
Setelah berdiskusi cukup lama, dan dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku dan Aji memilih gunung Sumbing sebagai destinasi perjalanan naik gunung pertama kami. Ada 2 jalur untuk bisa sampai ke Sumbing, jalur kalianggrik dan bowongso. Kalau dari google, mungkin lebih enak kalau lewat bowongso, selain lebih landai jalannya, ada pemandangan sabana yang luas banget. Walaupun sebenernya aku menolaknya karena lebih baik perjalanan yang melewati banyak pohon biar gak panas. Aji justru meledekku “Bukan ambassador produk kecantikan aja takut item.” Karena gak terima akhirnya aku meng-iya-kan perjalanan via bowongso.
Hari ini aku jalan sama Usy sambil mencari peralatan untuk naik gunung bareng Aji. Sebenernya aku hanya cari sleeping bag dan perbekalan. Aji sudah mempersiapkan alat-alat seperti tenda, paraffin, dan tali. Usy ikut mencari makan dengan alasan “Aku harus menjamin nutrisi kamu waktu di gunung nanti, jangan sampe kamu makan rumput.”
“Sayang, beneran mau muncak weekend ini?” Tanya Usy saat aku bonceng.
“Iya, jadi dong. Kan kamu juga tau kalau aku udah ada rencana naik gunung dari lama sama dia,” jawabku.
“Hmm, berdua doang?”
“Nggak kok, sama pendaki yang lain, kan nanti yang naik gunung disana bukan cuman kita berdua.”
“Hmmm, Aska!!” katanya sambil menarik kaos yang aku kenakan dengan kuat.
“Eh jangan ditarik dong, nanti kalau aku jatuh gimana!”
“Nanti kamu 1 tenda sama Aji?” tanyanya sambil memasang wajah cemberut. Aku mengangguk, dan tangannya menarik kaosku dan meremasnya “Kamu nanti ngapain aja dalam tenda?!”
“Etetetett!” aku melipir ke sisi kiri jalan dan berhenti karena tarikan Usy membuatku sedikit goyang saat bermotor “Ya tidur dong istirahat,” jawabku sambil menoleh kearah Usy. Matanya berkaca-kaca, wajahnya cemberut, wajahnya memerah membuat blush on yang dia kenakan semakin memerah. Cengkramannya mulai mengenai perutku, kuku Usy cukup panjang sehingga sedikit terasa sakit saat dia meremas.
Aku berjalan sedikit kedepan, ada penjual jus buah yang menyediakan tempat duduk. Aku ajak Usy turun untuk minum sebentar. Kami duduk dan berdiam diri sampai jus mangga yang kami pesan tiba. Wajahnya masih cemberut sambil meminum jusnya.
“Manis gak jusnya? “ tanyaku mencoba membuka obrolan.
Usy hanya mengangguk dengan tetap memasang muka cemberutnya. Aku mendekatkan kursi kearahnya “Hmm iya, manis banget apalagi deket sama cewek yang manis kek kamu.”
Usy menatap kearahku, wajahnya semakin memerah semerah traffic light “Basi hahaha!” jawabnya sambil tertawa.
“Hmmkan, gak usah marah dong cuman ke Gunung doang.”
“Nanti tuh kalian ngapain aja coba di dalem tenda?” Tanya Usy sambil membuang muka.
__ADS_1
“Ya tidur lah, masak mau main futsal didalem tenda?”
“Tau ah kamu mah gak pernah ngertiin aku.”
“Yaudah kamu aku anter pulang ya, aku belanja keperluan dulu,” kataku sambil menghabiskan jus yang aku minum.
“Enggak aku ikut,” katanya sambil menghabiskan jus yang dia minum. Usy bergerak cepat membayar jus yang kita minum dan bergegas naik ke motor “Ayo cepet jalan!” bentaknya.
Di sepanjang jalan Usy lebih banyak diam. Beberapa kali dia rewel memintaku untuk tidak jadi berangkat naik Gunung. Dia menceritakan beberapa cerita seram yang katanya banyak orang yang hilang, banyak yang turun gunung meninggalkan nama aja, banyak yang diculik setan, dan berbagai mitos. Yang paling aneh adalah dia berkata kalau misal nanti tiba-tiba ada geronjalan batu yang jatuh dari atas gunung terus nimpa kepalaku, terus aku pingsan dan gak bangun-bangun atau gunungnya meletus dan laharnya membuat meteor yang membahayakan warga sekitar “Gunungnya ngamuk gakmau didaki, Ka!” katanya sambil tetap memasang wajah cemberutnya.
Sesampainya di adventure shop dia tidak mau diajak turun dan memintaku untuk menemani. Aku mengusap kepalanya sampai rambutnya berantakan, wajahnya semakin cemberut dan membuang muka. Aku baru tau kalau Usy ternyata ada sifat sekanak-kanakan ini. Aku tak bisa memintanya turun sehingga dia tetap duduk dimotor. Akhirnya aku masuk ke toko sendiri.
Aku keluar sambil menggendong sleeping bag sementara Usy didepan masih cemberut. Aku tersenyum melihatnya, sepertinya dia bener-bener gakmau aku naik gunung.
“Asik,udah dapet Sleeping Bag makasih ya, dah jadi tukang parkir,” candaku saat melihat Usy yang masih saja cemberut.
Dia melihat kearah Sleeping Bag yang aku bawa. Lalu memintaku untuk membukanya, lalu menggunakannya “Ya masak aku make didepan tokonya?” tanyaku kesal.
Usy melihatku dengan muka bingung, dia turun dari motor dan melihatku dengan tatapan bingung. Lalu tiba-tiba dia bertanya “Lah Aji nanti tidur dimana?”
“Dia ada sendiri dong, masak satu bilik sama aku!!” jawabku kesal.
Usy tertegun malu, dia mengangguk dan berdalih “Pas kok ukurannya buat kamu, yaudah ayok pulang, malu Ka masa make gituan didepan toko.”
Aku membereskannya sambil menggerutu kesal. Usy tertawa kecil melihatku, kami segera pergi karena aku gak mungkin membiarkan orang-orang disana mengingat wajahku sebagai orang gila yang make sleeping bag didepan toko.
“Jadi nanti kalian biliknya terpisahkan di 1 tenda itu?” Tanya Usy diperjalanan.
“Iya dong, sayang, calon istriku yang cantik, 1 sleeping bag itu buat 1 orang doang, gak mungkin aku tidur berdua disatu kantong!” jawabku kesal.
“Ih, gak boleh marah, aku takut lo kamu nanti pulang jadi homo, aku gak jadi kamu nikahin nanti,” jawabnya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Yakan bisa tanya dulu,” jawabku sedikit kesal.
“Jadi cowok yang peka lah!” jawab Usy si maha benar.
Aku gakmau berdebat lama, lalu kulanjutkan belanja perlengkapan makanan. Aku pikir gak banyak yang bisa dibawa nanti saat naik gunung. Mungkin makanan yang bisa dibawa hanyalah roti-rotian dan mie. Sayangnya Usy gak membiarkan itu. Dia rewel banget suruh aku bawa brokoli, sawi, dan buncis. Lalu diambilah beberapa sayuran itu beserta bumbu pelengkapnya.
“Buat apa sayang bawa bahan masakan kayak gini, aku kan mau naik gunung bukan ikut master chef,” kataku sambil geleng-geleng kepala.
“Lahkan bisa masak, lagiankan nanti kamu seharian disana masak cuman makan mie doang?”
“Ya tapi mana bisa aku masak kalau di Gunung?”
“Ada parafinkan?”
Aku hanya menepuk jidat dan membiarkannya menaruh apa yang dia mau. Beratlah isi belanjaanku. Aku lihat ada beberapa sayuran dan buah, setelah itu ada beberapa susu, dan vitamin. Lalu dia membawakanku lilin, tisu basah dan hand sanitizer. Alasannya membawakanku hand sanitizer karena di Gunung belum tentu steril, bisa jadi disana banyak virus dan aku harus melumuri tubuhku dengan alkoloh 70%.
Yaudah aku gak mau membuat dia khawatir dan berdebat lagi sepanjang jalan. Jadi aku biarkan dia memasukan apapun dalam kantong belanjaku. Kalaupun nanti dia lihat sapu dan memasukannya dengan alasan “Menjaga kebersihan” yaudahlah gak masalah menurutku.
Kami pulang sekitar pukul 7 malam. Jalan menuju rumah sudah mulai sepi, apalagi disepanjang jalan Ahmad Yani. Dia tak henti-hentinya berpesan untuk hati-hati dan melarangku untuk menggunakan kaos hijau dan hitam.
Aku hanya menjawabnya itu hanyalah mitos dan kepercayaan disana. Tapi Usy langsung memukul helmku sambil berkata “Kalau dilogika kenapa gak boleh make kaos hitam dan hijau itu karena kalau hilang biar gak susah dicari mas ganteng!”
“Ya aku gak bakalan hilang!” jawabku kesal, karena memang kaosku hitam semua, hanya ada 1 kaos warna pink dari class meeting waktu ada acara kampus, dan 2 kaos warna merah. Yang satu kaos Liverpool yang satu kaos partai politik banteng. Hmm entah kenapa kaos itu bisa ada dilemariku. Mungkin dulu ketuker hanya saja aku lupa.
“Aska!!” teriaknya. Akhirnya aku mengalah.
Aku mengantar Usy sampai depan rumah. Seperti biasa dia membuka pintu rumah sambil tersenyum hanya diselingi pikiran sedikit khawatir “Hati-hati ya!”
Aku mengangguk dan bergegas pulang. Aku berangkat menggunakan travel pukul 10 malam. Kebetulan travelnya berada didepan komplek. Dan sekitar pukul 9 malam Aji sampai dirumah, aku juga selesai packing. Kami berdua pamit ke bapak dan ibu lalu jalan kaki menuju biro travel.
Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam. Perjalanan malam memang lebih cepat karena traffic-nya tidak begitu padat. Tidak banyak obrolan saat di perjalanan, aku capek setelah belanja dan sepertinya Aji juga terlihat lelah.
__ADS_1
Sekitar jam 4 pagi, kami sampai di Camp Bowongso. Aku dan Aji saling bertatapan. Perjalanan dimulai besok.