Mata Waktu Aska

Mata Waktu Aska
Pak John


__ADS_3

Entah apa yang sebenarnya dikhawatirkan pak Langgas, pagi-pagi tadi dia sudah datang ke mejaku dan langsung memintaku untuk ikut keruangan pak John.


“Mas nanti susul saya ya diruangan pak John, tunggu nanti saya chat baru naik,” katanya sambil menepuk pundakku dan berjalan cepat menuju ke ruangan pak John.


Sekitar 15 menit kemudian, pak Langgas mengirim pesan “Mas keatas sekarang!”


Aku langsun bergegas mengenakan sepatu, merapikan kemejaku, dan sedikit menaikan celana yang aku kenakan. Ruangan pak John berada dilantai paling atas, dekat dengan ruangan sekertaris. Ini bukan kali pertama sebenarnya aku ke ruangan pak John, dari pintunya yang berwarna coklat gelap dan ganggang berwarna emas, lalu karpet merah, lampu gantung yang mahal dan sofa mewah berwarna hitam diruangannya aku bisa menyimpulkan beliau orang yang fancy.


“Ijin masuk, pak,” kataku sambil mengetuk pintu. Kubuka pintunya dan seperti yang aku jelaskan tadi, dia orang yang fancy. Aku melihat pak John dengan posisi duduk tegap dengan pak Langgas didepannya. Aku membuka pintu dan pandangan mereka berdua teralihkan kepadaku.


“Sini mas duduk!” panggil pak Langgas sambil menarik kursi yang ada disebelahnya.


Entah aku mulai bisa membaca mimik wajah seseorang atau apa, tapi aku melihat wajahnya yang tak cerah dengan kantung mata dan kumis tak terurus. Kudapati juga jam tangan yang berbeda saat makan malam, dan saat pak Langgas memintaku menemuinya di gudang. Handphone yang terletak diatas meja jelas bukan milik pak Langgas, dan seingatku itu Handphone yang yang baru dirilis 2 hari yang lalu. Oke, kenapa aku harus menaruh curiga ke direkturku sendiri, jelas dia banyak uang gak kayak aku.


“Hehe ijin saya duduk, Pak,” kataku malu.


Pak John mempersilahkanku untuk duduk. Ujung kaki kusilangkan, dan berusaha terlihat rapi dan tenang dari pinggang keatas. Pembicaraan awal hanya basa-basi masalah pekerjaan yang sudah aku selesaikan. Seperti biasa, Pak Langgas selalu membuat segala sesuatu menjadi berlebihan. Dia terlalu memuji pekerjaanku dan mas Felix, pada kenyataannya kami tak sebaik itu.


Pak John melihat kearahku, dan aku melihat kearahnya. Dan seketika..


Aku melihat sesuatu yang tak mencurigakan sama sekali. Benar-benar keluarga yang biasa saja, dan aku rasa bapak dan ibu mungkin sering melakukan hal yang sama. Bapak sering tertidur di ruang keluarga saat nonton bola, dan ibu sudah terlelap sebelum jam 10. Sama halnya dengan pak Langgas yang pulang malam dan tertidur di sofa ruang tamu.


Mereka selalu sarapan bersama, dan menghabiskan akhir pekan bersama. Pak John dengan anaknya juga akur, aku lihat pak John sering memberi hadiah kecil, entah karena achievement  kecilnya, atau saat ulang tahunnya, aku rasa aku juga akan senang menjadi anak pak John.


Dan entah kenapa, aku melihat dia duduk dipengadilan agama, aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan hakim. Penuh isak tangis, terutama dari keluarga istri pak John. Anaknya mungkin berusia 12 tahun dan dia mengerti apa yang dilihatnya. Sambil memeluk seseorang yang mungkin saudara dari salah satu keluarga pak John, dia menangis. Isakannya sampai menutupi suara dari hakim.


“Mas Aska! jadi dari Petrogas gimana? Aman?” Tanya pak John dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


“Hah?” jawabku linglung “Iya aman, Pak,” jawabku.


“Kamu agak nda fokus ya mas?” kata pak John sambil memajukan posisi duduknya “Udah saatnya kembali ke ruangan, istirahat aja dulu baru lanjut kerja,” perintahnya. Aku langsung pamit undur diri dan duduk di meja.

__ADS_1


Terlihat mas Felix sudah santai sambil mengoret mulutnya dengan tusuk gigi.


“Hallo boy, gimana?” Tanya mas Felix santai.


“Well done,” jawabku.


“Dikira aku pesen steak well done, heyy!!” balas mas Felix.


“Haha, oke ada yang belum selesai mas?” tanyaku.


Mas Felix menunjuk tumpukan pekerjaan yang telah rapi “Karena you ada tugas khusus jadi udah aku selesaikan semua, tapi ini gak gratis ya,” kata mas Felix sambil meng-scroll Handphone-nya “Ini enak kayaknya,” katanya sambil menunjuk donat penuh dengan selai coklat diatasnya.


Oke karena sudah banyak membantu aku pesankan satu donat untuk mas Felix.


Tak lama setelah aku kembali kerja, pak Langgas datang dan menarikku ke ruangannya. Dia membawa sebuah buku catatan, lalu duduk dan dan mencari-cari sesuatu di laci mejanya.


“Duduk mas,” katanya mempersilahkanku saat melihatku masih berdiri didepan pintu ruangannya.


“Hmm,” aku berpikir bagaimana caranya menceritakan apa yang aku lihat tadi “Saya gak melihat apapun yang aneh pak, kalau dari yang saya lihat pak John itu ayah yang baik, ya dia mungkin memang hanya pekerja keras selayaknya posisi yang dia emban sekarang sih, pak.”


“Ohya? Dirumah dia gimana mas?” Tanya pak Langgas.


“Di rumah… ya biasa pulang kantor tidur, sarapan bareng, sabtu minggu ya dirumah garuk-garuk perut sambil make sarung, ya gitu-gitu aja sih pak, gak ada yang special, oh iya sama aku lihat entah kapan pak John itu cerai sama istrinya, hmm aku gak begitu tau tepatnya kapan, Pak.”


“Iya itu udah tau saya mas, saya penasaran apa masalahnya. Kasihan mas Pak John itu udah tua, kalau gak ada yang ngerawat kan kasihan,” katanya setelah selesai membuka tutup lacinya “Mas coba lihat saya, bedakan sama saya mas.”


Aku dipersilahkan untuk melihat masa lalu pak Langgas. Aku mendekat kearahnya lalu menatapnya beberapa menit.


“Ayah!!!” teriak seorang balita berlari kearah pak Langgas.


Pak Langgas membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk anak itu, lalu digendongnya, dan dicium pipinya. Mereka terlihat seperti sedang berbincang lirih, dan anaknya terlihat sangat antusias bercerita. Tak hanya anaknya, tapi istri pak Langgas juga menyambutnya sambil membawakan tas kerja dan membawakan pak Langgas segelas air putih.

__ADS_1


Diwaktu yang lain, pak Langgas beberapa kali menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dia yang membantu istrinya belajar mengendarai motor dan mobil. Yang sering menemani pak Langgas melakukan touring anehnya. Semua keluarganya ikut, bahkan anaknya yang masih kecil juga diajak.


“Heh!” teriak pak Langgas.


Seketika pandanganku hilang dan kabur. Kulihat pak Langgas geleng-geleng “Awas aja ya kamu lihat macem-macem mas!” katanya sambil memainkan telunjuknya.


“Enggak pak sumpah!” kataku membela diri.


“Bentar lagi kamu juga tau kok rasanya punya istri, kan mau kawin,” katanya sambil menepuk pundakku “Gimana mas, tadi lihat apa aja?”


“Pak Langgas, sering ngajak istri nangkep burung?”


“Hah?” balasnya bingung.


“Oh sorry, maksud saya pak Langgas sering ya ngajak anak istri touring?”


“Iya mas, kan daripada bosen pada dirumah.”


“Oh iya-iya,” kataku balasku seadanya. Aku bingung harus menarik kesimpulan dan benang merahnya, ya ini hanya masalah perbedaan anggota keluarga aja, dan kenapa pak Langgas begitu pedulinya. Lalu aku pamit keluar dan kembali ke meja kerja. Sebelum aku meninggalkan ruangannya pak Langgas berpesan “Coba ingat-ingat lagi yang ada di pak John dan di saya mas.”


Aku pulang tepat waktu, dan perasaanku sedikit lega hari ini. Usy ngasih kabar dengan mengirim foto bersama keluarganya di Kota Tua. Terlihat ayahnya mengendarai sepeda onthel klasik dengan warna pink dengan gagah. Sangat kontras dengan alis tebal dan kumis yang terlihat galak, ibunya dibonceng sementara Usy berada didepan sepeda.


“Nanti bakal ada waktunya kita gini,” katanya.


“Yah kalau cuman di Jakarta mah harusnya bisa kususul kapan kita ketemu lagi?” balasku.


“just be patient, besok aku ke Jepara sama Kudus abis itu baru kita bisa ketemu.”


“Okey, stay safe ditunggu kepulangan sama oleh-olehnya!”


 

__ADS_1


__ADS_2