, jadi aku membawa makan siangku ke meja. Terlihat mas Felix juga sedang sibuk dengan pekerjaannya sambil menyantap makan siangnya.


“Makan sama apa, Ka?” Tanya mas Felix saat melihatku.


“Ini mas tadi pesen nasi rames dibawah,” aku berjalan mengambil gelas “Mas Felix makan sama apa?”


“Pecel Lele nih.”


Saat aku berjalan kearahnya yang aku lihat di kotak bekalnya itu nasi, telur, sama lalapan sayur “Lah mana Lelenya mas?”


“Enggak.”


“Jambu Monyet ada monyetnya?”


“Enggak.”


“Nasi Gila ada orang gilanya?”


“Enggak juga, mas.”


“Kenapa jadi masalah, kalau Pecel Lele gak ada Lelenya?”


Aku langsung berjalan menuju mejaku untuk makan dan melanjutkan pekerjaanku, mungkin maksudnya bercanda, sayangnya gak lucu.


“Ka, yang kita rasakan itu ada disini, dan disini,” katanya sambil menunjuk kepala dan hati “Visual itu hanya sementara, Ka,” katanya sambil menoleh kearahku.


“Mas pasti Romy Rafail,” jawabku bercanda.


“Aku nggak bercanda, Ka,” balas mas Felix serius


“Mana bagian lucunya?”


Aku merasa gak enak hati “Maaf mas, Aska bersedia dihukum.”

__ADS_1


“Nah itu baru lucu,” kata mas Felix sambil tertawa.


Oh iya, didivisiku ada 6 pegawai termasuk aku, dan 1 kepala divisi. Ada mas Bayu, mas Doni, teh Rini, dan kak Anggun. Aku jarang bertemu dengan mereka, karena mereka biasanya kerja diluar kantor. Mas Bayu dan mas Doni dikirim kantor pemerintahan, teh Rini sering diajak ke client, dan kak Anggun yang bagiannya sama seperti aku dan mas Felix. Hari ini dia sedang tidak dikantor karena kak Anggun sedang menjalani cuti melahirkan.


Di Divisiku udah 2 kali rotasi kepala Divisi. Sebelum pak Langgas jad kepala divisi, semua bekerja selalu didalam tekanan. Bekerja selalu ada yang salah dan kurang, padahal tidak pernah ada yang jatuh tempo. Kami bekerja untuk menyenangkan kepala divisi, membuatnya terlihat baik, dan tanpa celah. Sekarang dia ditugasbelajarkan, Karena setelahnya beliau akan dipromosikan menjadi supervisor.


Nah setelah datang pak Langgas, suasana pekerjaan jadi berubah total. Pak Langgas gak pernah sekalipun memberi tekanan, percaya pada kemampuan kami. Hal pertama yang dia lakukan saat datang menjadi kepala divisi adalah membuat suasana ruangan kita menjadi nyaman. Ya mungkin gak senyaman kantor start up, google, atau apalah, hanya dibuat asri.


Pak Langgas sering manggil semua anggota divisinya ke ruangan hanya untuk ngobrolin makanan, hobi, dan tempat traveling, walaupun kita gak pernah se-divisi traveling bareng, ya hanya ngobrol aja. Selain itu dia juga suka mencuri waktu kerja untuk melakukan diskusi internal, membuat acara makan-makan berkedok rapat internal, dan melakukan bisnis bersama agar kas internal divisi kami tidak perlu ambil dari gaji.


Dia pernah bilang “Saya gak nyaman mas sendirian di ruangan. Makanya sering manggil temen-temen kesini.” Pak Langgas dipromosikan menjadi kepala divisi karena kerjanya yang bagus. Banyak client kantor yang ingin diaudit dengan pak Langgas. Bukan masalah karena ada hubungan istimewa tapi pendekatan yang dia lakukan adalah pendekatan emosional, dia pandai membaca pikiran dan hati sehingga orang merasa nyaman.


Yah aku bersyukur, bertemu dengan orang sebaik pak Langgas.


Aku melanjutkan makan siangku lalu melanjutkan pekerjaanku.


Gak kerasa udah jam 5 sore. Jam kerja kantor selesai jam 4 sore, mas Felix udah bersiap pulang dan aku masih berkutat dengan komputer. Pak Langgas keluar dari ruangan dan berjalan kearahku.


“Mas Aska, udah sampai mana?”


“Hmm ini pak masih bagian pengujian, udah selesai sih 1, tinggal 3 lagi termasuk ini pak.”


“Ohh, udah mas pulang aja, besok saya bantu,” jawabnya sambil menepuk pundakku.


“Terima kasih, pak, nggak usah gakpapa, saya udah dibantu mas Felix kok,” jawabku menolak karena sungkan meminta bantuan pak Langgas.


“Lo, udah nda usah ngeyel, sisain 1 buat saya.”


“Udah pak, aman saya selesaikan hari ini!” aku masih ngeyel untuk menolak karena sungkan.


“Sisain satu atau saya panggilin mudin kesini sekarang,” ancam pak Langgas “Mau Imron dipotong lagi?”


Aku menelan ludah, dan dengan berat hati aku meng-iyakan permintaan pak Langgas. Sekitar 15 menit setelahnya aku pulang.


Aku sampai dirumah, dan berisitirahat. Ponselku berdering saat perjalanan menuju rumah, handphone-ku gak pernah dikantong celana dari berangkat kerja sampai pulang. Itu adalah telpon dari


Usy, dia mungkin khawatir karena aku pulang terlambat.


Usy adalah orang yang senang sekali cerita tentang apapun yang terjadi disetiap harinya, dan dia juga senang mendengarkan cerita keseharianku. Aku pernah sedikit kesal karena aku bukan orang yang terlalu suka untuk bercerita. Aku merasa ya keseharianku gitu-gitu aja, dan aku selalu merasa baik-baik aja.


Saat kesal dan merasa hal itu gak perlu seperti itu Usy tiba-tiba marah dan berkata “Ya, kita gak ketemu juga semua bakalan baik-baik aja, sayangnya kita udah sepakat buat bareng-bareng, jadi aku pengen lega dengan cerita ke kamu dan denger ceritamu.” Dan aku luluh.


Sekitar jam 10 mataku udah mulai berat. Aku berjalan kedekat pintu kamar untuk mematikan lampu.


“klik”


Mulai Episode berikutnya akan terbit setiap tanggal 15 dan 30


terima kasih untuk pembaca tulisan aku, semoga kalian dilimpahkan rezeki dan kesehatan selalu 😊

__ADS_1


__ADS_2