
Aku gak pernah semurung ini semenjak SMA. Agak berlebihan mungkin karena rasanya seperti tidak semamgat melakukan apapun. Bahkan dengan Ayam Goreng Tepung atau Ayam Bakar Madu bahkan ajakan bermain basket sama sekali tak menggugaj selera makan dan membuatku bersemangat.
Rasanya aneh, kejadiannya agak seperti mimpi dan menggantung. Aku tak menyukainya karena bagiku semua hal harus selalu ada alasan kuat yang mendasari.
Jadi begini ceritanya;
Aku sudah berdandan rapi, malam ini cerah tak nampak awan sedikitpun. Bulanpun terlihat telanjang, tanpa bintik cahaya bintang membuat Cahaya Bulan menjadi primadona langit malam ini. Melihat Bulan bersinar terang rasanya ingin menggong-gong Srigala. Eh enggak, maksudku indah banget.
Ini hari yang aku janjikan buat makan bareng Usy. Kali ini aku memilih tempat yang sedikit cozy di daerah Pajajaran. Tempat ini berkonsep semi outdoor, dengan kolam renang ditengah ruangannya, tidak ada live music disini, tapi dari review-nya mereka memiliki selera musik yang bagus bergenre jazz. Aku belum pernah sekalipun kesana, aku memilih tempat itu karena rating di google diatas 4,3. Aku gak menjemput Usy, dia sedang pergi bareng orang tuanya. Katanya dia bakalan langsung meluncur setelah selesai. Its okey,biasanya juga gini.
Aku datang sekitar pukul 7 malam. Aku memilih tempat duduk yang berada diluar. Tempat makan ini tidak terlalu ramai, seorang pramusaji disana mendatangiku menaruh menu makanan dan minuman. Aku meminta waktu sampai Usy datang, jadi kupersilahkan dia meninggalkanku. Saat aku buka buku menunya pilihan menu mulai dari menu buffet sampe makanan ringannya banyak, minumannyapun beragam mulai dari minuman Dawet sampai Soju ada. Dan yang paling penting ada Tom Yum dan mendoan bakar, ini kesukaan Usy. Hmm, bisa jadi langganan tempat makan mungkin kalau enak.
Sekitar 20 menit kemudian Usy datang. Dia mengenakan kaos putih, ankle pant berwarna biru, dan.. kacamata? Jarang banget Usy mengenakan kacamata setauku dia gak ada masalah dengan matanya, atau mungkin tiba-tiba dia ada masalah mungkin? Ah sudahlah, senyumnya yang dilemparkan kearahku tetap aja mencuri hatiku.
“Aska,” panggilnya saat menarik kursi didepanku sambil tersenyum manis.
“Hai, gimana tadi kemana aja, sayang?”
“Abis jalan-jalan dong sama Bapak sama Ibuk, tadi abis dari Ranca Upas, terus makan soto abis itu otw kesini.”
“Asik dong, mana liat foto kamu.”
“Yah, HP-ku baterai-nya abis, nanti ya aku pamerin,” jawabnya lalu mengambil buku menu yang ada didepanku “Wih ada Tom Yam, tapi kenyang, tapi pengen, wih ada mendoan bakar juga! Aska, mau ini. Fix Aska pesen Tom Yam aku mendoan bakar, nanti aku minta Tom Yam kamu ya. Kamu mau nikah gak boleh gendut-gendut!” langsung aja dia mutusin menunya lalu memanggil pramusaji.
Aku tertawa kecil dan meng-iya-kan permintaannya. Usy menatapku dengan sedikit malu-malu “Tadi salam dari Papah,” katanya sambil memainkan jari-jarinya.
“Oh iya, salam balik,” balasku. Setelah beberapa basa basi, dia mulai tidak terlalu fokus, mungkin ada pikiran yang memgganjal. Matanya juga tak berani lama menatapku. Aku agak khawatir jadi aku berusaha mencari tau dengan bertanya dengannya.
Seolah menutupi atau menahan sambil menunggu momen untuk bicara dia selalu berdalih dan bercerita tentang pekerjaannya yang sedang banyak. Juga rasa senangnya saat Bapak-nya pulang. Sampai saat kita selesai makan dia mulai bercerita.
“Aska,” panggilnya lirih.
“Kenapa, aku salah ya?” jawabku sesegera mungkin.
“Oh enggak kok, enggak,” balasnya, lalu terdiam beberapa saat “Kamu percayakan sama aku, Ka?”
__ADS_1
“Iya percaya kok,” jawabku “Kenapa?”
“Kamu yakinkan kita berjodoh, mas?"
“Yakan bulan depan kita nikah to, insyaAlloh-lah berjodoh.”
Dia menatapku dalam-dalam, lalu membuang muka sambil berkata “Kalau diundur sebulan lagi gimana?”
Aku sedikit terkejut mendengarnya, sendok yang masih ku pegang, perlahan kutaruh dimeja lalu dengan lirih aku bertanya “Di-un-dur?” tanyaku pada Usy, berusaha meyakinkan kalau tadi aku salah dengar.
“Iya, di-un-dur, diundur, mas, boleh?”
“Kenapa?”
“Ada janji yang mesti aku tepatin.”
“Yakan semua udah disiapkan, vendornya, chateringnya, beberapa undangan-kan juga udah disebarkan, kok tiba-tiba minta diundur?”
“Mas percayakan sama aku?” Tanya Usy lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya aku tau kok, percaya deh sama aku diundur sebulan gak bakalan kenapa-kenapa."
"Kok gak kenapa-kenapa, ya kenapa-kenapalah orang kita tinggal ngitung mundur, niat gak sih?"
Usy menggigit bibirnya, lalu dia tertunduk sejenak. Aku tau sepertinya dia mulai menangis. Aku yang tadinya bicara sedikit kencang, membuat suasana terpusat ke kami berdua. Seisi ruangan melihat kami dan aku jadi terlihat jahat disini. Aku memindahkan kursi kesamping Usy, memegang pundak sebelah kanannya dan mengusapnya.
“Kenapa, mau cerita nda?” tanyaku dengan halus.
Usy memindahkan tanganku keatas meja, lalu digenggamnya dengan kedua tangannya “Aku mau nepatin janji aku dulu ya, please. Nanti aku yang ngomong ke keluarga, mas. Aku tau mas percaya sama aku.”
Aku gak menjawabnya. Aku hanya diam dan menawarkannya untuk mengantar pulang. Usy menolaknya, lalu aku meminta pulang.
Diperjalanan aku meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Usy gak ngasih kabar saat dia sampai. Dan kami lost contact selama 3 hari. Dan baru hari ini aku ngabarin dia “Biar aku aja yang ngomong sama keluarga aku, aku percaya kok sama kamu. Tolong segera diselesaikan ya janjinya. Nanti jangan lupa cerita sama aku.”
“Makasih banyak mas, I fell so gratefull to have you.”
__ADS_1
“Minggu depan Aji nikah, bisa temenin mas dateng kesana gak?”
“Nggak bisa mas, aku sebulan ini di Semarang.”
“Its, okey, have fun.”
*
Aku terbangun dengan perasaan kacau. Tanpa sadar semalam aku ketiduran setelah terlalu larut aku bermuram. Sesegera mungkin aku bersiap karena saat kulihat jam dinding, 30 menit lagi jam masuk kantor.
Sesampainya dikantor aku melihat mas Felix sedang mendengarkan music sambil memperagakan gerakan penyanyinya. Dia memainkan tangannya sambil memejamkan mata dan saat membuka mata dia terkejut melihatku yang menatapnya dengan tatapan yang kosong.
“Et setan!” teriaknya “Murung banget kayak kehilangan burungnya.”
“Apaansi, kerja ****!” jawabku ketus.
“Yeu, marmot!”
Mas Felix berhenti bernyanyi, dia menaruh earphonenya. Aku memandangi wajahku yang terlihat suram dari monitor komputerku yang gelap. Yah gak baik seperti ini, bakalan jadi beban di divisiku kalau sampai mempengaruhi pekerjaanku. Kuambil berkas yang ada dilaci mejaku, dan segera menyelesaikan pekerjaanku.
“Ka,” panggil mas Felix lirih.
“Kenapa mas?”
“Serius nanya, kemarin tau darimana kalau aku pernah nyebokin temenku waktu masih SD?” katanya sambil mendekatkan wajahnya kearahku.
Sebenarnya aku gak pengen membongkar ini ke siapapun, tapi berhubung mas Felix yang pertama kalinya aku bisa sadar cara make mataku ini jadi aku ceritakan “Aku bisa lihat masa lalunya mas Felix kalau kita bertatapan beberapa menit mas.”
“Serius?” tanyanya terheran-heran “Berarti kamu tau aku pernah nembak cewek ketolak?”
“Yang mas Felix nembak waktu pulang sekolah sambil ngejar ceweknya naik sepedakan?”
“Sssttt!!!!” mas Felix menutup mulutku dengan tangannya “Oke, oke jangan. Kenapa gak bilang dari dulu sih?”
“Lah apa untungnya juga liat masa lalu orang, makanya aku diem lagian agak useless sih,” jawabku sedikit kesal.
__ADS_1
“Bego, oke, besok ikut aku visit. Kita coba cari tau apa yang bisa dilakuin ntar sama matamu itu. Bisa lebih bermanfaat daripada liat aku nyebokin temen.”