
Aku berjalan menuju kamar. Sambil memegang kepala yang pusing dan terasa berat setelah tertidur lama. Sudah 3 hari sejak aku dirawat dirumah sakit. Perjalanan waktu memang membuat aku menjadi lebih baik saat ini.
Aku menjatuhkan diri ke ranjang, dan mengingat-ingat apa yang udah terjadi sebelumnya. Yang terngiang dikepalaku hanyalah dimsum yang dia makan sepulang dari kantor.
Handphoneku berdedring “Hallo, Assalamu’alaikum, Pak,” jawabku seketika berdiri saat menerima telpon masuk.
“Hallo mas Aska, udah pulang ya dari rumah sakit?” Tanya seseorang dari balik telpon.
“Udah pak Alhamdulillah, besok saya udah mulai masuk lagi InsyaAlloh.”
“Gak usah, mas, istirahat dulu aja cutinya udah saya urus sampai akhir pekan ini. Besok dirumah aja ya mas.”
“Waduh saya jadi gak enak, Pak, udah gak masuk seminggu,” jawabku sambil cengar-cengir.
“Gak usah cengar-cengir, mas, saya indigo bisa tau kalau kamu seneng,” perkataannya membuatku tertawa, tau aja emag pak kadiv ini “Yaudah ya, mas, yang penting istirahat dulu, wassalmu’alaikum. Anu saya bercanda saya bukan indigo.”
“Hehe siap, pak, wa’alaikumsalam.”
Yang menelpon barusan adalah kepala divisi ditempat kerjaku. Namanya pak Langgas, hmm menurutku aku bukan lagi sekedar anak buahnya dikantor, mungkin lebih seperti teman diskusi, enggak hmm lebih dekat. Temen-temen kantor juga sering ngomong kalau kita berdua mirip. Saking dekatnya dengan pak Langgas, aku pernah diajak touring bareng Motor Club pak Langgas.
Sedikit cerita tentang pengalamanku bersama ayah, eh maksudku pak Langgas, selain jadi kepala Divisi dikantor dia juga ketua Motor Club. Bukan main-main, motor clubnya itu diisi dengan motor yang memiliki cc lebih dari 500. Motor Club pak Langgas ini raja jalanan, kalau Motor Clubnya lewat semua pada hormat, emak-emak yang naik motor lampu sein-nya random milih berhenti buat hormat, tukang angkot yang suka belok kiri tiba-tiba, bakalan belok kanan, polisi tidur dijalanan bakalan bangun buat hormat saking sangarnya.
Sayangnya, ke-sangar-an itu tidak diiringi dengan kegiatan touring mereka. Pernah sekali aku diajak touring bareng pak Langgar ke puncak, bukan buat makan Sate Marangi, melainkan buat nangkep burung.
“Punten, pak, pistol buat nembak burungnya mana ya?” Tanyaku saat tiba dilokasi tempat nangkep burung.
“Jangan, berisik,” jawab pak Langgas.
“Ohh kita mau make ketapel?”
Pak Langgas menggelengkan kepala. Dia mengenakan sarung tangan sambil menatap wajahku “Realman use their hand to catch their bird.”
Pak Langgas berlari kesemak-semak dengan badan sedikit menjonggok. Tangannya dieratkan seperti orang bermain Volly. Tak lama setelah berlari tangannya menggenggam 1 ekor burung dara “Like this, Aska.”
Aku mengangguk pertanda mengerti dengan wajah bodoh. Walaupun pada akhirna yang aku lakukan saat meniru gerakan pak Langgas tak jauh beda seperti katak yang lagi ancang-ancang mau lompat. Aku sempat berpikir apa gimana Pak Langgas dibesarkan. Bahkan saat zaman Purbakala Homo erectus teknologi ketapel udah ada. Nabi Muhammad berperang juga make panah. Jangan-jangan dirumahnya Pak Langgas menghangatkan nasi masih menggunakan batu yang digesekkan. Mencurigakan.
Setelah menutup telpon, Aku kembali membenamkan wajahnya dibawah kasur. Tak lama setelahnya aku tertidur.
“Tok tok tok,” terdengar suara ketukuan yang membangunkanku. Sontak aku melompat dan bantalnya terlempar, lalu bangkit dan membuka pintu.
__ADS_1
“Loh, gak ada siapa-siapa,” gumamku dalam hati.
“Tok tok tok,” aku menoleh kearah jendelanya. Disebrang jendela ada Usy melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Aku berjalan sambil mengelengkan kepala “Kenapa gak lewat pintu depan aja neng Usy yang cantik.”
“Udah, tadi bapak bilang kamu lagi tidur dan disuruh bangunin kamu. Biar beda aku ngetok dari jendela aja hehe.”
“Mau masuk lewat jendela?” tawarku dengan wajah sedikit ngeledek.
“Gila kali lu ye, masak kita dikamar berdua, kamu yang keluar dong, Ka!” bentak Usy.
“Lah dikira maling nanti aku keluar dari jendela, neng,” sambil duduk di Kusen Jendela “Tau gak kemarin aku pingsan, itu mimpi ketemu diri aku sendiri.”
“Wanna tell me, babe?” tawar Usy sambil tersenyum.
Aku mengangguk sambil membalas senyum Usy “Ok, tapi kamu lebih baik lewat pintu depan deh jangan dijendela. Tau gak kita kayak orang yang lagi diskusi buat nyuri dirumah sendiri.”
Usy tertawa kecil lalu dia berjalanan menuju pintu depan. Aku membereskan kamarnya lalu berjalanan keruang dapur. Kusiapkan 2 gelas teh hangat karena aku tau pembicaraan kita mungkin berlangsung cukup lama. Usy juga menyiapkan cemilan buah dan beberapa kue kering.
Ruang tamu di rumah terbilang minimalis. Dengan 1 sofa panjang, 2 kursi yang berhadapan, dan 1 meja berwarna putih berbenruk persegi panjang. Suasana ruang tamu dirumah memiliki konsep monokrom dengan sofa berwarna putih, dan bantalnya yang berwawrna abu-abu gelap. Terdapat sebuah meja hitam dengan lampu baca dan telfon rumah, ditambah sebuah kanvas berwarna putih bergambar bulu membuat ruang tamu-nya terlihat lebih manis.
Aku berjalanan sambil membawa teh, begitu sampai keruang tamu langkahku terhenti sejenak. Sejenak melihat keseluruhan ruangan dan menikmati ruang tamu rumahku yang sudah jauh berbeda dari ruang tamu saat aku masih SD. Belum ada sofa dan meja, hanya sebuah karpet arisan yang dilentangkan ditengah ruangan. Satu-satunya pemanis ruangan itu hanyalah nastar yang selalu tersedia karena ibu Yasmin suka sekali membuat nastar. Aku tersenyum lebar, lalu berjalan membuka pintu untuk Usy.
“Asik kesukaan aku ada Pir,” balas Aska senang.
“Jadi, gimana?”
Sejenak aku terdiam, aku sedikit berpikir tentang alur ceritanya “Kemarin aku ngelakuin perjalanan waktu, Sy. Aku balik kemasa aku umur 12 tahun, aku balik waktu aku SMA, aku balik waktu aku kuliah. Aku gak sebagai aku diwaktu itu, aku jadi orang lain, jadi Aska ketemu Aska, aku ketemu aku.”
Usy mengangkat alis, mengangguk, lalu mempersilahkanku melanjutkan ceritanya.
“Aku ketemu sama diriku sendiri, dan,” sebelum melanjutkan kalimatku aku terdiam sejenak “Aku berusaha ngerubah yang dulu-dulu.”
“Maksudnya kamu nyoba ngerubah yang dulu?”
“Coba bayangin kamu diberi kesempatan buat kemasa lalu, masak iya kamu gak mau memperbaiki kesalahan kamu dulu?” jawabku dengan nada bicara yang agak meninggi.
“Oh, emang apa yang pengen kamu perbaiki?” Tanya Usy dengan halus.
__ADS_1
“Semuanya,” jawabku sambil menatap mata Usy “Kesehatan keuangan keluarga, lingkungan sekolahku, jodoh, ya banyaklah.”
Usy tersenyum melihatku. Dia hanya diam walau dia tau kalau kata terakhirnyna sedikit menyakiti dirinya sendiri. Terjadi hening untuk beberapa menit, mereka hanya saling menatap mata.
“Aw, Aduh!” keluhku sambil berusaha menutup pandanganku dengan tangan.
“Kenapa, Ka?” Tanya Usy terkejut dan langsung mendekat.
“Enggak, gakpapa kok.”
Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kuseduh teh yang ada didepanku, lalu membahas masalah pernikahannya bulan depan. Setelah selesai membahasnya Usy berpamitan pulang. Obrolan yang berlangsung setelahnya hanya basa-basi aja. Kerjaan satu sama lain, apa aja yang terjadi saat aku pingsan, dan beberapa bucketlist kedepan.
“Ka, makasih ya, aku pulang dulu,” pamit Usy.
“Iya makasih ya makanannya, lain kali kalau bangunin jangan lewat jendela, lewat atap sekalian,” jawabku sedikit bercanda “Mau aku anterin gak?”
“Gak usah akukan bawa motor,” jawab Usy.
“Gakpapa aku anterin aja ya.”
“Makasih, kamu istirahat aja. Baru keluar dari rumah sakit udah sok-sokan nganterin aku.”
“Yaudah ati-ati ya,” Aska mengusap rambut Usy, Usy membalasnya dengan tersenyum.
Usy tertawa kecil sambil berjalan menuju motornya yang terparkir disudut pagar rumah. Kita saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Aku berjalan ke arah pintu pagar sambil membukanya. kita berpisah dan saling melempar senyum satu sama lain.
“Tadi itu apa ya?” gumamku saat berjalan menuju kamar.
Aku bisa lihat masa lalu lagi. Sesaat setelah bertatap mata dengan Usy aku bisa melihat masa lalu Usy. Kita sudah saling kenal mulai dari SMP. Berteman baik sudah lama. Aku mengira aku mengenal Usy cukup baik, banyak momen yang kita lewati bersama, banyak hal yang sering kita bagi. Sayangnya yang terlihat bukan pertemanan kami dulu, tapi Usy yang diperlakukan abusive, dari orang terdahulunya, orang tua, bahkan saudaranya saat dia kuliah dan terpaksa menginap dirumah saudaranya.
Aku melihat sebuah paralon menyambar pundak kanan Usy. Tak ada ampun, bahkan saat Usy sudah menangis tangan itu belum berhenti mengayunkan paralon ke Usy. Aku tidak melihatnya sampai selesai, ketika dia merasa ketakutan aku berteriak dan pengelihatan itu hilang.
Tanpa disadari, ada sesuatu yang tidak aku ketahui dari Usy. Bahkan ketika kita sebentar lagi menikah dan sudah merasa saling terbuka, tapi ada hal yang tidak pernah Usy ceritakan.
Sambil duduk diranjang kasurnya, aku berpikir bahwa pasti ada lagi sesuatu dimasa lalu Usy yang belum dia ketahui. aku merasa harus tau segalanya dari Usy, ini kesempatan terakhirku menilai orang yang akan aku nikahi.
“Eh bentar deh, tadi sebelum aku bisa liat masa lalu Usy aku ngapain ya,” gumamku sambil melompat dari ranjang lalu mondar-mandir.
Aku mengingat apa yang udah aku lakuin tadi, hingga akhirnya sadar kenapa bisa melihat masa lalu Usy. Aku menatap mata Usy beberapa saat, hingga akhirnya bisa masuk ke masa lalu.
__ADS_1
Akhirnya, aku ingat saat kenapa aku bisa melihat diriku sendiri dimasa lalu. Aku tertabrak motor saat perjalanan menuju rumah dari kantor. Kepalaku terbentur, dan tepat didepan posisi jatuhku ada kaca spion motor yang lepas. Tak sengaja aku memandangnya cukup lama, sampai akhirnya pingsan.
Sontak aku mengambil secarik kertas dari buku, lalu menulis sesuatu “Kamu weekend depan longgar? Aku traktir makan sea food,” tulis Aska dalam pesan yang dia kirim ke Usy.